Marah adalah Fitrah dan bagian dari emosi manusia. Rasa kesal, kecewa, tersinggung, atau marah merupakan sesuatu yang secara alami dapat dirasakan oleh setiap manusia.
Bahkan para nabi sebagai manusia pilihan Allah juga pernah merasakan marah. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa عليه السلام:
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا
“Dan ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan bersedih hati…” (QS. Al-A’raf: 150)
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa beliau adalah manusia yang memiliki sifat-sifat manusiawi:
اللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، أَرْضَى كَمَا يَرْضَى الْبَشَرُ، وَأَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Aku bisa merasa senang sebagaimana manusia merasa senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.” (HR. Muslim no. 2603)
Maka, merasakan marah bukanlah dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang membiarkan kemarahannya menguasai dirinya sehingga mendorongnya melakukan sesuatu yang dilarang Allah.
Karena itu, Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang tidak pernah marah. Islam mengajarkan kita bagaimana mengendalikan kemarahan.
Kemuliaan Orang yang Mampu Menahan Marah
Allah Ta’ala memuji orang-orang yang mampu mengendalikan emosinya:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Perhatikan urutannya:
الْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ → وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ → وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Menahan amarah → memaafkan → berbuat ihsan.
Ini menunjukkan bahwa akhlak yang tinggi bukan sekadar mampu menahan diri untuk tidak membalas. Lebih tinggi lagi adalah mampu memaafkan, bahkan kemudian berbuat baik kepada orang yang berbuat salah.
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Marah?
1. Membaca Ta’awudz
Ketika marah, seseorang sangat mudah kehilangan kendali. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan.
Bacalah:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melihat dua orang yang saling mencaci. Salah satunya sampai wajahnya memerah karena marah. Nabi ﷺ bersabda:
إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Sungguh, aku mengetahui satu kalimat yang apabila dia mengucapkannya, niscaya hilang apa yang dia rasakan. Seandainya dia mengucapkan: A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.” (HR. Bukhari no. 6115 dan Muslim no. 2610)
Jadi, ketika marah, jangan langsung berbicara. Berhenti sejenak dan berlindung kepada Allah.
2. Mengubah Posisi Tubuh
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan cara sederhana untuk mengendalikan kemarahan:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِع
“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika kemarahannya belum hilang, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud no. 4782)
Pelajaran pentingnya adalah:
Jangan mengikuti dorongan emosi. Ubahlah posisi tubuh agar kita lebih tenang dan tidak langsung bertindak. Ketika marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika masih marah, berbaringlah. Dengan begitu, kita memberikan jeda antara emosi dan tindakan, sehingga tidak melakukan sesuatu yang nantinya kita sesali.
3. Diam dan Menjaga Lisan
Ketika marah, jangan terburu-buru berbicara. Satu ucapan saat emosi dapat menyakiti orang lain dan menimbulkan penyesalan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad)
Diam bukan berarti kalah, tetapi cara untuk menjaga diri dari ucapan yang salah. Maka ketika marah: diam, tenangkan diri, lalu berbicara setelah emosi reda
4. Berwudhu
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan wudhu sebagai salah satu cara menghadapi kemarahan.
Dalam hadits disebutkan:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, sedangkan setan diciptakan dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud no. 4784)
Maka ketika hati sedang panas, salah satu langkah praktis yang bisa dilakukan adalah:
Berhenti → diam → pergi berwudhu.
Dengan demikian, kita menggabungkan usaha spiritual dan usaha untuk menenangkan diri.
5. Ingat Pahala dan Keutamaan Menahan Amarah
Menahan marah bukan berarti kalah atau tidak mampu membalas. Justru ketika seseorang mampu melampiaskan kemarahannya tetapi memilih menahan diri karena Allah, itulah bentuk kekuatan yang sebenarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ
“Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga memberinya pilihan bidadari yang ia kehendaki.” (HR. Abu Dawud no. 4777 dan Tirmidzi no. 2493)
Dalam hadis lain, Nabi ﷺ menjanjikan balasan yang sangat agung:
لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ
“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; lihat Sahih At-Targhib wa At-Tarhib, No. 2749, shahih lighairihi)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no 6114 dan Muslim no. 2609)
Rumus Praktis Ketika Marah
Agar mudah diingat, gunakan rumus:
MARAH → BERHENTI → TA’AWUDZ → DIAM → DUDUK → WUDHU → PIKIRKAN PAHALA → MAAFKAN
Ketika seseorang marah:
- Berhenti dari tindakan yang akan dilakukan.
- Baca ta’awudz.
- Diam, jangan membalas dengan kata-kata.
- Duduk jika sedang berdiri.
- Berwudhu.
- Ingat pahala orang yang menahan amarah.
- Setelah tenang, pilih sikap yang paling baik.
- Jika memungkinkan, maafkan.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim (Surah Al-A’raf [7]: 150 dan Surah Ali ‘Imran [3]: 134)
- Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy’as. Sunan Abi Dawud (No. Hadis 4777, 4782, 4784).
- Ahmad bin Hanbal. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal (Jilid 1, No. Hadis 2136).
- Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (No. Hadis 2749).
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Adab al-Mufrad (No. Hadis 245).
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari (No. Hadis 6114, 6115).
- At-Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Mu’jam al-Kabir (Hadis “لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ”).
- At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Sunan at-Tirmidzi (No. Hadis 2021 / 2493).
- Muslim, Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi. Shahih Muslim (No. Hadis 2603, 2609, 2610).
- Dorar Al-Saniyyah. Mawsu’ah al-Ahadits wa at-Takhrij. Laman resmi: www.dorar.net.
Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc








