Sesungguhnya umur manusia hanyalah rangkaian malam yang berlalu dan hari-hari yang akan berakhir. Belum lama suatu masa dimulai, tiba-tiba masa itu telah berlalu dan perjalanan hidup semakin mendekati penghujungnya.
Kita hidup di dunia ini melalui berbagai tahapan kehidupan yang terus berjalan dengan cepat. Hingga pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada tempat peristirahatan terakhirnya, yaitu kuburan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Wahai manusia! Sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6).
Dari satu fase menuju fase berikutnya, manusia terus menjalani rangkaian kehidupan yang saling berkesinambungan. Tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.
Di antara seluruh tahapan kehidupan tersebut, fase yang paling penting dan memiliki pengaruh besar adalah masa muda. Masa ini merupakan masa ketika seseorang memiliki kekuatan dan semangat yang besar. Biasanya, masa muda belum banyak dihalangi oleh penyakit, usia tua, maupun kelemahan fisik. Ia merupakan masa kekuatan yang berada di antara dua masa kelemahan.
Allah Ta’ala berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu menjadi lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54).
Karena pentingnya masa muda, Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutkannya dalam pertanyaan yang akan diajukan kepada manusia pada hari kiamat. Hal ini menjadi peringatan agar setiap orang memberikan perhatian khusus terhadap masa tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan.” (Al-Albani, Shahih At-Targhib, no. 3593).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa manusia akan ditanya tentang seluruh umurnya, bagaimana ia menghabiskannya dan bagaimana ia menjalani kehidupannya. Selain itu, terdapat pula pertanyaan khusus mengenai masa muda, padahal masa muda merupakan bagian dari keseluruhan umur manusia.
Pengkhususan ini menunjukkan betapa pentingnya masa muda dan besarnya pengaruh fase tersebut dalam kehidupan seseorang.
Masa muda merupakan masa produktivitas, aktivitas, dan semangat yang tinggi. Pada fase inilah seseorang mencapai puncak kemampuan fisik dan menikmati kekuatan yang Allah karuniakan kepadanya selama perjalanan hidupnya.
Pada masa ini pula seseorang memiliki kesempatan besar untuk mewujudkan berbagai cita-citanya. Dunia seakan terbuka luas dan berbagai kesempatan tersedia di hadapannya setelah ia memperoleh kekuatan pada masa keemasan kehidupannya.
Apabila seorang pemuda benar-benar menyadari potensi yang telah dianugerahkan kepadanya, seakan-akan ia memiliki sayap seekor burung, kekuatan seekor binatang buas, dan kecepatan seorang penunggang kuda. Sebab, sebagian besar keadaan pemuda dipenuhi energi, semangat yang menyala-nyala, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi yang besar.
Keteladanan Para Nabi dalam Melakukan Perbaikan pada Masa Muda
Para nabi yang mulia, ketika membimbing dan mengarahkan umat mereka menuju berbagai tingkatan kebaikan dan kesempurnaan sesuai kemampuan manusia, juga menunjukkan keteladanan sejak usia muda.
Nabi Ibrahim عليه السلام, misalnya, disebut sebagai seorang pemuda dalam Al-Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
“Mereka berkata, ‘Kami mendengar seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya: 60).
Demikian pula para pemuda Ashabul Kahfi. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13).
Seandainya masa muda bukanlah sesuatu yang istimewa, tentu Allah tidak akan menjadikan para penghuni surga kembali dalam keadaan muda ketika mereka memasuki surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا بِيضًا مُكَحَّلِينَ، أَبْنَاءَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ، وَهُمْ عَلَى خَلْقِ آدَمَ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعَةِ أَذْرُعٍ
“Para penghuni surga akan memasuki surga dalam keadaan tidak berbulu, tidak berjanggut, berkulit putih, dan bercelak. Usia mereka tiga puluh tiga tahun. Mereka memiliki bentuk tubuh seperti Nabi Adam, dengan tinggi enam puluh hasta dan lebar tujuh hasta.” (Al-‘Ajluni, Kasyful Khafa wa Muzilul Ilbas, 2/154).
Oleh karena itu, masa muda pada hakikatnya merupakan permulaan kehidupan yang paling indah. Sebagaimana buah-buahan yang paling baik adalah buah yang pertama kali matang, demikian pula kehidupan memiliki keindahan tersendiri pada masa mudanya.
Al-Ibsyihi berkata:
“Masa muda adalah permulaan kehidupan dan bagian awalnya merupakan masa yang paling menyenangkan. Sebagaimana buah-buahan terbaik adalah buah yang pertama kali matang, demikian pula bangsa Arab tidak pernah meratapi sesuatu sebagaimana mereka meratapi hilangnya masa muda.” (Al-Mustathraf fi Kulli Fannin Mustazraf, hlm. 443, cetakan pertama 2014, Dar Ibnul Jauzi, Kairo).
