Home Blog Page 32

Jangan Hanya Mengejar Kuantitas Amal

0

Sebagian kaum muslimin sangat antusias dalam melaksanakan amal-amal yang bernilai ibadah, sholat, puasa, sedekah, dzikir, doa, dst. Tetapi sangat disayangkan, karena hanya mementingkan jumlah amal tanpa memperbaiki amal, hanya sekedar memperhatikan kuantitas tanpa mempedulikan kualitas. Sedikit tetapi kualitas prima lebih baik dari pada kuantitas banyak tanpa ada kualitasnya sama sekali, ibadah yang berbobot di sisi Allah dan diterima itu lebih baik dari pada ibadah yang tidak diterima di sisiNya karena kopong kosong tanpa bobot, tetapi ibadah yang banyak dan berkwalitas jauh lebih baik.

Benar… bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah mentauhidkanNya, tetapi dalam ibadah ada tata caranya, tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah sesuai keinginan dia belaka, tetapi harus sesuai keinginan Allah ta’ala.

 وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah mentauhidkanKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Inilah tujuan pokok hidupnya manusia di muka bumi, hikmah Allah dibalik menciptakan jin dan manusia, memberi rizki dan nikmat kepada mereka, yaitu mentauhidkan Allah dalam semua bentuk peribadahannya. Dalam usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada penciptanya, maka harus mengikuti tata cara jalan untuk menuju kepada Allah, jangan pakai semboyan “yang penting memperbanyak ibadah” karena Allah ta’ala menciptakan adanya kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

 ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalannya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Imam Muhammad bin ‘Ajlan rohimahullah berkata : “Allah tidak menyatakan paling banyak amalnya”

Imam al Fudhail ibnu ‘Iyadh rahimahullah ketika di tanya :

يا أبا علي، ما معنى أحسن العمل؟ قال: “أخلصه وأصوبه”، قيل: ما أخلصه؟ وما أصوبه؟ قال: «إنَّ العمل إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإن كان صوابًا ولم يكن خالصًا فلم يُقبل، حتى يكون خالصًا صوابًا”، قيل: يا أبا علي، ما هو الخالص الصواب؟ قال: “الخالص: أن يكون لله، والصواب: أن يكون على السنة”.

“Wahai abu Ali apa makna ahsanul amal (amal yang paling baik)? Beliau menjawab :”Yang paling ikhlas dan paling baik” ditanya lagi : “apa itu paling ikhlas dan paling baik ?” beliau menjawab : “suatu amal jika dilakukan dengan keikhlasan tetapi tidak baik tidak akan diterima, jika amalan itu baik tetapi tidak dengan keikhlasan tetap tidak diterima sampai amal tersebut dilakukan dengan keikhlasan dan baik” ditanya lagi : ” wahai abu Ali apa itu ikhlas dan baik ?” beliau menjawab : “ikhlas itu beramal hanya karena Allah, dan baik itu amalan tepat di atas sunnah”

 

Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah berkata :

هذا يدل على أنَّ الحُسن أهم، إحسان العمل أهم من كثرته، وإن كانت الكثرةُ مطلوبةً، لكن الأهم من الكثرة إحسان العمل

“Ini menunjukkan bahwa baiknya amal itu lebih penting dari banyaknya, walaupun banyak amal juga dituntut, tetapi lebih penting dari banyaknya amal adalah baiknya amal”

Adakalanya sebagian kaum muslimin tergiur dengan banyaknya amal, tetapi tidak melihat amal tersebut disyareatkan atau tidak, sesungguhnya amal sedikit di atas sunnah jauh lebih baik daripada banyak tapi di luar sunnah, sebagaimana perkataan para imam salaf terdahulu

 قال ابن مسعود : الاقتصاد في السنة خير من الاجتهاد في البدعة

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata : artinya “mencukupkan diri di dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan” Diriwayatkan oleh imam Ad Darimi di dalam as sunan dan Ibnu abdil Bar dalam Jami’ bayanil ‘ilmi.

 عمل قليل في سنة، خير من عمل كثير في بدعة

Al Hasan mengatakan : “Amalan sedikit di atas sunnah lebih baik daripada amal banyak di atas kebid’ahan”. Diriwayatkan oleh imam Ad Darimi di dalam as sunan dan Ibnu abdil Bar dalam Jami’ bayanil ‘ilmi.

Kaum muslimin hendaknya cerdas dalam beramal, yaitu mementingkan baiknya amal daripada jumlah amal itu sendiri, ketika ingin beramal hendaknya mempertanyakan apakah amalan tersebut ada syareatnya ataukah tidak, jika ada maka dilaksanakan semampunya dan sebaliknya jika tidak ada maka dijahui sejauh-jauhnya, islam itu mudah dan Allah menginginkan dalam syareatNya kemudahan

 یُرِیدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡیُسۡرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡر

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Sebuah amal jika ada syareatnya diamalkan jika tidak ada maka ditinggalkan ini termasuk kemudahan dalam islam, didalam mengamalkan hanya sebagaimana mampunya.

