Home Artikel IN THIS ECONOMY: Panduan Menghadapi Krisis (Bag.1)

IN THIS ECONOMY: Panduan Menghadapi Krisis (Bag.1)

14
0
campaign psb PPHQ 27-28

Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini tanpa pernah mengalami ujian dan masalah. Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi saat ini, istilah krisis semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian lapangan kerja, dinamika sosial, hingga berbagai persoalan pribadi yang datang silih berganti. Kondisi ini sering kali menimbulkan kecemasan dan kelelahan, baik secara emosional maupun mental.

Dunia Memang Tempat Ujian

Satu hal yang perlu kita tanamkan bersama adalah bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya tidak pernah lepas dari ujian. Krisis bukanlah tanda bahwa Allah murka atau mengabaikan hamba-Nya. Ujian merupakan bagian dari ketetapan Allah untuk menguji keimanan, kesabaran, dan kualitas amal seseorang ketika menghadapi kesulitan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

donatur-tetap

Perhatikan penggunaan kata “sedikit” dalam ayat tersebut. Betapa pun beratnya krisis yang kita rasakan, ujian itu tetap merupakan bagian dari kehidupan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa nikmat Allah sangatlah banyak dan tidak terhitung jumlahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan tujuan penciptaan kehidupan dan kematian:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Oleh karena itu, wajar apabila perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Kelapangan dan kesempitan merupakan dua keadaan yang silih berganti dalam kehidupan manusia.

Macam-Macam Krisis yang Dialami Nabi dan Para Sahabat

Ketika merasa bahwa beban hidup begitu berat, ada baiknya kita menengok perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Generasi terbaik umat ini pun pernah menghadapi berbagai ujian yang berat, bahkan mengancam keselamatan jiwa mereka. Dari perjalanan hidup mereka, kita dapat mengambil pelajaran tentang kesabaran, keteguhan iman, kebersamaan, dan pentingnya ikhtiar dalam menghadapi kesulitan.

  1. Krisis Penyiksaan dan Ancaman Nyawa

Pada awal dakwah di Makkah, para sahabat menghadapi tekanan fisik dan ancaman nyawa dari kaum kafir Quraisy. Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu disiksa di bawah terik matahari karena mempertahankan keimanannya. Demikian pula keluarga Yasir yang mengalami penyiksaan berat hingga Sumayyah radhiyallahu ‘anha gugur sebagai syahidah pertama dalam Islam.

Rasulullah ﷺ menguatkan mereka dengan sabdanya:

صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

“Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsat, No. 1508; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, No. 5666)

2. Krisis Isolasi dan Pemboikotan

Rasulullah ﷺ bersama Bani Hasyim pernah mengalami pemboikotan ekonomi dan sosial oleh kaum Quraisy selama kurang lebih tiga tahun di Syi‘ib Abi Thalib. Aktivitas perdagangan dan hubungan sosial mereka dibatasi, sehingga mereka mengalami kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kekurangan makanan. Dalam kondisi tersebut, mereka bahkan terpaksa memakan dedaunan untuk bertahan hidup.

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menceritakan beratnya masa-masa krisis tersebut:

لَقَدْ رَأَيْتُنِي سَابِعَ سَبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا طَعَامُنَا إِلَّا وَرَقُ الْحُبْلَةِ، حَتَّى قَرِحَتْ أَشْدَاقُنَا

“Sungguh aku melihat diriku sebagai orang ketujuh dari tujuh orang bersama Rasulullah ﷺ, tidak ada makanan kami kecuali daun hubblah (sejenis pohon gurun), sampai-sampai gusi/sudut mulut kami terluka.” (HR. Muslim, No. 2967; Ibnu Majah, No. 4156; Ahmad, No. 20609)

3. Krisis Ekonomi dan Kemiskinan

Ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah, kaum Muhajirin harus meninggalkan harta benda dan tempat tinggal mereka. Mereka memulai kehidupan baru di tempat yang berbeda, dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah.