Apabila kita memperhatikan kehidupan para nabi Allah Ta’ala, kita akan menemukan bahwa mereka diangkat menjadi nabi ketika berada pada puncak kematangan usia, yaitu sekitar umur empat puluh tahun. Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pada usia tersebut, kecuali Nabi Isa bin Maryam عليه السلام.
Masa muda para nabi dipenuhi perjuangan, kerja keras, dan aktivitas. Mereka tidak pernah merasa rendah diri untuk melakukan pekerjaan apa pun selama pekerjaan tersebut berada dalam batas-batas yang halal. Bahkan, di antara pekerjaan yang pernah mereka lakukan adalah menggembala kambing.
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia pernah menggembala kambing.” Para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya. Aku pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari, no. 2262).
Masa muda para nabi juga dihiasi dengan keluhuran akhlak yang menunjukkan kesempurnaan jiwa dan keimanan mereka.
Lihatlah Nabi Musa عليه السلام. Masa mudanya dihiasi dengan dua sifat utama, yaitu kekuatan dan amanah. Kedua sifat ini membuat salah seorang putri Nabi Syuaib memberikan penilaian terhadap dirinya.
Allah Ta’ala berfirman:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, ‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita). Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya’.” (QS. Al-Qashash: 26).
Kisah ini mengandung pelajaran tentang pentingnya memperbaiki kehidupan individu dan masyarakat melalui sifat amanah serta menjauhi pengkhianatan.
Demikian pula Nabi Yusuf bin Ya’qub عليهما السلام. Masa mudanya dihiasi dengan kesucian diri dan kemampuan menjaga kehormatan ketika berada dalam situasi yang sangat sulit.
Ketika keadaan semakin sempit dan kesempatan untuk melakukan maksiat terbuka lebar, istri Al-Aziz tidak lagi sekadar memberikan isyarat, tetapi secara terang-terangan mengajak Yusuf melakukan perbuatan yang dilarang.
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sungguh, tuanku telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung’.” (QS. Yusuf: 23).
Kisah ini mengajarkan pentingnya menjaga kesucian diri dan memperbaiki jiwa agar tidak terjerumus ke dalam kubangan syahwat.
Demikianlah, setiap kali kita menelusuri perjalanan hidup seorang nabi atau rasul yang mulia, kita akan menemukan bahwa masa muda mereka menjadi teladan nyata dalam memperbaiki diri dan kehidupan sosial masyarakat.
Mereka bukan hanya menjadi teladan bagi masyarakat secara umum, tetapi juga bagi para pemuda yang senantiasa membutuhkan sosok panutan untuk menerangi jalan keimanan melalui keteladanan dan amal nyata.
Teladan Pemuda dalam Perbaikan dari Berbagai Peristiwa Sejarah
Salah satu fakta penting dalam sejarah adalah bahwa orang-orang yang memikul tanggung jawab besar untuk membawa perubahan dan perbaikan masyarakat serta menerangi jalan bagi orang lain sering kali berasal dari kalangan pemuda.
Lihatlah Ashabul Kahfi, para pemuda yang menjadi kebanggaan pada zamannya. Mereka merasa prihatin terhadap kondisi masyarakatnya yang tenggelam dalam kegelapan kesyirikan dan jauh dari petunjuk keimanan.
Allah Ta’ala menggambarkan keadaan mereka:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13).
Tidak mengherankan apabila mereka kemudian mengingkari perbuatan kaumnya yang menyembah selain Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
“Mereka itu kaum kita yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15).
Mereka memutuskan untuk mengambil sikap positif dengan menjauhkan diri dari kemusyrikan kaumnya dan menjaga keimanan mereka.
Karena itu, mereka saling berpesan untuk meninggalkan lingkungan kekufuran dan orang-orang yang melakukan kesyirikan.
Mereka tidak tinggal diam menghadapi kerusakan akidah dan berbagai dampak buruk kekufuran yang terjadi di tengah masyarakat. Sebaliknya, mereka menunjukkan tanggung jawab dalam memperbaiki diri, menjauhkan diri dari berbagai penghalang dakwah, serta menghadapi berbagai rintangan yang menghalangi jalan perjuangan mereka.
Ashabul Kahfi merupakan contoh nyata para pemuda yang berpegang teguh pada perintah Allah dan menempuh jalan keimanan. Oleh sebab itu, Al-Qur’an tidak pernah melupakan mereka dalam catatan sejarahnya. Bahkan, Allah memberikan pujian kepada mereka dan menjadikan kisah mereka sebagai salah satu teladan dalam petunjuk dan perbaikan.
