Home Artikel Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.22

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.22

7
0
campaign psb PPHQ 27-28

Sejak dahulu, manusia kerap mengukur kemuliaan dengan sesuatu yang tampak di hadapan mata: nasab yang tinggi, keluarga yang terpandang, harta yang melimpah, jabatan yang dimiliki, atau kedudukan yang dihormati. Tidak jarang, kelebihan-kelebihan duniawi tersebut melahirkan rasa bangga yang berlebihan, bahkan mendorong seseorang merendahkan orang lain yang dianggap tidak memiliki keistimewaan serupa.

Padahal, di hadapan Allah Ta’ala, manusia tidak dinilai berdasarkan kemegahan duniawi yang melekat pada dirinya. Kemuliaan yang hakiki tidak ditentukan oleh siapa nenek moyangnya, seberapa banyak hartanya, atau setinggi apa kedudukannya, melainkan oleh kualitas iman dan ketakwaannya. Sebab, di balik beragamnya suku, bangsa, warna kulit, dan latar belakang kehidupan, seluruh manusia berasal dari asal penciptaan yang sama.

Allah Ta’ala berfirman,

َيا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS. Al-Hujurat 13

Dalam ayat ini, Allah menegur orang-orang yang membanggakan garis keturunan, menumpuk kekayaan, serta memandang rendah kaum miskin. Sesungguhnya, ukuran kemuliaan seseorang yang hakiki bukanlah keturunan, kekayaan, maupun kedudukan, melainkan ketakwaannya kepada Allah. Artinya, seluruh manusia merupakan keturunan Adam dan Hawa, sedangkan kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya.

donatur-tetap

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di Mekkah dan bersabda:

“Wahai manusia, Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang. Manusia itu ada dua macam: orang yang saleh, bertakwa, dan mulia di sisi Allah, dan orang yang fasik dan celaka di sisi Allah. Semua manusia adalah keturunan Adam, dan Allah menciptakan Adam dari tanah.”

Allah berfirman:

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير

“(Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. Al-Hujurat 13).” HR. Tirmidzi.

Semua manusia setara dalam hal garis keturunan duniawi. Mereka sama-sama merupakan keturunan Adam dan Hawa. Adapun yang membedakan mereka dalam perkara agama adalah ketaatan kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya ‘alaihis sholatu was salam.

Karena itu, setelah Allah melarang ghibah dan saling menghina, Allah mengingatkan manusia tentang kesetaraan mereka sebagai sesama manusia:

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا

“(Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal).”

Allah menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka dapat saling mengenal, mengetahui asal-usul, serta mengenali hubungan kekerabatan masing-masing.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ‘alaihis shalatu was salam, bersabda:

تعلموا من أنسابكم ما تصلون به أرحامكم فإن صلة الرحم محبة في الأهل مثراة في المال منسأة في الأثر

“(Pelajarilah silsilah keluargamu, agar kamu dapat menyambung silaturahmi; karena menyambung silaturahmi dapat menimbulkan rasa cinta di antara keluarga, menambah harta, dan memperpanjang umur).” HR. Tirmidzi.

Sahabiyah Durrah bintu Abi Lahab radhiyallahu ‘anha berkata:

“Seorang laki-laki berdiri di hadapan Nabi ‘alaihis shalatu was salam saat beliau sedang berada di mimbar dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia terbaik? Beliau ‘alaihis shalatu was salam menjawab:

خير الناس أقرؤهم وأتقاهم لله عز وجل وآمرهم بالمعروف وأنهاهم عن المنكر وأوصلهم للرحم

“(Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling berilmu tentang Al-Quran, paling bertakwa, paling menyuruh kepada kebaikan, paling mencegah kemungkaran, dan paling menyambung tali silaturahmi).” HR. Ahmad.

Ayat ini menjadi barometer kemuliaan seseorang. Namun, pada zaman sekarang, sudah jarang dijumpai orang yang menilai kemuliaan seseorang berdasarkan ketakwaannya. Secara umum, seseorang lebih sering dinilai dari sisi duniawi, seperti harta, jabatan, kedudukan, ketenaran, dan status sosial.

Tidak sedikit orang yang dihormati bukan karena ketakwaannya, melainkan karena kekayaan dan kedudukannya. Sebaliknya, orang-orang yang bertakwa terkadang justru kurang mendapatkan penghormatan, padahal barometer kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah ketakwaannya.

Karena itu, hendaknya kita tidak menjadikan harta, keturunan, jabatan, kedudukan, suku, maupun status sosial sebagai ukuran utama dalam memandang kemuliaan seseorang. Semua itu hanyalah perkara dunia yang tidak menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada penulis dan para pembaca tambahan ketakwaan kepada-Nya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mulia di sisi-Nya karena ketakwaan dan amal saleh. Aamiin. Wallahu a’lam.

Sumber:

  • Tafsir At-Thabari
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir Al-Qurthubi
  • Dan sumber-sumber lainnya

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A, M.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here