Home Blog Page 17

Tadabbur Surat Al-Falaq Bag.3

0

Allah menyuruh hamba-Nya kaum mukminin dalam surat Al-Falaq untuk memohon perlindungan dari semua keburukan makhluk-Nya, diantaranya adalah keburukan yang sering terjadi di malam hari dari para pencuri, pembegal, dan dari hewan melata berbisa. Begitu juga berlindung dari kejahatan tukang sihir yang biasanya dilakukan di malam hari. Allah berfirman

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

“dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.”

Yaitu memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan para sihir yang biasanya mereka meniupkan sihirnya pada ikatan atau buhul-buhul dengan maksud menyihir seseorang. Disebutkan para sihir dalam ayat dengan penyihir wanita dikarenakan banyaknya tukang sihir di bangsa arab waktu itu dari kalangan wanita. Ayat ini juga ditafsirkan dengan orang yang suka namimah (adu domba), yang merusak keharmonisan pasangan suami istri, awalnya cinta dengan pasangan dengan di adu domba akhirnya saling membenci dan berakhir dengan perceraian.

Perbuatan sihir adalah perbuatan dosa paling besar di antara dosa-dosa besar, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقات ِالشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ، وقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بالحَقِّ، وأَكْلُ الرِّبا، وأَكْلُ مالِ اليَتِيمِ، والتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ المُؤْمِناتِ الغافِلاتِ.

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan [1] Syirik kepada Allah, [2] sihir, [3] membunuh jiwa yang haram dibunuh, kecuali apabila ada alasan yang membenarkannya, [4] memakan harta riba, [5] memakan harta anak yatim, [6] melarikan diri dari pertempuran saat dua pasukan bertemu, [7] menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan tidak bersalah.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan dikarenakan besarnya dosa sihir dan jahatnya perbuatan sihir, maka hukuman bagi para penyihir secara syareat adalah di penggal, dalam sebuah riwayat disebutkan

 حد الساحر ضربة بالسيف

Hukuman bagi penyihir adalah di penggal dengan pedang. (HR Tirmidzi)

Hadits ini mauquf hanya sampai sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali, tetapi mempunyai kedudukan marfu’ (hadis yang bersambung kepada Nabi ‘alaihis sholatu was salam), karena hal seperti ini tidak lahir dari sekedar pendapat semata, jikalau sahabat Jundub ini tidak punya ilmu dari Nabi tentang masalah ini, dia tidak akan mengatakan secara tegas seperti ini.

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki

Surat al falaq di tutup dengan ayat ini; yaitu berlindung kepada kedengkian dari para pendengki, dikarenakan hasad (kedengkian) itu adalah tabiat yang paling buruk dan paling hina.

Hasad adalah perasaan tidak senang akan kenikmatan yang didapat oleh orang lain dan menginginkan hilangnya kenikmatan itu dari pemiliknya, lebih buruk lagi ketika ada perasaan supaya nikmat yang di dapat orang lain berpindah ke dirinya.

Perbuatan hasad (dengki) bisa menghilangkan kebaikan

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud)

Hasad adalah pertama kali maksiat kepada Allah di langit yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan juga pertama kali maksiat kepada Allah di muka bumi yaitu hasadnya Qobil kepada Habil sampai terjadi pembunuhan.

Semoga Allah senantiasa melindungi penulis dan pembaca dari semua kejahatan makhluk-Nya.

Sumber:

  1. tadabbur-quran.com
  2. quranpedia.net
  3. alukah.net
  4. islamweb.net
  5. binbaz.org.sa

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Sudahkah Kau Muliakan Tetanggamu

0

Islam adalah agama yang sempurna, yang mengajarkan kepada manusia bagaimana berinteraksi kepada Rabb semesta dan juga bagaimana beninteraksi kepada sesama manusia baik itu keluarga, sahabat ataupun tetannga.

Kedudukan tetangga dalam islam amatlah tinggi sehingga Allah sebutkat di beberapa ayat dalam Al Quran diantaranya, Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya-mu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisaa : 36)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah di dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an berkata : “Adapun tetangga, maka Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk memeliharanya, menunaikan haknya, dan berpesan untuk memelihara tanggungannya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya. maka dari itu Allah Ta’ala menguatkan penyebutan tetangga setelah dua orang ibu bapak dan karib kerabat.”

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan terkait ayat ini: “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan.”

Kuatkann Iman Dengan Memuliakan Tetangga

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

والذي نفسي بيده لا يؤمن عبدٌ حتى يحب لجاره – أو قال: لأخيه – ما يحب لنفسه

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak beriman (sempurna iman) seorang hamba sehingga ia menyukai bagi tetangganya atau saudaranya apa-apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan hadits ini Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan bahwa seorang mukmin itu hendaknya mencintai saudaranya dan tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dan jangan sampai ada di dalam hatinya ada rasa benci yang membelenggunya, namun cintailah kebaikan-kebaikan mereka dan nasehatilah atas keburukan-keburukan mereka.

Jika dihati ada kebencian atau hasad kepada tetannga maka itu menunjukkan lemahnya iman yang berarti imammnya belum sempurna bahkan imannya menjadi lemah, maka dari itu Nabi bersabda “tidak sempurna iman”

Seorang mukmik yang sempurna imannya adalah mereka yang mencintai saudaranya, tetangganya setiap kebaikan yang ada pada mereka dan mengingkari keburukan yang ada dalam diri mereka.

