Masih berkaitan dengan rasa panas yang menyengat di musim kemarau. Ketika terik matahari terasa begitu menyengat kulit kita, hendaknya rasa panas tersebut tidak hanya membuat kita mencari tempat teduh, menyalakan kipas atau pendingin ruangan, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita tentang dahsyatnya kehidupan akhirat.
Ada setidaknya dua perkara yang semestinya kita ingat ketika merasakan panas yang menyengat.
Pertama, panasnya keadaan manusia ketika dikumpulkan di Padang Mahsyar.
Suatu hari nanti, seluruh manusia akan dikumpulkan oleh Allah untuk menghadap-Nya. Pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan yang Allah berikan. Matahari akan didekatkan kepada para hamba-Nya, dengan jarak hanya satu mil di atas kepala mereka.
Jika panas matahari di dunia saja terkadang membuat kita tidak nyaman, membuat kulit terasa terbakar, kepala terasa panas, dan tubuh membutuhkan perlindungan, lalu bagaimana dengan keadaan ketika matahari didekatkan sedemikian rupa kepada manusia pada hari yang sangat dahsyat tersebut?
Kedua, panasnya api Neraka Jahannam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
“Katakanlah: ‘Api Neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya),’ jika mereka mengetahui.”(QS. At-Taubah: 81)
Api yang kita rasakan panasnya di dunia ini mampu membuat air mendidih, memasak makanan, membakar dan menghancurkan bangunan serta hutan, bahkan mampu melelehkan besi.
Namun, panas api dunia yang sedemikian dahsyat itu hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api Neraka Jahannam.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي تُوقِدُونَ جُزْءٌ وَاحِدٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا
“Api kalian ini yang kalian gunakan untuk membakar adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka.”
Para sahabat berkata, “Demi Allah, sungguh api ini saja sudah cukup panas, ya Rasulullah.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya api neraka dilebihkan atas api dunia sebanyak enam puluh sembilan bagian. Setiap bagian dari enam puluh sembilan bagian tersebut memiliki panas seperti panasnya api dunia.”(HR. Tirmidzi)
Bayangkan, api yang kita kenal di dunia ini—yang panasnya saja tidak mampu kita tahan dalam waktu lama—ternyata hanya satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api Neraka Jahannam.
Dan panas yang kita rasakan pada musim panas juga mengingatkan kita kepada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dua nafas Neraka Jahannam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اشتكت النار إلى ربها فقالت: يا رب. أكل بعضي بعضاً فجعل لها نفسين؛ نفس في الشتاء ونفس في الصيف فشدة ما تجدون من البرد من زمهريرها وشدة ما تجدون من الحر من سمومها
“Neraka mengadu kepada Rabb-nya, ‘Wahai Rabb-ku, sebagian diriku membakar sebagian yang lain.’ Maka Allah menjadikan neraka memiliki dua nafas: satu nafas pada musim dingin dan satu nafas pada musim panas. Rasa dingin yang sangat menggigit yang kalian rasakan adalah bagian dari zamharir-nya, sedangkan panas yang sangat menyengat yang kalian rasakan pada musim panas adalah bagian dari samum-nya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, musim kemarau yang kita rasakan dengan dua cuaca; siang hari dengan terik matahari yang menyengat dan malam hari dengan cuaca dingin yang menusuk, menjadi momen untuk kita bertafakkur dan semakin takut akan hari akherat, sehingga ini menjadi pendorong untuk semakin giat dalam mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah sebaliknya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hambaNya yang selalu menjadikan pelajaran dari setiap peristiwa dan Allah menjauhkan kita dari sengatan panasnya di padang mahsyar dan juga sengatan api neraka jahannan. Aamiiin.
Dikutip, diterjemahkan dan diringkas dari sebuah khutbah yang disampaikan oleh Dr. Ghozi al-Hakami
Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, M.A







