Home Artikel Kembali ke Pesantren, Kembali Menjemput Keberkahan

Kembali ke Pesantren, Kembali Menjemput Keberkahan

7
0
campaign psb PPHQ 26-27

Masa liburan adalah salah satu nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada setiap hamba-Nya. Setelah sekian bulan menjalani rutinitas belajar, menghafal Al-Qur’an, serta berbagai aktivitas di pesantren, para santri memperoleh kesempatan untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan melepas kerinduan di kampung halaman.

Namun, setiap masa liburan pasti memiliki akhir. Kini saatnya para santri kembali menapaki perjalanan mulia sebagai penuntut ilmu dan penghafal Al-Qur’an. Kembali ke pesantren bukan sekadar kembali ke asrama, tetapi kembali kepada perjuangan, kedisiplinan, dan cita-cita besar meraih ridha Allah Ta’ala.

Tidak sedikit santri yang merasakan beratnya masa transisi setelah liburan panjang. Perasaan sedih karena harus berpisah dengan keluarga, suasana rumah yang masih terbayang, hingga menurunnya semangat belajar merupakan hal yang wajar. Dalam dunia psikologi kondisi ini dikenal sebagai post-holiday blues, yaitu munculnya rasa malas, kehilangan motivasi, atau kesulitan kembali menjalani rutinitas setelah masa liburan.

Akan tetapi, seorang muslim tidak boleh berlama-lama tenggelam dalam rasa malas. Sebab, setiap waktu yang Allah berikan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Terlebih bagi seorang santri yang sedang mengemban amanah menjaga Kalamullah di dalam dadanya.

Menumbuhkan Semangat Baru

Agar semangat belajar dan menghafal Al-Qur’an kembali tumbuh, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

donatur-tetap

1. Susun kembali target hafalan dan murojaah

Hari-hari pertama setelah kembali ke pesantren sering kali menjadi masa yang cukup berat. Oleh karena itu, buatlah jadwal harian yang realistis mengenai waktu menambah hafalan, murojaah, membaca Al-Qur’an, serta belajar pelajaran diniyah.

Jadwal yang tersusun rapi akan membantu diri lebih disiplin. Jangan menunggu semangat datang terlebih dahulu, tetapi mulailah bergerak. Sebab sering kali semangat justru muncul setelah kita memulai.

2. Awali dari pekerjaan yang ringan

Setelah lama meninggalkan kamar dan lingkungan pesantren, mulailah dengan menyelesaikan pekerjaan sederhana seperti merapikan lemari, tempat tidur, buku-buku pelajaran, maupun perlengkapan pribadi.

Pekerjaan kecil yang berhasil diselesaikan akan membangun kembali rasa produktif sehingga lebih mudah melanjutkan aktivitas yang lebih besar.

3. Jadikan semester baru sebagai awal perubahan

Jangan membawa kegagalan semester sebelumnya sebagai beban yang melemahkan semangat. Jadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran agar semester ini menjadi lebih baik.

Bulatkan tekad untuk meningkatkan kualitas hafalan, memperbaiki akhlak, lebih rajin menghadiri majelis ilmu, serta lebih disiplin dalam menjaga waktu.

Allah Ta’ala mencintai hamba yang terus memperbaiki dirinya dari hari ke hari.

4. Perbaiki hubungan dengan Allah dan sesama

Keberhasilan seorang santri bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keberkahan hidupnya.

Karena itu, jagalah hubungan dengan Allah melalui shalat yang khusyuk, dzikir, doa, tilawah, dan keikhlasan dalam beribadah.

Di samping itu, perbaikilah hubungan dengan kedua orang tua melalui bakti dan doa, hormati para ustadz, serta bangun persaudaraan yang baik dengan teman-teman di pesantren. Hati yang bersih akan memudahkan seseorang menerima ilmu yang bermanfaat.

5. Ingat kembali harapan kedua orang tua

Di balik keberangkatan seorang santri menuju pesantren, tersimpan doa-doa panjang dari ayah dan ibu. Mereka rela berpisah demi melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang shalih, berilmu, dan dekat dengan Al-Qur’an.

Ketika rasa malas mulai datang, ingatlah kembali wajah kedua orang tua, pengorbanan mereka, serta harapan besar yang mereka titipkan kepada kita. Semoga hal itu menjadi penyemangat untuk terus berjuang.

Jadilah Penuntut Ilmu yang Bersungguh-sungguh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim)

Hadis yang agung ini menjadi pedoman hidup setiap penuntut ilmu. Ada beberapa pelajaran besar yang dapat kita petik.

Pertama, manfaatkan waktu sebaik-baiknya

Setiap manusia memperoleh waktu yang sama, yaitu dua puluh empat jam setiap hari. Yang membedakan hanyalah bagaimana seseorang menggunakannya.

Santri yang mengisi waktunya dengan menghafal Al-Qur’an, murojaah, membaca kitab, beribadah, dan membantu sesama akan memperoleh hasil yang berbeda dengan mereka yang gemar menyia-nyiakan waktu.

Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Kedua, jangan pernah sombong dengan kecerdasan

Ada santri yang mudah menghafal, ada pula yang harus mengulang berkali-kali. Semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

إِنَّمَا الْعِلْمُ مَوَاهِبُ يُؤْتِيهِ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ مِنْ خَلْقِهِ

“Sesungguhnya ilmu adalah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.”

Karena itu, kepintaran bukan alasan untuk merasa lebih mulia. Sebaliknya, siapa pun yang merasa kesulitan dalam belajar jangan berkecil hati. Teruslah berusaha, perbanyak doa, dan mohon taufik kepada Allah.

Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah mengutip sebuah bait yang indah:

هَتَفَ الذَّكَاءُ وَقَالَ لَسْتُ بِنَافِعٍ
إِلَّا بِتَوْفِيقٍ مِنَ الْوَهَّابِ

“Kecerdasan berkata: Aku tidak akan bermanfaat kecuali apabila disertai taufik dari Allah Yang Maha Pemberi.”

Betapa banyak orang yang cerdas namun tidak memperoleh keberkahan ilmu. Sebaliknya, banyak pula orang yang sederhana kemampuannya, tetapi Allah bukakan pintu ilmu karena keikhlasan dan ketakwaannya.

Ketiga, jangan mudah berputus asa

Perjalanan menghafal Al-Qur’an bukan perlombaan siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling istiqamah.

Apabila hari ini hafalan terasa sulit, bukan berarti esok akan tetap demikian. Selama seseorang terus memperbaiki niat, menjaga usaha, dan memohon pertolongan kepada Allah, niscaya akan Allah bukakan jalan yang terbaik baginya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kembali ke pesantren sejatinya adalah kembali menuju ladang pahala. Di sanalah seorang santri ditempa untuk menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, dan dekat dengan Al-Qur’an.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kesehatan, kemudahan, serta semangat baru kepada seluruh santri Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Yogyakarta. Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap huruf Al-Qur’an yang dihafalkan, dan setiap kesabaran dalam menuntut ilmu menjadi amal shalih yang mengantarkan kepada ridha-Nya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here