Home Artikel Khutbah Jumat: Berhenti Ikut Campur, Mulai Perbaiki Diri

Khutbah Jumat: Berhenti Ikut Campur, Mulai Perbaiki Diri

3
0
campaign psb PPHQ 26-27
Khutbah Pertana

الحمد لله الهادي إلى سبيل الرشاد، موفِّق مَن شاء من عباده إلى طريق السداد، أحمَده سبحانه وأشكُره، وشكره واجبٌ على جميع العباد،

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، لا خير إلا دلَّ الأمة عليه، ولا شرَّ إلا حذَّرها منه،

اللهم صلِّ وسلِّم على عبدك ورسولك الناصح الأمين، وعلى آله وصحبه والتابعين؛ أما بعد

Jamaah sidang jumat rahimakumullah

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan awasilah diri kalian sebagaimana pengawasan orang yang meyakini bahwa dirinya akan dihisab atas amal yang besar maupun yang kecil, dan diawasi dalam setiap perkataannya yang agung maupun yang remeh. Yakinlah bahwa pada setiap anggota tubuhnya ada pengawas dan pencatat, dan pada setiap lintasan pikiran, pandangan, atau ucapannya ada malaikat pengawas yang senantiasa hadir. Maka hendaklah ia gunakan dirinya untuk taat kepada Rabb-nya, menjauhi apa yang dilarang dan diperingatkan-Nya, menyibukkan diri dengan mencari-cari aib dirinya sendiri untuk diperbaiki, dan berusaha mensucikan jiwanya agar beruntung. Sungguh, demi Allah,

“beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Kesucian jiwa itu hanya dapat diraih dengan amal-amal saleh, menjauhi hal-hal yang diharamkan, serta mengendalikan diri agar tidak terjerumus dalam hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan haram.

Sesungguhnya penghulu umat manusia Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersungguh-sungguh memperhatikan umatnya, memberikan nasihat yang sempurna kepada mereka, menjelaskan jalan kebenaran agar mereka menempuhnya, dan memperingatkan mereka dari jalan-jalan kerusakan agar mereka menjauhinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dianugerahi jawami’ al-kalim (ungkapan yang singkat namun padat makna) yang menerangi jalan kita dan membimbing kita menuju keselamatan dan taufik. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

donatur-tetap

مِن حُسن إسلام المرء تركُه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”

Kalimat ini telah menghimpun kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya seseorang, apabila ia meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat baginya, dan mencukupkan diri hanya dengan perkataan dan perbuatan yang bermanfaat baginya, maka baiklah keislamannya. Hal itu karena Islam menuntut pelaksanaan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

المسلم مَن سلِم المسلمون من لسانه ويده

Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.”

Apabila keislaman seseorang telah baik, maka konsekuensinya adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya, baik dari perkara-perkara yang diharamkan, yang syubhat (samar-samar), yang makruh, maupun kelebihan dari perkara-perkara mubah yang sesungguhnya tidak ia perlukan. Sesungguhnya inilah muslim yang sempurna keislamannya, yang telah mencapai derajat ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan ia melihat-Nya; dan jika ia tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatnya.

Apabila seseorang telah memiliki sifat yang agung ini, ia akan senantiasa menghadirkan keagungan Penciptanya, Yang Membentuknya, dan Ilahnya, sehingga hal itu mewajibkan baginya rasa malu kepada Allah. Ia pun akan menyibukkan diri dengan apa yang bermanfaat baginya, dan menjauh dari apa yang tidak bermanfaat baginya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الحياء شُعبة مِن شُعب الإيمان

“Malu adalah salah satu cabang dari cabang-cabang keimanan.”

Penjelasan tentang makna rasa malu ini telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan At-Tirmidzi, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

الاستحياء من الله: أن تحفَظ الرأس وما وعى، وتحفظ البطن وما حوى، ولتذكر الموت والبِلى، ومَن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حقَّ الحياء

“Malu yang sebenarnya kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dikandungnya (pikiran dan panca indera), menjaga perut dan apa yang dikandungnya (dari yang haram), serta mengingat kematian dan kehancuran jasad. Barangsiapa yang menghendaki akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Maka barangsiapa melakukan hal itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.”

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata:

“Barangsiapa yang menghitung perkataannya sebagai bagian dari amalnya, niscaya ia akan sedikit berbicara kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

Dan benarlah apa yang beliau rahimahullah katakan itu. Sesungguhnya kebanyakan manusia tidak memperhitungkan apa yang mereka ucapkan, dan hal itu tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Seandainya mereka mengingat bahwa mereka kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka ucapkan, niscaya hal itu akan menimbulkan rasa takut dan kehati-hatian pada diri mereka. Sungguh, perkara ini tersembunyi bagi kebanyakan manusia, bahkan tersembunyi pula bagi sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hal itu tersembunyi bagi Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, hingga ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?” Maka beliau bersabda:

ثَكِلتْك أمُّك يا معاذ، وهل يَكُبُّ الناس على مناخرهم في النار إلا حصائدُ ألسنتهم

“Celakalah engkau, wahai Mu’adz! Bukankah tidaklah manusia tersungkur ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh hasil (buruk) dari lisan-lisan mereka?”

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

أكثرُ الناس ذنوبًا أكثرُهم كلامًا فيما لا يعنيهم

“Manusia yang paling banyak dosanya adalah yang paling banyak berbicara tentang apa yang tidak bermanfaat baginya.”

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dan jagalah lisan kalian dengan sungguh-sungguh, serta jauhilah campur tangan dalam perkara yang tidak bermanfaat bagi kalian, agar agama kalian tetap terjaga, agar kehormatan diri (muru’ah) kalian tetap terpelihara, dan agar kehormatan (harga diri) kalian tetap terlindungi. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk:

 وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua malaikat pencatat amal mencatat amal-amalnya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 16–18)

نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبهدي سيد المرسلين، أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنبٍ، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله عالم الغيب والشهادة، أحمَده سبحانه وأشكُره على ما أَولاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلَّم تسليمًا كثيرًا؛ أما بعد

Jamaah sidang jumat rahimakumullah

Biasakanlah diam kecuali pada perkara yang memang diperlukan. Betapa banyak orang yang menyesal ketika ia berbicara, dan betapa sedikit orang yang menyesal ketika ia diam.

Sesungguhnya sesengsara-sengsaranya manusia dan seberat-beratnya ujian yang menimpa seseorang adalah ketika ia diuji dengan lisan yang bebas berbicara namun hati yang tertutup tidak pandai berbicara dengan baik, dan tidak pula mampu untuk diam. Telah disebutkan dalam Shahih Ibnu Hibban, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Termasuk yang terdapat dalam lembaran-lembaran (wahyu) Ibrahim ‘alaihissalam: hendaknya orang yang berakal itu memahami betul zamannya, fokus mengurus urusannya sendiri, dan menjaga lisannya. Barangsiapa yang menghitung perkataannya sebagai bagian dari amalnya, niscaya ia akan sedikit berbicara kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  وَأَقِمِ الصَّلَاةَ

 

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/1067/184233/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here