Di zaman yang serba digital, arus informasi mengalir tanpa henti. Hanya dengan sentuhan jari, seseorang dapat mengakses jutaan konten dari berbagai penjuru dunia. Di balik kemudahan tersebut tersimpan tantangan besar, terutama dalam menjaga kemurnian akidah. Tidak sedikit pemikiran yang menyimpang, syubhat (kerancuan berpikir), hingga propaganda yang dikemas secara menarik sehingga mudah memengaruhi hati dan pikiran, khususnya generasi muda.
Muda, tua, berpendidikan dan no pendidikan semua bisa berbicara dan berkomentar di jagat maya. Baik perkara dunia ataupun masalah agama, tidak terkecuali masalah akidah.
Bagi seorang muslim, akidah merupakan harta yang paling berharga. Kehilangan harta masih dapat diganti, tetapi rusaknya akidah dapat menghilangkan keselamatan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, menjaga akidah di era digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tentang tauhid harus didahulukan sebelum perkataan dan amal. Akidah yang benar dibangun di atas ilmu yang benar, bukan sekadar perasaan atau mengikuti tren yang sedang berkembang.
Bahaya Dunia Digital terhadap Akidah
Era digital membuka pintu kepada berbagai macam pemikiran. Ada konten yang mengajak kepada atheisme, liberalisme, pluralisme agama, perdukunan modern, ramalan, hingga penafsiran agama tanpa landasan ilmu. Bahkan sebagian konten dikemas dalam bentuk hiburan, podcast, film, atau video singkat sehingga terlihat ringan, padahal menyimpan racun yang dapat merusak keyakinan.
Lebih berbahaya lagi, algoritma media sosial akan terus merekomendasikan konten serupa kepada siapa saja yang pernah menontonnya. Akibatnya, seseorang dapat terus-menerus terpapar syubhat hingga akhirnya menganggap kebatilan sebagai sesuatu yang wajar.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّ الحلالَ بَيِّنٌ، وإنَّ الحرامَ بَيِّنٌ، وبينهما أمورٌ مُشتَبِهاتٌ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, sedangkan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar…” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Syubhat adalah perkara yang samar sehingga dapat menyesatkan orang yang tidak memiliki ilmu.
Cara Menjaga Akidah
1. Mempelajari Tauhid dari Ulama Ahlus Sunnah
Akidah tidak boleh dipelajari dari sembarang sumber. Seorang muslim hendaknya belajar kepada para ulama yang dikenal berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat.
Ilmu menjadi benteng pertama dalam menghadapi syubhat. Semakin kuat pemahaman tauhid seseorang, semakin sulit ia dipengaruhi oleh berbagai pemikiran yang menyimpang.
2. Selektif dalam Memilih Sumber Informasi
Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang memiliki jutaan pengikut layak dijadikan rujukan agama.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah terlebih dahulu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Prinsip tabayyun sangat penting diterapkan sebelum mempercayai, membagikan, ataupun mengamalkan suatu informasi agama.
3. Membatasi Paparan Konten yang Merusak
Hati ibarat bejana. Apa yang terus-menerus dituangkan ke dalamnya akan memengaruhi isinya.
Jika setiap hari seseorang menghabiskan waktunya menyaksikan konten yang meremehkan agama, mengejek syariat, atau mengagungkan kehidupan tanpa Allah, maka sedikit demi sedikit keimanan akan melemah.
Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga pandangan, pendengaran, dan waktu yang dimilikinya.
4. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah petunjuk yang membimbing manusia menuju kebenaran.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
Membaca, menghafal, mentadabburi, dan mengamalkan Al-Qur’an akan memperkokoh keyakinan seorang hamba.
5. Bergaul dengan Lingkungan yang Saleh
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap keimanan. Berteman dengan orang-orang yang mencintai ilmu, rajin beribadah, dan menjaga sunnah akan membantu seseorang tetap istiqamah.
Sebaliknya, lingkungan yang gemar menyebarkan syubhat akan memudahkan hati tergelincir.
Pepatah Arab mengatakan:
الصَاحِبُ سَاحِبٌ
“Teman itu dapat menarik”
Teman yang baik akan menarik pada hal yang baik-baik, demikian pula teman yang buruk akan menarik pada hal yang buruk-buruk.
Peran Orang Tua dan Pesantren
Di era digital, pendidikan akidah tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan gawai, mengenal aplikasi yang digunakan, serta berdialog ketika anak menemukan informasi yang membingungkan.
Pesantren dan lembaga pendidikan Islam juga memiliki tanggung jawab besar untuk membekali para santri dengan ilmu akidah yang kokoh, kemampuan berpikir kritis berdasarkan syariat, serta adab dalam bermedia digital. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menyaring informasi dengan panduan wahyu.
Teknologi pada hakikatnya hanyalah alat. Ia dapat menjadi sarana memperoleh pahala apabila digunakan untuk menuntut ilmu, menyebarkan dakwah, dan mempererat ukhuwah. Namun, ia juga dapat menjadi pintu kerusakan apabila digunakan tanpa ilmu dan tanpa kendali.
Karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas agama-Nya. Rasulullah ﷺ sering berdoa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Semoga Allah menjaga akidah kita, keluarga kita, dan generasi kaum muslimin dari berbagai fitnah yang semakin banyak di era digital, serta mewafatkan kita dalam keadaan membawa iman dan tauhid yang murni. Aamiin.







