Lebaran tinggal menghitung hari. Suasana khas hari raya mulai terasa—aroma masakan dari dapur, stoples kue yang tertata, dan rencana silaturahmi yang mulai disusun. Namun di tengah semua persiapan itu, mari sejenak kita berhenti dan bertanya pada diri sendiri:
Apakah Lebaran nanti sekadar menjadi seremonial tahunan yang melelahkan raga, atau benar-benar hadir sebagai momentum yang mencerahkan jiwa?
Banyak yang terjebak pada anggapan bahwa Idul Fitri adalah garis akhir yang membebaskan kita dari segala “beban” ibadah. Seolah-olah begitu takbir berkumandang, semangat taat pun perlahan menghilang, disiplin ibadah ikut merenggang.
Padahal Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini mengingatkan bahwa penghambaan tidak mengenal kata usai—termasuk pada hari raya. Jangan sampai pahala puasa yang kita jaga dengan susah payah selama sebulan penuh justru luntur dalam sekejap, hanya karena kita lengah menjaga adab dan sikap.
Karena itu, Idul Fitri tidak cukup disambut sebagai tradisi tahunan. Ia adalah saat yang penuh keberkahan dan pengagungan. Agar hari raya benar-benar menenangkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah, ada beberapa hal sederhana yang perlu kita perhatikan.
- Mensucikan Lahir dan Batin
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, waktu terbaik bagi seorang hamba untuk membersihkan dosa dan memperbaiki diri. Ketika Ramadhan berlalu dan Idul Fitri tiba, harapan setiap hati tentu ingin menjadi pribadi yang lebih taat, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah.
Karena itu, Idul Fitri bukan sekadar kegembiraan lahiriah. Hari raya bukan hanya tentang pakaian baru, hidangan istimewa, atau kemeriahan suasana. Para ulama sering mengingatkan dengan sebuah bait hikmah:
ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمَّل باللباس والركوب إنما العيد لمن غُفِرت له الذنوب
“Bukanlah hari raya itu milik orang yang memakai pakaian baru, tetapi milik orang yang ketaatannya bertambah. Bukan pula milik orang yang memperindah diri dengan pakaian dan kendaraan, tetapi milik mereka yang dosa-dosanya telah diampuni.”
Artinya, yang paling penting dari Idul Fitri adalah hati yang bersih dan ketaatan yang semakin bertambah.
Beberapa sunnah yang dianjurkan pada hari raya di antaranya:
- Mandi sebelum shalat Id
- Memakai pakaian terbaik
- Makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri
- Berjalan ke tempat shalat dan pulang melalui jalan yang berbeda
- Melangitkan Takbir: Membesarkan Allah, Mengecilkan Diri
Sejak matahari terbenam di akhir Ramadhan hingga shalat Id dimulai, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak takbir. Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Takbir bukan sekadar suara yang memeriahkan hari raya. Kalimat اللّٰهُ أَكْبَرُ mengingatkan kita bahwa Allah benar-benar Maha Besar, sementara manusia hanyalah hamba yang lemah.
Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللّٰهِ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia selalu membutuhkan Allah dalam segala hal. Bahkan ibadah di bulan Ramadhan—puasa, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an—tidak akan mampu kita lakukan tanpa pertolongan-Nya.
Karena itu, takbir adalah pengakuan bahwa Allah Maha Besar, sementara kita hanyalah hamba yang lemah. Idul Fitri bukan saatnya membesarkan ego, tetapi merendahkan hati di hadapan-Nya.
- Saling Mendoakan, Bukan Sekadar Formalitas
Idul Fitri sering identik dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin.” Namun jangan sampai ucapan itu hanya menjadi formalitas lisan saja. Hari raya seharusnya menjadi momen membersihkan hati dari dendam, saling memaafkan, dan saling mendoakan kebaikan.
Allah mendorong hamba-Nya untuk memiliki hati yang lapang dan mudah memaafkan. Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Bahkan Allah juga memuji orang-orang yang mampu menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa memaafkan orang lain tidak akan merendahkan seseorang. Justru Allah akan meninggikan derajatnya. Beliau bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim no.2588)
Karena itu, saat berjabat tangan di hari raya, sebaiknya kita juga saling mendoakan. Para sahabat Nabi dahulu memiliki kebiasaan indah ketika bertemu di hari Id, mereka saling mengucapkan:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
(Taqabbalallāhu minnā wa minkum)
“Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”
Ucapan ini mengingatkan kita bahwa setelah sebulan berpuasa dan beribadah, kita tetaplah hamba yang lemah. Kita sudah berusaha beramal, tetapi hanya rahmat Allah yang bisa membuat amalan itu benar-benar diterima.
- Prioritas Shalat: Jangan Terlena di Perjalanan
Hari raya sering diisi dengan berbagai agenda silaturahmi. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kota ke kota yang lain. Namun di tengah padatnya perjalanan dan hangatnya pertemuan keluarga, jangan sampai kita lalai dari kewajiban yang paling utama: shalat lima waktu.
Idul Fitri adalah hari syukur atas ketaatan yang telah kita jalani selama Ramadhan. Karena itu, jangan sampai kesibukan silaturahmi membuat kita lengah hingga menunda atau melalaikan panggilan shalat.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.”(QS. An-Nisa: 103)
Bahkan ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menjawab:
أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا
“Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.”(HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)
Di tengah kesibukan silaturahmi di hari raya, ingatlah bahwa shalat tetap kewajiban yang utama. Silaturahmi boleh saja padat, namun jangan sampai membuat kita lalai dari shalat.
Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc
Artikel: HamalatulQuran.Com





