Home Artikel Adab dan Akhlak Waspada! Para Pencuri Pahala Shiyam

Waspada! Para Pencuri Pahala Shiyam

833
0

Shiyam adalah termasuk ibadah mulia di sisi Allah ta’ala, bahkan Allah sendirilah yang akan memberi pahala bagi yang bershiyam. Tidak dipungkiri bahwa sebuah ibadah sangat berat untuk mendapatkan kesempurnaan pahalanya, termasuknya adalah ibadah shiyam. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رب صائم حظه من الصيام الجوع و العطش

“Barangkali ada orang bershiyam dan bagiannya hanya rasa lapar dan haus semata.” HR. An Nasai, Hakim & Ibnu Huzaimah, maka berhati-hati di dalam menjalankan ibadah shiyam adalah suatu yang harus diupayakan, supaya pahala shiyam tidak dicuri oleh para pencurinya. Seringkali kita berbuat sesuatu ketika shiyam dengan tanpa kita sadari bahwa perbuatan itu ternyata telah mencuri pahala shiyam kita.

Berikut beberapa hal yang bisa mencuri pahala shiyam.

1. Tidak menjaga lisan

Hendaknya orang yang bershiyam tidak hanya bershiyam dari makan, minum dan syahwat kemaluan saja, tetapi juga menjaga lisannya untuk tidak berkata-kata yang bisa mencuri pahala ibadah shiyamnya, walaupun secara dzat dia tidak membatalkan shiyam, tetapi secara pahala bisa menguranginya atau bahkan bisa menghilangkan secara total -wal ‘iyadzu billah-. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور و العمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه و شربه

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang harom, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” HR. Bukhori.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga mewanti-wanti kepada orang yang sedang shiyam untuk menjaga lisannya, sebagaimana sabdanya:

و إذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرء صائم

“Apabila salah seorang dari kalian bershiyam, maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajak kelahi, maka katakanlah “saya sedang bershiyam”.” HR. Bukhori Muslim.

Banyak bentuk tidak menjaga lisan, diantaranya sebagai berikut:

  1. Berkata dengan perkataan yang harom.
  2. Berkata kotor.
  3. Ghibah (menyebutkan keburukan seseorang, yang dia tidak suka untuk disebutkan).
  4. Namimah (mengadu domba antara dua orang atau lebih dengan niat agar terjadi permusuhan).
  5. Berteriak-teriak yang tidak ada kebutuhan untuk itu.

Hal-hal di atas pada dasarnya dilarang oleh syareat agama, terlebih lagi ketika shiyam.

2. Perbuatan harom

Perbuatan harom berarti maksiat, perbuatan maksiat harom dilakukan baik di dalam bulan Romadhon maupun di luar bulan Romadhon. Maksiat apabila dikerjakan di luar bulan utama akan mendatangkan dosa, terlebih lagi ketika maksiat itu dilakukan di waktu-waktu yang penuh fadhilah seperti Romadhon, maka kuwalitas maksiat lebih besar lagi.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور و العمل به و الجهل فليس لله حاجة أن يدع طعامه و شرابه

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang harom, juga berperilaku seperti perilaku orang bodoh, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” HR. Bukhori.

Bentuk perbuatan harom ini berbagai macam, diantaranya adalah:

  1. Berkelahi dan bermusuhan.
  2. Berjudi.
  3. Mencuri.
  4. Korupsi.
  5. Memukul dengan tidak hak.
  6. Dll dari perbuatan harom lainnya.

Perbuatan di atas adalah perbuatan orang bodoh, karena semua orang yang bermaksiat bisa di sebut bodoh, sebagaimana Allah berfirman:

ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ عَمِلُوا السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Kemudian, sungguh Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan kesalahan dengan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS AnNahl 119.

3. Bermalas-malasan

Sebagian kaum muslimin ketika bershiyam mereka bermalas-malasan; dengan memperbanyak tidur sampai berlebihan dalam tidurnya, atau nongkrong sambil nonton, dll.

Sebuah hadits yang mereka berdalih dengannya untuk bermalas-malasan dengan berbagai bentuk kemalasan adalah hadits dhoif (lemah), dan tidak bisa dijadikan hujjah.

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

“Tidurnya orang shiyam adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya mustajab, dan amalnya dilipatgandakan pahalanya.” diriwayatkan oleh imam Baihaqi dan beliau mendhoifkannya.

Bermalas-malas bukan sifat orang mukmin sejati, melainkan itu sifat orang munafik, sebagaimana Allah berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.” QS. An Nisa 142.

Adapun sifat orang mukmin adalah senantiasa bersemangat, sebagaimana Rosul bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu.” HR. Muslim.

Bermalas-malasan juga termasuk perbuatan yang tidak memanfaatkan waktu dengan sebaiknya, padahal itu nikmat yang tercela dan kebanyakan manusia melalaikannya.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” HR. Bukhari.

Inilah beberapa hal yang bisa menjadi pencuri pahala shiyam, dan banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin، hendaknya kita mawas diri supaya tidak terjerumus didalamnya. Semoga Allah menjaga penulis dan pembaca dari para pencuri pahala ini. Wa Allahu a’lam.

Dinukil dari berbagai sumber.

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here