Setiap generasi memiliki karakter, bahasa, dan tantangannya sendiri. Apa yang dianggap sebagai nasihat oleh orang tua terkadang terasa seperti ceramah panjang bagi anak muda. Sebaliknya, gaya komunikasi generasi muda yang santai dan terbuka kadang dipandang kurang sopan oleh generasi yang lebih tua.
Perbedaan ini semakin terasa pada Generasi Z, generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan smartphone, Mereka terbiasa mendapatkan informasi dengan cepat, berdiskusi secara terbuka, dan membangun pertemanan di dunia nyata maupun dunia digital.
Lantas, bagaimana seharusnya orang tua, guru, pengasuh pesantren, dan para pendakwah berinteraksi dengan mereka?
Islam telah memberikan pedoman yang sangat berharga. Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah ﷺ, dan penjelasan para ulama mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan ilmu, hikmah, kelembutan, dan keteladanan.
Prinsipnya sederhana: yang perlu disesuaikan adalah cara menyampaikan nasihat, bukan prinsip-prinsip agama yang menjadi landasannya.
Memahami Generasi Z Sebelum Memberikan Nasihat
Sebelum menyampaikan pesan, seorang pendidik perlu mengenali siapa yang sedang dihadapinya.
Dalam konteks Indonesia, Generasi Z umumnya merujuk pada mereka yang lahir sekitar tahun 1997–2012. Kehidupan mereka banyak bersentuhan dengan teknologi digital, yang turut memengaruhi cara memperoleh informasi, membangun identitas, dan memahami persoalan agama.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mendampingi generasi ini.
Pertama, mereka membangun identitas di dunia nyata sekaligus dunia maya. Apa yang mereka lihat di media sosial dapat memengaruhi cara berpikir, gaya hidup, bahkan pandangan keagamaan.
Kedua, mereka tetap membutuhkan kebersamaan. Meskipun sering dianggap individualis, banyak anak muda mencari komunitas yang membuat mereka merasa diterima, baik melalui pertemanan, grup , maupun kajian online.
Ketiga, ketulusan menjadi hal penting. Nasihat akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh seseorang yang menunjukkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatannya.
Keempat, mereka memiliki peluang besar untuk menjadi penyebar kebaikan. Generasi Z bukan hanya pengguna media sosial, tetapi juga dapat menjadi pembuat konten dakwah dan penggerak kegiatan sosial.
Namun, ada pula tantangan yang perlu diwaspadai, seperti distraksi digital, banjir informasi, ruang gema (echo chamber), dan kecenderungan memahami agama secara dangkal apabila pembelajaran hanya berorientasi pada hiburan.
Tentu saja, karakteristik tersebut bukanlah gambaran mutlak setiap individu. Setiap anak memiliki latar belakang, kebutuhan, dan perjalanan hidup yang berbeda.
Karena itu, mengenal generasi muda tidak cukup dilakukan dengan membaca tren. Kita juga perlu hadir, mendengarkan, dan memahami pribadi yang sedang kita bimbing.
1. Gunakan Bahasa yang Mereka Pahami
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)
Ayat ini mengajarkan pentingnya bahasa yang dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan.
Dalam menyampaikan kebenaran, pemahaman pendengar perlu diperhatikan. Nasihat yang benar belum tentu memberikan manfaat optimal apabila disampaikan dengan istilah yang sulit dipahami atau cara yang tidak sesuai dengan keadaan mereka.
Bagi Generasi Z, bahasa tidak hanya berkaitan dengan pilihan kata. Format penyampaian, media yang digunakan, dan contoh kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan.
Misalnya, ketika membahas tentang menjaga pandangan, kita dapat mengaitkannya dengan kebiasaan menggunakan media sosial. Ketika menjelaskan pentingnya sabar, kita bisa mengambil contoh tekanan belajar, persoalan pertemanan, atau proses meraih cita-cita.
Nasihat tentang adab juga dapat disampaikan melalui video singkat, infografis, podcast, atau diskusi interaktif.
Namun, ada batas yang harus dijaga. Menyesuaikan bahasa bukan berarti mengubah hukum agama atau mengaburkan makna syariat. Istilah yang sulit boleh dijelaskan dengan bahasa sederhana, tetapi substansinya harus tetap terpelihara.
Bahasa yang tepat membuat kebenaran lebih mudah dipahami, bukan membuat kebenaran berubah mengikuti selera zaman.
2. Padukan Hikmah, Nasihat yang Baik, dan Dialog
Allah Ta‘ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125)
Ayat ini memberikan tiga pedoman penting dalam berdakwah: hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang dilakukan dengan cara terbaik.
Hikmah berarti menempatkan sesuatu secara tepat, termasuk memilih materi, waktu, bahasa, dan pendekatan sesuai kebutuhan orang yang dinasihati.
Nasihat yang baik menyentuh hati, membangkitkan kesadaran, dan mengajak seseorang memperbaiki diri tanpa merendahkan martabatnya.
Adapun dialog membuka ruang bagi pertanyaan, penjelasan, dan pertukaran argumentasi yang santun.
Dalam mendampingi Generasi Z, ketiganya perlu berjalan bersama. Mereka tidak cukup hanya diberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh, tetapi juga perlu dibimbing untuk memahami alasan, hikmah, serta dalil yang mendasarinya.
Ketika seorang anak muda bertanya, “Mengapa harus seperti itu?”, jangan terburu-buru menganggapnya membangkang. Bisa jadi, ia sedang berusaha memahami agamanya dengan lebih baik.
Tentu, tidak semua pertanyaan muncul dari niat yang sama. Ada pertanyaan yang tulus, ada pula perdebatan yang tidak produktif. Karena itu, pendidik perlu menilai keadaan dengan bijaksana.
Yang terpenting, jangan menutup pintu dialog bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin belajar.
3. Kedepankan Kelembutan Saat Menegur
Allah Ta‘ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidak terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim, no. 2594)
Kelembutan bukan tanda kelemahan. Justru, kelembutan merupakan bagian dari kebijaksanaan dalam mendidik.
Ada kalanya seorang anak melakukan kesalahan yang perlu segera diluruskan. Namun, cara menegur akan sangat memengaruhi bagaimana ia menerima koreksi tersebut.
Teguran yang disampaikan dengan tenang dan penuh kepedulian dapat membantu seseorang menyadari kesalahannya. Sebaliknya, teguran yang disertai penghinaan berisiko membuatnya sibuk mempertahankan diri daripada memperbaiki kesalahan.
Di era media sosial, prinsip ini semakin penting. Kesalahan seseorang dapat dengan mudah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Nasihat yang seharusnya menjadi jalan perbaikan justru bisa berubah menjadi ajang mempermalukan.
Karena itu, jika suatu kesalahan dapat diperbaiki melalui nasihat pribadi, tidak perlu menjadikannya tontonan publik.
4. Jadilah Teladan Sebelum Memberikan Nasihat
Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaff: 2–3)
Ayat ini mengingatkan bahwa kesesuaian antara ucapan dan perbuatan merupakan perkara yang serius dalam Islam. Serta pentingnya orang berilmu mengamalkan ilmunya sehingga perbuatannya tidak bertentangan dengan perkataannya.
Dalam pendidikan, keteladanan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat.
Seorang guru yang mengajarkan kedisiplinan akan lebih mudah membimbing muridnya apabila ia sendiri datang tepat waktu. Orang tua yang mengingatkan anak agar menjaga lisan perlu berusaha menunjukkan tutur kata yang baik di rumah. Seorang pendakwah yang mengajak orang lain menjaga adab juga perlu memperhatikan perilakunya ketika berbeda pendapat.
Generasi muda dapat melihat kesesuaian tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui aktivitas di media sosial.
Karena itu, jangan hanya berusaha membuat nasihat terdengar menarik. Berusahalah agar nasihat tersebut terlihat nyata dalam perilaku kita.
Keteladanan tidak menuntut seseorang menjadi manusia tanpa kesalahan. Seorang pendidik tetap dapat keliru. Namun, ketika melakukan kesalahan, ia perlu bersedia mengakuinya dan memperbaikinya.
5. Dengarkan Mereka dan Bangun Empati
Salah satu teladan penting dalam cara Rasulullah ﷺ mendidik generasi muda dapat dilihat dari kisah seorang pemuda yang meminta izin kepada beliau untuk melakukan zina.
Para sahabat yang mendengar permintaan tersebut menunjukkan ketidaksukaan. Namun, Rasulullah ﷺ justru memanggil pemuda itu agar mendekat, lalu mengajaknya berpikir melalui sejumlah pertanyaan.
Beliau bertanya apakah pemuda itu rela jika perbuatan tersebut menimpa ibunya. Pemuda itu menjawab tidak. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa orang lain pun tidak rela jika hal itu menimpa ibu mereka.
Setelah itu, beliau mendoakannya agar dosanya diampuni, hatinya disucikan, dan kehormatannya dijaga. (HR. Ahmad no. 22211)
Kisah ini memberikan pelajaran berharga. Rasulullah ﷺ tidak membenarkan keinginan pemuda tersebut, tetapi beliau memilih cara yang membantu pemuda itu memahami kesalahannya.
