Home Blog Page 43

Adab Menasehati Bag.1

0

Menasehati sesama muslim adalah salah satu haq antara sesama muslim, dan nasehat ini mencakup perkara dunia dan akhirat, sehingga tatkala kita dimintai nasehat perihal agama, kita wajib menjawab dengan jawaban yang diyakini benar, misalkan seseorang ditanyai tentang suatu hukum dalam pembahasan fiqih “Pak, apa hukum sholat dhuha?” maka kita wajib menjawab dengan jawaban yang kita yakini benar, tidak boleh kita menjawab dengan “kayaknya kayaknya”dan yang semisal, jika memang tidak tau atau ragu-ragu sekalipun maka sebaiknya jawablah dengan “SAYA TIDAK TAHU” dan jangan merasa gengsi tatkala menjawab dengan jawaban tersebut, karena jawaban tersebut lebih selamat di dunia dan akhirat, sebaliknya jika kita menjawab serampangan, konsekwensinya sangatlah besar, yang jawaban tersebut bisa menyesatkan banyak orang wal’iyaadzu billah. Lebih baik lagi jika kita bisa memberikan solusi tatkala kita tidak bisa menjawab, semisal dengan memberikan info seseorang yang bisa menjawab dengan jawaban yang lebih baik, semisal nomer ustadz fulan atau alamat ustadz fulan dan semisalnya.

Atau jika ada pertanyaan mengenai hal yang berkaitan dengan agama akan tetapi tidak murni agama, semisal ada yang bertanya tentang “dimana kajian yang baik?” maka kita wajib menjawabnya dengan jawaban yang kita yakini kajian tersebut memang baik, bukan jawaban yang mengada-ada.

Adapun jika kita dimintai nasehat mengenai perkara dunia, maka kita wajib menjawab dengan sesuai realita, semisal kita ditanyai tentang seseorang “apakah si fulan baik untuk di ajak berbisnis?” atau “apakah si fulan atau fulanah orang yang baik untuk di jadikan suami atau istri?” maka kita wajib menjawab sesuai realita dan sesuai kepentingan, maka kita harus menjawab secara objektif (inshof ) menyebutkan sisi positive dan negativenya sesuai kepentingan, maksudnya tatkala kita menjawab jawablah sampai sang penanya memahami maksud dari jawaban kita, samapai penanya tau kalau si fulan baik atau tidak baik. Sebagaimana tatkala Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam ditanyai oleh Fathimah binti qoys rodhiyallohu ‘anha ketika di khithbah oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm, Nabi menjawab :

يا فاطمة أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه و أما معاوية فسعلوق لا مال له، أنكحي أسامة بن زيد، فقالت : فكرهته، قال صلى الله عليه و سلم : أنكحي أسامة ، فنكحته فجعل الله فيه خيرا و اغتبت (رواه مسلم)

Artinya : “Wahai Fathimah, adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (gampang main pukul), adapun Mu’awiyah dia miskin dan tidak punya uang, nikahilah Usamah bin Zaid, Fathimah berkata : Aku tidak menyukainya, Nabi berkata : nikahilah usamah, maka akupun menikahinya, dan Alloh jadikan kebaikan dalam pernikahanku, dan aku merasa bahagia.” [HR. Muslim]

Sebagaimana yang Rasullullah contohkan didalam hadits di atas, cukuplah menjawab sesuai keperluan, tidak boleh menjawab lebih dari kepentingan sang pananya, jika melebihi kepentingan maka masuk kedalam membongkar aib saudaranya (ghibah).

Begitu juga berkaitan dengan hal-hal lain, seperti pembeli di toko bertanya tentang suatu barang, maka jawablah dengan jujur, insyaalloh akan diberkahi dagangannya,

قال النبي صلى الله عليه و سلم : من أشار على أخيه بأمر يعلم أن الرشد في غيره، فقد خان

Artinya : “Siapa yang merekomendasikan kepada saudaranya(bahwa itu yang paling bagus) dan dia tau bahwa ada yang lebih baik dari barang tersebut, maka dia sungguh telah berkhianat.” [HR. Abu dawud, di hasankan syeikh Al Albaany]

عن عبد الله إبن عمر رضي الله عنه قال : قال رسول صلى الله عليه و سلم : التاجر الأمين الصدوق المسلم مع الشهداء. و في رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء يوم القيامة

Artinya : “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasuluillah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pedagang yang amanah(terpercaya) dan jujur muslim akan (dikumpulkan) bersama para syuhada”, dalam riwayat yang lain, “bersama Nabi, orang-orang jujur dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).” [HR Ibnu Majah (no. 2139), al-Hakim (no. 2142) dan ad-Daraquthni (no. 17), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi ada hadits lain yang menguatkannya, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, HR at-Tirmidzi (no. 1209) dan lain-lain. Oleh karena itu, hadits dinyatakan baik sanadnya oleh imam adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani (lihat “ash-Shahiihah” no. 3453).