Menghadapi keadaan tersebut, Rasulullah ﷺ  mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar agar mereka dapat saling membantu dan menguatkan. Bahkan, kaum Anshar rela berbagi harta dengan saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Sementara itu, sebagian sahabat yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah hidup dalam keterbatasan pangan dan tempat tinggal di serambi Masjid Nabawi.

4. Krisis Keamanan dan Peperangan

Kaum muslimin pada masa awal Islam kerap menghadapi ancaman keamanan yang nyata, seperti dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Dalam Perang Uhud, sekitar 70 sahabat gugur. Sementara itu, dalam Perang Khandaq, kaum muslimin dikepung oleh pasukan sekutu yang besar dan menghadapi ancaman dari berbagai arah, termasuk persoalan pengkhianatan terhadap perjanjian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan keadaan kaum mukminin dalam Al-Qur’an:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Hal itu justru menambah keimanan dan ketundukan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 22)

5. Krisis Rumah Tangga

Rasulullah ﷺ juga menghadapi persoalan rumah tangga. Salah satunya ketika istri-istri beliau menginginkan kelapangan hidup dan kenikmatan duniawi. Peristiwa ini dijelaskan dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝٢٨ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا ۝٢٩

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.’” (QS. Al-Ahzab: 28–29)

Rasulullah ﷺ menghadapi persoalan tersebut dengan memberikan pilihan kepada istri-istri beliau sesuai petunjuk Allah. Pada akhirnya, mereka memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa masalah rumah tangga bisa terjadi pada siapa pun. Karena itu, diperlukan komunikasi yang baik, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam mencari solusi, dengan tetap berpegang pada petunjuk Allah.

6. Krisis Kehilangan Orang yang Dicintai

Rasulullah ﷺ mengalami duka yang mendalam ketika kehilangan istri tercintanya, Khadijah radhiyallahu ‘anha, dan pamannya, Abu Thalib, dalam waktu yang berdekatan. Masa tersebut dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Beliau juga mengalami kehilangan beberapa putra-putrinya yang wafat mendahului beliau.

Meskipun mengalami kesedihan, Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan amanah dakwah dengan penuh ketabahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

7. Krisis Penolakan dan Kegagalan Dakwah

Ketika mendatangi Kota Thaif dengan harapan memperoleh dukungan dan perlindungan, Rasulullah ﷺ justru menghadapi penolakan keras dan perlakuan kasar hingga mengalami luka. Meskipun demikian, beliau tidak berputus asa dan tetap melanjutkan dakwahnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰ أَتَىٰهُمْ نَصْرُنَا

“Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 34)

Ketika Malaikat Gunung menawarkan untuk membinasakan penduduk Thaif yang menolaknya, Nabi ﷺ justru berdoa:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Justru aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menysekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhari no. 3231 & Muslim no. 1796)

8. Krisis Perpecahan dan Kemunafikan

Dalam Perang Uhud, sebagian orang munafik tidak ikut melanjutkan perjalanan bersama Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin. Sementara itu, dalam Perang Khandaq, kaum muslimin menghadapi ancaman dari pihak-pihak yang melanggar perjanjian dan membahayakan keamanan mereka. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa krisis tidak hanya datang dari faktor eksternal, tetapi juga dapat muncul dari persoalan internal.

Mengenai krisis orang-orang munafik dalam Perang Uhud, Allah Ta’ala berfirman:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّاتَّبَعْنَاكُمْ

“…dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian).’ Mereka berkata, ‘Sekiranya kami tahu akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 167)

Adapun mengenai krisis internal pada Perang Khandaq, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’” (QS. Al-Ahzab: 12)

9. Krisis Kemurtadan Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ

Sepeninggal Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menghadapi krisis kepemimpinan dan stabilitas umat yang sangat besar. Sebagian kelompok murtad, muncul orang-orang yang mengaku sebagai nabi, dan ada pihak yang menolak menunaikan zakat. Abu Bakar mengambil sikap tegas dalam menghadapi persoalan tersebut demi menjaga ajaran Islam dan keutuhan masyarakat muslim.

Keteguhan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam memerangi pihak yang menolak zakat berlandaskan sabda Rasulullah ﷺ:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّىٰ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, serta menunaikan zakat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bersambung

Ditulis Oleh: Azza Saifa,Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here