Sehubungan dengan ini, maka terungkaplah pentingnya ilmu dan buruknya kebodohan, amal tanpa ilmu bisa jadi hanya mendapatkan rasa lelah dan capek tanpa ada pahala didalamnya, bahkan dapat dosa dikarenakan dia terjerumus ke dalam amalan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah syareatkan. Sedangkan dengan ilmu senantiasa mencari amalan-amalan yang hanya disyareatkan, sehingga terhindar dari kelelahan yang tidak berarti dan senantiasa di atas pahala yang menanti.

Semoga penulis dan pembaca selalu diberi hidayah oleh Allah.

Semoga bermanfaat.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Urgensi Kepemimpinan dalam Islam

0

Tidak diragukan lagi bahwa persatuan kaum muslimin adalah sebuah hal yang penting dalam sebuah lingkungan masyarakat, yang dengannya akan terwujud kemashlahatan yang banyak baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhirat. Oleh karena itu adanya pemimpin yang adil, amanah, shaleh dan tahu  apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat serta menjalankan kepemimpinan dengan kebijakan-kebijakan yang produktif adalah sebuah kebutuhan yang amat penting. Baik bagi seluruh elemen masyarakat di sebuah negara secara umum atau bahgi kaum muslimin secara khusus.

Islam sendiri telah menjelaskan akan pentingnya mengangkat seorang pemimpin. Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rosul dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An nisa’ 59)

Terkait ayat di atas Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu berkomentar,

“Kemudian memerintahkan orang-orang beriman untuk mentaati-Nya dan mentaati rasul-Nya dengan menjalankan perintah keduanya baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Dan menjahui larangan keduanya. Dan dipemerintahkan pula untuk taat kepada ulil amri dan mereka itu adalah pemimpin manusia dari penguasa dan para hakim dan mufti (ulama). Sesungguhnya tidak akan berjalan perkara dunia dan akherat manusia kecuali dengan taat dan patuh kepada mereka. “

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا كان ثلاثة في سفر فليأمروا أحدهم

“Ketika ada tiga orang dalam safar/bepergian maka hendaknya mereka menjadikan salah satu dari mereka pemimpin.” (HR. Abu Dawud no. 2608)

Dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu daerah di bumi ini kecuali mereka menjadikan salah satu dari mereka sebagai pemimpin atas mereka.” (HR. Ahmad)

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

لا يصلح الناس إلا أمير برا أو فاجرا

“Tidak akan ada yang memperbaiki manusia kecuali imam/pemimpin baik dia imam yang sholeh atau imam faajir (zalim).”

Pentingnya pengangkatan pemimpin ini juga merupakan kesepakatan para ulama bahwa mengangkat pemimpin adalah wajib. Sebagaimana yang di nukil oleh imam al-Maawardiy rahimahullahu ta’ala- beliau berkata,

وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع

“Dan mengangkatnya (pemimpin) untuk menunaikan (kepemimpinan itu) di tengah ummat adalah wajib secara ijma’ (kesepakatan).”

Begitu juga Imam Nawawi, Imam Qurthubi, Imam Juwaini dan Imam Ibnu Hazm, semua menyatakan wajibnya mengangkat pemimpin. Dengan adanya pemimpin maka bisa mencegah fitnah yang datang kepada suatu umat/kelompok itu. Bahkan imam Ahmad menganggap bahwa ketiadaan imam/pemimpin adalah fitnah tersendiri, beliau berkata: “Termasuk fitnah ketika tidak ada pemimpin yang mengatur urusan manusia.”

Semoga Allah karuniakan kepada kita pemimpin yang adil, penyayang, lemah lembut dan pemimpin yang takut kepada-Mu ya Allah.

donatur-tetap

Tuntunan Syariat pada Bulan Sya’ban

0

Alhamdulillah kini kita telah memasuki bulan Sya’ban yang berarti tak lama lagi bulan yang amat mulia, yaitu bulan Ramadhan akan tiba kepada kita semua -insyaallah-. Sya’ban sendiri adalah nama untuk bulan kedelapan dari penanggalan hijriyah yang mana ia jatuh diantara bulan Rojab dan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذلِك شَهْر يغْفَلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَان ، وَهُوَ شَهْر تُرْفَعُ فِيْهِ الأَعْمَال إِلَى رَبّ العَالَمِيْن

“Itulah bulan yang dilalaikan oleh manusia yang jatuh diantara bulan Rojab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan dimana amalan akan di angkat kepada Rabb semesta alam” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan dishahihkan oleh pentahqiq kitab Al-Musnad).

