Home Akidah Mengapa Syirik Menjadi Dosa Terbesar di Sisi Allah?

Mengapa Syirik Menjadi Dosa Terbesar di Sisi Allah?

4
0
campaign psb PPHQ 27-28

Mengapa Syirik Menjadi Dosa yang Paling Besar? Besarnya dosa syirik dapat diketahui dari berbagai ancaman yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Di antara ancaman tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Syirik tidak akan diampuni apabila pelakunya meninggal tanpa bertobat darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)

Ayat ini menunjukkan betapa beratnya dosa syirik. Apabila seseorang meninggal dunia dalam keadaan melakukan kesyirikan dan belum bertobat darinya, Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut.

Adapun orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh sebelum meninggal dunia, Allah Maha Pengampun dan menerima tobat hamba-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga tauhid dan segera bertobat apabila terjatuh dalam dosa.

  1. Syirik menyebabkan pelakunya diharamkan masuk surga apabila meninggal dalam keadaan tidak bertobat darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang dzalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

donatur-tetap

Ayat ini merupakan ancaman yang sangat keras bagi orang yang melakukan syirik. Orang yang meninggal dalam keadaan membawa syirik tanpa bertobat darinya diharamkan masuk surga dan akan menjadi penghuni neraka.

Hal ini menunjukkan bahwa syirik bukanlah dosa yang boleh dianggap remeh. Seorang muslim harus benar-benar menjaga keimanannya agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang dapat membinasakan dirinya di akhirat.

  1. Syirik dapat menghapus pahala amal kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ayat ini menunjukkan betapa berbahayanya syirik terhadap amal seorang hamba. Sebanyak apa pun amal kebaikan yang dilakukan seseorang, kesyirikan dapat menyebabkan amalnya terhapus.

Karena itu, menjaga kemurnian tauhid merupakan perkara yang sangat penting. Amal kebaikan tidak cukup hanya dilakukan dengan bersungguh-sungguh, tetapi juga harus dilandasi keimanan dan dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan.

  1. Syirik merupakan bentuk kedzaliman yang sangat besar karena memberikan hak Allah kepada selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali menegaskan melalui firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Allah adalah Pencipta seluruh makhluk dan satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Oleh sebab itu, mempersembahkan ibadah kepada selain Allah merupakan bentuk kedzaliman yang sangat besar.

Nasihat Luqman kepada anaknya juga memberikan pelajaran bahwa pendidikan tauhid harus menjadi perhatian utama dalam mendidik keluarga. Orang tua hendaknya menanamkan keyakinan yang benar kepada anak-anaknya agar mereka tumbuh dengan mengenal Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

  1. Syirik menjadi sebab adanya ketentuan hukum tertentu terhadap kaum musyrik dalam syariat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا انسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Apabila telah habis bulan-bulan haram itu, maka perangilah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 5)

Ayat ini menjelaskan ketentuan syariat mengenai kaum musyrik dalam konteks peperangan yang dibahas dalam surah At-Taubah. Pemahamannya harus memperhatikan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya serta ketentuan syariat secara menyeluruh.

Ayat ini bukanlah izin bagi individu untuk melakukan kekerasan atau mengambil tindakan sendiri terhadap orang lain. Penerapan hukum terkait peperangan merupakan perkara yang harus dipahami berdasarkan keseluruhan dalil dan ketentuan syariat yang berlaku.

Dari berbagai dalil di atas, dapat disimpulkan bahwa syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar. Syirik adalah bentuk kedzaliman yang sangat besar, menjadi sebab terhapusnya amal, dan mendatangkan ancaman adzab yang berat bagi orang yang meninggal dalam keadaan melakukannya tanpa bertobat.

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ilmu tauhid. Mengenal Allah, mengesakan-Nya dalam ibadah, serta menjauhi segala bentuk kesyirikan merupakan kewajiban yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang hamba.

Jangan sampai kesibukan dalam beramal membuat kita lalai untuk mempelajari tauhid dan menjaga kemurnian ibadah. Sebab, amal yang banyak tidak akan memberikan keselamatan apabila seseorang justru merusak dasar keimanannya dengan kesyirikan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kita di atas tauhid, menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan, mengampuni dosa-dosa kita, dan mewafatkan kita dalam keadaan beriman kepada-Nya dan mentauhidkannya. Aamiin.

Sumber rujukan:

  • https://hadeethenc.com/id/browse/hadith/3331
  • https://hadeethenc.com/id/browse/hadith/3331
  • https://dorar.net/hadith/sharh/2985
  • https://dorar.net/hadith/sharh/2985
  • https://www.islamweb.net/ar/fatwa/123437
  • https://www.alukah.net/sharia/0/70879
  • https://www.alukah.net/sharia/0/70879

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here