Home Artikel Merdeka Hari Ini, Bersyukur Setiap Hari

Merdeka Hari Ini, Bersyukur Setiap Hari

7
0
campaign psb PPHQ 26-27

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang sebuah peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah perjalanan negeri ini: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Kata “merdeka” kembali terdengar di berbagai penjuru negeri. Bendera dikibarkan, berbagai kegiatan digelar, dan semangat perjuangan para pendahulu kembali dikenang.

Namun, sebagai seorang muslim, sudah semestinya peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada mengenang sejarah. Lebih dari itu, kemerdekaan hendaknya mengantarkan kita kepada kesadaran bahwa kemerdekaan dan keamanan adalah nikmat besar dari Allah Ta’ala yang harus disyukuri.

Hidup dalam keadaan aman, dapat berkumpul bersama keluarga, menjalankan ibadah tanpa rasa takut, mencari nafkah, belajar, dan beraktivitas dengan tenang merupakan nikmat yang sering kali baru terasa nilainya ketika kita melihat saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia yang belum merasakan hal serupa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

donatur-tetap

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian pada pagi hari berada dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi no. 2346)

Hadis ini mengajarkan bahwa keamanan, kesehatan, dan tercukupinya kebutuhan pokok merupakan nikmat yang sangat besar. Bahkan, tiga perkara sederhana tersebut digambarkan seperti telah memiliki seluruh dunia.

Karena itu, keamanan sebuah negeri bukanlah perkara kecil. Ia merupakan karunia besar yang semestinya membuat kita semakin bersyukur kepada Allah.

Al-Qur’an juga menunjukkan betapa pentingnya keamanan sebuah negeri. Hal ini dapat kita lihat dalam doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وَاِذۡ قَالَ اِبۡرٰهٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارۡزُقۡ اَهۡلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡهُمۡ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’” (QS. Al-Baqarah: 126)

Menarik untuk diperhatikan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyebut keamanan terlebih dahulu, kemudian memohon rezeki.

Ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun kemakmuran sebuah negeri, semuanya akan terasa kurang apabila keamanan tidak ada. Maka, ketika Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk hidup di negeri yang aman, sudah selayaknya kita menyadari besarnya nikmat tersebut dan tidak lupa untuk mensyukurinya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Namun, apakah makna kemerdekaan hanya sebatas terbebas dari penjajahan bangsa lain? Tentu tidak.

Ada bentuk kemerdekaan yang jauh lebih penting bagi seorang muslim, yaitu kemerdekaan jiwa dari penghambaan kepada selain Allah dan kebebasan dari belenggu hawa nafsu.

Seseorang mungkin hidup di negeri yang merdeka, tetapi dirinya masih terbelenggu oleh hawa nafsu, kecintaan berlebihan kepada dunia, ketergantungan kepada manusia, atau bahkan penghambaan kepada selain Allah.

Karena itu, kemerdekaan sejati bagi seorang mukmin bukan sekadar bebas dari penjajahan manusia, tetapi juga bebas dari segala bentuk penghambaan yang menjauhkan dirinya dari Allah Ta’ala.

Allah mengajarkan kepada kita dalam Surah Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa seorang hamba hanya boleh mengarahkan ibadah dan ketundukan tertingginya kepada Allah Ta’ala.

Menjadi Hamba Allah adalah Kemerdekaan Sejati

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

العُبُوْدِيَّةُ لله هِيَ حَقِيقَةُ الحُرِّيَّةِ، فَمَنْ لَمْ يَتَعَبَّدْ لَهُ، كَانَ عَابِدًا لِغَيْرِهِ

“Menjadi hamba Allah adalah hakikat kemerdekaan. Barang siapa tidak menghambakan dirinya kepada Allah, maka ia akan menjadi hamba bagi selain-Nya.” (Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, hlm. 365)

Inilah hakikat yang sering terlupakan.

Manusia bisa merasa bebas ketika mampu melakukan apa saja yang diinginkannya. Padahal, kebebasan tanpa batas dapat menyeret seseorang kepada perbudakan hawa nafsu. Sebaliknya, ketika seseorang tunduk kepada Allah, ia justru menemukan kemuliaan dan kebebasan yang sesungguhnya.

Ia tidak lagi menjadikan manusia sebagai tujuan utama hidupnya. Ia tidak diperbudak oleh pujian dan celaan. Ia berusaha mengendalikan hawa nafsu, meninggalkan kemaksiatan, memperbaiki diri dengan taubat, serta menggantungkan hatinya hanya kepada Allah.

Maka, momentum kemerdekaan hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan introspeksi.

Sudahkah kita benar-benar mensyukuri nikmat keamanan yang Allah berikan?

Sudahkah kita menggunakan kemerdekaan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan?

Dan yang lebih penting, sudahkah hati kita benar-benar merdeka dari penghambaan kepada selain Allah?

Kemerdekaan negeri adalah nikmat yang harus dijaga. Namun kemerdekaan jiwa adalah nikmat yang harus diperjuangkan setiap hari.

Mari kita syukuri kemerdekaan Indonesia dengan menjaga keamanan, memperkuat persatuan, menaati kebaikan, dan mengisi kemerdekaan dengan amal yang diridhai Allah.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga Indonesia, memberikan keamanan dan keberkahan bagi negeri ini, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang benar-benar merdeka, merdeka dari kesyirikan, kemaksiatan, hawa nafsu, dan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here