Kata “Sya’ban” itu sendiri bermakna berpencar. Ada dua pendapat ulama tentang sebab penamaan ini:

  1. Dahulu orang-orang Arab berpencar di bulan ini karena mencari air atau untuk berperang. Ibnu Faris berkata: “Dinamakan bulan Sya’ban karena mereka (orang arab) berpencar untuk mencari air.” Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar di bulan ini disebabkan banyaknya peperangan.”

 

  1. Ada pula yang mengatakan dinamakan Sya’ban karena muncul diantara bulan Rojab dan Ramadhan. Tsa’lab berkata: “Sebagian mengatakan sebab dinamakan Sya’ban karena muncul diantara bulan Ramadhan dan Rojab.”

Beberapa Perkataan Ulama Terkait Bulan Sya’ban

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata,

كَانَ المُسْلِمُوْن إِذَا دَخَلَ شَعْبَان أكبوا عَلَى المَصَاحِفِ وَأَخْرجُوْا الزَّكَاة

“Dahulu kaum muslimin jika telah masuk bulan Sya’ban, mereka meningkatkan dalam menyibukkan diri membaca al-Quran dan mengeluarkan zakat (zakat harta)..”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

وَلَمَّا كَانَ شَعْبَان كَالمُقَدِّمَة لِرَمَضَان شَرَعَ فِيْهِ مَا يُشْرَعُ فِي رَمَضَان مِنَ الصِّيَامِ وَقِرَاءَة القُرْآن لِيَحْصُل التأهب لتلقي رَمَضَان وترتاض النُّفُوْس بِذلِكَ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمن

“Sya’ban adalah bagaikan mukadimah untuk Ramadhan. Maka disyariatkan padanya apa yang disyariatkan pada bulan Ramadhan berupa puasa dan membaca Alqur’an.. agar jiwa kita siap saat menyongsong Ramadhan, dan terbiasa untuk mentaati Ar Rahman.” (Lathoiful Ma’arif hal. 196)

Tuntunan Syariat pada Bulan Sya’ban

  1. Disunnahkan Memperbanyak Puasa.

Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam ditanya tantang bulan sya’ban. Beliau bersabda:

ذلِك شَهْر يغْفَلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَان ، وَهُوَ شَهْر تُرْفَعُ فِيْهِ الأَعْمَال إِلَى رَبّ العَالَمِيْن، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, antara rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang amalan-amalan diangkat kepada Robbul ’aalamin. Maka aku suka amalanku diangkat dalam keadaan sedang berpuasa” (HR Ahmad dan An Nasai. Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Maka sepatutnya bagi kita untuk memperbanyak amalan shalih di bulan ini terutama dengan berpuasa sunnah.

  1. Bulan Diangkatnya Amalan kepada Allah Tahunan.

Sebagaimana hadis sebelumnya di atas bahwa di bulan ini Allah angkat amalan anak Adam kepada-Nya. Dan terangkatnya amalan kepada Allah ada tiga macam, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil syariat :

Pertama : Terangkatnya amalan harian, yaitu sehari dua kali, di malam dan siang hari, sebagaimana dalam hadis,

يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ

“Amalan malam Terangkat kepada Allah sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam.” (HR. Muslim no. 179)

Jadi, amalan siang diangkat pada saat akhir, dan amalan malam juga diangkat pada saat akhir. Malaikat naik dengan membawa amalan pagi yang terakhir di awal waktu siang, dan naik membawa amalan siang setelah selesainya di waktu awal malam, sebagaimana di dalam hadis:

يَتَعَاقُبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَهَارِ،وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ وَ صَلَاةِ العَصْرِ

“Malaikat yang bertugas di malam dan siang hari bergantian mengamati kalian, lalu mereka berkumpul di waktu shalat Fajar (shubuh) dan waktu shalat Ashar.” (HR. Bukhari no.555)

فَمَن كَانَ حيئذٍ فِي طَاعَة بُورِكَ له في رزقه و في عمله

“Maka barangsiapa yang di waktu tersebut berada di dalam ketaatan, maka dia akan diberkahi rezeki dan amalannya.” (Fathul Bari II/37)

Kedua :  Terangkatnya amalan pekanan. Amalan terangkat dalam pekannya sebanyak dua kali yaitu di hari Senin dan Kamis, sebagaimana dalam hadis :

“Amalan manusia terangkat setiap pekannya sebanyak dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba beriman akan diampuni dosanya kecuali seorang hamba yang dia memiliki permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan kepadanya : Tinggalkan kedua orang ini sampai mereka berdua berdamai. (HR. Muslim: 36)

Ketiga : Terangkatnya amalan tahunan. Semua amalan dalam setahun terangkat seluruhnya dalam setahun pada bulan Sya’ban, sebagaimana ditunjukkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam.”