Demikian pembukaan dalam pembahasan adab mensehati sesama muslim insyaalloh akan kita bahas di artikel berikutnya berkaitan definisi nasehat dan hukumnya lebih lanjut, semoga bermanfaat.

wallohu alam bisshowaab

Referensi: Syarh bulughul marom kitaabul jaami’hadits pertama , oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. Ma,. Hafidzohulloh ta’aala

Ditulis oleh Badruz Zaman, Lc.

donatur-tetap

Kegiatan Bakti Sosial Alquran Center Hamalatul Quran: Menebar Kebaikan dan Kepedulian

0

Pada tanggal 12 Maret 2023, Yayasan Hamalatul Quran melalui lembaganya Alquran Center Hamalatul Quran bekerja sama dengan Baitul Mal Nur Ramadhan mengadakan sebuah acara bakti sosial, yang diadakan di Bantul Warung, Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada sejumlah 50 orang keluarga kurang mampu.

Tentunya, kegiatan ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak yang terlibat. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah turut serta dalam acara ini, khususnya kepada bapak dukuh Bantul Warung dan kepada bapak RT 1 sampai dengan RT 4 Pedukuhan Bantul Warung yang telah banyak membantu terlaksanakannya kegiatan ini.

Kami percaya bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan suatu bentuk kepedulian yang sangat penting untuk membantu masyarakat kurang mampu. Semoga kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk peduli dan membantu sesama yang membutuhkan.

Selain itu, kegiatan bakti sosial ini juga merupakan bagian dari upaya kami sebagai yayasan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial. Kami berharap dapat terus melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti ini dan semoga dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat yang membutuhkan.

Akhir kata, kami sekali lagi ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta dalam kegiatan ini dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan keberkahan dan kemudahan bagi kita semua. Amin.

donatur-tetap

Waspada! Para Pencuri Pahala Shiyam

0

Shiyam adalah termasuk ibadah mulia di sisi Allah ta’ala, bahkan Allah sendirilah yang akan memberi pahala bagi yang bershiyam. Tidak dipungkiri bahwa sebuah ibadah sangat berat untuk mendapatkan kesempurnaan pahalanya, termasuknya adalah ibadah shiyam. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رب صائم حظه من الصيام الجوع و العطش

“Barangkali ada orang bershiyam dan bagiannya hanya rasa lapar dan haus semata.” HR. An Nasai, Hakim & Ibnu Huzaimah, maka berhati-hati di dalam menjalankan ibadah shiyam adalah suatu yang harus diupayakan, supaya pahala shiyam tidak dicuri oleh para pencurinya. Seringkali kita berbuat sesuatu ketika shiyam dengan tanpa kita sadari bahwa perbuatan itu ternyata telah mencuri pahala shiyam kita.

Berikut beberapa hal yang bisa mencuri pahala shiyam.

1. Tidak menjaga lisan

Hendaknya orang yang bershiyam tidak hanya bershiyam dari makan, minum dan syahwat kemaluan saja, tetapi juga menjaga lisannya untuk tidak berkata-kata yang bisa mencuri pahala ibadah shiyamnya, walaupun secara dzat dia tidak membatalkan shiyam, tetapi secara pahala bisa menguranginya atau bahkan bisa menghilangkan secara total -wal ‘iyadzu billah-. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور و العمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه و شربه

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang harom, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” HR. Bukhori.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga mewanti-wanti kepada orang yang sedang shiyam untuk menjaga lisannya, sebagaimana sabdanya:

و إذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرء صائم

“Apabila salah seorang dari kalian bershiyam, maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajak kelahi, maka katakanlah “saya sedang bershiyam”.” HR. Bukhori Muslim.

Banyak bentuk tidak menjaga lisan, diantaranya sebagai berikut:

  1. Berkata dengan perkataan yang harom.
  2. Berkata kotor.
  3. Ghibah (menyebutkan keburukan seseorang, yang dia tidak suka untuk disebutkan).
  4. Namimah (mengadu domba antara dua orang atau lebih dengan niat agar terjadi permusuhan).
  5. Berteriak-teriak yang tidak ada kebutuhan untuk itu.

Hal-hal di atas pada dasarnya dilarang oleh syareat agama, terlebih lagi ketika shiyam.

