Home Artikel Sejarah Umrah Nabi di Bulan Dzulqa’dah dan Pelajarannya

Sejarah Umrah Nabi di Bulan Dzulqa’dah dan Pelajarannya

2
0
campaign psb PPHQ 26-27

Bulan Dzulqa’dah merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada bulan yang penuh berkah ini, Rasulullah ﷺ telah melaksanakan umrah sebanyak empat kali—dan yang menakjubkan, tiga di antaranya berlangsung di bulan Dzulqa’dah. Peristiwa-peristiwa bersejarah ini bukan sekadar catatan perjalanan biasa, melainkan sarat makna spiritual, pelajaran keimanan, dan hikmah kehidupan yang sangat relevan bagi umat Islam hingga hari ini.

Artikel ini hadir untuk menggali lebih dalam tentang sejarah umrah Nabi ﷺ di bulan Dzulqa’dah, disertai dalil-dalil shahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta dilengkapi dengan perkataan para ulama terkemuka—baik dari dunia Arab maupun dari Nusantara—agar pemahaman kita semakin utuh dan mengakar.

Keistimewaan Bulan Haram

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang bulan-bulan haram dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini disebut ‘haram’ karena diharamkan melakukan peperangan dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

donatur-tetap

Empat Umrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Para ulama hadis dan sirah sepakat bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan umrah sebanyak empat kali selama hidupnya. Imam Ibnu Al-Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad merinci keempatnya dengan sangat teliti:

اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَرْبَعَ عُمَرَاتٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ

“Rasulullah ﷺ melaksanakan empat kali umrah, semuanya di bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang bersama hajinya.” (HR. Bukhari no. 1776 & Muslim no. 1253)

1. Umrah Hudaibiyah (6 H)

Umrah pertama terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 Hijriah. Rasulullah ﷺ berangkat bersama kurang lebih 1.400 sahabat dengan membawa hewan kurban, berniat melaksanakan umrah tanpa peperangan. Namun kaum Quraisy menghalangi mereka di Hudaibiyah. Peristiwa ini berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, yang Allah namai sebagai ‘kemenangan yang nyata’ (فتح مبين).

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath: 1)

2. Umratul Qadha’ (7 H)

Pada Dzulqa’dah tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah untuk mengqadha umrah yang tertahan setahun sebelumnya. Berdasarkan salah satu klausul Perjanjian Hudaibiyah, kaum Quraisy mengosongkan Makkah selama tiga hari. Rasulullah ﷺ masuk ke Makkah dengan penuh wibawa, berkeliling Ka’bah, dan menunjukkan kepada dunia kemuliaan Islam. Inilah umrah yang sangat mengharukan dan bersejarah.

3. Umratul Ji’irranah (8 H)

Umrah ketiga dilakukan setelah Perang Hunain di tahun ke-8 Hijriah. Rasulullah ﷺ mengambil miqat dari Ji’irranah—tempat pembagian ghanimah Perang Hunain—kemudian masuk Makkah untuk melaksanakan umrah pada bulan Dzulqa’dah. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa umrah ini juga termasuk umrah yang diakui shahih.

4. Umratul Wada’ (10 H) Bersama Haji Wada

Umrah keempat dan terakhir adalah umrah yang menyertai haji Wada’ pada tahun ke-10 Hijriah. Berbeda dari tiga umrah sebelumnya, umrah ini tidak dilakukan di bulan Dzulqa’dah, melainkan bersatu dengan ibadah haji (haji qiran). Inilah satu-satunya umrah Nabi ﷺ yang tidak jatuh di Dzulqa’dah.

Para ulama menaruh perhatian mendalam terhadap bulan Dzulqa’dah dan makna umrah Nabi ﷺ di dalamnya:

Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah

“Semua umrah Nabi ﷺ dilakukan di bulan Dzulqa’dah, sebagai isyarat akan keutamaan bulan ini dan bahwa memilih waktu yang mulia untuk ibadah adalah bagian dari sunnah beliau yang agung. Dalam bulan-bulan haram, amal shalih dilipatgandakan pahalanya dan dosa pun lebih berat timbangannya. Maka jadikanlah Dzulqa’dah sebagai ladang panen kebaikan sebelum musim haji tiba.”