Pada akhirnya, tidak sulit bagi orang-orang yang berpikir jernih untuk memahami bahwa para pemuda merupakan salah satu kekuatan utama dalam mewujudkan perubahan dan perbaikan yang sesungguhnya di tengah masyarakat.
Mereka adalah sayap-sayap yang membawa harapan untuk terbang tinggi, mewujudkan berbagai cita-cita, dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar yang sulit dilakukan. Semua itu dapat terwujud apabila mereka mendapatkan arahan dari para teladan, serta bimbingan yang baik dari ayah dan ibu mereka.
Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan upaya untuk membentuk kembali karakter para pemuda dan mendidik generasi berikutnya dengan akhlak yang mulia serta amal-amal besar yang dapat mengangkat martabat dan melahirkan kejayaan yang sesungguhnya.
Pendidikan tersebut perlu diarahkan agar para pemuda tidak larut dalam berbagai kesibukan yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu. Sebab, sebagian perhatian generasi muda saat ini justru tersita oleh berbagai aktivitas yang tidak produktif, seperti permainan yang berlebihan, hiburan yang tidak mendidik, serta pergaulan sosial yang buruk akibat pengaruh narkoba.
Ada pula sebagian pemuda yang terlalu larut dalam kemalasan, senantiasa mencari kenyamanan, dan menghabiskan waktu tanpa memiliki aktivitas penting maupun visi yang membawa kebaikan bagi kehidupan dunia dan agama.
Kita juga perlu memberikan perhatian khusus untuk menghilangkan pola pikir yang tidak terarah dalam pembentukan karakter dan pemikiran para pemuda. Pola pikir tersebut harus digantikan dengan metode pendidikan yang lurus dan pemikiran yang matang. Inilah langkah yang harus ditempuh apabila kita benar-benar ingin bergerak menuju jalan yang benar.
Sangat disayangkan, sebagian pihak telah berhasil mengalihkan perhatian generasi muda kita menuju kehidupan yang dangkal dan tidak bermakna. Akibatnya, banyak di antara mereka yang lebih mengenal nama-nama penyanyi dan tokoh hiburan daripada mengenal perkara-perkara penting dalam kehidupan mereka sendiri.
Di sisi lain, sebagian pemuda juga terjebak dalam ketertarikan berlebihan terhadap kehidupan para pemain olahraga dan orang-orang yang menghabiskan waktunya dalam hiburan. Mereka menghafal berbagai rahasia dan perjalanan kehidupan para tokoh tersebut, tetapi kurang memberikan perhatian terhadap perkara-perkara yang jauh lebih bermanfaat.
Sementara itu, pada sisi yang lain, terdapat pula pemuda yang terpengaruh oleh pemikiran keagamaan yang diarahkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka menyerahkan akal, perasaan, dan waktu mereka kepada orang-orang yang mengarahkan mereka dengan mengatasnamakan Islam.
Padahal, kedua kelompok tersebut sama-sama kehilangan kebutuhan utama, yaitu metode berpikir yang lurus dan pemahaman menyeluruh mengenai keagungan agama ini.
Akibat dari berbagai fenomena tersebut terus kita saksikan setiap hari. Kelompok pertama tidak berhasil membangun kehidupan dunia yang lebih baik, sementara kelompok kedua juga tidak berhasil menghadirkan kejayaan agama melalui orang-orang yang berbicara atas namanya. Bahkan, sebagian tindakan mereka justru menimbulkan citra buruk bagi agama dan negeri mereka sendiri.
Para pemuda kita merupakan aset penting dalam kehidupan damai maupun dalam menghadapi berbagai tantangan. Sudah seharusnya mereka mampu memberikan gambaran yang cerah kepada dunia tentang peradaban Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Mereka juga harus mampu mengekspresikan diri dengan baik dan memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan. Mereka hendaknya menjadi pribadi yang mampu menghadirkan makanan bagi orang yang kelaparan, pakaian bagi orang yang tidak memiliki pakaian, petunjuk bagi orang yang kebingungan, rasa aman bagi orang yang ketakutan, serta kecukupan bagi orang yang membutuhkan.
Bukanlah sesuatu yang mustahil apabila para pemuda kita mampu menghasilkan berbagai kebutuhan yang selama ini kita kenakan dan gunakan. Mereka juga dapat membangun berbagai pabrik, pertanian, rumah sakit, dan fasilitas kehidupan lainnya.
Justru merekalah generasi yang memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan semua itu, bukan orang lain.
Tidak seharusnya para pemuda kita terus hidup dalam berbagai aktivitas yang tidak bermanfaat sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini. Tidak ada kewajiban yang mengharuskan mereka menjalani kehidupan semacam itu. Bahkan, kondisi tersebut justru merupakan sesuatu yang harus mereka hindari, bukan dijadikan sebagai kebiasaan.
Referensi: https://www.alukah.net/social/0/122476







