Home Artikel IN THIS ECONOMY: Panduan Menghadapi Krisis (Bag.3)

IN THIS ECONOMY: Panduan Menghadapi Krisis (Bag.3)

13
0
campaign psb PPHQ 27-28

Melanjutkan tulisan sebelumnya terkait panduan menghadapi krisis.

6. Mengambil Pelajaran dari Kisah Para Nabi

Kisah para nabi dalam Al-Qur’an bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan pelajaran berharga bagi orang beriman ketika menghadapi ujian berat.

a. Nabi Ayyub ‘alaihissalam (Mengadukan Kesulitan kepada Allah)

Nabi Ayyub menghadapi ujian penyakit dan penderitaan yang sangat berat, namun beliau tetap mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya:

donatur-tetap

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’” (QS. Al-Anbiya: 83)

Mengadukan penderitaan dan memohon kesembuhan kepada Allah sama sekali tidak bertentangan dengan kesabaran. Hal yang dilarang dalam Islam adalah berkeluh kesah yang menunjukkan rasa tidak ridha terhadap ketentuan-Nya.

b. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam (Menjaga Harapan di Tengah Kesedihan)

Nabi Ya’qub merasakan duka mendalam karena kehilangan putra tercintanya, Nabi Yusuf. Namun, kesedihan tersebut tidak melunturkan harapannya kepada Allah:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86)

Rasa sedih dan air mata bukan tanda lemahnya iman. Seseorang boleh merasakan beratnya kehilangan, asalkan kesedihan tersebut ditumpahkan kepada Allah dan tidak membuat hubungannya dengan Allah terputus.

c. Nabi Yunus ‘alaihissalam (Pengakuan Dosa, Tauhid, dan Doa di Tengah Kesempitan)

Nabi Yunus berada dalam situasi yang sangat krisis dan gelap gulita di dalam perut ikan. Dalam kondisi tersebut, beliau bertawasul dengan tauhid, mensucikan Allah, dan mengakui kesalahannya:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Anbiya: 87)

Allah Ta’ala kemudian menyelamatkan beliau dan menjanjikan pertolongan serupa bagi orang beriman:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88)

Kisah ini memberikan gambaran jelas bahwa kunci utama untuk keluar dari kesempitan hidup adalah dengan menguatkan tauhid, memperbanyak tasbih, mengakui kekurangan serta dosa diri, dan memohon keselamatan hanya kepada Allah.

d. Nabi Muhammad ﷺ (Keteguhan dan Kesabaran di Atas Ujian Berat)

Rasulullah ﷺ mengalami ujian yang sangat berat sepanjang hidupnya, mulai dari penolakan dakwah, intimidasi, hingga kehilangan orang-orang tercinta. Meskipun demikian, beliau tetap bersabar, berdoa, berikhtiar, dan bertawakal dalam menjalankan amanah-Nya.

Perjalanan hidup beliau mengajarkan bahwa beratnya ujian bukan pertanda bahwa Allah murka atau seseorang jauh dari-Nya, sebab para nabi adalah manusia yang paling berat ujiannya. Karena itu, hendaknya kita tidak mengukur kasih sayang dan keridhaan Allah hanya berdasarkan mudah atau sulitnya takdir duniawi yang sedang kita jalani.

7. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat penting ketika menghadapi krisis kehidupan. Melalui doa, seorang hamba mengakui kelemahannya dan memohon pertolongan kepada Allah.

Di antara doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an adalah doa Nabi Yunus عليه السلام:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Doa ini mengandung pengakuan terhadap keesaan Allah, penyucian Allah dari segala kekurangan, serta pengakuan atas kesalahan diri. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

فَإِنَّ فِي هَذَا الدُّعَاءِ مِنْ كَمَالِ التَّوْحِيدِ وَالتَّنْزِيهِ لِلرَّبِّ، وَاعْتِرَافِ العَبْدِ بِظُلْمِهِ وَذَنْبِهِ، مَا هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَدْوِيَةِ الكَرْبِ وَالهَمِّ وَالغَمِّ

“Sesungguhnya di dalam doa ini terkandung kesempurnaan tauhid, penyucian terhadap Rabb, serta pengakuan hamba atas kezaliman dan dosanya. Semua itu merupakan salah satu obat paling agung untuk mengatasi kesusahan, kecemasan, dan kesedihan.” (Zādul Ma‘ād, 4/297).

Selain itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ketika seseorang mengalami kesusahan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَىٰ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka, janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 5090)

8. Muhasabah dan Memperbaiki Diri

Krisis kehidupan juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Ketika menghadapi masalah, kita tidak perlu tergesa-gesa menyalahkan orang lain atau keadaan. Kita juga perlu memeriksa diri sendiri:

  • Apakah ada kewajiban yang kita lalaikan?
  • Apakah ada hak orang lain yang belum kita tunaikan?
  • Apakah keputusan yang kita ambil selama ini sudah benar?
  • Apakah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh?

Namun, muhasabah bukan berarti menyalahkan diri secara berlebihan atau menganggap setiap musibah pasti merupakan hukuman atas dosa tertentu. Kita tidak selalu mengetahui hikmah di balik setiap kejadian. Yang terpenting adalah mengambil pelajaran, memperbaiki kesalahan, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya seorang mukmin senantiasa mengevaluasi dirinya:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللهِ

“Orang yang cerdas adalah yang menghinabkan (mengevaluasi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, Ibnu Majah no. 4260, dan Ahmad. Imam Tirmidzi menilai hadis ini hasan.)

Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berpesan tentang urgensi muhasabah:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Hisablah (introspeksilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amalan kalian sebelum kalian ditimbang.” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35362 dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Az-Zuhd.)

  1. Menjaga Hubungan dengan Sesama

Dalam menghadapi krisis, kita tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian. Islam mengajarkan pentingnya saling membantu dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ketika menghadapi masalah, mintalah nasihat atau bantuan kepada orang yang amanah dan bijaksana. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu ikhtiar untuk menemukan jalan keluar.

  1. Menyikapi Krisis dengan Bijaksana

Saat menghadapi masalah berat, jangan terburu-buru mengambil keputusan karena emosi. Tenangkan diri, berdoa, cari informasi yang benar, bermusyawarah, dan tentukan langkah yang realistis. Jika belum berhasil, evaluasi dan cari solusi lain yang dibenarkan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Sumber: Ustadz Firanda Andirja, Kajian Tematik: Menghadapi Krisis dengan Panduan Syariat (Firandaandirjaofficial, 2026) – (Disusun dan ditambahkan penjelasan dalam artikel).

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here