Dan demikianlah seorang mukmin, imannya membuat sang “empu” menuju kepada segala bentuk kebaikan, namun bila kau dapati dirimu berbanding terbalik dari hal diatas (membenci, hasad kepada tetannga) maka ketahuilah itu adalah tanda lemahnya imanmu maka segeralah bertaubat kepada Allah dan benahilah imanmu tersebut. (Syarh Kitab Al Jami min Bulugh Al Maram)

Macam-Macam Tetangga

Syeikh Fauzan hafidzahullah menjelaskan bahwa tetangga itu terbagi menjadi tiga:
1. Tetangga muslim yang masih kerabat dengan kita, mereka memiliki 3 hak yaitu hak sebagai tetangga, hak sebagai kerabat dan hak sebagai seorang muslim.
2. Tetangga muslim yang tidak ada ikatan kekerabatan dengan kita, mereka memiliki 2 hak yaitu hak sebagai seorang muslim dan hak sebagai tetangga.

3. Tetannga non muslim, mereka memiliki 1 hak yaitu hak sebagai tetannga saja.

Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa.Dan jangan sampai kita mengganngu atau menyakiti mereka baik itu dengan ucapan maupun perbuatan nyata.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجنَّة مَنْ لا يأْمَنُ جارُهُ بوَائِقَهُ

“Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari bawaiqnya (kejahatannya).” (HR Muslim)

Semoga dengan memuliakan tetannga dan menjaga hak-hak mereka Allah jadikan kita sebagai hamba yang sempurna keimanannya. Amiin Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi

– Ithaful Kiram Syarh Kitab Al Jami’ min Bulugh Al Maram, Karya Syeikh Shaleh Fauzan Al Fauzan.
– Syarh Kitab Al Jam’ min Bulugh Al Maram, karya syeikh Abdul Azib bin Baz.
– Taisir Al Karim Ar Rahman, karya syeikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di.
Hamalatulquran.com
donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Falaq Bag.2

0

Surat Al-Falaq dan An-Nas keduanya sering di baca oleh Nabi ‘alaihis shalatu was salam di setiap pagi, sore dan sebelum tidur, supaya terjaga dari semua bentuk kejahatan dan keburukan yang datang dari makhkuk-Nya

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

“dari kejahatan makhluk-Nya”.

Berlindung kepada Allah dari semua bentuk kejahatan yang muncul dari semua makhluk-Nya, baik kejahatan Jin, manusia, hewan buas atau hewan berbisa, dan dari keburukan api neraka, keburukan dari diri sendiri, keburukan kemaksiatan dirinya, keburukan amal yang dikerjakan oleh dirinya sendiri, dari keburukan angin ribut, keburukan petir dan semua makhluk Allah yang membawa keburukan.

Ketika memohon perlindungan dari keburukan semua makhluk Allah, maka pertama kali yang terbenak adalah keburukan diri sendiri.

Nabi ‘alaihis shalatu was salam berdoa

اللهم إنا نعوذ بك من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا

“ya Allah kami berlindung kepadaMu dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal kami”

Apakah kita sudah berlindung dari kejahatan diri kita sendiri ? Sesungguhnya diri sendiri bisa menjerumuskan ke kebinasaan dengan sebab perbuatannya yang menyelisihi ketaatan kepada Allah, sehingga Allah mendatangkan banyak mushibah kepadanya, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS Asy-Syuro: 30)

Paling utama adalah menjauhkan diri sendiri dari hal-hal yang mengundang marabahaya secara umum dan menjahui pelaku-pelaku kejahatan secara khusus, seperti media sosial, teman yang buruk, dan perkumpulan yang tidak bermanfaat.

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

“dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”.

Ayat ini bersifat khusus dari pada ayat sebelumnya yang bersifat umum, yaitu berlindung dari kejahatan dan keburukan yang ada dalam waktu yang telah mulai gelap, waktu malam hari ketika telah mulai gelap gulita akan tersebar kejahatan dan keburukan, dari serangga yang berbisa atau jiwa yang jahat.

Di malam hari berkumpul antara setan dari kalangan jin dan setan dari kalangan manusia, maka kerusakan akan berkumpul pula, para pencuri dan para begal biasanya berkeliaran di malam hari, begitu pula jin yang mulai bergerak untuk melakukan keburukan, maka Nabi ‘alaihis sholatu was salam memerintahkan untuk menahan anak-anak dalam rumah. Dalam sebuah hadits Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda:

إذا كانَ جُنْحُ اللَّيْلِ -أوْ أمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوا صِبْيانَكُمْ؛ فإنَّ الشَّياطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فإذا ذَهَبَ ساعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخلُّوهُمْ، فأغْلِقُوا الأبْوابَ، واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فإنَّ الشَّيْطانَ لا يَفْتَحُ بابًا مُغْلَقًا، وأَوْكُوا قِرَبَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، ولو أنْ تَعْرُضُوا عليها شَيئًا، وأَطْفِئُوا مَصابِيحَكُمْ

“Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya ketika itu setan sedang bertebaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka lepaskan mereka. Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meskipun demikian, malam hari adalah salah satu tanda kebesaran Allah, di dalamnya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai ketaatan dan menambah berbagai kebaikan dengan murojaah (mengulangi) hafalan Al-Quran atau murojaah ilmu.