2. Perbuatan harom

Perbuatan harom berarti maksiat, perbuatan maksiat harom dilakukan baik di dalam bulan Romadhon maupun di luar bulan Romadhon. Maksiat apabila dikerjakan di luar bulan utama akan mendatangkan dosa, terlebih lagi ketika maksiat itu dilakukan di waktu-waktu yang penuh fadhilah seperti Romadhon, maka kuwalitas maksiat lebih besar lagi.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور و العمل به و الجهل فليس لله حاجة أن يدع طعامه و شرابه

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang harom, juga berperilaku seperti perilaku orang bodoh, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” HR. Bukhori.

Bentuk perbuatan harom ini berbagai macam, diantaranya adalah:

  1. Berkelahi dan bermusuhan.
  2. Berjudi.
  3. Mencuri.
  4. Korupsi.
  5. Memukul dengan tidak hak.
  6. Dll dari perbuatan harom lainnya.

Perbuatan di atas adalah perbuatan orang bodoh, karena semua orang yang bermaksiat bisa di sebut bodoh, sebagaimana Allah berfirman:

ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ عَمِلُوا السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Kemudian, sungguh Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan kesalahan dengan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS AnNahl 119.

3. Bermalas-malasan

Sebagian kaum muslimin ketika bershiyam mereka bermalas-malasan; dengan memperbanyak tidur sampai berlebihan dalam tidurnya, atau nongkrong sambil nonton, dll.

Sebuah hadits yang mereka berdalih dengannya untuk bermalas-malasan dengan berbagai bentuk kemalasan adalah hadits dhoif (lemah), dan tidak bisa dijadikan hujjah.

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

“Tidurnya orang shiyam adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya mustajab, dan amalnya dilipatgandakan pahalanya.” diriwayatkan oleh imam Baihaqi dan beliau mendhoifkannya.

Bermalas-malas bukan sifat orang mukmin sejati, melainkan itu sifat orang munafik, sebagaimana Allah berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.” QS. An Nisa 142.

Adapun sifat orang mukmin adalah senantiasa bersemangat, sebagaimana Rosul bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu.” HR. Muslim.

Bermalas-malasan juga termasuk perbuatan yang tidak memanfaatkan waktu dengan sebaiknya, padahal itu nikmat yang tercela dan kebanyakan manusia melalaikannya.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” HR. Bukhari.

Inilah beberapa hal yang bisa menjadi pencuri pahala shiyam, dan banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin، hendaknya kita mawas diri supaya tidak terjerumus didalamnya. Semoga Allah menjaga penulis dan pembaca dari para pencuri pahala ini. Wa Allahu a’lam.

Dinukil dari berbagai sumber.

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

 

donatur-tetap

5 Amalan Agung di Bulan Ramadhan

0

Pembaca yang budiman…

Ramadhan adalah bulan yang Allah karuniakan kepada ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ummat akhir zaman. Bulan yang penuh dengan keberkahan dan rahmat yang melimpah, anjuran berbagai amal dilaksanakan di dalamnya. Apa saja amalan yang penting kita ketahui dan bisa dilaksanakan ? Berikut 5 (lima) amalan penting di bulan Ramadhan.

1. Shiyam (puasa)

Allah ta’ala berfirman,

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh : 183)

Berpuasa di bulan Ramadhan ini hukumnya wajib; bahkan menjadi salah satu rukun dari rukun-rukun islam, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam berdiri di atas 5 (lima) pilar : syahadat (persaksian) bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya, mendirikan sholat, membayar zakat, haji ke baitullah, shiyam Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim.)

Faidah shiyam Ramadhan, sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam:

من صام رمضان إيماناً و احتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang bershiyam Ramadhan karena iman dan berharap pahala di sisi Allah, maka akan diampuni dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim.)

2. Shalat malam

من قام رمضان إيماناً واحتساباً ، غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang sholat malam karena iman dan berharap pahala di sisi Allah, maka akan diampuni dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim.)

Diantara shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih; yang nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan bagi yang melaksanakan bersama imam hingga selesai

من قام مع الإمامِ حتى ينصرفَ كتب اللهُ له قيامَ ليلةٍ

“Barangsiapa yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai, Allah ta’ala mencatat untuknya shalat semalaman.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa’I, Abu dawud, dll.

