Home Artikel Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.24

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.24

4
0
campaign psb PPHQ 27-28

Dalam ajaran Islam, terdapat tiga tingkatan agama, yaitu Islam, iman, dan ihsan. Ketiganya dijelaskan dalam hadis Jibril ‘alaihis salam yang masyhur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk,” karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaan sebagian orang Arab Badui yang mengaku telah beriman, padahal keimanan belum tertanam secara sempurna di dalam hati mereka. Mereka baru sampai pada tingkatan Islam, yakni menyatakan ketundukan secara lahiriah, tetapi belum mencapai hakikat iman sebagaimana yang seharusnya.

Faedah Ayat

donatur-tetap
  1. Iman Lebih Khusus daripada Islam

Al-Qasimi rahimahullah menjelaskan salah satu kaidah penting dalam memahami hubungan antara iman dan Islam, yaitu:

إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا

“Apabila keduanya disebutkan secara bersamaan, maknanya menjadi berbeda. Namun, apabila disebutkan secara terpisah, maknanya mencakup satu sama lain.”

Kaidah ini menjelaskan bahwa makna iman dan Islam dapat berbeda atau saling mencakup, bergantung pada konteks penyebutannya.

Pertama, apabila kata iman disebutkan secara tersendiri, maknanya mencakup iman dan Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa iman, ketika disebutkan secara tersendiri, mencakup keseluruhan ajaran agama, baik keyakinan dalam hati maupun ketundukan yang diwujudkan melalui amal perbuatan.

Kedua, apabila kata Islam disebutkan secara tersendiri, maknanya juga mencakup iman. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Dalam konteks ini, menjadi seorang muslim tidak hanya berarti menampakkan ketundukan secara lahiriah, tetapi juga mencakup keimanan yang benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga, apabila iman dan Islam disebutkan secara bersamaan, masing-masing memiliki makna yang lebih khusus.

Islam merujuk pada ketundukan dan kepasrahan diri kepada Allah yang tampak dalam perkataan dan perbuatan lahiriah, termasuk menjalankan hukum-hukum syariat. Sementara itu, iman merujuk pada keyakinan yang tertanam di dalam hati.

Dengan demikian, apabila disebutkan secara bersamaan, Islam berkaitan dengan ketundukan lahiriah, sedangkan iman berkaitan dengan keyakinan batiniah.

  1. Allah Mengetahui Hakikat Keimanan di Dalam Hati

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, termasuk apa yang tersimpan di dalam hati dan pikiran manusia.

Allah mengetahui hakikat keimanan setiap hamba-Nya. Dia mengetahui siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang sekadar mengaku beriman melalui lisannya. Dia juga mengetahui niat, tujuan, serta alasan yang melatarbelakangi seseorang dalam memeluk agama Islam.

  1. Islam Menghapus Dosa-Dosa yang Dilakukan Sebelum Masuk Islam

Apabila seseorang sebelumnya berada dalam kekafiran, kemudian Allah memberikan hidayah kepadanya untuk memeluk Islam, maka keislamannya menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu selama masa kekafirannya.

Adapun kebaikan yang pernah dilakukannya sebelum masuk Islam, terdapat penjelasan dalam ajaran Islam mengenai bagaimana kebaikan tersebut dapat memberikan manfaat baginya setelah ia memeluk Islam. Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, dan bahwa hijrah menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya?” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan keutamaan Islam, yaitu bahwa seseorang yang masuk Islam dengan benar akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelum memeluk Islam.

Ayat dalam Surah Al-Hujurat ini mengingatkan kita bahwa pengakuan sebagai seorang muslim tidak semestinya berhenti pada ucapan atau identitas semata. Keimanan perlu ditumbuhkan di dalam hati dan diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sebab, hakikat keimanan bukan hanya tentang apa yang diucapkan oleh lisan, melainkan juga tentang keyakinan yang bersemayam di dalam hati dan ketaatan yang tercermin dalam amal perbuatan.

Sumber:

  • Tafsir At-Thabari
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir Ibnu ‘Asyur
  • At-Taisir fi Tafsir
  • Dll

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, M.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here