KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah mengistimewakan rumah-Nya di muka bumi ini sebagai kiblat umat Islam, tempat tawaf dan sujud, serta lambang persatuan kaum beriman di seluruh penjuru dunia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya yang setia.
Wahai saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Kita kini berada di bulan Dzulqa’dah — salah satu dari empat bulan haram yang Allah muliakan. Bulan ini menjadi jembatan spiritual menuju Baitullah, karena ia mendahului bulan Dzulhijjah, bulan di mana jutaan hamba Allah memasrahkan jiwa dan raga di tanah suci Makkah al-Mukarramah.
Siapakah di antara kita yang tidak pernah terlintas dalam hatinya sebuah kerinduan — rindu untuk melihat Ka’bah, rindu untuk meletakkan dahi di hadapan Baitullah, rindu untuk mendengar azan di Masjidil Haram, rindu untuk berdiri di Arafah, dan rindu untuk minum air zamzam yang penuh berkah? Kerinduan itu adalah fitrah-fitrah seorang hamba kepada rumah Allah Ta’ala
Namun pertanyaan besarnya adalah:
Apakah kerinduan kita hanya sebatas angan-angan, ataukah ia telah berubah menjadi amal nyata?
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang ada di Bakkah (Makkah), yang penuh berkah dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 96)
Dan Allah juga berfirman:
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) sebagai tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Sementara itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Tidak boleh melakukan perjalanan (ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul (Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan kemuliaan tiga masjid tersebut di atas semua masjid di muka bumi, dan bahwasanya perjalanan menuju tempat-tempat itu adalah ibadah yang disyariatkan.”(Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/169)
Wahai jamaah yang dimuliakan Allah,
Banyak orang mengaku rindu Baitullah, namun kerinduan itu tidak pernah berbuah apapun. Kerinduan yang benar — kerinduan yang diridhai Allah — adalah kerinduan yang mendorong pemiliknya untuk bergerak, mempersiapkan diri, dan bersungguh-sungguh dalam amal.
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin:
“Kerinduan (syauq) kepada Allah dan rumah-Nya adalah tanda cinta yang benar. Namun cinta yang sejati tidak hanya diam di dalam hati — ia menjelma menjadi tekad, lalu menjadi langkah, lalu menjadi amal yang nyata.”
Allah Ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Ali Imran: 97)
Kata kunci dalam ayat ini adalah ‘istatho’a’ kemampuan. Para ulama sepakat bahwa istitha’ah mencakup kemampuan fisik, finansial, dan keamanan jalan. Namun yang sering dilupakan adalah:
kemampuan itu harus diusahakan, bukan sekadar ditunggu.
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mampu melakukan haji namun menundanya hingga ia mati, maka ia mati dalam keadaan durhaka kepada Allah.” (Dinukil oleh Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’)
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing: sudah berapa lama kita ‘rindu’ Baitullah, namun belum mengambil langkah apapun? Ada di antara kita yang sudah bertahun-tahun merindukan Ka’bah, namun uang yang ada habis untuk hal-hal yang kurang penting. Ada yang menunggu ‘waktu yang tepat’, padahal waktu yang tepat itu tidak akan datang sendiri.
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan:
“Menunda haji padahal telah mampu adalah bentuk pengabaian terhadap kewajiban. Dan di antara tipu daya setan adalah menjadikan manusia merasa masih ada waktu, masih ada kesempatan lain — hingga akhirnya ia meninggal sebelum sempat berangkat.”(Lathaiful Ma’arif, hal. 461)
Ada tiga golongan dalam masalah ini:
Pertama: Orang yang rindu Baitullah dan terus berupaya — menabung, berdoa, mempersiapkan diri. Inilah rindu yang disertai amal.
Kedua: Orang yang rindu Baitullah namun pasif, menunggu datangnya keajaiban tanpa ikhtiar. Inilah rindu yang mandul.
Ketiga: Orang yang bahkan tak pernah terlintas dalam hatinya kerinduan itu. Ini tanda lemahnya iman dan cinta kepada Allah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ
Wahai jamaah rahimakumullah,
Setidaknya ada empat langkah untuk mengubah kerinduan kepada Baitullah menjadi amal nyata:
- Perkuat Niat dan Tekad
Rasulullah ﷺ bersabda: “Segala perbuatan tergantung niat” (HR. Bukhari Muslim). Niatkan dalam hati dengan sungguh-sungguh
- Mulailah Menabung dan Mempersiapkan Bekal
Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa bekal haji yang halal adalah syarat diterimanya ibadah haji. Mulailah dari yang kecil, sisihkan sebagian rezeki setiap bulan. Allah tidak membebani hamba kecuali sesuai kemampuannya.
- Perbanyak Doa dan Tawakkal
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa kepada Allah agar manusia berduyun-duyun mendatangi Baitullah:
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37)
Berdoalah dengan sungguh-sungguh: ‘Ya Allah, panggillah aku ke rumah-Mu, sebagaimana Engkau telah memanggil Ibrahim untuk menyerukan haji kepada manusia.’
- Manfaatkan Bulan Dzulqa’dah sebagai Momentum Spiritual
Bulan Dzulqa’dah adalah bulan haram. Perbanyaklah ibadah, perbanyaklah istighfar, dan jadikan bulan ini sebagai pemanasan spiritual menjelang Dzulhijjah. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: ‘Barangsiapa tidak mampu pergi haji, hendaknya ia menghidupkan bulan-bulan haram dengan ketaatan, agar Allah bukakan jalannya di masa yang akan datang.’
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dipanggil ke rumah-Nya, diterima ibadahnya, dan dikembalikan dengan membawa ampunan dan ridha-Nya. Aamiin.