Kemudian barulah terangkat seluruh amalan seumur hidup setelah mati. Apabila ajal datang menjemput, maka terangkatlah amalan seumur hidupnya seluruhnya di hadapan Allah Ta’ala, dan dihamparkan lembaran amalannya. Ini adalah paparan yang terakhir.

Setiap terangkatnya amalan ini terdapat hikmah yang hanya diketahui oleh Rabb kita saja. Dari Allah-lah risalah itu berasal, dan tugas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan, sedangkan kewajiban kita hanyalah menerima.

  1. Dianjurkan bagi setiap muslim untuk menambah intensitas amalan ketaatannya di waktu-waktu terangkatnya amalan kepada Allah Ta’ala. Hendaknya ia berpuasa Senin dan kamis sebagaimana tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, serta berbekal dengan amalan shalih di siang dan malam hari, juga beribadah mendekatkan diri kepada Allâh dengan amalan yang Allah cintai dan ridhai.

 

  1. Bulan Sya’ban itu adalah pendahulu bagi bulan Ramadhan, layaknya waktu untuk berlatih dalam berpuasa. Karena itu disyariatkan di bulan Sya’ban sebagaimana disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti puasa dan membaca al-Qur’an, agar diri lebih siap di dalam bersua dengan Ramadhan dan jiwa bisa lebih mantap di dalam menaati Allah. Maka dari itu, bersegeralah di dalam amal ketaatan di bulan Sya’ban, dan hendaknya setiap muslim dan muslimah bersiap sedia menyambut bulan Ramadhan, agar saat memasuki bulan Ramadhan, ia sudah tidak merasakan berat lagi. Apabila ia telah terlatih dan sudah terbiasa dengan puasa, maka ia akan mendapati bahwa puasanya di bulan Sya’ban sebelum Ramadhan itu terasa nikmat dan menyenangkan, sehingga saat ia memasuki puasa di bulan Ramadhan, ia lebih kuat dan lebih bersemangat.

 

  1. Bulan Sya’ban adalah momen untuk membantu orang-orang fakir miskin dan bersedekah kepada mereka, agar mereka bisa lebih kuat di dalam melaksanakan puasa Ramadhan dan sholat malam (tarawih).

Itulah beberapa hal yang dianjurkan untuk dikerjakan pada bulan Sya’ban sebagai bekal bagi setiap insan menuju bulan Ramadhan.

Referensi: 32 Faidah fii Syahri Sya’ban karya syaikh Shalih Al-Munajjid

donatur-tetap

Mengenal Para Penulis Kutubus Sittah (Bag.2)

0

Masih dalam pembahasan pengenalan para penulis kutubus sittah, dan pada artikel kali ini kita akan membahas Imam At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majdah.

D. At-Tirmidzi

  1. Nama dan Nasab

Nama lengkap beliau adalah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Dhahhak as-Sulami at-Tirmidzi. Imam at-Tirmidzi lahir di penghujung tahun 210 H dan meninggal pada tanggal 13 Rajab di tahun 279 H (Faqih, 2018).

  1. Masa Kecil dan Belajar

Dikatakan bahwa beliau buta, namun sebagian ulama berselisih tentang tentang kebutaan Imam at-Tirmidzi ada yang mengatakan lahir dalam kondisi buta, namun pendapat yang benar beliau buta ketika memasuki usia dewasa tepatnya setelah perjalanan belajar hadis dan menulis kitab-kitab (asy-Syayi’, 2018). Beliau telah berpergian k eke berbagai kota dalam belajar hadis, seperti Khurasan, Bukhara, Samarqandi, Irad, Baghdad, Bashrah dan Makkah. Imam al-Bukhari berkata: “Manfaat yang aku dapat darinya lebih banyak disbanding manfaat yang ia dapat dari diriku”.

  1. Guru, Mujrid dan Karyanya
GuruMuridKaryaSyarh Kitabnya
Imam al-Bukhari, Qutaibah bin Sa’id, Abu Ja’far Abdullah bin Mu’awiyah al-Jamhi al-bashri, Muhammad bin Mutsanna, Sufyan bin Waqi’Muhammad bin Ahmad bin Mahbub al-Marwazy al-Mahbubi, al-Haitsam bin Kulaib bin asy-Syasyi,Al-Jami as-Sunan, Syamail an-Nabi, Tasmiyatu Ashab Rasulullah, al-Ilal al-Mufarrad, az-Zuhd, al-Asma wal Kuna, At Tarikh‘Aridhatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi karya Ibnul ‘Arabi al-Maliki, Tuhfatul Ahwadzi karya Muhammad al-Mubarakfuri

 

  1. Dua Guru dan Muridnya yang Terkenal

Diantara gurunya yang terkenal adalah Qutaibah bin Said lahir pada tahun 150 H dan meninggal pada tahun 240 H. Guru yang kedua adalah Imam al-Bukhari tentunya sudah mayrhur tentang beliau seorang ulama hadis yang lahir 194 H dan wafat pada tahun 265 H.

