Home Artikel Warisan Ramadhan: Tujuh Amalan yang Harus Dipertahankan

Warisan Ramadhan: Tujuh Amalan yang Harus Dipertahankan

655
0
campaign psb PPHQ 26-27

Bulan mulia itu memang telah berlalu, namun jangan sampai bulan tersebut tidak memberikan jejak sama sekali dalam hidup kita.

Amalan-amalan kebaikan yang telah kita rutinkan dan kita pupuk dengan baik di bulan ramadhan seharusnya senatiasa kita jaga pada 11 bulan berikutnya.

Berikut ini adalah 7 amalan yang hendaknya senantiasa kita jaga selepas ramadhan, sebagai bentuk komitmen kita menuju ketakwaan yang hakiki serta semoga menjadi pertanda amalan kita di bulan ramadhan Allah terima.

1. Membaca Al-Quran Setiap Hari

Ramadhan menyampaikan kepada kita bahwa membaca 1 Juz dari Alqur’an setiap hari, itu sangat mudah; tapi selama ini kita memang sangat dikuasai oleh pikiran tentang dunia!

donatur-tetap

Banyak orang pada bulan-bulan biasa merasa berat membaca Al-Qur’an secara rutin, bahkan satu juz pun terasa sulit. Namun ketika datang bulan Ramadhan, sebagian besar kaum muslimin mampu membaca satu juz bahkan lebih setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan itu sebenarnya bukan pada kemampuan, tetapi pada prioritas hati dan kesibukan pikiran.

Allah Ta‘ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Namun kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 16–17)

2. Berpuasa Minimal 3 Hari Sebulan

Ramadan seakan menyampaikan kepada kita bahwa berpuasa 3 hari dalam sebulan, bukanlah sesuatu yang sulit, tapi kita memang sepanjang tahun, terlalu sibuk dengan apa yang diciptakan oleh Allah; bukan sibuk dengan untuk apa kita diciptakan oleh Allah.

Selama satu bulan penuh kita mampu menahan diri dari makan, minum, dan berbagai syahwat sejak fajar hingga matahari terbenam. Jika seseorang mampu menjalani puasa selama 29 atau 30 hari, maka secara logika ibadah puasa sunnah tiga hari setiap bulan tentu jauh lebih ringan.

Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan amalan ini:

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa tiga hari setiap bulan itu seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. al-Bukhari no. 1979, Muslim no. 1162)

3. Tetap Shalat Malam

Ramadan menyampaikan kepada kita bahwa pada waktu malam ada waktu untuk salat minimal 3 rakaat; itu tidak berat, tapi memang hati kita yang perlu terus diperkuat

Jika seseorang tidak mampu melakukan qiyamul-lail yang panjang, ia tetap dianjurkan untuk menjaga salat witir, minimal tiga rakaat.

Nabi shalallahu alaihi wasallam berwasiat kepada sebagian sahabat salah satunya sahabat Abu Hurairah.

أَوْصَانِي خَلِيلِي ﷺ بِثَلَاثٍ … وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku Rasulullah ﷺ berwasiat kepadaku dengan tiga perkara… dan agar aku melaksanakan witir sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari no. 1981, Muslim no. 721)

4. Gemar Berderma

Ketika seseorang berpuasa, ia merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari. Pengalaman ini membuat hati lebih mudah memahami keadaan orang-orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)

Ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang beriman tidak hanya merasakan penderitaan orang lain, tetapi juga berusaha membantu mereka.

5. Shalat Subuh Berjamaah

Pada bulan Ramadhan, banyak kaum muslimin mampu bangun malam untuk sahur dan melaksanakan berbagai ibadah. Setelah itu mereka tetap mampu pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Hal ini menunjukkan bahwa bangun pagi dan pergi ke masjid bukanlah sesuatu yang mustahil.

Kesulitan yang sering dirasakan pada hari-hari biasa sebenarnya lebih disebabkan oleh kebiasaan dan kurangnya semangat iman, bukan karena benar-benar tidak mampu.

6. Langkah Ke Masjid Berpahala Besar

Pada bulan Ramadhan, masjid menjadi lebih hidup. Kaum muslimin berkumpul untuk salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan melakukan berbagai ibadah lainnya.

Suasana ini menumbuhkan rasa kebahagiaan ketika berada di rumah Allah.
Bahkan orang yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk golongan yang mendapat keistimewaan besar di hari kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … di antaranya adalah seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)

Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada masjid merupakan tanda kemuliaan iman.

7. Selalu Memuliakan Wanita

Ramadan seakan mengabarkan kepada kita bahwa rumah kita itu sesungguhnya tegak di atas kesabaran perempuan; dan bahwa betapa sering kaum laki-laki sudah merasa lemah pada waktu setelah Asar, sementara kaum perempuan masih bekerja keras di dapur mempersiapkan hidangan berbuka dan menu makan malam. Ini mengajarkan kepada kaum laki-laki agar mereka semakin memuliakan, semakin lembut dan semakin sering membantu kaum perempuan!”

Syariat Islam sangat menekankan pentingnya bersikap lembut dan memuliakan perempuan, terutama dalam hubungan rumah tangga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi no. 3895)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang laki-laki dalam Islam diukur dari sikapnya terhadap keluarganya, terutama kepada istri dan anggota keluarganya di rumah.

Sumber: https://t.me/adhamsharkawii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here