3. Shadaqah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang sangat dermawan, teerlebih lagi ketika bulan Ramadhan kedermawanan beliau lebih dari pada luar Ramadhan. Ibnu Abbas memisalkan kedermawanan beliau seperti angin yang berhembus; sebagaimana perkataannya :

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ بالخَيْرِ، وكانَ أجْوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وكانَ جِبْرِيلُ عليه السَّلَامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ في رَمَضَانَ، حتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عليه النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عليه السَّلَامُ، كانَ أجْوَدَ بالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَة

“Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan tatkala Jibril ‘alaihis salam menemui beliau, dan Jibril datang setiap malam Ramadhan sampai selesai; untuk mengulang AlQuran bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah manusia yang paling dermawan di dalam kebaikan lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (HR Bukhari)

Dalam shadaqah bisa berbagai cara; diantaranya adalah Memberi buka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائماً كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيء

“Siapa saja yang memberi bukaan kepada orang yang bershyiam, maka dia mendapat pahala shiyamnya orang yang diberi bukaan itu tanpa mengurangi pahala orang yang bershiyam tersebut sedikitpun.” (HR. Ahmad, AnNasai)

4. Tilawah Al Quran.

Bulan Ramadhan dijuluki dengan bulan Al-Quran; dikarenakan wahyu pertama kali turun di waktu bulan Ramadhan dan Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap Ramadhan diajak oleh Jibril untuk mengulangi dan murojaah Al-Quran. Hal ini telah dicontohkan oleh para sahabat dan para salafus sholeh terdahulu.

5. I’tikaf

I’tikaf adalah salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ajarkan, dan tidak pernah ditinggalkan semasa hidupnya, beliau lakukan di setiap Ramadhan.

Ibunda kaum mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

إنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، كانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِن رَمَضَانَ حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

“Sungguh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf di setiap 10 (sepuluh) terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya.” (HR. Bukhari)

Inilah 5 amalan penting yang sangat perlu pembaca ketahui dan bisa dilaksanakan ketika bulan Ramadhan tiba, lima amalan ini tidak sebagai pembatasan amal, tetapi hanya yang dianggap terpenting.

Semoga penulis dan pembaca senantiasa diberi taufiqNya.

Referensi:

  1. https://mawdoo3.com
  2. http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/20.htm

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

Artikel : Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.6): Pembagian dan Kesalahan Terkait Asmaul Husna

0

Inti dari adanya pembagian ini adalah agar kita dapat membedakan antara nama-nama Allah subhanahu wata’aala secara umum, diantaranya ada empat pembagian yang perlu diketahui, sebagai berikut.

1. Nama-nama Allah yang menunjukan sifat-sifat dzatiyah.

Contohnya :     القدير : Yang maha kuasa

السميع : Yang maha mendengar

البصير : Yang maha melihat

الحيّ : Yang maha hidup

القوي : Yang maha kuat

العزيز : Yang maha perkasa

العليم : Yang maha mengetahui

Nama-nama tersebut adalah nama dzatiyah, yaitu yang akan senantiasa ada pada Allah setiap saat.

2. Nama-nama Allah yang menunjukan sifat fi’liyah (berkaitan dengan kehendak Allah, jika Allah berkehendak maka Allah lakukan jika tidak maka Allah tidak lakukan).

Contohnya :     الغفور: Yang maha pengampun

التواب : Yang maha menerima taubat

الرزاق : Yang maha memberi rizqi

الرحيم : Yang maha penyayang

Nama-nama di atas adalah diantar nama-nama yang bersifat fi’liyah, jika Allah berkehendak memberikan rizqi kepada seseorang, maka Allah akan berikan, jika tidak maka Allah akan menahan rizqi tersebut.

3. Nama-nama Allah yang mengandung makna pensucian kepada Allah, dari seluruh kekurangan dan aib.

Contohnya :     السلام : Yang maha selamat (dari kekurangan)

السبّوح : Yang maha suci

القدّوس : Yang maha suci

4. Nama-nama Allah yang menunjukan sifat kesempurnaan.

Contohnya :     المجيد : Yang maha luas kuasanya

العظيم : Yang maha agung

الحميد : Yang maha terpuji

الصمد : Yang tidak membutuhkan kepada apapun, dan dibutuhkan oleh semua makhluknya

Pembagian di atas setidaknya memberikan gambaran kepada kita perbedaan nama-nama Allah subhanahu wata’aala secara umum.

Kemudian diantara kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan Alasmaa alhusnaa, yang sebaiknya kita ketahui agar terhindar dari syubhaat (samar antara kebenaran dan kebathilan).