Adapun muridnya yang terkenal adalah Muhammad bin Ahmad al-Mahbubi inilah murid yang meriwayatkan kitab sunan at-Tirmidzi, beliau meninggal pada tahun 346 H. Murid yang kedua adalah al-Haitsam bin Kulaib asy-Syasi salah satu karyanya dalah al-Musnad al-Kabir beliau meninggal pada 335 H (adz-Dzahabi, 1991)

  1. Kitab Sunan at-Tirmidzi

Kitab sunan at-Tirmidzi ini berisikan 4300 hadis, dan yang menjadi keuggunlan dari kitab ini adalah adanya penjelasan hukum hadis baik itu shahih atau dhaif yang disertai dengan sebab keshahihan atau kedhaifannya (ash-shiddieqy, 2009)

E. Imam An-Nasai

  1. Nama dan Nasab

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdirrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar terkenal dengan nama an-Nasai. Beliau lahir pada tahun 215 H dan meninggal dunia pada hari senin 13 Safar tahun 303 H di Palestina.

  1. Masa Kecil dan Belajar

An-Nasai menuntut ilmu sejak dini, beliau belajar kepada Qutaibah bin Said sejak umur 15 tahun, setelah itu baru beliau bersafar ke berbagai tempat seperti Hijaz, Mesir, Iraq dan Syam. Adz-Dzahabi menerangkan bahwa tidak ada seorang pun yang paling hafal banyak hadis di penghujung abad 3 hijriyah selain an-Nasai (adz-Dzahabi, 1991).

  1. Guru, Murid dan Karyanya
GuruMuridKaryaSyarh Kitabnya
Qutaibah bin Said, Ishaq bin Rahawaih, Abu Bakar Bandar Muhamad bin Basyar bin Utsman Al ‘AbdiAbu Ja’far at-Thohawi, Ahmad bin Muhammad bin Ishaq bin Ibrohim al Hasyimi (Ibnu Sunni), Sulaiman bin Ahmad at-Tabrani

 

As-Sunan al-Kubro, ad Dhu’afa, al-Kuna, al-Ighrob, al-Ikhwatu wal Akhwat, Musnad Ali, Gharaib az ZuhriZahrur Ruba ala al-Mujtaba karya as-Suyuthi, Dzakhiratul ‘uqba fi Syarh al-Mujtaba karya Muhammad Adam al-Atsyubi

 

  1. Dua Guru dan Muridnya yang Terkenal

Diantara gurunya yang terkenal adalah Qutaibah bin Said lahir pada tahun 150 H dan meninggal pada tahun 240 H. yang kedua adalah Ishaq bin Rahawaih, nama lengkap beliau adalah Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Mukhallad al-Handhali lahir tahun 161 H dan meninggal pada tahun 238 H.

Adapun muridnya yang terkenal adalah Abu Jafar ath-Thahawi yang lahir pada tahun 238 H dan meninggal tahun 321 H dengan karyanya yang paling terkenal al-Aqidah ath-Thahawiyah. Kedua adalah at-Thabrani yang lahir pada tahun 260 H dan meninggal tahun 360 Hyang terkenal dengan karyanya al-Mu’jam al-Kabir (adz-Dzahabi, 1991).

  1. Kitab Sunan an-Nasai

Diantara keistimewaan kitab ini adalah penulis benar-benar mengumpulkan hadis-hadis yang bisa digunakan oleh pala ulama fikih dalam berbagai bab fiqih. Kitab ini berisikan 5761 hadis (ash-shiddieqy, 2009).

F. Imam Ibnu Majah 

  1. Nama dan Nasab

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Ar Raba’i al-Qozwini. Abu Ya’la al-Qodhi berkata: “Ayahnya yang bernama asli Yazid sering dikenal dengan nama Majah maka dikenallah anaknya dengan nama Ibnu majah”. Ibnu Majah lahir pada tahun 209 H dan meninggal dunia pada hari senin tanggal 8 ramadhan tahun 275 H (asy-Syayi’ 2018).

  1. Masa Kecil dan Belajar

Ibnu Majah menekuni ilmu hadis sejak usia 15 tahun, karena bakat dan minatnya terhadap hadis sangat besar maka beliau berkelana ke berbagai negara untuk belajar hadis. Seperti ke Khurasan, Iraq, Mesir dan Syam. Peretemuan beliau dengan banyak ulama hadis menjadikan beliau mampu menghimpun dan menulis ribuan hadis (ash-shiddieqy, 2009).

