Home Artikel Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.20

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.20

5
0
campaign psb PPHQ 26-27

Manusia memiliki kesamaan derajat di sisi Allah Ta’ala, yang membedakannya adalah tingkat ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat 13)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”.

yaitu tercipta dari Adam dan Hawa, artinya kalian setara dalam garis keturunan, dan setiap manusia tercipta dari airnya laki-laki dan airnya perempuan. Imam Mujahid rahimahullah mengatakan: tidaklah Allah menciptakan seseorang kecuali dari air mani laki-laki dan air mani perempuan.

Pergeseran dari kewajiban mu’amalah ke kewajiban pribadi seseorang untuk memperhatikan dirinya sendiri, disebabkan kekaguman setiap suku terhadap kelebihan yang ada pada mereka dan kelebihan yang ada pada kelompoknya atas kelompok yang lain tersebar luas di masa jahiliyah. Hal ini menimbulkan rasa dendam dan pertikaian, dan melebar menjadi ejekan, fitnah, hinaan, kecurigaan, pengintaian, dan ghibah, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Ayat ini datang untuk mendisiplinkan kaum mukminin agar menjauhi apa yang telah terjadi pada masa jahiliyah, untuk mencabut akar-akarnya yang masih tersisa dalam jiwa manusia akibat bercampurnya golongan-golongan kaum mukminin setelah tahun wufud (delegasi) pada tahun ke 9 H, karena makin banyaknya orang-orang yang masuk Islam.

donatur-tetap

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum mukminin agar mereka bersaudara dan mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, Dia melarang mereka melakukan hal-hal yang dapat merusak persaudaraan atau meredupkan cahaya persaudaraan dalam jiwa mereka, seperti: mengejek, memfitnah, mencaci-maki, mencurigai, memata-matai, dan menggunjing. Maka Allah mengingatkan mereka tentang asal muasal persaudaraan dalam nasab yang diteguhkan oleh ukhuwah Islamiyah dan kesatuan iman, agar pengingat ini dapat membantu dalam memahami keadaan mereka.

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ  وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

(dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal)

Kami jadikan kalian orang-orang yang mempunyai kemiripan. Sebagian mirip dengan nasab yang dekat, dan sebagian yang lain mirip dengan nasab yang jauh. Kemiripan dengan yang jauh di sebut Syu’ub sedangkan kemiripan yang dekat disebuat dengan Qabail. Hal ini dilakukan agar kalian dapat saling mengenal berdasarkan garis keturunan.

Ayat ini menjelaskan dan mengingatkan kepada kabilah dan bangsa-bangsa yang biasanya mereka suka fanatik terhadap kabilah atau bangsa mereka dan mengejek atau merendahkan kabilah atau bangsa lain, untuk tidak melakukan hal tersebut, karena hakikatnya mereka berasal dari satu nenek moyang, yaitu Adam dan Hawa ‘alaihimas salam. Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ini bukan untuk saling mengejek dan merendahkan, akan tetapi untuk saling mengenal.

Allah menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, baik kecil maupun besar, agar mereka saling mengenal. Jika masing-masing dari mereka hidup sendiri-sendiri, mereka tidak akan tercapai pengertian bersama yang mengarah pada saling mendukung, bekerja sama, mewarisi, dan memenuhi hak-hak kerabat. Namun, Allah ciptakan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar hal-hal ini dan hal-hal lainnya dapat terjadi, hal-hal yang bergantung pada pengenalan satu sama lain dan pembentukan garis keturunan. Namun, kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan, sehingga yang paling mulia di antara mereka di mata Allah adalah yang paling saleh, yang paling taat dan paling menjauhi dosa.

Bersambung.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, M.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here