  1. Menamakan Allah subhanahu wata’aala dengan tanpa dalil, sebagaimana orang-orang nashoro (nasrani) menamakan Allah dengan الأب yaitu bapak, dan juga orang-orang falasifah (filsafat) العلة الفاعلة yaitu sebab semua kejadian.
  2. Menjadikan nama-nama Allah sebagai jimat.
  3. Berdzikir dengan hanya mengulang-ulang salah satu nama Allah yang tidak pernah diajarkan oleh nabi shalallahu’alaihi wasallam, seperti mengucapkan الله seribu kali (1000x) atau هو sebanyak seribu kali (1000x), rata-rata dzikir Nabi shalalloh’alaihi wasallam bentuknya susunan kalimat yang sempurna, seperti الله أكبر atau لا إله إلا الله .
  4. Orang orang mu’tazilah mengatakan bahwa “nama-nama Allah tidak bermakna, akan tetapi hanya sekedar nama saja tidak lebih.
  5. Kesalahan yang sering terjadi pada sebagian orang juga adalah berdoa dengan sifat Allah seperti يا رحمة الله “wahai rahmat Allah”, yang benar adalah يا رحيم “wahai maha penyayang”.

Demikian tambahan yang tidak kalah penting dengan pembahasan yang lain, semoga Allah memberikan manfaat kepada penulis dan pembaca, insyaalloh kita akan membahas nama-nama Allah secara runtut di artikel yang akan dating, wallohu a’lam bisshowaab.

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu 

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

Artikel : Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Pembagian Tauhid Bag.2

0

Pembaca yang budiman.

Jenis tauhid pertama sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, maka dalam artikel kali ini penulis akan melanjutkan bahasan tentang pembagian tauhid yang tersisa.

2. Tauhid Uluhiyah.

Yaitu mengesakan Allah di dalam ibadah. Uluhiyah dari kata ilaah mempunyai makna “yang disembah dengan rasa cinta dan pengagungan”. Dialah Allah satu-satunya dzat yang mempunyai hak untuk disembah, inilah makna kalimat tauhid

لا إله إلا الله    tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah”

وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰه وَ ٰ⁠حِدۖ لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِیمُ

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh : 163)

Barangsiapa yang menjadikan selain Allah sesembahan, maka dia telah mengsekutukan Allah dengan selainNya/telah berbuat kesyirikan.

ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِیُّ ٱلۡكَبِیرُ

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. Al Haj : 62)

Tauhid macam inilah inti dakwah dan ajaran yang dibawa oleh para Rosul, terjadinya perselisihan dan konflik antar mereka dikarenakan dakwah mengajak ke tauhid ini,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt,” kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahl : 36)

Pertama kali kewajiban orang masuk islam adalah mengucapkan syahadat, hal ini menunjukkan bahwa tauhid uluhiyah menjadi maksud dakwah para rosul. Tauhid ini adalah pondasi yang terbangun diatasnya semua amal, dengan tanpa mewujudkannya maka tidak akan sah dan benar, karena jika tauhid ini tidak terwujudkan maka bisa terjadi kebalikannya yaitu syirik.

Apa perbedaan dari kedua tauhid tersebut ? Berikut ringkasannya :

NoPerbedaanRububiyahUluhiyah
1KeterkaitanTauhid Rububiyah berkaitan dengan perbuatan AllahTauhid Uluhiyah berkaitan dengan perbuatan hamba
2PengakuanTauhid Rububiyah diakui oleh semua makhluk termasuknya orang-orang musyrikTauhid Uluhiyah tidak semua orang mengimaninya  bahkan banyak yang berbuat sebaliknya
3HukumOrang yang sekedar meyakini tauhid Rububiyah saja, tidak cukup menjadikan dia muslimOrang yang meyakini tauhid Uluhiyah dia seorang muslim
4Kabar dan perintahTauhid Rububiyah berujung ke iman kepada semua apa yang dikabarkan oleh Allah dan RosulNyaTauhid Uluhiyah mewajibkan untuk mewujudkan perintah Allah dan RosulNya

 

3. Tauhid Asma’ was shifat

Yaitu menetapkan untuk Allah nama-nama dan shifat-shifat yang telah ditetapkan Allah sendiri lewat firmanNya atau yang telah ditetapkan oleh RosulNya dalam sabdanya; tanpa tahrif (penyimpangan), ta’thil (meniadakan), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan).

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِینَ یُلۡحِدُونَ فِیۤ أَسۡمَـٰۤىِٕهِۦۚ سَیُجۡزَوۡنَ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ

“Dan Allah memiliki Asmā’ul Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā’ul Ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya.Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al A’rof : 180)

Tauhid jenis inilah terjadi perselisihan antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah.