  1. Guru, Murid dan Karyanya
GuruMuridKaryaSyarh Kitabnya
Muhammad bin Ramh bin al-Muhajir bin at-Tujaibi al-Mishri, Muhammad bin Abdullah bin Namie al-Hamdani, Ibnu Abi Syaibah

 

Abu Thalib Ahmad bin Ruh al- Baghdadi, Abu Umar Ahmad bin Muhammad bin hakim Al madini, Abul Hasan Ali bin Ibrahim al-QothanAs-Sunan, at-Tafsir, at-Tarikh

 

Misbahul Zujajah karya as-suyuthi, Injahul Hajah karya Abdul Ghani al-hanafi, Syarh Sunan Ibnu Majah karya Hasyim Muhammad Ali Mahdi.

 

  1. Dua Guru dan Muridnya yang Terkenal

Guru yang terkenal adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah pengarang kitab Mushonnaf Ibn Abi Syaibah beliau lahir pada 159 H dan meninggal pada tahun 235 H (Faqih, 2018). Kedua adalah Muhammad bin Ramh at-Tujaibi lahir pada tahun 150 H dan meninggal pada tahun 242 H. an-Nasai berkata “ Ibnu Ramh tidak pernah salah dalam satu hadis pun”

Adapun Muridnya yang terkenal adalah Ali bin Ibrahim al-Qothan Selaku perawi kitab sunan Ibnu Majah beliau lahir tahun 254 H dan meninggal tahun 342 H (Faqih, 2018)

  1. Kitab Sunan Ibnu Majah

Kitab ini berisikan hadis-hadis tambahan dari kitab-kitab sebelumnya (al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai) oleh karenanya kitab ini diposisikan pada posisi keenam. Dlam kitab ini terdapat 4341 Hadis (Siregar, 2019)

KESIMPULAN

            Mempelajari biografi penulis kutubus sittah memiliki banyak sekali manfaat. Kita dapat mengambil pelajaran dari perjalanan hudup mereka dalam mempelajari hadis sampai mereka mampu mengumpulkan dan menuliskan hadis. Selain itu bagi siapa saja yang mempelajari biografi mereke maka ia akan mendapati bahwa setiap kitab dari kutubu sittah memiliki keunggulannya masing-masing. Hal ini akan mempermudah penuntut ilmu dalam mencari atau mempelajari hadis yang sesuai tema yang diinginkan.

Dari kajian ini pun dapat kita ambil faidah tentang adanya 10 ulama hadis yang mana seluruh ashab kutubus sittah mengambil hadis dari mereka, yaitu Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Mutsanna, Ziyad bin Yahya, Muhammad bin Ala’, Abbas al-Anbari, Abu Said al-Kindi, Amr bin Ali Ash-Shairufi,Ya’qub ad-Dauraqi, Muhammad bin Ma’mar, Nashr bin Ali al-Jahdzami (at-Thayyar dkk, 2018).

Daftar Pustaka

  • Abu Dawud (2008) Sunan Abi Dawud. Riyadh: Darussalam lin Nasyri wat Tauzi’.
  • adz-Dzahabi (1991) Siyar A’lam an-Nubala. Bairut: Muasasah ar-Risalah
  • al-‘Asqalani (2008) Tahdzib al-Kamal. Bairut: Muassasah ar-Risalah
  • al-‘Asqalani (2008) Tahdzib at-Tahdzib. Bairut: Muassasah ar-Risalah
  • al-Bukhari (2017) Shahih al-Jami. Bairut: Muasasah ar-Risalah Nasyirun.
  • an-Nawawi (2016) al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Bairut: Dar al-Ma’rifah.
  • ash-shiddieqy (2009) Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Pustaka Rizki Putra
  • asy-Syayi’. A. A. (2018) al-Kutub as-Sittah wa asy-haru Syuruhiha wa Hawasyiha. Bairut: Dar
  • Qurtubah
  • at-Tirmidzi (1999) Jamil at-Tirmidzi. Riyadh: Darussalam lin Nasyri wat Tauzi’.
  • at-Thahan (2004) Taisir Musthalah al-Hadits. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.
  • at-Thayyar, I. & Hasan, Y. (2018) Takhrij Shahih al-Bukhari. Bairut: Muasasah ar-Risalah
  • Nasyirun.
  • Bistara. R. (2020) Perkembangan Ilmu Hadis Periode Keempat Dan Kelima. Kaca Jurnal Dialogis
  • Ilmu Ushuluddin Vol. 10, 76-86.
  • Faqih. H. A. (2018) al-Madkhal fi Tarikh as-Sunnah. KSA: Universitas Islam Madinah.
  • Ibnu Majah (2009) Sunan Ibnu Majah. Riyadh: Darussalam lin Nasyri wat Tauzi’.
  • Ibnu Said, Thabaqat al-Kubra shamela
  • Ibnu Shalah (2009) Ulumul Hadist. Bairut: Darul fikr
  • Ibnu Thahir (2016) Syuruth al-Aimmah as-Sittah. Madinah: an-Nasyir al-Mutamayiz.
  • Ramadhan. Y. L. (2023) Efektivitas pembelajaran Kutubus Sittah Terhadap Pemahaman Hadits
  • Shahih Bagi Santri Darus Sunnah Ciputat. Adiba Journal of Education Vol .3, 212-222.
  • Siregar. N. (2019) Kitab Ibnu Majah. Hikmah Journal of Islamic Studies Vol. 16,  59-66.

