Allah Ta’ala bersumpah. Dan Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.
وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar. Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Ketika Al-Qur’an menyebut ‘malam yang sepuluh’, para ulama tafsir di antaranya Ibnu Katsir, Ibnu Abbas, dan Ibnu az-Zubair sepakat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Allah Yang Maha Agung menjadikan hari-hari ini sebagai sumpah-Nya. Ini bukan sesuatu yang sepele. Ini adalah pengumuman dari langit bahwa hari-hari ini adalah istimewa, mulia, dan penuh keberkahan.
Namun pertanyaannya: sudahkah kita menganggap hari-hari ini seistimewa yang Allah anggap? Atau kita masih melewatinya seperti hari-hari biasa — bangun, bekerja, makan, tidur — tanpa menyadari bahwa di hadapan kita tersebar permadani emas yang hanya terbentang setahun sekali?
Persaksian Langit atas Sepuluh Hari Ini
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya menganjurkan — beliau menegaskan dengan kalimat yang tegas dan penuh semangat:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ — يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini — yakni sepuluh hari (pertama Dzulhijjah).”(HR. Bukhari, no. 969)
Perhatikan sabda ini dengan seksama. Rasulullah tidak mengatakan ‘cukup baik’ atau ‘dianjurkan’. Beliau mengatakan: PALING DICINTAI ALLAH. Dari seluruh hari dalam setahun tiga ratus enam puluh lima hari, Allah menetapkan bahwa amal di sepuluh hari ini adalah yang paling Ia cintai.
Para sahabat yang mendengar sabda ini langsung bertanya dengan penasaran: bahkan lebih dari jihad fi sabilillah? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Ya, bahkan melebihi jihad fi sabilillah — kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (di jalan Allah) lalu tidak kembali membawa apapun (karena gugur syahid).” (HR. Bukhari, no. 969)
Subhanallah. Ini bukan keutamaan biasa. Ini adalah puncak keutamaan. Dan Allah membuka pintu keutamaan ini untuk semua orang — bukan hanya para mujahid, bukan hanya jamaah haji, tapi juga untuk kita yang berada di rumah, di kantor, di pasar, di mana pun kita berada.
Mengapa Allah Mencintai Hari-Hari Ini?
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah ini karena di dalamnya terkumpul ibadah-ibadah induk yang tidak terkumpul di hari manapun: shalat, puasa, sedekah, dan haji — semua ada dalam rentang waktu ini.
Inilah yang membuat Allah mencintai hari-hari ini. Di sini, pintu ibadah dibuka selebar-lebarnya. Dan Allah dengan segala kemuliaan-Nya menunggu hamba-hamba-Nya untuk melewati pintu itu.
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
“Sesungguhnya Allah memiliki kecemburuan, dan kecemburuan Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari, no. 5223)
Kalau Allah cemburu ketika hamba-Nya berbuat dosa, maka bayangkan betapa Allah mencintai ketika hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadah di hari-hari terbaik yang telah Ia pilihkan.
Amal-Amal yang Dianjurkan
Tidak ada amalan khusus yang diwajibkan secara tunggal di sepuluh hari ini. Justru itulah keindahannya — pintu dibuka lebar untuk semua jenis kebaikan. Berikut amal-amal yang sangat dianjurkan:
- Memperbanyak Dzikir, Takbir, Tahmid, dan Tahlil
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…”(QS. Al-Hajj: 28)
Para ulama menafsirkan ‘hari-hari yang telah ditentukan’ sebagai sepuluh hari Dzulhijjah. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada hari-hari ini sambil bertakbir dengan keras, dan orang-orang pun ikut bertakbir mengikuti mereka. Hidupkan takbir di rumah kita, di perjalanan kita, di setiap momen kita.
- Puasa Arafah — Penghapus Dosa Dua Tahun
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa) tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.”(HR. Muslim, no. 1162)
Puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah hadiah yang Allah tawarkan kepada seluruh umat Islam di seluruh dunia — bukan hanya yang sedang wukuf di Arafah. Satu hari puasa, dan Allah menawarkan penghapusan dosa dua tahun. Ini bukan tawaran yang bisa diabaikan begitu saja.