Bersambung…

Referensi: tadabbur-alquran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Remaja dan Pencarian Jati Diri

0

“Galilah jati dirimu, maka kau akan bahagia.” Itulah yang dikatakan beberapa ahli parenting. Lantas Apa yang dimaksud jati diri?

Jati diri adalah sekumpulan karakter intelektual, emosional maupun sosial yang dimiliki oleh seseorang, termasuk di dalamnya adalah perasaan dan persepsi.

Remaja adalah masa yang berbeda dengan yang lain. Masa yang mempunyai imajinasi dan persepsi sendiri terhadap dirinya dan hal itu terkadang bertentangan dengan persepsi orang lain. Kemampuannya untuk berprestasi adalah masa terpenting pada masa ini.

Persepsi diri ini juga dibentuk oleh cara mempersepsikan orang lain terhadap remaja tersebut dan yang lebih utama disebabkan oleh hubungan orangtua dan keluarga serta bagaimana merespons perilaku, harapan, dan perasaan anak remaja. Hasil dari itu semua, remaja yang memiliki jati diri akan mempunyai persepsi positif tentang dirinya dan potensinya. Sedangkan remaja yang tidak memiliki jati diri akan mempunyai persepsi negatif tentang dirinya dan potensinya.

Perbandingan

NORemaja yang Memiliki Jati DiriRemaja yang Tidak Memiliki Jati Diri
1Mempunyai persepsi positif tentang dirinya dan potensinyaMempunyai persepsi negatif tentang dirinya dan potensinya
2Memiliki rasa percaya diri dan mampu memikul tanggung jawabBersandar kepada orang lain
3Memiliki daya tahan tinggi untuk bekerja dan berprestasiTidak memiliki daya tahan tinggi untuk bekerja dan berprestasi
4Memiliki rasa percaya diri yang tinggiMemiliki rasa percaya diri yang rendah
5Berani menghadapi masalah dan menyelesaikannyaMenghindar dari masalah
6Mampu mengatur dan mengurus dirinyaDikendalikan oleh keadaan
7Mampu menghadapi kegagalanMembutuhkan waktu yang lama untuk keluar dari kegagalan
8Memiliki kestabilan jiwaJiwanya labil
9Terus-menerus mencoba dan mengubah kesalahan menjadi kesempatan belajarTakut untuk mencoba

 

Membangun Jati Diri

Bisa dikatakan, arti jati diri secara sederhana adalah membangun persepsi positif tentang diri remaja dan potensinya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara kita membantu para remaja untuk membangun persepsi positif tentang diri mereka? Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Membangun lingkungan yang positif bagi mereka yang memungkinkan terjadinya dialog. Pada saat yang sama, berikan kesempatan pada mereka untuk berdialog dan mengungkapkan perasaannya.

 

  1. Melatih mereka sejak usia dini untuk memiliki kebebasan dan rasa percaya diri.

 

  1. Fokus kepada hal-hal positif dan perilaku baiknya dan mulai memberi perhatian, menggali potensi, dan memberi motivasi atas setiap usahanya dalam memperbaiki perilaku dan sikap.

 

  1. Tidak membandingkannya dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, meskipun untuk tujuan berkompetisi.

 

  1. Jangan mengkritiknya, terutama di hadapan orang lain. Jika terpaksa mengkritik, kritiklah perilakunya. Jangan mengkritik pribadinya, tapi kritiklah perbuatannya dengan menggunakan bahasa persuasif,

 

  1. Berikan motivasi untuk selalu berusaha, tidak hanya fokus pada hasil dan prestasi.

 

  1. Ajak mereka untuk membuat target positif sesuai kemampuan mereka. Jangan membuat target yang terlalu muluk-muluk dan berlebihan. Pada waktu yang sama, motivasi mereka untuk berusaha dan fokus pada apa yang mereka mampu, bukan pada apa yang mereka tidak kuasal.

 

  1. Memberi mereka tanggung jawab dan menempatkan mereka dalam kondisi selalu belajar.

 

  1. Memberi kesempatan mereka untuk menjadi diri mereka, bukan sesuai gambaran kita, orangtuanya. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orangtuanya untuk membantu mereka dalam membangun jati dirinya, bukannya kita yang membentuk jati diri dan tujuan mereka.

 

10. Memenuhi berbagai kebutuhan pokoknya yang telah kita sebutkan.

Sebagai orang tua atau guru yang selalu beinteraksi dengan remaja maka mereka perlu memberikan perhatian ekstra pada anak-anak diusia remaja ini, agar potensi-potensi yang dimiliki dapat berkembang serta penanaman dan pengokohan keimanannya juga tetap terjaga.

Referensi:

  • Dalil Amalyfi Maharat at-Tarbawiyah lit Ta’amul Ma’al Murahaqah
  • Mendidik Remaja Nakal
donatur-tetap

Tadabbur Antara Awal dan Akhir Ayat

0

Diantara bahasan penting untuk mentadabburi Al-Quran yaitu meneliti dan memikirkan hikmah di balik pembuka suatu ayat dan penutupnya, hal ini menjadi salah satu Allah membukakan pemahaman tentang AL-Quran, dan akan terlihat jelas mukjizat dari Al-Quran tersebut.

