Home Artikel Kutbah Jumat: Nabi Isa Bukan Tuhan: Tauhid sebagai Pondasi Aqidah Muslim

Kutbah Jumat: Nabi Isa Bukan Tuhan: Tauhid sebagai Pondasi Aqidah Muslim

campaign psb PPHQ 26-27

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Aqidah adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak ada yang lebih penting dari menjaga kemurnian tauhid — keyakinan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Di antara persoalan aqidah yang paling sering menjadi polemik antara Islam dan agama lain adalah kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam.

Umat Kristiani meyakini Nabi Isa sebagai Tuhan atau bagian dari Trinitas. Namun Islam dengan tegas, jelas, dan berdalil menyatakan bahwa Nabi Isa adalah hamba dan utusan Allah, bukan Tuhan, bukan anak Tuhan, dan bukan bagian dari Trinitas. Khutbah ini akan menguraikan kebenaran tersebut berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits shahih.

  1. NABI ISA DALAM AL-QUR’AN: HAMBA DAN RASUL ALLAH

Allah Ta’ala berfirman dengan sangat tegas dalam Al-Qur’an:

لَّن يَسْتَنكِفَ الْمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبْدًا لِّلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَن يَسْتَنكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

“Al-Masih (Isa) sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (QS. An-Nisa’: 172)

donatur-tetap

Allah juga berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 59)

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Isa diciptakan melalui kekuasaan Allah dengan firman ‘Kun!’ sebagaimana Adam diciptakan dari tanah tanpa bapak. Kelahiran tanpa ayah bukanlah bukti ketuhanan, melainkan bukti kekuasaan Allah yang Maha Sempurna.

  1. PENGAKUAN NABI ISA SENDIRI BAHWA ALLAH ADALAH TUHANNYA

Yang mengagumkan adalah Nabi Isa ‘alaihissalam sendiri mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya. Allah berfirman mengutip perkataan Nabi Isa:

وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

“Dan sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 36)

Dalam ayat lain, Allah mengabadikan dialog antara Nabi Isa dan Allah di hari Kiamat:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Wahai Isa putra Maryam! Apakah engkau yang mengatakan kepada orang-orang: jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’ Dia (Isa) menjawab: ‘Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku…'” (QS. Al-Ma’idah: 116)

Subhanallah! Nabi Isa sendiri berlepas diri dari klaim ketuhanan yang dilekatkan umatnya. Ini adalah bukti yang paling kuat bahwa Nabi Isa tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

  1. PENOLAKAN TEGAS TERHADAP PAHAM TRINITAS

Allah Ta’ala secara langsung menolak paham Trinitas dalam firman-Nya:

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga (Trinitas). Padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (QS. Al-Ma’idah: 73)

Allah juga berfirman dengan tegas:

مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ

“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Al-Ma’idah: 75)

Kata ‘hanyalah’ (illaa) dalam bahasa Arab berfungsi sebagai pembatas (hashr) yang sangat tegas — Nabi Isa tidak lebih dan tidak kurang dari seorang rasul. Inilah kedudukan beliau yang sebenarnya: mulia sebagai rasul, namun bukan Tuhan.

  1. NABI ISA DIUTUS DENGAN MEMBAWA TAUHID

Nabi Isa ‘alaihissalam diutus dengan membawa risalah tauhid, bukan mengajak manusia menyembah dirinya. Allah berfirman:

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Dan Al-Masih (Isa) berkata: ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya di neraka.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Nabi Isa bahkan mengabarkan tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bukti bahwa risalah beliau adalah bagian dari satu rantai kenabian yang berujung pada Islam. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (Taurat) yang ada sebelumku dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Muhammad).'” (QS. As-Shaff: 6)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari dalil-dalil di atas, jelas bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah rasul Allah yang mulia, bukan Tuhan. Keyakinan ini bukan untuk merendahkan beliau, justru inilah cara menghormati beliau yang sesungguhnya — menempatkan beliau pada kedudukan yang Allah tetapkan, yaitu sebagai hamba dan utusan-Nya.

Sebagai penutup khutbah pertama, marilah kita perkuat tauhid kita dan memohon kepada Allah agar menjaga aqidah kita hingga akhir hayat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kejelasan posisi Nabi Isa ‘alaihissalam dalam Al-Qur’an:

Pertama: Menjaga Kemurnian Tauhid. Inti dari ajaran semua nabi dan rasul adalah tauhid — menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad semuanya membawa risalah yang sama. Maka menjaga tauhid adalah kewajiban terbesar kita.

Kedua: Mencintai Nabi Isa sebagai Saudara Seiman. Seorang Muslim wajib beriman kepada Nabi Isa sebagai salah satu dari rasul ulul azmi. Tidak beriman kepada Nabi Isa berarti iman kita tidak sempurna. Namun kecintaan ini dilandasi aqidah yang benar.

Ketiga: Berdakwah dengan Hikmah. Ketika berinteraksi dengan umat Kristiani, kita berdakwah dengan hikmah dan perkataan yang baik, bukan dengan merendahkan. Kita sampaikan kebenaran tauhid dengan cara yang santun sebagaimana diajarkan Al-Qur’an.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ

الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى

وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here