 

donatur-tetap

Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta Adakan Seminar dan Beberapa Dauroh untuk Para Santri

0

HamalatulQuran.Com – Yogyakarta, Pada hari Kamis 8 Februari dan Sabtu 10 Februari 2024 Pondok Pesantren Hamalatul Quran mengadakan beberapa kegiatan di Hamalatul Quran Sanden, HQ Sempu dan HQ Sleman. Kegiatan ini berupa seminar dan beberapa dauroh yang sangat bermanfaat untuk para santri.

Di Pesantren Hamalatul Quran Sanden diselenggarakan Seminar kesehatan kulit yang mana dalam kesempatan ini menghadirkan narasumber dari Galenium Pharmasia Laboratories. Para santri sangat antusias dalam mengikuti seminar ini. Berikut galeri Seminar kesehatan kulit di Hamalatul Quran Sanden

Adapun kaegiatan di Hamalatul Quran Sempu adalah dauroh Sirah Nabawiyah bersama ustadz Toni Nurman, Lc dan dauroh Al-Quran bersama ustadz Muhamad Reza Nuruddin, Lc. Sedangkan di Hamalatul Quran Sleman telah terselenggara dauroh dengan 2 tema juga yaitu “ Sat Set Hafal 30 Juz” dan “Menjadi Hafidz Mutqin” yang diisi oleh ustadz Hawari Nadal Fathi, para santri sangat fokus menyimak dan mencatat apa yang disampaikan oleh pemateri. Berikut Galeri kegiatan dauroh di Hamalatul Quran Sleman.

donatur-tetap

Mengenal Para Penulis Kutubus Sittah (Bag.1)

0

Hadis merupakan sumber hukum Islam yang utama tepatnya berada diposisi kedua setelah Al-Qur’an al-Karim, dengan mempelajari hadis-hadis nabawiyyah maka seorang muslim dapat mendalami agama Islam secara baik dan benar. Demi memudahkan setiap muslim untuk mempelajari hadis maka para ulama terdahulu telah mengumpulkan dan menuliskan berbagai macam hadis yang kemudian dikategorikan sesuai metode penulisan setiap ulama tersendiri. Dari kitab-kitab hadis yang paling terkenal dalam dunia Islam setidaknya ada 6 kitab yang terkenal dan sering kita sebut dengan nama kutubus sittah, yaitu shahih Bukhari, shahih Muslim, sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah.

Bagi siapa saja yang ingin mempelajari kutubus sittah tentunya hal yang paling urgen untuk diketahui pertama kali adalah biografi para penulis kutubus sittah. Namun nyatanya banyak dari kaum muslimin yang belum mengenal para penulis kutubus sittah. Oleh karenanya salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mengenal penulis kutubus sittah.

Penelitin ini akan membahas tentang biografi ringkas penulis kutubus sittah, nama, guru, murid dan karya-karyanya serta pujian berbagai ulama untuk kutubus sittah dan para penulisnya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library reseach). Metode dalam penelitian ini adalah analisis teks pada sumber-sumber primer yaitu kutubus sittah itu sendiri kemudian buku-kutu skunder yang relevan serta tulisan ilmiyah yang menunjang dalam pengumpulan data terkait biografi para penulis kutubus sittah.

PEMBAHASAN

A. Imam al-Bukhari

  1. Nama dan Nasab

Nama asli beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin al-Ahnaf al-Ja’fi al-Bukhari. Al-Mughirah masuk Islam ditangan al-Yaman al-Ju’fi seorang pemimpin di Bukhara, maka dinisbatkanlah nama dan nasab al-Mughirah kepada al-Ju’fi (asy-Syayi’, 2018) hal ini berdasarkan pendapat terkuat madzhab setempat bahwa seseorang yang masuk Islam atas seseorang maka seseorang tersebut menjadi walinya.