Berikut beberapa contoh hikmah antara pembuka suatu ayat dan penutupnya juga korelasinya antara awal dengan akhir.

1. Allah menyebutkan kepemimpinan seorang laki-laki atas perempuan, dan kewajiaban suami untuk mendidik istrinya yang nusyuz (membangkang), Allah berfirman

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. an-Nisa’: 34)

Ayat di atas Allah memulai dengan menyatakan kepemimpinan kaum laki-laki atas perempuan dan wajibnya laki-laki untuk mendidik istri-istri mereka dengan berbagai cara yang sudah ditentukan syareat islam, kemudian Allah menutup ayat di atas dengan kemahatinggian-Nya dan kebesaran-Nya, hal ini untuk menakut-nakuti kaum laki-laki agar supaya mereka tidak berbuat semena-mena terhadap wanita terkhusus istrinya dan juga tidak melampaui batas dari ketentuan Allah.

2. Allah telah menetapkan hukuman bagi pencuri (jika sudah sampai kadarnya) dengan potong tangan, dengan firman-Nya

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Maidah: 38)

Dalam ayat ini Allah menutup dengan sifat keperkasaan-Nya dan kebijaksanaan-Nya, dengan sifat perkasa dan bijaksana Allah menghukum seorang pencuri baik laki-laki maupun perempuan dengan di potong tangan keduanya. Allah menghukum orang yang melanggar syareatNya dengan hukuman syar’i, hal ini sebagai balasan dan juga sudah menjadi taqdir ilahi.

Suatu kisah yang populer, suatu saat ada orang arab baduwi (arab pedalaman) mendengar orang membaca ayat di atas tetapi salah dalam membaca penutup ayat tersebut dengan membaca و الله غفور رحيم dan Allah maha pengampun dan pengasih, lantas orang arab baduwi berkomentar “kalau seandainya Allah menutup ayat ini dengan sifat-Nya Maha Pengampun dan Pengasih, niscaya tidak akan memberi hukuman potong tangan, tetapi Allah memberi hukuman potong tangan dengan sifat-Nya Maha Perkasa dan Maha Bijaksana” lantas orang yang membaca tadi membuka mushafnya dan ternyata ayat yang di baca di tutup dengan و الله عزيز حكيمdan Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Bersambung…

Referensi: kitab tsalaatsuuna majlisan fit tadabbur

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Falaq Bag.1

0

Surat al-Falaq dan surat setelahnya (an-Nas) menjadi suatu arahan dari Allah kepada Nabi-Nya ‘alaihis shalatu wassalam dan juga hamba-Nya kaum mukminin untuk senantiasa berlindung kepada-Nya dari segala yang ditakuti baik yanng dzohir maupun batin, baik diketahui maupun tidak diketahui. Seakan-akan Allah menyeru kepada nabi dan kaum mukminin untuk berlindung kepada-Nya dari segala hal yang berbahaya, ketika sudah dilindungi oleh Allah dari mara bahaya maka dia telah aman dalam perlindungan Allah.

Surat ini di beri nama al-Falaq dan dengan surat setelahnya (an nas) di sebut “mu’awwidzataan” (dua surat untuk berlindung).

Imam ibnul Qoyyim berkata: surat al-Falaq meliputi permohonan perlindungan dari segala musibah, sedangkan surat an nas meliputi permohonan perlindungan dari kejahatan aib yang muncul dari bisikan setan.

Kebutuhan manusia kepada dua surat ini (al-falaq dan an-nas) seperti kebutuhan mereka kepada makan dan minum.

Surat ini sebagai jaminan keamanan dan benteng pertahanan dari segala kejahatan dan keburukan.

Isti’adzah (mohon perlindungan) adalah ajaran nabi Muhammad ‘alaihis shalatu wassalam dan para nabi sebelumnya juga para sholihin, beliau ‘alaihis sholatu was salam dahulu berdoa untuk  dirinya dengan doa-doa yang beliau panjatkan kepada Allah, tetapi setelah dua surat ini (al-falaq dan an-nas) turun beliau menjadikan keduanya wirid (dzikir/bacaan rutin) dan meninggalkan selain seduanya.

Istri Imron (Hanah binti Yaqudz) adalah wanita shalehah, beliau memohon perlindungan kepada Allah untuk anaknya yaitu Maryam (ibunda nabi Isa) dengan doa yang diabadikan dalam al-quran

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

“Maka tatkala istri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada syaitan yang terkutuk“. (QS. Ali Imron: 36)

Jika mereka para nabi dan para orang sholeh senantiasa memohon perlindungan kepada Allah, maka kita manusia biasa lebih pantas memperbanyak mohon perlindungan kepadaNya.

قل أعوذ بربّ الفلق* من شر ما خلق

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.

Kata فلق yang artinya adalah subuh, tetapi bisa dimaknai pula semua yang retak bisa di sebut falaq, dan sejumlah ahli tafsir menyatakan bahwa semua makhluk adalah falaq.

