Home Artikel Candunya Scroll: Dari Lalai hingga Lemahnya Iman

Candunya Scroll: Dari Lalai hingga Lemahnya Iman

3
0
campaign psb PPHQ 26-27

Perkembangan teknologi digital menghadirkan kemudahan akses informasi tanpa batas. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah kebiasaan scrolling tanpa henti di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Aktivitas ini pada mulanya tampak ringan dan menghibur, namun dalam praktiknya sering kali menyita waktu, mengganggu fokus, bahkan berpotensi melemahkan daya pikir (akal) dan kualitas keimanan (iman) seorang Muslim, terlebih bila melihat hal-hal yang dilarang oleh agama

Tulisan ini mencoba menggali fenomena tersebut dari perspektif ilmiah dan nilai-nilai Islam, serta menawarkan solusi agar teknologi tetap menjadi sarana kebaikan, bukan sebab kelalaian.

1. Perspektif Ilmiah: Dampak Scrolling terhadap Akal

Dalam kajian Neuroscience, kebiasaan konsumsi konten singkat secara terus-menerus dapat memengaruhi sistem perhatian (attention system) otak. Paparan informasi yang cepat dan berulang memicu pelepasan Dopamine, yang menimbulkan rasa senang sesaat, namun juga menciptakan kecenderungan adiktif.

Akibatnya, kemampuan berpikir mendalam (deep thinking) menurun. Seseorang menjadi terbiasa dengan informasi instan, tetapi kesulitan untuk membaca panjang, menganalisis, atau merenung. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan:

donatur-tetap
  • Menurunnya daya konsentrasi
  • Berkurangnya kemampuan memahami ilmu secara mendalam
  • Ketergantungan pada stimulasi cepat

Fenomena ini bertolak belakang dengan tradisi keilmuan Islam yang menekankan tadabbur (perenungan mendalam) dan tafakkur (pemikiran reflektif).

2. Perspektif Islam: Scrolling dan Kelalaian Hati
Dalam Islam, waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Imam Bukhari)

Kebiasaan scrolling yang berlebihan sering kali menjadikan seseorang lalai dari tujuan hidupnya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam tanpa manfaat yang jelas. Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…”
(QS. Al-Asr)

Selain itu, konten yang dikonsumsi tidak selalu netral. Banyak di antaranya mengandung hal yang melalaikan, bahkan maksiat, yang secara perlahan mengeraskan hati dan melemahkan iman. Hati yang seharusnya hidup dengan dzikir dan ilmu, menjadi terbiasa dengan hiburan tanpa batas.


3. Hubungan Akal dan Iman dalam Islam
Islam tidak memisahkan antara akal dan iman. Keduanya saling menguatkan. Akal yang jernih akan mengantarkan pada keimanan yang kokoh, dan iman yang kuat akan membimbing akal agar digunakan pada jalan yang benar.

Ketika scrolling melemahkan akal—dengan mengurangi fokus dan kedalaman berpikir—maka dampaknya akan merembet pada iman. Seseorang menjadi:

  • Kurang merenungi ayat-ayat Allah
  • Sulit khusyuk dalam ibadah
  • Lebih mudah terdistraksi dalam ketaatan

Sebaliknya, ketika iman melemah, seseorang akan semakin mudah terjerumus dalam penggunaan waktu yang sia-sia, termasuk scrolling yang tidak terkontrol. Ini menciptakan lingkaran yang saling melemahkan.


4. Prinsip Islam dalam Mengelola Informasi
Islam telah memberikan prinsip-prinsip yang relevan untuk menghadapi banjir informasi digital:

  1. Tabayyun (Verifikasi)
    Tidak semua informasi layak dikonsumsi atau disebarkan.
  2. Hifzhul Waqt (Menjaga Waktu)
    Setiap detik bernilai ibadah jika dimanfaatkan dengan benar.
  3. Ghaddu al-Bashar (Menjaga Pandangan)
    Termasuk menjaga dari konten yang tidak halal.
  4. Qillatul Kalam (Mengurangi yang sia-sia)
    Termasuk dalam konsumsi konten yang tidak bermanfaat.

5. Solusi: Menjadikan Teknologi sebagai Sarana Kebaikan
Agar tidak terjebak dalam scrolling yang melemahkan akal dan iman, beberapa langkah praktis dapat diterapkan:

  • Membatasi waktu penggunaan aplikasi seperti TikTok atau Instagram
  • Mengganti kebiasaan scrolling dengan membaca Al-Qur’an, buku, atau kajian ilmiah
  • Mengikuti akun yang bermanfaat yang menambah ilmu dan keimanan
  • Menerapkan waktu tanpa gadget, terutama sebelum tidur dan setelah bangun
  • Meningkatkan dzikir dan ibadah, agar hati tetap hidup

Penutup
Fenomena scrolling bukan sekadar kebiasaan digital, tetapi memiliki dampak serius terhadap kualitas akal dan iman. Jika tidak dikendalikan, ia dapat mengikis kedalaman berpikir dan melemahkan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Seorang Muslim dituntut untuk bijak dalam menggunakan teknologi. Ia tidak menolak kemajuan, tetapi mengarahkannya untuk kebaikan. Dengan kesadaran, disiplin, dan niat yang lurus, scrolling dapat diubah dari sumber kelalaian menjadi sarana kebaikan—atau setidaknya, tidak lagi menjadi sebab melemahnya akal dan iman.

Semoga Allah ﷻ memberikan taufik untuk menjaga waktu, akal, dan hati kita dari hal-hal yang sia-sia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here