Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Firman Allah:
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“(Dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal).”
Kata syu’ub adalah bentuk jamak dari sya’b, yang merupakan kelompok atau cabang besar dalam struktur nasab. Dinamakan syu’ub karena darinya bercabang beberapa cabang dan kepadanya berbagai kelompok berkumpul, seperti batang pohon yang darinya tumbuh beberapa cabang.
Adapun qabail berada di bawah syu’ub. Di bawah qabail terdapat ‘amaair, di bawah ‘amaair terdapat buthun, di bawah buthun terdapat afkhadz, dan di bawah afkhadz terdapat ‘asyair. Tidak ada lagi tingkatan setelah ‘asyair.
Allah menciptakan manusia menjadi berbagai bangsa dan suku agar mereka saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Mereka dapat saling mengenal nasab, baik nasab yang dekat maupun yang jauh. Namun, perbedaan tersebut bukan untuk dijadikan sebagai sarana berbangga-bangga, merendahkan, atau merasa lebih mulia daripada yang lain.
Firman Allah:
لِتَعَارَفُوا
“(untuk saling mengenal).”
Makna ta’arofu tidak hanya terbatas pada mengenal nama, suku, bangsa, atau nasab. Dalam pengertian yang lebih luas, hal ini juga mencakup berbagi pengetahuan, bertukar pandangan, serta saling mengambil manfaat dari gagasan dan pengalaman di antara berbagai bangsa dan peradaban.
Dengan demikian, saling mengenal membutuhkan keharmonisan, komunikasi, dan keterbukaan. Sebaliknya, perselisihan, sikap saling menjauh, dan keterasingan dapat membuka jalan menuju pertikaian.
Ada sebuah ungkapan yang masyhur:
الحكمة ضالة المؤمن
“Kebijaksanaan adalah harta yang hilang dari orang beriman.”
Artinya, seorang mukmin hendaknya tidak menutup diri dari kebaikan dan hikmah yang terdapat pada orang lain. Selama sesuatu itu benar dan bermanfaat serta tidak bertentangan dengan syariat, seorang mukmin dapat mengambil pelajaran darinya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian).”
Orang yang paling mulia di antara kalian, wahai manusia, di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya, yaitu dengan menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi kemaksiatan.
Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh banyaknya harta, besarnya rumah, tingginya kedudukan, atau mulianya suku dan keturunan.
Maka, jika ingin berkompetisi, hendaknya berlomba-lomba dalam ketakwaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
“(Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba).” QS. Al-Muthaffifin: 26
Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الله لا ينظر إلى صوركم و لا إلى أموالكم و لكن ينظر إلى قلوبكم و أعمالكم
“(Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilan atau kekayaanmu, tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu).”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:
أي الناس أكرم
“Manusia yang bagaimana yang paling mulia?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أكرمهم عند الله أتقاهم
“Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling bertakwa.” HR. Bukhari.
Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Kehormatan dunia adalah harta, dan kehormatan akhirat adalah ketakwaan.”
Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كلكم بنو آدم و آدم خلق من تراب و لينتهين قوم يفخرون بآبائهم أو ليكونن أهون على الله من الجعلان
“(Kalian semua adalah keturunan Adam. Adam diciptakan dari tanah. Hendaklah orang-orang yang membanggakan leluhur mereka berhenti, atau mereka akan lebih hina di sisi Allah daripada kumbang kotoran).” HR. Bazzar.
Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa yang terpenting di sisi Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketakwaan, bukan semata-mata garis keturunan, kekayaan, maupun kedudukan sosial.
Orang beriman yang saleh jauh lebih baik di sisi Allah daripada orang yang buruk, meskipun orang tersebut memiliki nasab yang tinggi atau kedudukan yang terhormat di mata manusia.
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“(Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal).”
Allah Maha Mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang paling saleh dan paling bertakwa. Dia Maha Mengetahui segala keadaan, kepentingan, dan urusan hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Manusia mungkin menilai seseorang berdasarkan penampilan, harta, keturunan, jabatan, atau kedudukan sosial. Namun, Allah mengetahui hakikat seseorang, termasuk keikhlasan hatinya, amalnya, dan tingkat ketakwaannya.
Karena itu, manusia tidak sepatutnya menjadikan keturunan, suku, bangsa, harta, atau kedudukan sebagai alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
Manusia dibedakan di hadapan Allah berdasarkan kesalehan dan ketakwaannya, bukan berdasarkan garis keturunannya.
Bersambung…
Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A, M.A