فالق الإصباح yang menyingsingkan waktu malam yaitu subuh hari, seakan-akan malam itu retak lalu muncul sinar, فالق الحب و النوى menumbuhkan butir tumbuhan dan biji-bijian, ketika biji tumbuhan ingin tumbuh maka biji tersebut retak dan muncullah pohonnya. Ini semua Allah yang melakukannya, Dia membuat tanah retak untuk tumbuh tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, Dia membuat retak gunung untuk menjadi sumber mata air, dan Dia membuat retaknya mendung untuk turun air hujan.

Surat al-Falaq ini membuat pembacanya untuk senantiasa optimis dengan munculnya cahaya setelah kegelapan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah kesempitan dan jalan keluar setelah tertutupnya suatu masalah.

Dzat yang kuasa untuk menyingkirkan kegelapan malam menjadi terangnya siang hari, bukankah Dia kuasa juga untuk menyingkirkan bahaya yang akan menimpa hambaNya !?

Bersambung…

Referensi: tadabbur-alquran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Ketika Lisan Menjadi Barometer Bag.2

0

Ketika kaum mukminin membaca Al-Quran dan mentadabburinya, maka insyaAllah hal tersebut bisa merubah perilaku kesehariannya; tutur katanya menjadi baik, tangannya tidak digunakan kecuali dalm hal yang baik, matanya tidak di pakai untuk memandang kecuali yang baik, hatinya menjadi semakin lembut, pikirannya semakin jernih dalam memandang ke kenyataan hidup, rasa takut akan dosa semakin tinggi sehingga tidak semena-mena berbuat, dan intinya semakin berhati-hati di dalam menjalankan kehidupan dunia ini.

Diantara hal yang perlu dipertimbangkan dalam suatu amal adalah lisannya, apa yang keluar dari lisan apakah baik atau buruk, sesungguhnya apapun yang diucapkan oleh lisan ini akan tercatat secara detail oleh malaikat, Allah berfirman dalam bentuk ancaman untuk hamba-Nya

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qof: 18)

Ayat di atas menunjukkan apapun yang dilakukan oleh hamba akan di catat oleh malaikat, tidak terkecuali perkataan yang keluar dari mulut lisan tersebut, dan lisan ini termasuk anggota badan yang paling banyak beraktivitas.

Tidak sedikit dalil yang mengancam mereka yang tidak menjaga lisannya, Allah berfirman

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,.” (QS. Al-Humazah: 1)

Humazah adalah mereka yang menghina manusia dan mencela dengan isyarat dan perbuatan, sedangkan Lumazah adalah mereka yang menghina dan mencela manusia dengan lisannya. Kedua-duanya di ancam oleh Allah dengan firmanNya ويل (celaka/adzab yang pedih).

Adakalanya orang tidak sadar mengucapkan sesuatu yang dianggap remeh padahal di sisi Allah hal itu menjadi penghancur, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda

إنّ العبد ليتكلم بالكلمة لا يرى بها بأسًا يهوي بها في النار سبعين خريفًا

“Sungguh ada seorang hamba yang berkata dengan satu kalimat dia anggap remeh tak bernilai, tapi ternyata dengan ucapan satu kalimat tersebut dia tersungkur ke dalam neraka selama 70 tahun”. (HR. Tirmidzi)

Orang berakal akan berhati-hati benar dalam mengaktifkan lisannya agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan.

Barangsiapa yang bisa menjaga lisannya, maka dia telah menjaga keimanannya dan meluruskannya. Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

“Iman seorang hamba tidak akan lurus hingga lurus hatinya dan hati tidak akan lurus hingga lurus pula lisannya.” (HR. Ahmad)

Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata: Anggota tubuh terpenting yang harus dijaga keistiqamahannya setelah hati adalah lisan. Karena sesunguhnya lisan itu adalah penerjemah isi hati dan pengungkap apa saja yang ada didalamnya.

Nabi ‘alaihis shalatu wassalam juga menggantungkan keimanan seseorang dengan penjagaan lisan

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليسكت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya berkata yang baik atau diam”. (HR Bukhari)

Maka lisan ini menjadi barometer keimanan seseorang, semakin imannya tinggi semakin dia menjaga lisannya, semakin berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata.

Semoga penulis dan pembaca senantiasa di jaga lisannya dan juga keimanannya.

Referensi:

  • Belajar-islam.net
  • alminhajacademic.com
  • alukah.net
  • Dll

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Rajin Ibadah, Tapi Meremehkan Kehalalan Harta

0

Adakalanya seorang muslim yang rajin beribadah, namun dia memandang remeh dan kurang peduli dengan masalah harta haram. Bisa jadi amal ibadahnya tertolak, doanya tidak diijabah, dan usahanya tidak diberkahi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala baik dan Dia tidak akan menerima kecuali yang baik…

Di akhir hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ada seorang lelaki yang sedang melakukan safar, rambutnya kusut, kusam, dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit lalu berdoa, “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!… Sementara makanannya haram, minumannya haram,

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةً بِغَيْرِ طَهُورٍ ، وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa berwudhu (bersuci), dan tidak akan menerima sedekah dengan harta ghulul (khianat).” (HR. Muslim no.557)

Pembagian Harta Haram

Harta haram terbagi menjadi 2:

[1] Harta haram karena dzatnya

Harta haram karena dzatnya ada 4 macam:

(a)   Benda haram yang sama sekali tidak memiliki manfaat yang mubah, seperti khamr, patung berhala, alat musik, dst. 

