Khutbah Jumat
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam keadaan ramai maupun sendirian. Sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal bagi seorang hamba dalam perjalanan panjang menuju akhirat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Kehidupan dunia pada hakikatnya adalah rangkaian amanah. Setiap detik yang kita lalui, setiap nikmat yang kita rasakan, dan setiap pilihan yang kita ambil akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak seorang hamba pun yang dibiarkan tanpa hisab. Allah Ta’ala bersumpah dengan Rububiyah-Nya sendiri untuk menegaskan hal ini.
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semuanya, tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” QS. Al-Hijr : 92–93)
Jamaah sekalian, hari itu adalah hari ketika harta, pangkat, dan nasab tidak lagi berguna. Tidak ada pembela, tidak ada perantara yang dapat membeli jawaban. Yang ada hanyalah seorang hamba yang berdiri di hadapan Rabbnya, ditanya tentang apa yang telah ia lakukan. Maka sungguh beruntung orang yang telah menyiapkan jawabannya sebelum pertanyaan itu datang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tahu kita lima pertanyaan pokok yang tidak akan terlewat bagi setiap manusia. Beliau bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Kedua telapak kaki anak Adam tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; dan tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang diketahuinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2416)
Pertama: Tentang Umur
Umur adalah modal terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Ia tidak dapat dibeli, tidak dapat diulang, dan terus berkurang setiap hari. Pertanyaannya bukan berapa lama kita hidup, melainkan untuk apa umur itu dihabiskan: dalam ketaatan, atau dalam kelalaian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa banyak manusia tertipu oleh dua nikmat:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (QS. al-Bukhari no. 6412)
Kedua: Tentang Masa Muda
Masa muda disebut secara khusus karena ia adalah puncak kekuatan, semangat, dan kesempatan. Banyak orang menunda taubat dengan alasan “masih muda”, padahal justru pada saat inilah ibadah paling bernilai. Perhatikanlah kemuliaan yang Allah janjikan bagi pemuda yang tumbuh dalam ketaatan:
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya, …” (HR. al-Bukhari no. 660)
Ketiga: Tentang Harta
Harta akan ditanya dua kali: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Halal dan haramnya sumber penghasilan, jujur atau curangnya cara berdagang, dan ditunaikan atau tidaknya hak Allah serta hak sesama di dalamnya, semuanya akan dihitung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan datangnya zaman ketika manusia tak lagi peduli terhadap hal ini:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mengambil harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. al-Bukhari no. 2083)
Keempat: Tentang Ilmu dan Pengamalannya
Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan. Ilmu yang tidak melahirkan amal akan menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya. Allah Ta’ala mencela keras sikap mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-Shaff : 2–3)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk memuhasabahi diri, memperbaiki amal, dan menunaikan hak-hak yang masih tertunda, sebelum datang hari yang tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kembali kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dari uraian khutbah yang pertama, ada tiga langkah sederhana yang dapat kita mulai hari ini:
Pertama, bertaubat dari dosa yang telah lalu dan segera mengisi sisa umur dengan amal yang bermanfaat, sebelum ajal datang tanpa pemberitahuan. Kedua, menjaga shalat, memeriksa sumber dan penyaluran harta kita, serta mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui. Ketiga, menyelesaikan hak-hak sesama, dengan meminta maaf dan mengembalikan apa yang bukan hak kita, selagi masih ada waktu untuk melakukannya.
Kemudian, marilah kita perbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana perintah Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab : 56)