- Memperbanyak Amalan Shalih Apapun
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah: ‘Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada amal yang lebih dicintai Allah daripada di sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.’ Bahkan shalat sunnah lebih utama dari hari biasanya. Sedekah lebih utama dari hari biasanya. Membaca Al-Qur’an lebih utama dari hari biasanya. Menyambung silaturahmi lebih utama dari biasanya. Setiap kebaikan dilipatgandakan nilainya oleh Allah di hari-hari ini.
- Berkurban di Hari Idul Adha
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2)
Bagi yang mampu, menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik (10-13 Dzulhijjah) adalah sunnah yang sangat ditekankan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa tidak ada amalan manusia di hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (kurban). Dan hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya sebagai saksi amal kebaikan kita.
Bukan Hanya Urusan Jamaah Haji
Ada salah paham yang sering terjadi di masyarakat: bahwa Dzulhijjah hanya urusan orang yang pergi haji. Sehingga yang tidak berangkat ke Makkah merasa tidak punya ‘bagian’ di bulan ini.
Ini keliru. Dan ini perlu diluruskan.
Justru Allah membuka pintu keutamaan Dzulhijjah untuk seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia — termasuk kita yang berada di Yogyakarta, di Jakarta, di desa-desa terpencil, di mana saja. Kita semua punya bagian di bulan ini.
Bahkan, ada amalan yang tidak bisa dilakukan oleh jamaah haji tapi bisa kita lakukan: puasa Arafah. Karena orang yang sedang wukuf di Arafah tidak disunnahkan berpuasa, justru kita yang di rumah-lah yang meraih pahala puasa Arafah yang luar biasa itu.
Allah Maha Adil. Ia tidak menutup pintu kebaikan hanya untuk satu kelompok. Seluruh umat punya kesempatan yang sama untuk meraih cinta-Nya di hari-hari yang mulia ini.
Ia Datang Setahun Sekali — dan Kita Tidak Tahu Kapan Giliran Terakhir
Setiap kali Dzulhijjah tiba, ia membawa pesan yang sunyi namun dalam: ‘Ini mungkin Dzulhijjahmu yang terakhir.’
Kita tidak pernah tahu apakah kita masih ada di tahun depan. Banyak yang merencanakan untuk serius beribadah di Dzulhijjah berikutnya — tapi Dzulhijjah berikutnya tidak pernah mereka temui. Mereka pergi lebih dulu.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah membuat mereka melupakan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Melupakan Allah di hari-hari terbaik adalah kerugian yang paling nyata. Karena hari-hari itu tidak akan kembali. Tidak ada yang bisa memutar waktu dan berkata, ‘Izinkan aku mengisi ulang hari itu dengan amal.’
Dzulhijjah ini — yang sedang kita jalani sekarang — adalah kesempatan nyata di tangan kita. Bukan tahun depan. Bukan nanti. Sekarang.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها
“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]
Sepuluh hari Dzulhijjah adalah waktu yang Allah sendiri pilihkan sebagai terbaik. Ia bukan kebetulan dalam kalender. Ia adalah undangan dari Allah — undangan untuk meraih cinta-Nya, undangan untuk mendekat kepada-Nya, undangan untuk menjadi hamba yang benar-benar dicintai-Nya.
Maka tidak perlu menunggu waktu yang ‘tepat’ untuk memulai. Tidak perlu menunggu kondisi yang ‘sempurna’. Mulailah dari yang bisa kita lakukan hari ini: satu dzikir lebih banyak, satu rakaat lebih khusyuk, satu sedekah meski kecil, satu maaf yang kita berikan.
Karena Allah mencintai amal yang dilakukan dengan istiqamah, meskipun sedikit. Dan di hari-hari Dzulhijjah ini, bahkan amalan kecil pun menjadi luar biasa di mata-Nya.