Harta semacam ini harus dibuang dan sama sekali tidak boleh disimpan. Harta haram jenis ini tidak bisa diperjualbelikan dan tidak bisa dimanfaatkan.

Ketika khamr diharamkan, Abu Thalhah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang anak yatim yang memiliki warisan berupa khamr. Beliau bersabda, “Tumpahkan!” (HR. Ahmad no.12189)

(b)  Benda haram yang memiliki manfaat mubah, namun tidak boleh diperjual belikan. 

Seperti anjing, atau bangkai yang bisa disamak kulitnya, atau lemak bangkai yang bisa dimanfaatkan untuk minyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ

“Apabila Allah mengharamkan suatu kaum untuk makan sesuatu maka Allah haramkan hasil penjualannya.” (HR. Ahmad no.2221)

(c)   Benda yang haram dimakan namun halal dimanfaatkan dan diperjualbelikan.

Contoh keledai, bighal, kucing (menurut jumhur ulama).

Ibnul Qayyim menjelaskan,

وكالحمر الأهلية، والبغال ونحوها مما يحرم أكلُه دونَ الانتفاع به

“Seperti keledai jinak, bighal atau semacamnya, yang haram dimakan, namun tidak haram untuk dimanfaatkan.” (Zadul Ma’aad, 5/762)

(d)  Benda yang asalnya halal namun dia berpotensi digunakan untuk yang haram. 

Benda semacam ini tidak boleh diberikan kepada orang yang akan menggunakannya untuk tujuan yang haram, baik dengan cara cuma-cuma atau berbayar (jual beli).

Disebutkan dalam shahih Bukhari,

كَرِهَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ بَيْعَ السِّلاَحِ فِى الْفِتْنَةِ

Sahabat Imran bin Hushain membenci jual beli senjata ketika suasana konflik. (HR. Bukhari secara muallaq)

[2] Harta haram karena cara mendapatkannya

Harta ini dzatnya halal, seperti uang, bahan makanan atau properti lainnya. Namun menjadi haram, karena diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Cara mendapatkan harta haram, ada 2:

Pertama, didapatkan melalui transaksi haram yang saling ridha.

Itulah semua harta haram yang diperoleh dari transaksi saling setuju, tidak ada paksaan, dan atas dasar suka sama suka.

Misalnya harta haram dari hasil judi, atau transaksi riba atau transaksi gharar (tidak jelas). Termasuk hasil dari jual beli barang haram. Seperti hasil jual beli khamr, narkoba, rokok, atau senjata yang akan digunakan untuk membunuh kaum muslimin. 

Kedua, Diperoleh melalui cara yang tidak saling ridha (kedzaliman).

Seperti harta haram hasil pemaksaan, atau hasil menipu, korupsi, atau melalui tindak kriminal lainnya. Harta haram jenis ini tidak akan berubah statusnya menjadi halal. Karena harta ini tetap menjadi milik pihak yang dizhalimi.

Cara Bertaubat Dari Kedua Jenis Harta Haram

Adapun cara bertaubat dari dosa memiliki atau mendapatkan kedua jenis harta haram tersebut di atas maka dengan cara:

1. Menyesal, karena telah memakan atau menggunakan barang yang haram untuk dimakan atau digunakan.

2. Bertekad untuk tidak mengulanginya.

3. Memohon ampun kepada Allah atas dosa memakan atau menggunakan harta yang haram untuk digunakan.

4. Bila harta haram tersebut diharamkan karena alasan cara mendapatkannya yang terlarang, maka wajib untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau meminta untuk dimaafkan. Baik pemiliknya adalah perorangan atau instansi pemerintah atau perusahaan atau lainnya.

Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang tata cara bertaubat dari harta riba:

وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. al-Baqarah: 279)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْ خُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَعِبًاجَادًّا وَإِذَا أَخَذَأَحَدُكُمْ عَصَاأَخِيهِ فَلْيَرْدُدْهَا عَلَيْهِ

“Janganlah engkau mengambil barang milik temanmu, baik hanya sekedar bermain-main atau sungguh-sungguh. Dan bila engkau mengambil barang milik saudaramu, maka segera kembalikanlah kepadanya.” (HR. Abu Dawud no.5003)

Namun, bila anda tidak dapat mengembalikannya kepada pemiliknya karena suatu alasan yang dibenarkan secara syariat, maka sedekahkanlah harta tersebut atas nama pemiliknya. Dengan cara ini, berarti Anda menyiapkan diri dengan menabungkan pahala sebesar hartanya yang anda ambil. Dengan demikian, bila kelak ia menuntut haknya di hari Kiamat, maka Anda telah menyiapkan pahala sedekah sebesar hartanya yang Anda ambil dengan cara-cara yang tidak benar, sebagaimana ditegaskan pada hadis di atas.

wallahu ta’ala a’lam

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.5: Hal-Hal yang Merusak Hati

0

Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas kiat-kiat menghidupkan hati, maka pada artikel kali ini kita akan membahas hal-hal yang dapat merusak hati. Karena demikianlah konsep dalam Islam hal yang baik dan yang buruk harus sama-sama diketahui, yang baik dikerjakan yang buruk ditinggalkan.