Beliau mendekat, berdialog, mengajak berpikir, dan mendoakan kebaikan baginya.
Inilah pentingnya empati dalam pendidikan. Memahami keadaan seseorang tidak berarti menyetujui semua tindakannya. Sebaliknya, pemahaman membantu kita memilih cara yang lebih tepat untuk membimbingnya.
6. Berikan Nasihat pada Waktu dan Takaran yang Tepat
Rasulullah ﷺ bersabda tentang kebiasaan beliau dalam memberikan nasihat:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ، كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا
“Nabi ﷺ biasa memilih waktu-waktu tertentu untuk memberikan nasihat kepada kami karena khawatir kami merasa jemu.” (HR. Muslim, no. 2821)
Dalam konteks pendidikan masa kini, guru dan da’i perlu mempertimbangkan kemampuan konsentrasi, suasana, serta kebutuhan audiens.
Satu pertemuan dapat difokuskan pada satu pesan utama. Penjelasan bisa dimulai dengan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka, kemudian dilanjutkan dengan dalil dan pembahasan yang lebih mendalam.
Konten singkat juga dapat menjadi pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih terstruktur, seperti halaqah, kajian rutin, atau diskusi bersama pembimbing.
Namun, ringkas bukan berarti dangkal. Materi yang pendek tetap harus benar, berbobot, dan mengarahkan audiens kepada pemahaman yang lebih baik.
7. Berikan Kepercayaan dan Ruang untuk Berkontribusi
Al-Qur’an menceritakan para pemuda Ashabul Kahfi:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. al-Kahfi: 13)
Rasulullah ﷺ juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, yaitu pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada-Nya.
Dalil ini menunjukkan bahwa masa muda dapat menjadi masa yang penuh potensi untuk membangun iman dan amal saleh.
Karena itu, generasi muda tidak semestinya hanya diposisikan sebagai penerima nasihat. Mereka juga perlu diberi kesempatan untuk mengambil tanggung jawab dan berkontribusi dalam kebaikan.
Di lingkungan pesantren, misalnya, santri dapat dilibatkan dalam kepanitiaan, kegiatan sosial, pendampingan teman sebaya, dan pembuatan media dakwah. Di sekolah, siswa dapat diberi kesempatan mengelola program kebaikan dengan pendampingan guru.
Di dunia digital, mereka dapat diarahkan menjadi pembuat konten edukatif yang menyampaikan pesan Islam secara bertanggung jawab.
Tentu, pemberian kepercayaan harus disertai arahan, pengawasan, dan evaluasi. Kebebasan berkreasi bukan berarti membiarkan mereka berjalan tanpa bimbingan.
Dekat Sebelum Mengajar, Lembut Sebelum Menegur
Mendampingi Generasi Z bukan berarti kita harus selalu mengikuti tren atau mengubah seluruh metode pendidikan. Yang lebih penting adalah memahami keadaan mereka dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dengan cara yang tepat.
Al-Qur’an mengajarkan kita berbicara dengan bahasa yang dipahami, berdakwah dengan hikmah, dan bersikap lembut. Sunnah Rasulullah ﷺ menunjukkan pentingnya dialog, empati, keteladanan, serta perhatian terhadap keadaan orang yang dinasihati. Warisan para ulama pun mengingatkan bahwa ilmu perlu disampaikan dengan adab dan diamalkan dalam kehidupan.
Semua itu dapat dirangkum dalam tiga pegangan sederhana:
Dekat sebelum mengajar, lembut sebelum menegur, dan menjadi teladan sebelum menuntut perubahan.
Orang tua, guru, pengasuh pesantren, dan da’i memiliki tanggung jawab untuk membangun hubungan yang memungkinkan nasihat diterima dan kebaikan tumbuh. Bukan sekadar membuat generasi muda mendengar, melainkan membimbing mereka agar memahami, mencintai, dan mengamalkan ajaran Islam.
Semoga Allah Ta‘ala menjadikan kita pendidik yang menyejukkan hati generasi sesudah kita, serta menjadikan generasi muda sebagai penyejuk mata bagi keluarga dan umat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A, M.A.
- Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari.
- Beni, Herman. “Strategi Pembentukan Karakter Islami Generasi Z melalui Pendekatan Dakwah berbasis Psikologi Perkembangan.” Anida: Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah 26, no. 1 (2026): 23–38.
- Fajri, Fadila Nurul, dkk. “Digital Da‘wah Communication Strategies for Engaging Generation Z on Social Media in Indonesia.” Al-Jamahiria: Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam 4, no. 1.