Ahlus sunnah mempunyai qoidah di dalam menetapkan asma’ was shifat :

  1. Menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana yang telah ada di dalam Alquran dan assunnah, sesuai dzohirnya dan sesuai makna dari lafadz yang ada. Tidak menta’wilkan atau mengubah makna dari lafadz yang ada.
  2. Meniadakan penyerupaan dengan sifat makhluk. Sebagaimana firman Allah

 لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. As Syuro : 11)

  1. Tidak melampaui apa yang sudah ada dalam alquran dan assunnah, jika ada maka ditetapkan, jika tidak ada maka ditiadakan, jika didiamkan maka diam tidak berkomentar. Karena nama dan sifat Allah itu tauqifi (harus berdasarkan dalil nas).
  2. Ahlus sunnah meyakini bahwa dalil tentang nama dan sifat Allah itu muhkam (jelas); yang bisa difahami.
  3. Ahlus sunnah menyerahkan kaifiyah (bagaimana) dan hakikat sifat Allah kepada Allah, dan tidak mempertanyakan maupun mencari-cari hakikat sifat Allah.

Inilah pembagian tauhid dan penjelasannya secara singkat, walaupun para ulama berbeda ungkapan dalam istilah, tetapi intinya kembali ke tiga bagian yang sudah di bahas. Semoga penulis dan pembaca selalu di atas tauhid yang benar dan lurus hingga akhir hayat.

Waallahu a’lam bis showab.

 

Referensi :

  • https://www.alukah.net
  • https://dorar.net/aqeeda
  • Aqidatut tauhid
  • Nubdzah fil aqidah islamiyah
  • Syarh kitab ushul tsalatsah syekh sholih al ushoimi.

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

 

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.5) : Apakah Benar Jumlah Nama Allah Adalah 99?

0

Jumlah Alasmaa alhusnaa telah kita sebutkan bahwa tidak terbatas dengan angka, karena dalam banyak hadits rosululloh menyebutkan, bahwa nama-nama dan sifat-sifat Alloh subhanahu wata’aala masih banyak yang blum beliau ketahui, masih ada yang tersembunyi di ilmu ghoib Alloh, sehingga muncullah pertanyaan, bagaimana dengan hadits yang menyebutkan bahwa Alloh memiliki sembilan puluh sembilan nama?.

Lengkap hadisnya adalah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ  .

Dari Abi Hurairah semoga Allah meridhoinya, bahwa Rasul shalallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang menguasainya dia akan dimasukkan kedalam syurga”. (HR. Bukhari no. 2836)

Bisa kita simpulkan, bahwa penetapan angka sembilan puluh sembilan bukanlah batasan, akan tetapi sebagai dzikr untuk memudahkan mengingat nama-nama tersebut, dan untuk menyebutkan bahwa nama-nama tersebut adalah nama yang spesial.

Ternyata nama-nama Allah jika di hitung di dalam dalil-dalil melebihi seratus nama, dan para ulama memperselisihkan sembilan puluh sembilan nama yang masuk di dalam hadits di atas.

Tidak ada dalil shahih yang menetapkan 99 nama-nama tersebut, oleh sebab itu para ulama berijtihad dalam menentukan nama-nama tersebut.

Disebutkan bahwa Dr. Muhammad kholifah At-Tamimy mengumpulkan seluruh nama-nama Allwh yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, dalam kitab beliau Mu’taqod Ahlussunnah Waljamaa’ah bawaha beliau mendapati ada sekitar seratus lima puluh (150) nama, delapan puluh sembilan disepakati masuk ke dalam 99 nama tersebut, dan sepuluh diantaranya diperselisihkan oleh para ulama.

Datang dalam hadis, penentuan Sembilan puluh Sembilan (99) nama-nama Allah dalam riwayat yang lemah, yang seluruhnya dibawakan oleh Abu Hurairah radhiyallah ta’aala ‘anhu.

Salah satu sanad diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Maajah, Al-Baihaqi, dari jalur Al-Waliid bin Muslim, yang beliau di nilai sebai seorang Mudallis (menyamarkan nama) dan mudhthorib (Diriwayatkan oleh banyak orang dan menyelisihi matan atau sanad hadits yang lain)

Kemudian sanad ke dua diriwayat oleh Ibnu maajah, dari jalur ‘Abdul Maalik bin Muhammad Asshon’aany, beliau dinilai Dho’if (lemah)

Kemudian sanad yang ketiga diriwayatkan oleh Alhaakim dan ALbayhaqi, dari jalur ‘Abdul ‘aziz bin Al hushoin bin Atturjumaan, beliau juga dinilai dho’if (lemah), lafadz haditsnya sebagai berikut :