Bila kita tidak mengetahui hal apa saja yang dapat merusak hati kita, bisa jadi sedikit demi sedikit hati kita rusak dan sakit tanpa kita sadari. Oleh karena itu sejatinya hati itu bisa rusak sebagaimana badan bisa rusak.

Hal-hal yang merusak hati sangat banyak diantaranya adalah:

1. Hati Disibukkan Dengan Hal-Hal Selain Allah Dan Bergantung Kepada Yang Lain-Nya.

Kesibukan-kesibukan yang memalingkan hati dari Allah banyak sekali, diantaranya adalah cinta dunia, panjang angan-angan, mencari-cari kesalahan orang lain, membenci orang lain, keingingan untuk balas dendam dan hati yang dipenuhi kedengkian kepada orang lain. Orang yang memiliki hati semisal ini kapan bisa mengkonsentrasikan hatinya kepada Allah dan terbebas dari berbagai was-was ini?

Hati akan berpaling dari Allah selain karena sebab-sebab di atas adalah karena kurang berdzikir mengingat Allah.

2. Dosa.

Pengaruh dosa untuk mengkelamkan hati dan mempertebal tabir yang menghalanginya dari Allah adalah nyata sekali. Firman Allah:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak, bahkan ran yang ada pada hati mereka disebabkan perbuatan yang mereka lakukan”. (QS. al-Muthaffifin: 14).

Yang dimaksud raan adalah sebagaimana terdapat dalam hadis yang dibawakan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

إِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَاِنْ تَابَ وَ نَزَعَ وَ اسْتَغْفَرَ صَقَلَ قَلْبُهُ وَ إِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ ذَلِكَ الرَانُ ذَكَرَهُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ “كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Bila seorang mukmin berbuat dosa maka terdapat titik hitam pada hatinya. Namun bila dia betaubat, menghentikan dosa yang dilakukannya dan beristighfar maka hatinya menjadi jernih. Namun bila dosanya makin bertambah maka noda hitamnya juga makin bertambah sehingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam firmanNya “Sekali-kali tidak bahkan yang pada hati mereka disebabkan perbuatan yang mereka lakukan”. (HR Ahmad dalam Musnadnya)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Raan adalah dosa yang bertumpuk-tumpuk hingga menyebabkan hati menjadi buta lalu mati” (Tafsir al-Quran al-‘Azhim 8/373).

3. Terlalu Sering Bergaul dengan Orang.

Bergaul dengan orang lain yang terpuji adalah bergabung dengan mereka dalam kebaikan dan tidak bergabung dengan mereka dalam dosa dan hal-hal yang diluar batas. Bagi siapa saja yang tidak  bisa terlepas dari bergaul dalam hal-hal yang bersifat mubah maka hendaklah dia mengelatiskan hatinya sebagaimana layaknya rambut dalam adonan roti. Tubuhnya bersama mereka namun hatinya tidak, dekat tapi jauh, tidur namun terjaga, memandang namun tidak melihat, mendengar ucapan mereka namun tidak memahaminya. Orang seperti itu telah melepaskan hatinya dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hatinya telah naik bersama para malaikat bersama-sama ruh-ruh yang suci yaitu para malaikat. (Tahdzibul Madarik hlm. 246).

4. Makan dan Minum yang Berlebih-Lebihan.

Al-Fudhail bin Iyadh (Syeikhul Islam al Imam Abu Ali At Tamimi wafat 186 H): Ada dua hal yang menyebabkan hati menjadi keras. Dua hal tersebut adalah terlalu banyak bicara dan terlalu banyak makan. (Nuzhatul Fudhala’ 2/667).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun kecuali hanya sekali. Saat itu kumasukkan tanganku ke dalam mulut supaya bisa kumuntahkan. Hal itu kulakukan karena kenyang itu menyebabkan badan terasa berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan suka tidur dan menyebabkan tubuh lemas untuk beribadah. (Nuzhatul Fudhala’ 2/736).

Abu Sulaiman ad Darani (Abdurrahman bin Ahmad al ‘Anasi, lahir di akhir tahun 140, wafat 215 H) mengatakan, “Segala sesutau memiliki karat. Karat hati adalah kenyang”. (Nuzhatul Fudhala’ 2/753).

5. Banyak Tidur.

Banyak orang yang menyia-nyiakan banyak waktu karena asyik tidur. Di zaman ini, orang yang ideal adalah memanfaatkan sepertiga usianya untuk tidur. Bahkan ada yang jauh lebih banyak dari itu. Jika begitu berapa lama dia tidur? Jika seorang terlalu banyak tidur sehingga tidurnya menyebabkannya meninggalkan berbagai kewajiban maka hatinya akan menjadi mati.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Langkah Praktis Menjadi Hafidz Al-Quran; Strategi Menghafal dan Menjaga Hafalan Tetap Kuat dan Tidak Mudah Lupa

0

Hafal Al-Quran adalah sebuah kemulian yang amat besar, para penghafal Al-Quran mereka adalah keluarga Allah di dunia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya” (HR. Ahmad)

Bagi seorang muslim yang ingin menghafal Al-Quran hendaknya ia meperhatiakn nasehat ini yang berisikan 6 faktor atau sarana agar mudah dalam menghafal Al-Quran serta hafalannya pun kuat dan kokoh.

