Home Artikel Khutbah Jumat: Menggapai Ketenangan Hidup dengan Iman kepada Qadha dan Qadar

Khutbah Jumat: Menggapai Ketenangan Hidup dengan Iman kepada Qadha dan Qadar

9
0
campaign psb PPHQ 26-27

 

Khutbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah

Sesungguhnya di antara pokok-pokok keimanan yang agung adalah iman kepada qadha dan qadar. Tidaklah sempurna iman seorang hamba hingga ia meyakini bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya. Bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan kebaikan dan keburukan; tidak terjadi sesuatu pun kecuali dengan ilmu dan pencatatan-Nya, dan tidak terlaksana suatu urusan kecuali dengan kehendak dan iradah-Nya. Tidak ada sesuatu pun melainkan Allah-lah Penciptanya.

Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwa iman kepada qadha dan qadar termasuk dari enam rukun iman yang tidak sempurna iman seorang hamba kecuali dengannya, ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya:

donatur-tetap

فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Beritahukan kepadaku tentang iman.”Beliau menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik dan buruknya.” (HR. Muslim)

Iman kepada qadha dan qadar dalam syariat berarti bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segala sesuatu sejak azali, dan Dia mengetahui bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu yang telah diketahui oleh-Nya, serta dengan sifat-sifat tertentu. Maka semuanya terjadi sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

الْقَضَاءُ وَالْقَدَرُ فِعْلٌ عَادِلٌ حَكِيمٌ غَنِيٌّ عَلِيمٌ يَضَعُ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ فِي أَلْيَقِ الْمَوَاضِعِ بِهِمَا

“Qadha dan qadar adalah perbuatan (ketetapan) dari Dzat Yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kaya, lagi Maha Mengetahui; Dia menempatkan kebaikan dan keburukan pada tempat yang paling layak bagi keduanya.” (Syifa al-“alil hlm.97)

Iman kepada takdir memiliki tingkatan-tingkatan, yang mencakup empat perkara: ilmu, pencatatan, kehendak, dan penciptaan.

Seorang hamba beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Dia mengetahui keadaan hamba, ajal mereka, rezeki mereka, kondisi mereka, serta siapa yang menjadi penghuni surga dan penghuni neraka sebelum mereka diciptakan.

Allah berfirman:

 لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (QS. At-Thalaq: 12)

Seorang hamba juga beriman bahwa Allah telah menuliskan seluruh takdir di Lauhul Mahfuzh sebelum terjadinya.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Dan beliau bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ، وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berfirman: Tulislah. Pena berkata: Apa yang harus aku tulis? Allah berfirman: Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Ketika Allah telah menetapkan segala sesuatu, Dia juga memberikan kepada manusia kemampuan untuk memilih, serta membebaskannya menempuh jalan kebaikan atau keburukan. Maka manusia tidak dipaksa, tetapi diberi pilihan.

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)

Namun kehendak manusia tetap berada di bawah kehendak Allah. Karena itu, tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk berbuat maksiat. Itu adalah cara setan dan pengikutnya.

Seorang yang bertauhid beriman kepada takdir, baik dan buruknya, manis maupun pahitnya. Ia bertawakal kepada Allah, tidak bergantung kepada sebab semata, namun juga tidak meninggalkannya, karena mengambil sebab adalah bagian dari tawakal.

Di antara hal yang bertentangan dengan iman kepada takdir adalah meninggalkan amal dengan alasan “semuanya sudah ditakdirkan.” Padahal yang menetapkan takdir juga memerintahkan kita untuk beramal. Nabi ﷺ bersabda:

اعْمَلُوا؛ فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)

Termasuk yang bertentangan dengan iman kepada takdir adalah menolak ketentuan Allah dengan keluh kesah, seperti berkata: “Seandainya aku melakukan ini, pasti akan begini.” Atau berkata tentang musibah: “Dia tidak pantas mendapatkan ini.”

Yang wajib adalah menerima dan ridha terhadap ketetapan Allah.
Nabi ﷺ bersabda: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah… Jika engkau tertimpa sesuatu, jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini…’, tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’” (HR. Muslim)

 أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمْدُ للَّهِ وَكَفَى، وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الذِينَ اصْطَفَى، وَبَعْدُ؛ أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah

Iman kepada qadha dan qadar adalah sumber kebahagiaan. Dengannya hati menjadi lapang, penuh kebahagiaan, dan terhindar dari kesedihan. Betapa indah kehidupan seorang hamba ketika ia menyerahkan urusannya kepada Allah, ridha terhadap pembagian-Nya, dan menerima takdir-Nya. Maka ia hidup bahagia di dunia dan mendapat pahala di akhirat.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

اللَّهمَّ نَسألُكَ حُبَّكَ ، وحَبَّ مَن يُحِبُّكَ ، وحُبًّا يُبَلِّغُني حُبَّكَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا ، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا

عِبَادَ اللَّهِ: أُذكُرُوا اللَّهَ ذِكرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكرَةً وَأَصِيلًا، وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الحَمدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here