Home Artikel Istisqa: Ketika Langit Menanti Taubat Kita

Istisqa: Ketika Langit Menanti Taubat Kita

1
0
campaign psb PPHQ 27-28

Hujan adalah salah satu nikmat Allah yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika ia mulai jarang turun. Selama air masih mengalir, sawah masih mendapatkan pengairan, pepohonan masih hijau, dan kebutuhan air masih mudah terpenuhi, kita mungkin menganggap hujan sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, di balik turunnya setiap tetes air hujan terdapat rahmat dan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya.

Dalam syariat Islam, ketika hujan tertahan dan manusia membutuhkan air, terdapat ibadah yang dikenal dengan istisqa, yaitu memohon kepada Allah Ta’ala agar menurunkan hujan.

Dalam Mulakhas Fiqh al-‘Ibadat dijelaskan bahwa istisqa adalah permohonan kepada Allah Ta’ala agar menurunkan hujan dengan cara-cara tertentu yang telah dituntunkan oleh syariat.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَسۡقَيۡنَٰكُمُوهُ وَمَآ أَنتُمۡ لَهُۥ بِخَٰزِنِينَ

“Maka Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan (air) itu, dan bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22)

donatur-tetap

Ayat ini mengingatkan kita bahwa air bukanlah semata-mata hasil kemampuan manusia. Kita mungkin mampu membuat bendungan, sumur, saluran irigasi, dan berbagai teknologi pengelolaan air. Namun, siapa yang menurunkan air dari langit? Siapa yang mengatur turunnya hujan? Siapa yang menjadikannya sebab kehidupan bagi manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan?

Dialah Allah Ta’ala.

Dengan turunnya hujan, Allah memberikan maslahat yang sangat besar bagi kehidupan. Manusia mendapatkan air untuk minum dan memenuhi kebutuhannya. Hewan mendapatkan sumber kehidupan. Tanah yang kering kembali subur. Tumbuhan yang sebelumnya layu kembali tumbuh. Bahkan kehidupan banyak makhluk yang tidak kita sadari bergantung pada keberadaan air.

Karena itu, ketika hujan turun, sejatinya yang sedang turun bukan sekadar air dari langit, tetapi rahmat Allah yang sedang menyapa bumi.

Ketika Hujan Ditahan

Namun, ada kalanya langit tidak menurunkan hujan. Tanah mulai mengering, sumber-sumber air berkurang, tanaman layu, dan kehidupan mulai menghadapi kesulitan.

Seorang mukmin tidak hanya melihat fenomena tersebut dari sisi sebab-sebab alamiah. Ia juga melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi: jangan-jangan ada dosa yang belum kita tinggalkan, kewajiban yang belum kita tunaikan, atau nikmat Allah yang belum kita syukuri.

Dalam berbagai nash syariat, dosa dan kemaksiatan disebut sebagai sebab datangnya berbagai musibah dan terhalangnya keberkahan. Salah satu dosa yang secara khusus disebutkan berkaitan dengan tertahannya hujan adalah keengganan menunaikan zakat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

“Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, kecuali mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Ketika manusia menahan hak Allah yang terdapat pada harta mereka, Allah dapat menahan sesuatu yang sangat mereka butuhkan.

Maka persoalan kekeringan bukan hanya persoalan cuaca. Bagi seorang muslim, ia juga menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita menunaikan zakat?

Sudahkah kita meninggalkan maksiat?

Sudahkah kita benar-benar mensyukuri nikmat Allah?

Sudahkah kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia?

Allah Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Perhatikan akhir ayat tersebut:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Agar mereka kembali.”

Inilah salah satu hikmah penting dari musibah dan kesulitan. Ia bukan sekadar hukuman, tetapi juga teguran agar manusia kembali kepada Allah.

Ketika hujan tertahan, seorang mukmin tidak hanya menunggu mendung. Ia juga seharusnya memperbanyak istighfar, meninggalkan maksiat, menunaikan kewajiban, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta kembali kepada ketaatan.

Istisqa Bukan Sekadar Meminta Hujan

Karena itu, shalat istisqa tidak semestinya dipahami hanya sebagai ritual untuk meminta air turun dari langit. Ia adalah momentum untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan mengakui bahwa manusia sangat membutuhkan pertolongan-Nya.

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma’ad menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan istisqa dalam beberapa bentuk, di antaranya:

1. Melaksanakan shalat istisqa.

2. Berdoa meminta hujan dalam khutbah Jumat.

3. Berdoa meminta hujan tanpa disertai shalat istisqa maupun khutbah Jumat.

Semua itu menunjukkan bahwa ketika manusia membutuhkan hujan, tempat bergantungnya bukanlah langit, awan, ataupun sebab-sebab alam semata, tetapi Allah Dzat yang mengatur seluruh sebab tersebut.

Shalat Istisqa Tanpa Taubat, Apa Artinya?

Di sinilah letak pelajaran penting dari istisqa.

