Home Artikel Haji Mabrur: Buah Ketaatan yang Mengantarkan ke Surga

Haji Mabrur: Buah Ketaatan yang Mengantarkan ke Surga

11
0
campaign psb PPHQ 26-27

Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu. Namun, tujuan utama ibadah haji bukan sekadar menyelesaikan rangkaian manasik di Tanah Suci, melainkan meraih predikat haji mabrur.

Kata mabrur berasal dari bahasa Arab yang berarti kebaikan, keberkahan, dan diterima oleh Allah Ta’ala. Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, mengikuti tuntunan syariat, serta menghasilkan perubahan positif dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ»

“Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi ﷺ ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab: ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Ditanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab: ‘Jihad di jalan Allah.’ Ditanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab: ‘Haji yang mabrur.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain beliau bersabda:

donatur-tetap

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ciri-Ciri Haji Mabrur

Para ulama menjelaskan bahwa tanda diterimanya ibadah haji dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada diri seseorang setelah kembali dari Tanah Suci.

1. Semakin Taat kepada Allah

Orang yang memperoleh haji mabrur akan semakin rajin menjalankan ibadah, seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan melaksanakan berbagai amal saleh lainnya. Haji menjadi titik awal peningkatan kualitas keimanan, bukan sekadar pengalaman spiritual sesaat.

2. Menjauhi Maksiat

Selama berhaji, seorang Muslim dilatih untuk menjaga lisan, pandangan, dan perilakunya. Allah SWT berfirman:

فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“Maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Jika setelah pulang haji seseorang semakin menjauhi dosa dan kemaksiatan, maka hal itu merupakan tanda kebaikan dari hajinya.

3. Memiliki Akhlak yang Lebih Baik

Haji mabrur melahirkan pribadi yang santun, rendah hati, penyabar, dan peduli terhadap sesama. Ia tidak merasa lebih mulia hanya karena telah menyandang gelar haji, tetapi justru semakin tawadhu’ dan mudah membantu orang lain.

4. Gemar Berbuat Kebaikan

Sebagian ulama menyebutkan bahwa salah satu tanda haji mabrur adalah memperbanyak memberi makan, membantu orang lain, dan menyebarkan salam. Semangat berbagi dan kepedulian sosial menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan spiritual selama ibadah haji.

Menjaga Kemabruran Haji

Meraih haji mabrur bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, kemabruran harus dijaga dengan beberapa cara:

  1. Istiqamah dalam menjalankan ibadah.
  2. Memperbanyak syukur kepada Allah SWT.
  3. Menjaga persaudaraan dan silaturahmi.
  4. Menjadi teladan dalam keluarga dan masyarakat.
  5. Memperbanyak amal saleh dan sedekah.

Ibnu Rojab rahimahullah mengatakan:

ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Balasan dari suatu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”

Artinya salah satu tanda diterimanya amal adalah dimudahkannya seseorang untuk terus melakukan amal saleh setelahnya.

Haji mabrur adalah impian setiap jamaah haji. Predikat tersebut tidak diukur dari banyaknya oleh-oleh yang dibawa pulang atau gelar yang disandang, tetapi dari perubahan iman, akhlak, dan amal setelah kembali ke tanah air. Haji yang diterima Allah akan melahirkan pribadi yang lebih dekat kepada-Nya, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih istiqamah dalam ketaatan.

Semoga Allah Ta’ala menerima ibadah haji para jamaah, mengaruniakan haji yang mabrur, dosa-dosa yang diampuni, serta kehidupan yang penuh keberkahan hingga akhir hayat. Aamiin.

Referensi:

  • Al-‘Asqalani, A. I. H. (2001). Fath al-Bari bi syarh Sahih al-Bukhari. Riyadh, Saudi Arabia: Dar al-Salam.
  • Al-Nawawi, Y. S. (1996). Al-Majmu’ sharh al-Muhadhdhab (Vols. 1–20). Jeddah, Saudi Arabia: Maktabah al-Irsyad.
  • Al-Nawawi, Y. S. (2000). Al-Minhaj fi sharh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj (Syarh Sahih Muslim). Beirut, Lebanon: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
  • Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, M. A. B. (1998). Zad al-ma’ad fi hady khayr al-‘ibad. Beirut, Lebanon: Mu’assasah al-Risalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here