Home Artikel Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.23

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.23

5
0
campaign psb PPHQ 27-28

Dalam Islam, istilah iman dan Islam sering kali digunakan secara berdampingan, bahkan terkadang dianggap memiliki makna yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan makna yang penting untuk dipahami. Pemahaman tentang perbedaan ini akan membantu seorang muslim mengenali hakikat keimanan dan ketundukan kepada Allah Ta’ala, serta memahami hubungan antara keyakinan di dalam hati dan kepatuhan yang tampak dalam amal perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (berislam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Allah Ta’ala menjelaskan keadaan orang-orang Arab Badui yang masuk Islam pada masa Nabi ﷺ, tetapi keislaman mereka belum disertai pemahaman yang mendalam dan belum terwujudnya konsekuensi keimanan secara sempurna. Meskipun demikian, mereka mengklaim bahwa diri mereka telah memiliki keimanan yang sempurna.

Oleh karena itu, Allah menegur mereka dengan memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk meluruskan pernyataan tersebut sekaligus mengajarkan ungkapan yang tepat. Mereka diperintahkan untuk mengatakan, “Kami telah tunduk (berislam),” bukan “Kami telah beriman.” Hal ini karena hakikat keimanan dan pemahaman mengenai konsekuensinya belum tertanam dalam hati mereka. Keislaman mereka pada saat itu dilatarbelakangi oleh rasa takut terhadap ancaman senjata atau harapan untuk memperoleh keuntungan duniawi semata.

donatur-tetap

Islam berarti ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Di antara konsekuensi seseorang memeluk Islam adalah menunjukkan ketaatan melalui lisan, anggota tubuh, dan hati. Akan tetapi, ada orang yang hanya menunjukkan ketundukan melalui ucapan lahiriah tanpa disertai keimanan dalam hatinya. Keadaan ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:

وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (berislam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.”

Allah membantah pengakuan mereka, “Kami telah beriman,” agar mereka menyadari bahwa keadaan hati mereka tidak tersembunyi dari pengetahuan Allah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa pengakuan keimanan semata tidak cukup untuk membuktikan kesempurnaan iman seseorang.

Dalam konteks ini, Islam dan iman memiliki keterkaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dalam penghambaan yang benar kepada Allah. Islam tanpa iman yang sesungguhnya merupakan bentuk ketundukan lahiriah yang tidak disertai keyakinan batin, sedangkan iman yang tidak diwujudkan dalam ketundukan kepada Allah merupakan penyimpangan dari konsekuensi keimanan. Keduanya terwujud secara benar melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا

“Jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu.”

Melalui ayat ini, Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk menyampaikan kepada orang-orang Arab Badui yang mengaku telah beriman, padahal keimanan belum tertanam dalam hati mereka, agar menaati Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan tersebut diwujudkan dengan melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang. Apabila mereka melakukannya, Allah tidak akan menzalimi mereka ataupun mengurangi sedikit pun pahala amal mereka.

Ibnu Zaid rahimahullah menjelaskan makna firman Allah Ta’ala, “Dan jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya,” bahwa apabila mereka membuktikan keimanan melalui amal perbuatan, niscaya keimanan mereka akan diterima oleh Allah.

Dari ayat ini, terdapat faedah penting mengenai hubungan antara iman dan Islam, yaitu bahwa iman lebih khusus daripada Islam, sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Hal ini juga ditunjukkan oleh hadis Jibril ‘alaihissalam. Ketika Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, kemudian tentang iman, dan selanjutnya tentang ihsan, urutan pertanyaan tersebut menunjukkan tingkatan pembahasan yang bergerak dari cakupan yang lebih umum menuju cakupan yang lebih khusus, kemudian menuju tingkatan yang lebih tinggi dalam penghambaan kepada Allah.

Allah Ta’ala kemudian menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Penutup ayat ini mengandung pelajaran bagi mereka bahwa Allah akan mengampuni kesalahan mereka apabila mereka bertobat dan memperbaiki diri. Pada saat yang sama, ayat ini juga mendorong mereka untuk bersungguh-sungguh dalam mewujudkan keimanan yang benar.

Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun, dengan ampunan yang luas bagi hamba-hamba-Nya. Rahmat-Nya juga meliputi pemberian pahala atas amal-amal saleh yang dilakukan seseorang ketika masih berada dalam keadaan kafir, meskipun amal tersebut tidak menjadikannya terlepas dari kekafirannya. Apabila orang tersebut kemudian masuk Islam, amal saleh yang telah dilakukannya dapat menjadi sebab diperolehnya pahala dari Allah. Hal ini merupakan salah satu bentuk keluasan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Bersambung.

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, M.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here