Home Artikel Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.16

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.16

5
0
campaign psb PPHQ 26-27

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kaum laki-laki merendahkan kaum yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula kaum perempuan merendahkan kaum lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itu orang-orang dzalim.” (QS. Al-Hujurat 11)

Ini adalah sapaan dari Allah untuk kaum mukminin dengan atribut iman, dan melarang kaum mukminin saling mengejek, ejekan terhadap orang yang lebih rendah darinya adalah termasuk ejekan terhadap Allah ta’ala, bukankah Allah yang telah menganugerahkan kelebihan kepadanya.  Karena itu Allah menyatakan:

عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“bisa jadi mereka yang diejek lebih baik dari mereka yang mengejek.”

Seorang pencemooh hari ini bisa jadi dicemooh esok hari, dan mungkin orang yang dianggap lebih rendah hari ini akan menjadi lebih unggul esok hari, hal ini sesuatu yang bisa dicermati. Beberapa hadis menyatakan: “Barangsiapa mengejek saudaranya karena suatu dosa, ia tidak akan mati sampai ia melakukan sendiri dosa tersebut.” HR. Tirmidzi. Dan dalam hadis lain: “Janganlah engkau bersukacita atas kemalangan saudaramu, karena Allah akan menyembuhkannya dan menimpakan malapetaka kepadamu.” HR. Tirmidzi.

donatur-tetap

Oleh karena itu, seseorang harus berpegang teguh pada adab yang telah diajarkan Allah kepadanya, dan tidak mengejek orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik darinya.

Siapa yang melakukan tiga hal (merendahkan orang, mencela diri sendiri, dan memanggil dengan julukan buruk) dan tidak bertaubat, maka dia termasuk orang dzalim. Kedzaliman berakibat kegelapan pada hari kiamat, seperti sabda Nabi ‘alaihis sholatu was salam:

اَلظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kedzaliman ialah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” HR. Bukhori Muslim.

Pada hari kiamat cahaya orang mukmin mengelilingi mereka dari segala arah; baik dari depan, belakang, kanan dan kirinya. Sedangkan orang dzalim mereka tidak mempunyai cahaya yang menerangi jalan mereka.  Maka harus berhati-hati dari apa yang Allah larang, sesungguhnya hamba hanya menjalankan apa yang diperintah dan menjahui apa yang dilarang. (Tafsir syekh utsaimin)

Segala perkara yang bisa mendatangkan persatuan, maka disyariatkan dalam syareat Islam, seperti: memberi salam, berjabat tangan, memberi hadiah, dan memberi senyuman. Bahkan berbohong dalam rangka mendamaikan dua orang yang sedang bertikai, padahal hukum asal bohong adalah harom, tetapi demi untuk menjaga persatuan umat, maka diperbolehkan. Sebaliknya segala perkara yang merusak persaudaraan, maka semuanya diharamkan, seperti yang disebutkan dalam surat ini: Mengejek, menghina, mengfitnah, memanggil dengan panggilan yang tidak disukai, melakukan ghibah, dan berburuk sangka. (At-Taisir)

Faedah Ayat:

  1. Larangan mengejek , dengan bentuk segala ejekan kepada seorang muslim, dan tentu saja mengejek orang lain, tidak diperbolehkan pula.
  2. Larangan saling menghina, merendahkan, dan mengfitnah. Baik dengan Al-lamz (mencela dengan lisan) maupun Al-hamz (mencela dengan perbuatan).
  3. Larangan menyebut panggilan yang ada unsur menghina, yaitu penggunaan nama-nama yang tidak disukai, nama ada tiga jenis:
  4. Nama yang dibenci dan akan marah ketika dipanggil dengan nama tersebut, inilah yang dimaksud dalam ayat ini, maka dilarang menyebut atau memberi nama kepada seseorang dengan nama itu. Nabi ‘alaihis sholatu was salam beberapa kali mengubah sebagian nama sahabatnya, seperti: Al-Ash menjadi Abdullah, Syihab dengan Hisyam, dan Harb menjadi Silm.
  5. Nama atau laqab yang dicintai pemiliknya, seperti abu At-Turab untuk Ali bin Abi Thalib, hal ini diperbolehkan.
  6. Nama yang sudah lazim digunakan, seperti Al-A’raj (pincang) dan Al-Ahdab (bungkuk), dan pemilik nama tersebut tidak mempermasalahkannya. Hal ini telah disepakati oleh umat akan kebolehannya. (Al-Hujurat adab wa ahkam).

Senantiasa penulis memohon kepada Allah untuk diri sendiri dan para pembaca agar selalu di atas taufiqNya. Aamiiin.

Sumber:

  • Tafsir al-Quran al-Karim syekh Muhammad sholeh al-Ustaimin
  • Tafsir at-Taisir Dr. Firanda
  • Al-Hujurat adab wa ahkam

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, M.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here