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن لله تسعة وتسعين اسما ـ مائة إلا واحدا ـ إنه وتر يحب الوتر، من حفظها دخل الجنة، وهي: الله، الواحد، الصمد، الأول، الآخر، الظاهر، الباطن، الخالق، البارئ، المصور، الملك، الحق، السلام المؤمن، المهيمن، العزيز، الجبار، المتكبر، الرحمن، الرحيم، اللطيف، الخبير، السميع، البصير، العليم، العظيم، البار، المتعال، الجليل، الجميل الحي، القيوم، القادر، القاهر، العلي، الحكيم، القريب، المجيب، الغني، الوهاب، الودود، الشكور، الماجد، الواجد، الوالي، الراشد، العفو، الغفور الحليم، الكريم، التواب، الرب، المجيد، الولي، الشهيد، المبين، البرهان، الرءوف، الرحيم، المبدئ، المعيد، الباعث، الوارث القوي، الشديد، الضار، النافع، الباقي، الواقي، الخافض، الرافع، القابض، الباسط، المعز، المذل، المقسط، الرزاق، ذو القوة المتين، القائم الدائم، الحافظ، الوكيل الفاطر، السامع، المعطي، المحيي، المميت، المانع، الجامع، الهادي، الكافي، الأبد، العالم، الصادق، النور، المنير، التام، القديم، الوتر، الأحد الصمد، الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد ـ قال زهير: فبلغنا من غير واحد من أهل العلم أن أولها يفتح بقول لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد بيده الخير وهو على كل شيء قدير، لا إله إلا الله، له الأسماء الحسنى.

Hadits di atas di nilai dhoif oleh Ibnu Hazm, Ibnul ‘Aroby, Ad-Dawudy, dan Al-Albaany rahimahumulloh ta’aala.

Insyaalloh akan dilanjutkan di artikel berikutnya mengenai nama-nama Alloh subhaanahu wata’aala, semoga bermanfaat wallohua’lam bisshowaab.

 

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu 

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

Artikel : Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Kunjungan MA Hamalatul Quran Sanden di Perpustakaan Tunas Mulia SDIT Assalaam Sanden

0

Bantul, Madrasah Aliyah Hamalatul Quran telah melaksanakan kunjungan perpustakaan ke SDIT Assalaam Sanden di ruang perpustakaan Tunas Mulia Kamis (02/03/2023). Kunjungan ini diwakili oleh pengurus madrasah sejumlah 4 orang, yaitu kepala madrasah, calon kepala perpustakaan, sarpras dan TU.

“Alhamdulillah, ini merupakan studi tiru pertama yang saya pribadi laksanakan dalam masa jabatan saya, mengingat amanah kepemimpinan madrasah yang belum genap satu tahun ini. Kemudian ucapan terima kasih kami kepada Bapak Mujiran selaku penghubung madrasah dengan SDIT Assalam Sanden, juga Bapak Daru Tri Anggoro, M.Pd. selaku kepala sekolah SDIT Assalam Sanden beserta staf perpustakaan Tunas Mulia yang telah menyambut baik permohonan kunjungan kami.” Kata Ustadz Zusuf Affandi, B.A. dalam sambutannya.

Selanjutnya setelah acara sambutan selesai, rombongan madrasah mendapatkan penjelasan terkait instrumen akreditasi perpustakaan, sejarah dan lika-liku pengajuan akreditasi perpustakaan, bagaimana proses persiapannya, juga madrasah diberikan tips-tips penting terkait pelaksanaan akreditasi perpustakaan.

Pada kesempatan tersebut pemateri adalah kepala perpustakaan Tunas Mulia, Rurri Fatchuroh, S.IP. Sesi ini berjalan dengan akrab karena pertemuan tersebut lebih banyak sharing terkait pengalaman-pengalaman dan tanya jawab.

Harapan madrasah seusai dari kunjungan ini adalah madrasah memiliki gambaran dan wawasan yang luas terkait tata kelola perpustakaan sehingga kedepannya madrasah menjadi lebih siap untuk pelaksanaan akreditasi perpustakaan.

donatur-tetap

Belajar Fiqih Syafi’i (Bag.4) : Rukun Islam

0

Setelah penulis menjelaskan makna syahadat yang merupakan pondasi utama Islam dan memberitahukan beberapa konsekuensinya,selanjutnya penulis memberikan penjelasan yang ringkas terkait rukun islam yang lainnya.

