Home Artikel Fiqih Asmaul Husna (Bag.19): As-Sami’

Fiqih Asmaul Husna (Bag.19): As-Sami’

8
0
campaign psb PPHQ 27-28

Di antara nama Allah yang agung adalah As-Samī‘ (السَّمِيعُ), Yang Maha Mendengar. Nama ini bukan sekadar mengabarkan bahwa Allah mendengar suara manusia. Ia mengandung pelajaran besar tentang tauhid, keimanan kepada sifat-sifat Allah, ibadah, doa, akhlak, dan kehidupan seorang muslim.

Memahami nama Allah As-Samī‘ akan menumbuhkan keyakinan bahwa tidak ada doa yang luput dari pendengaran-Nya, tidak ada rintihan hati yang tersembunyi dari-Nya, dan tidak ada ucapan yang keluar dari lisan kecuali Allah mendengarnya.

Nama السَّمِيعُ (As-Samī‘) berasal dari kata Arab سَمِعَ – يَسْمَعُ – سَمْعًا, yang berkaitan dengan makna mendengar.

Adapun As-Samī‘ merupakan bentuk yang menunjukkan keluasan dan kesempurnaan sifat mendengar.

Dalam pembahasan Asmaul Husna, maknanya adalah bahwa Allah Ta‘ala memiliki sifat mendengar yang sempurna. Pendengaran-Nya meliputi seluruh suara, baik yang terdengar oleh manusia maupun yang tidak mampu didengar oleh manusia.

donatur-tetap

Allah mendengar suara yang keras dan lirih, ucapan yang terang-terangan maupun yang dibisikkan, doa yang dilantunkan maupun permohonan yang disampaikan dengan suara yang sangat pelan.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syūrā: 11)

Ayat ini menetapkan dua nama Allah yang agung, yaitu As-Samī‘ dan Al-Baṣīr. Allah Maha Mendengar segala suara dan Maha Melihat segala sesuatu yang terlihat.

Nama As-Samī‘ tidak boleh dipahami seperti pendengaran makhluk. Pendengaran manusia terbatas, membutuhkan organ pendengaran, dan dapat melemah atau hilang. Adapun Allah memiliki sifat mendengar yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syūrā: 11)

Ayat ini merupakan landasan penting dalam memahami nama dan sifat Allah: kita menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menolak sifat yang telah ditetapkan-Nya.

Dengan demikian, kita beriman bahwa Allah benar-benar Maha Mendengar, tetapi cara dan hakikat pendengaran-Nya tidak sama dengan pendengaran makhluk.

As-Samī‘ termasuk nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan

Nama Allah bukan sekadar sebutan tanpa makna. Nama-nama Allah menunjukkan makna yang benar dan sifat kesempurnaan yang layak bagi-Nya.

Karena itu, ketika kita mengimani nama As-Samī‘, kita mengimani dua perkara:

  1. Nama Allah: As-Samī‘, Yang Maha Mendengar.
  2. Sifat Allah: pendengaran yang sempurna, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa kekurangan dan tanpa menyerupai pendengaran makhluk.

Inilah bagian dari iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah yang harus dibangun di atas wahyu, bukan semata-mata perasaan atau khayalan manusia.

Nama As-Samī‘ disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Berikut beberapa dalil penting beserta pelajaran akidah dan fikih yang dapat diambil darinya.

Dalil pertama: Allah mendengar pengaduan hamba-Nya

Allah Ta‘ala berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Al-Mujādilah: 1)

Ayat ini berkaitan dengan seorang perempuan salehah bernama Khaulah binti Tsa‘labah radhiyallahu ‘anha yang mengadukan persoalan rumah tangganya kepada Rasulullah ﷺ dan memohon penyelesaian kepada Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa beliau berada di bagian rumah yang lain. Beliau mendengar sebagian percakapan perempuan tersebut, tetapi tidak mendengar semuanya. Sementara itu, Allah menurunkan ayat yang menegaskan bahwa Dia mendengar pengaduan tersebut.

Dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini, Aisyah berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ

“Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara.”

Riwayat ini disebutkan dalam penjelasan sebab turunnya ayat tersebut.

Dalil kedua: Allah mendengar doa Nabi Ibrahim

Allah Ta‘ala berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku pada hari tua(-ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS. Ibrāhīm: 39)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memuji Allah atas karunia berupa anak-anak yang saleh. Beliau menyadari bahwa karunia tersebut berasal dari Allah yang mendengar doa.

Ayat ini menunjukkan bahwa nama As-Samī‘ berkaitan erat dengan doa dan permohonan seorang hamba.

Dalam penggunaan bahasa Arab, ungkapan samī‘ud-du‘ā’ pada ayat ini menunjukkan bahwa Allah mendengar doa dan memberikan karunia kepada hamba-Nya. Makna mendengar doa tidak boleh dipisahkan dari makna dasar sifat mendengar yang ditetapkan bagi Allah.

Dalil ketiga: Allah mendengar perkataan yang dirahasiakan

Allah Ta‘ala berfirman:

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

“Jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Ṭāhā: 7)

Ayat ini secara langsung menyebut keluasan ilmu Allah, bukan nama As-Samī‘ secara khusus. Namun, ayat ini membantu kita memahami bahwa Allah mengetahui perkara yang tersembunyi, termasuk rahasia yang tidak diketahui manusia.

Adapun sifat mendengar secara khusus ditetapkan dengan ayat-ayat lain, seperti QS. Al-Mujādilah: 1 dan QS. Asy-Syūrā: 11.

Tidak ada bisikan yang mampu menghalangi pendengaran Allah. Tidak ada percakapan rahasia yang membuat Allah kehilangan pengetahuan tentang apa yang sedang diucapkan.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh merasa aman ketika mengucapkan kebohongan, fitnah, ghibah, atau perkataan yang menyakiti orang lain hanya karena tidak ada manusia yang mendengarnya.

Sebaliknya, ia juga tidak perlu merasa sendirian ketika tidak ada manusia yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya. Allah mengetahui keadaannya dan mendengar ucapannya.

Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan. Mereka mengeraskan suara ketika bertakbir. Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan tidak pula kepada Zat yang tidak hadir. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu)

Faidah hadis

Hadis ini merupakan salah satu dalil paling jelas tentang nama Allah As-Samī‘.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa Allah bukanlah Zat yang tuli dan bukan pula Zat yang jauh atau tidak hadir sehingga kita harus berteriak untuk membuat-Nya mendengar.

Perlu diperhatikan bahwa hadis ini tidak melarang seluruh doa yang diucapkan dengan suara keras. Ada ibadah yang memang disyariatkan dengan bacaan jahr, seperti bacaan imam pada salat tertentu. Yang ditegur dalam hadis tersebut adalah sikap berlebihan dalam mengeraskan suara, padahal Allah Maha Mendengar.

Dalam pembahasan akidah, Ibnu Taimiyah menegaskan pentingnya menetapkan nama dan sifat Allah berdasarkan wahyu, tanpa melakukan penyerupaan dengan makhluk. Prinsip ini tampak jelas dalam penjelasan beliau mengenai QS. Asy-Syūrā ayat 11.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat tersebut menggabungkan dua prinsip penting:

– Menafikan keserupaan: tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.

– Menetapkan sifat: Allah benar-benar memiliki sifat mendengar dan melihat yang sempurna.

Dengan demikian, kita tidak boleh mengingkari sifat mendengar Allah hanya karena kita tidak mengetahui hakikatnya. Sebaliknya, kita juga tidak boleh membayangkan pendengaran Allah seperti pendengaran manusia.

Pelajarannya: iman kepada As-Samī‘ membuat seorang muslim berani meminta pertolongan Allah, sekaligus tetap menjaga keadilan dalam menyampaikan masalahnya kepada manusia

Semoga Allah memberikan manfaat dan keberkahan dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Bashir di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab.

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here