1. Ikhlas

Bagi pelajar penghafal Al-Qur’an ia harus menata hatinya untuk ikhlas mengharap pahala dari Allah dalam menghafal Al-Qur’an, karena menghafal dan mempelajari Al-Qur’an adalah ibadah agung yang dapat mendekatkan diri hamba kepad Allah Ta’ala, maka dalam hal ini harus ada keikhlasan di dalam hati.

Tentunya bagi yang dapat membersihkan hatinya untuk ikhlas kepada Allah, niscaya akan lebih mudah baginya untuk menghafalkan Al-Qur’an. Ia akan merasa ringan dalam menghafal Al-Quran, senang, bahagia serta berharap terus-menerus agar dapat meraih pahala melimpah dari Allah Ta’ala.

2. Doa dan Minta Perolongan Kepada Allah.

Doa adalah sarana utama bagi setiap hamba untuk mendapatkan kebaikan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Bahkan Allah sendiri yang telah menekankan kepada hamba-Nya bahwa doa mereka akan diijabahi. Allah Ta’ala berfirman

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

3. Menjauhi Dosa dan Maksiat

Sesungguhnya dosa dan maksiat adalah perkara pengilang hafalan yang amat berbahaya. Dan meninggalkan keduanya adalah sarana terbaik agar mudah dalam menghafalkan Al-Qur’an dan memahami kandungan isinya.

Seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya selalu berhati-hati dan menjaga diri semampu mungkin agar tidak terjerumus kepada dosa dan kemaksiatan.

Dalam biografi Waki’ Al-Jarrah rahimahullan diterangkan bahwa Ali bin Khusurum berkata,

“Setiap aku melihat Waki’ tidak pernah ku lihat di tangannya ada kitab, karena ilmunya telah ia hafal.

Lantas aku bertanya kepadanya, apa obat agar hafalan tidak hilang, maka beliau berkata; jika aku ajarkan kepadamu, apakah kamu akan menggunakannya?

Aku menjawab “iya”

Maka beliau berkata; tinggalkanlah maksiat. Tidak ada yang pernah ku coba (untuk kuatlan hafalan) kecuali hal ini” (Tahdzib at-Tahdzib 11/129)

4. Pemahaman yang Benar Tentang Ayat Al-Qur’an

Sesungguhnya pemahaman yang benar terhadat ayat Al-Qur’an yang akan dihafal oleng seorang siswa adalah salah satu sarana menguatkan dan mempermudah ia dalam menghafal.

Karena tanpa adanya pemahaman, bisa jadi sisa tetap manghafalnya namun ia akan mudah untuk melupakan ayat tersebut, karena ia tidak paham isinya.

Contoh sederhananya adalah ketika anda memnaba sebuah majalah dan anda paham isinya, makan hafalan anda akan isi majalah tersebut lebih kuat dan kokoh dibandingkan bila anda tidak paham isi majalah yang anda baca.

Begitu pula dengan hafalan Al-Qur’an, bahkan ketika Murojaah, ia pun akan semakin mudah untuk mengulangnya karena sedari awal dia sudah paham isi ayat tersebut.

5. Senantiasa Membaca dan Mengulang-ulang Hafalan

Banyak membaca dan mengulang-ulang hafala itu akan menjadikan ayat yang di hafal kokoh dalam ingatan. Oleh karena itu membaca berulang-ulang ayat yang telah dihafal adalah perkara yang amat penting dalam menjaga hafalan.

Muhammad Qunbur dalam buku Dirasat Turotsiyyah fi At-Tarbiyati Al-Islamiyyah memaparkan bahwa Syaikh Az-Zarnuji rahimahullah berkata,

“Hendaknya engkau mengulang hafalan kemarin sebanyak 5 kali, hafalan hari sebelumnya lagi 4 kali, hafalan hari sebelumnya lagi 3 kali, hafalan hari sebelumnya lagi 2 kali, hafalan hari sebelumnya lagi 1 kali, dengan merutinkan ini hafalan akan menjadi kokoh”

Contoh ringkasnya bila sekarang hari Sabtu, maka hafalan hari Jumat diulang 5 kali, hari kamis 4 kali, hari Rabu 3 kali, hari Selasa 2 kali, dan hari Senin 1 kali.

6. Manfaatkan Kemajuan Media dan Teknologi

Seiring berjalannya waktu, kemajuan telnologi pun semakin ramai berkembang, mau tidak mau kita harus bisa beradaptasi dengan hal ini serta memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk hal-hal yang bermanfaat semisal menghafal Al-Qur’an.

Diantara media yang bisa digunkan untuk belajar adalah platform aplikasi seperti youtube, zoom, google meet, telegram, whatsapp, dan semisalnya.

selain itu ada pula banyak teknologi semisal, mp3 dan soundbox yang bisa diatur untuk mendengarkan ayat yang ingin di hafal atau dimurojahai secara berulang-ulang.

Referensi: Tharaiq wa Maharat Tadris Al-Quran Al-Karim, karya Dr. Ali bin Ibrahim Az-Zahrani hafidzahullah

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A
Artikel: HamalatulQuran.Com 

donatur-tetap