Penjelasan pertama adalah rukun kedua yaitu menegakkan shalat, dalam bahasa arab kata shalat memiliki makna berdoa, sebagai contoh dalam firman Allah Ta’ala:

وَصَلِّ عَلَيهِم إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُم

”Dan doakan lah mereka, karena doamu(muhammad) adalah sebuah ketenangan bagi mereka”.

menurut terminologi shalat adalah:

عبادة ذات أقوال وأفعال معلومة، مفتتحة بالتكبير، مختتمة بالتسليم

”ibadah yg terdiri dari perkataan dan perbuatan yg telah ditentukan syariat,dimulai dengan takbiratul ihram dan di tutup dgn salam”.

Maksud dari menegakkan adalah seorang muslim di tuntut untuk terus-menerus mengerjakan shalat pada waktunya dengan menyempurnakan/memenuhi seluruh syarat dan rukun. penjelasan lebih lengkap tentang shalat, zakat, puasa dan hajji berkenaan dengan rukun,syarat dan lainnya terdapat pada bagian ketiga dari kitab ini.

Rukun ketiga adalah menunaikan zakat, zakat memiliki makna suci,bertambah dan berkembang sehingga hakikat zakat tidaklah mengurangi harta dari seorang muslim bahkan zakat dapat membersihkan harta. menurut terminologi zakat adalah sejumlah harta yg dikeluarkan dari harta kepemilikan dan badan serta syariat telah menentukan kadar,jenis harta,waktu dikeluarkan dan golongan yg berhak menerima. Allah berfiman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada orang yg mengaku muslim untuk menunaikan zakat,tentu perintah ini terdapat rincian terkait pelaksaananya dan penulis akan menjelaskannya di bagian ketiga dari kitab ini pada bab zakat.

Rukun keempat adalah puasa, rukun ini berkaitan erat dengan bulan suci ramadhan, bulan yg mulia dengan berbagai peristiwa penting islam terjadi di dalamnya, diantaranya nuzulul quran, lailtul qadar, perang badar, dan fathul makkah.pengertian puasa adalah menahan diri,yaitu menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yg dapat membatalkan puasa dan akan datang rincian penjelasannya.

Kemudian rukun kelima atau yang terakhir adalah haji,yaitu menempuh perjalanan ke ka’bah dengan niat melaksanakan tuntunan ibadah hajji. penulis menekankan 2 hal bagi setiap muslim yg berusaha maksimal untuk melaksanakan 5 rukun islam, yg pertama melandasi semua amalannya diatas keikhlasan untuk menggapai keridhoan Allah dan berusaha memurnikan niat dari kotoran-kotoran hati seperti riya,’ujub,kesombongan dan lainnya. hal yg kedua adalah berusaha untuk mengerjakan 5 rukun islam dengan penuh keyakinan serta hati yg lapang menerima kebenaran hal ini(rukun islam).

seorang muslim hendaknya terus memurnikan niat dalam ibadahnya dan berusaha  beribadah dengan penuh keyakinan untuk menerima kebenaran terhadap semua hal yang Allah perintahkan. apabila seorang muslim tidak ikhlas dlm menunaikan ibadahnya tentu Allah tidak akan menerima ibadahnya dan tidak akan mendapatkan ganjaran, dan apabila seorang muslim melaksanakan ibadah namun ragu bahkan tidak mempercayai kebenaran dlm perintah-perintah Allah maka dia telah melakukan hal yang Abdullah bin Ubay bin Salul lakukan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

semoga kita senantiasa diberikan Allah petunjuk agar istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya dan berusaha semaksimal mungkin melandasi amalan kita diatas keikhlasan dan dada yang lapang menerima kebenaran islam ini.

Referensi: Disusun dan disadur dari kajian ilmiah ust Dr, Aris Munandar, SS, MPI berjudul:”Al-Buduuru At-Thaliatu bi Syarhi Ar-Risalati Al-Jaami’ah”

Ditulis Oleh : Muhamad Gozi, Lc

 

donatur-tetap

Kunjungan Satbinmas Polres Bantul ke Pondok Pesantren Hamalatul Quran

0

Bantul, Pondok Pesantren Hamalatul Quran menerima kunjungan dari Satbinmas Polres Bantul yang dipimpin langsung oleh Kasat. Binmas Polres Bantul pada Rabu (8/3/2023) bertempat di kantor pondok pesantren Hamalatul Quran, Sanden.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk silaturahim antar lembaga, Pembinaan kamtibmas untuk warga pondok pesantren Hamalatul Quran dan penyampaian informasi pendaftaran polri.

Pondok pesantren Hamalatul Quran menyampaikan terimakasih atas kunjungan Satbinmas Polres Bantul ke pesantren Hamalatul Quran. Semoga dengan adanya pertemuan ini dapat terjalin hubungan baik antara lembaga kepolisan dengan pondok pesantren Hamalatul Quran.

 

 

donatur-tetap