Shalat istisqa memang merupakan sunnah Nabi ﷺ. Namun, jangan sampai kita berhenti pada pelaksanaan shalat dan doa semata, sementara kehidupan kita tidak berubah.

Kita berdiri memohon hujan, tetapi masih mempertahankan kemaksiatan.

Kita mengangkat tangan meminta rahmat Allah, tetapi masih meremehkan kewajiban.

Kita berharap langit dibuka, tetapi hati belum sungguh-sungguh ingin kembali kepada Allah.

Maka istisqa seharusnya menjadi gerakan lahir dan batin sekaligus: kaki melangkah menuju tempat shalat, sementara hati melangkah kembali menuju Allah.

Sebagaimana dinukil dari Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, shalat istisqa merupakan sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ untuk memohon turunnya hujan. Namun, hal itu hendaknya disertai dengan taubat dan kembali kepada ketaatan. Sebab, tujuan seorang hamba bukan sekadar mendapatkan hujan, tetapi juga mendapatkan ampunan dan rahmat Allah.

Karena itu, ketika istisqa dilaksanakan, hendaknya ia menjadi momentum untuk melakukan perubahan.

Yang sebelumnya lalai menjadi lebih taat.

Yang sebelumnya gemar bermaksiat berusaha meninggalkan maksiat.

Yang sebelumnya enggan menunaikan zakat segera menunaikannya.

Yang sebelumnya jauh dari Al-Qur’an kembali mendekatinya.

Yang sebelumnya memutus silaturahmi berusaha memperbaikinya.

Yang sebelumnya menzalimi orang lain berusaha meminta maaf dan mengembalikan haknya.

Sebab, istisqa bukan sekadar meminta langit menurunkan air, tetapi juga mengajak manusia menurunkan kesombongan dan kembali merendahkan diri di hadapan Allah.

Ketika Langit Belum Menurunkan Hujan

Barangkali ada yang bertanya, “Bukankah kita sudah melakukan shalat istisqa dan berdoa, tetapi hujan belum juga turun?”

Jawabannya, kita harus tetap meyakini bahwa Allah Mahabijaksana. Doa seorang mukmin tidak sia-sia. Allah mengetahui kapan hujan diturunkan, seberapa banyak yang dibutuhkan, dan apa yang paling baik bagi hamba-Nya.

Karena itu, jangan menjadikan istisqa sekadar sebagai ritual yang dilakukan ketika kekeringan datang. Jadikan ia sebagai alarm untuk melakukan muhasabah.

Boleh jadi bukan hanya bumi yang sedang membutuhkan air.

Hati kita pun sedang membutuhkan siraman rahmat Allah.

Boleh jadi bukan hanya tanah yang sedang kering.

Iman kita juga sedang mengalami kekeringan.

Boleh jadi bukan hanya pepohonan yang membutuhkan hujan.

Jiwa kita juga membutuhkan istighfar, taubat, dan kedekatan dengan Allah.

Maka ketika hujan belum juga turun, jangan hanya melihat ke langit. Sesekali lihatlah ke dalam diri.

Adakah dosa yang belum kita tinggalkan?

Adakah kewajiban yang belum kita tunaikan?

Adakah hak manusia yang belum kita kembalikan?

Adakah nikmat Allah yang belum kita syukuri?

Adakah hati yang masih keras dan jauh dari-Nya?

Berdoalah dan Perbaikilah Diri

Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika meminta hujan adalah,

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

“Ya Allah, berilah kami hujan yang memberikan pertolongan, hujan yang baik, membawa kesuburan dan manfaat, tidak membawa bahaya, segera dan tidak ditunda.” (HR. Abu Dawud)

Nabi ﷺ juga berdoa,

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

“Ya Allah, berilah minum kepada hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati.” (HR. Abu Dawud)

Doa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa hujan bukan sekadar kebutuhan manusia. Ia adalah rahmat bagi seluruh makhluk.

Maka ketika kita meminta hujan, jangan hanya meminta air yang membasahi tanah. Mintalah pula agar Allah membasahi hati kita dengan iman, ilmu, dan ketakwaan.

Mintalah agar hujan yang turun menjadi hujan yang membawa manfaat, bukan bencana.Mintalah agar kekeringan bumi menjadi sebab suburnya tanaman, dan kesulitan yang kita alami menjadi sebab tumbuhnya taubat dan ketakwaan.

Hujan datang dari langit, tetapi rahmat Allah jauh lebih luas daripada sekadar air yang turun membasahi bumi.

Ketika hujan tertahan, mungkin saatnya kita berhenti sejenak dari kesibukan, kemudian bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar kembali kepada Allah?

Mari kita lakukan istisqa dengan penuh ketundukan. Namun, jangan berhenti pada shalat dan doa.

Bertaubatlah.

Tunaikanlah zakat.

Tinggalkanlah kemaksiatan.

Perbanyak istighfar.

Tegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Saling menolong dalam kebaikan.

Dan yang paling penting, kembalilah kepada Allah dengan hati yang benar-benar membutuhkan-Nya.

Sebab kita bukan hanya membutuhkan hujan. Kita membutuhkan rahmat Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here