Imam An-Nawawi رحمه الله  

“Umratul Qadha’ mengajarkan kepada kita bahwa ketekunan dan kesabaran seorang mukmin tidak akan pernah sia-sia. Rasulullah ﷺ yang sempat dihalangi akhirnya memasuki Makkah dengan kepala tegak dan penuh kehormatan. Inilah sunnah Allah—bahwa akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan, dan setiap penantian yang ikhlas pasti akan berbuah manis.”

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله 

“Bulan Dzulqa’dah adalah bulan persiapan menuju Baitullah. Di sinilah umat Islam semestinya memperbanyak doa, tobat, dan persiapan batin sebelum menunaikan haji. Umrah-umrah Nabi ﷺ di bulan ini mengajarkan kita untuk tidak menunda-nunda amal shalih dan selalu memanfaatkan waktu-waktu yang diberkahi Allah.”

Pelajaran dan Hikmah dari Umrah Nabi di Bulan Dzulqa’dah

Dari rentetan sejarah yang agung ini, kita dapat memetik berbagai pelajaran berharga:

✦ Pelajaran ke-1: Keutamaan Bulan Dzulqa’dah

Tiga dari empat umrah Nabi ﷺ dilaksanakan di bulan Dzulqa’dah. Ini bukan kebetulan, melainkan isyarat nyata bahwa Allah memuliakan bulan ini secara khusus. Sudah sepatutnya kita memuliakan apa yang dimuliakan Allah.

 

✦ Pelajaran ke-2: Sabar adalah Kunci Kemenangan

Umratul Hudaibiyah mengajarkan bahwa ketika kita dihalangi dari kebaikan, hendaklah kita tetap sabar dan tidak membalas dengan keburukan. Allah yang Maha Adil akan memberikan jalan keluar terbaik pada waktunya.

 

✦ Pelajaran ke-3: Konsistensi dalam Ibadah

Nabi ﷺ tidak hanya sekali berumrah. Beliau mengulang dan konsisten. Ini mengajarkan kita bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit.

 

✦ Pelajaran ke-4: Persiapan Sebelum Haji

Dzulqa’dah adalah bulan sebelum Dzulhijjah (bulan haji). Umrah-umrah Nabi ﷺ di bulan ini mengisyaratkan pentingnya persiapan—fisik, ilmu, dan ruhani—sebelum musim haji tiba.

 

✦ Pelajaran ke-5: Kemuliaan Dapat Ditegakkan Tanpa Kekerasan

Umratul Qadha’ membuktikan bahwa Islam memasuki Makkah bukan dengan pedang, melainkan dengan thawaf dan doa. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya—damai, bermartabat, dan penuh cahaya.

 

✦ Pelajaran ke-6: Niat yang Ikhlas Pasti Terwujud

Meskipun sempat gagal di Hudaibiyah, niat mulia Rasulullah ﷺ untuk berziarah ke Baitullah akhirnya terwujud—bahkan berulang kali. Allah tidak akan menyia-nyiakan niat yang tulus dan hati yang ikhlas.

 

Dzulqa’dah bukan bulan biasa. Ia adalah bulan yang dipilih Allah untuk menjadi saksi bisu perjalanan suci Rasulullah ﷺ menuju Baitullah—perjalanan yang mengajarkan sabar, tabah, ikhlas, dan kemuliaan. Setiap jejak Nabi ﷺ adalah pelita bagi kita.

Semoga di bulan Dzulqa’dah ini, hati kita semakin rindu kepada Allah, makin semangat beribadah, dan kelak Allah izinkan kita untuk menapaki jejak suci Nabi ﷺ di Tanah Haram. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

Referensi : 

  • Al-Qur’an Al-Karim (QS. At-Taubah: 36, QS. Al-Fath: 1)
  • HR. Bukhari no. 1776 & Muslim no. 1253 (Riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
  • Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah, Zaad Al-Ma’aad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad
  • Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim
  • Syaikh Ibnu Utsaimin, Syarh Riyadhus Shalihin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here