Home Artikel Pilihan Terbaik Saat Amarah Memuncak

Pilihan Terbaik Saat Amarah Memuncak

32
0
campaign psb PPHQ 27-28

Marah adalah tabiat yang melekat pada fitrah manusia. Namun, bila tidak dikendalikan, amarah dapat meretakkan hubungan, bagaikan gelas kaca yang pecah. Kepingannya sukar dipersatukan kembali, dan sekalipun dapat direkatkan, keindahannya tidak lagi seperti semula.

Karena itulah Islam hadir membawa bimbingan tentang sikap seorang muslim ketika amarah menguasai dirinya, agar kehidupannya tidak rusak dan ia tidak terjerumus dalam penyesalan yang berkepanjangan. Sesungguhnya Allah menyediakan balasan yang indah di akhirat bagi hamba yang sanggup menahan amarahnya dan terus menjaganya.

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Barang siapa menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, niscaya Allah memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu mempersilakannya memilih bidadari mana pun yang ia kehendaki.” (HR. Abu Daud)

Perhatikanlah kandungan hadits yang mulia ini. Keutamaan tersebut tidak diberikan kepada orang yang menahan amarah karena lemah atau tidak berdaya, melainkan kepada orang yang sebenarnya mampu melampiaskannya, namun memilih untuk menahan diri karena takut kepada Allah. Di sinilah letak kekuatan yang sesungguhnya. Panggilan Allah di hadapan seluruh makhluk menunjukkan betapa agung kedudukan orang yang mengalahkan hawa nafsunya, sebab ia dimuliakan di tempat yang paling menentukan, yaitu padang mahsyar.

donatur-tetap

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan surga bagi orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Beliau bersabda:

لَاتَغْضَب وَلَكَ الجَنَّة

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani)

Wasiat singkat ini sejalan dengan hadits masyhur riwayat Al-Bukhari, ketika seorang laki-laki meminta nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mengulang pesan yang sama berkali-kali: “Janganlah engkau marah.” Pengulangan itu menandakan bahwa amarah merupakan pintu bagi banyak keburukan, mulai dari ucapan yang menyakitkan, tindakan yang zalim, hingga putusnya tali silaturahmi. Maka siapa yang berhasil menutup pintu ini, sungguh ia telah menyelamatkan dirinya dari banyak dosa.

Menahan amarah juga merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarahnya, dan yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran [3]: 133-134)

Ayat ini menyandingkan tiga amal luhur: berinfak, menahan amarah, dan memaafkan. Urutannya mengandung pelajaran yang dalam. Menahan amarah adalah langkah pertama, yakni menahan gejolak di dalam dada agar tidak meluap menjadi perbuatan. Sesudah itu datang tingkat yang lebih tinggi, yaitu memaafkan, ketika hati dibersihkan dari rasa dendam. Puncaknya adalah ihsan, sehingga Allah menutup ayat ini dengan kabar bahwa Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Adapun cara menunaikan tuntunan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan beberapa langkah. Beliau memerintahkan untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awwudz, sebab amarah banyak dibakar oleh bisikannya. Beliau juga mengajarkan agar orang yang marah dalam keadaan berdiri segera duduk, dan bila belum reda hendaklah berbaring. Bila masih belum mereda, hendaklah ia berwudhu, karena marah berasal dari api sedangkan api dipadamkan dengan air. Dan ketika amarah sedang memuncak, diam adalah pilihan terbaik agar lisan tidak mengucapkan sesuatu yang kelak disesali.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu menahan amarah semata-mata karena mengharap ridha-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa.

Referensi: Al-Mahfuzh Al-Mukhtar min Kutub Al-A’immah Al-Abrar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here