Home Artikel Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.13

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.13

3
0
campaign psb PPHQ 26-27

Setiam muslim hakekatnya adalah bersaudara, selain itu syariat juga memberikan anjuran dan perintah untuk mendamaikan saudara seiman yang sedang berselish.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurat: 10)

Allah Ta’ala mewajibkan kepada kaum mukminin untuk mendamaikan saudaranya sesama kaum mukminin yang tengah bertikai, karena sesama kaum mukminin adalah bersaudara.

Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam bersabda

donatur-tetap

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْر

(mencela orang muslim itu sebuah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran) Maksud hadits ini adalah: bahwa kufur yang Rasul ‘alaihis sholatubwas salam sebutkan dalam hadits tersebut adalah kufur di bawah kufur (kufur kecil) Tidak semua hal yang diberi label kekufuran oleh hukum Islam adalah kekufuran yang sesungguhnya.

Dalam ayat di atas Allah menyatakan dengan jelas bahwa dua kelompok kaum muslimin yang saling berperang adalah bersaudara, meskipun memerangi kaum mukmin adalah bentuk sebuah kekufuran. Maka kufur dalam syareat Allah baik dalam Al-Quran maupun hadits Nabi ada dua macam; kufur yang mengeluarkan dari agama dan kufur yang tidak mengeluarkan dari agama. (Tafsir ibnu utsaimin)

Ayat ini menjadi kaidah umum, siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka ia adalah saudara bagi orang mukmin lainnya, dengan persaudaraan sejati yang darinya lahir penjagaan harta, jiwa, kehormatan, dan darah saudaranya. Ikatan iman lebih kuat dari ikatan darah dan nasab. Inilah persaudaraan sejati yang tak tergoyahkan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

ini persaudaraan di dunia, sedangkan ayat

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Dan Kami hilangkan segala dendam yang ada dalam hati mereka, [menjadikan mereka] saudara-saudara, di atas singgasana-singgasana yang saling berhadapan.”QS. Al-Hijr 47 adalah persaudaraan di akhirat. (surat Al-Hujurat dustur akhlaqi Yusuf Habbasy)

Salah satu konsekuensi persaudaraan ialah, kasih sayang, kedamaian, kerjasama, dan persatuan harus menjadi norma di masyarakat Muslim, sedangkan perselisihan dan pertikaian menjadi pengecualian yang harus segera diselesaikan. Salah satu konsekuensi persaudaraan adalah seorang mukmin hendaknya mencintai orang mukmin lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan membenci untuknya sebagaimana apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. (ma’alimul mujtama’ muslim)

Semua orang mukmin terkait oleh satu asal dan satu ikatan, yaitu iman, dan ini mengharuskan adanya rekonsiliasi di antara mereka, Nabi ‘alaihis shalatu was salam menekankan prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dalam banyak hadis. Diantaranya:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضهم بعضا و شبك بين أصابعه

“Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Dan beliau (mendemontrasikannya dengan cara) menyilangkan jari jemari beliau”. (HR. Bukhori).

مثل المؤمنين في توادهم و تراحمهم و تعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى سائر جسده بالسهر و الحمى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari Muslim). Dan ketakwaanlah yang mendorong kaum muslimin untuk berkomunikasi, menunjukkan belas kasihan, dan menjalin persaudaraan di antara mereka.

Semoga Allah menjadikan keadaan kaum muslimin menjadi bersaudara meskipun berbeda organisasi dan madzhab. Aamiiin.

Rujukan:

  • Tafsir ibnu Katsir
  • Tafsir at-Thabari
  • Tafsir ibnu ‘Asyur
  • Tafsir ibnu ‘utsaimin
  • Dll

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A, M.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here