  1. Masa Kecil dan Belajar

Imam al-Bukhari dilahirkan di Bukhara kota di Khurasan pada hari jumat (tepatnya setelah salat Jumat) 13 Syawal 194 H dan wafat pada tahun 265 H. Ayah beliau Ismail bin Ibrahim meninggal Ketika beliau masih kecil, maka imam al-Bukhari tumbuh dalam asuhan ibunya, kemudian berhajilah imam al-Bukhari dengan ibunya dan saudaranya yang bernama Ahmad. Sesampainya di Makkah mereka tinggal disana untuk menuntut ilmu adapun Ahmad maka ia kembali ke kampung halamannya di Bukhara dan menetap disana sampai meninggal dunia (Siregar, 2019). Para ulama hadis memberikan gelar kepada beliau dengan gelar Imamnya Para Imam Hadis. Sepanjang hidupnya ia sangat bersemangan belajar kepada para ulama. Saat mencari guru beliau sangat berhati-hati, beliau akan mencari guru yang memiliki sifat wara’, amanah dan memiliki hafalan yang kuat (Ramadhan, 2023).

  1. Guru, Murid dan Karyanya
GuruMuridKaryaSyarh Kitabnya
Muhammad bin Abdillah al-Anshari, Ishaq bin Rahawaih, Makki bin Ibrahim, Abi ‘Asim an-Nabil.

Qutaibah bin Said, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal.

Abu Isa At-Tirmidhi, Abu Hatim Ar-Razi, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, Abu Bakr ibn Abid Dunya, Ibnu Khuzaima.

Abu Dawud, Muslim ibn al-Hajjaj, Abdullah al-Asyqor

al-Jami’ as-Shahih, al-Adab al-Mufrat, al-Kuna, Birrul Walidain, At-Tarikh al-Kabir, Khalq Af’al al-Ibad,

Al-Musnad al-Kabir, At-Tafsir al-Kabir, Kitab al-Ilal.

Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqolani, Umdatul Qori karyaNahnud bib Ahmad al-‘Aini, Irsyadus Sari karya Syihabuddin al-Qsthilani

 

  1. Dua Guru dan Murid yang Paling Terkenal

Diantara guru al-Bukhari yang terkenal adalah Ishaq bin Rahawaih dan Ahmad bin Hanbal.Pertama Ishaq bin Rahawaih ia merupakan salah satu guru imam al-Bukhari yang paling terkenal, salah satu perkataanya, “Seandainya ada yang mengumpulkan hadis-hadis shahih dalam satu kitab” inilah yang membuat imam al-Bukhari tergerak hatinya untuk menyusun kitab al-Jami’ as-Shahih. Nama lengkap beliau adalah Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Mukhallad al-Handhali lahir tahun 161 H dan meninggal pada tahun 238 H. Kedua Imam Ahmad bin Hanbal seorang pakar hadis yang amat terkenal dalam Islam sering disebut juga dengan imam ahlussunnah wal jamaah. Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris lahir pada tahun 164 H dan meninggal pada tahun 241 H (Faqih, 2018)

Adapun murid yang terkenal ada Ibnu Abi Dunya dan Muhammad bin Yusuf al-Farbawi. Ibnu Abi Dunya nama lengkapnya Abu Bakar bin Abi Dunya Abdullah bin Muhammad bin Ubaid al-Baghdadi lahir pada dan meniggal tahun 281 H (Ibnu Said, n.d) Kedua Muhammad bin Yusuf al-Farbawi beliau murid sekaligus periwayat kitab al-Jami ash-Shahih yang paling terkenal dibandingka para murid dan periwayat kitab shahih al-Bukhari lainnya. Beliau eliau lahir pada tahun 231 H dan meninggal pada tahun 232H. (asy-Syayi’, 2018)

  1. Kitab Shahih al-Bukhari

Karya imam al-Bukhari yang paling terkenal adalah Shahih al-Bukhari atau nama aslinya adalah al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtashar min Hadits rasulullah wa Sunanihi wa Ayyamihi. Kitab ini berisikan 7275 hadis dengan ada beberapa pengulangan, bila tanpa pengulangan maka terdapat sekitar 4000 hadis (Ibnu Shalah, 2009)

B. Imam Muslim 

  1. Nama dan Nasab

Nama lengkap Imam Muslim adalah Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kusyadz al-Qusyairy an-Naisabury. Imam Muslim lahir pada tahun 204 H dan meninggal pada tahun 261 H. Kitab shahih karya Imam Muslim dikatakan sebagai salah satu kitab hadis terbaik. Abu Ali an-Naisaburi memaparkan bahwa Tidak ada dibawah langin ini kitab yang lebih shahih dibandingkan kitab shahih muslim (asy-Syayi’, 2018)

  1. Masa Kecil dan Belajar

Awal beliau menyimak hadis pada Yahya bin Yahya at-tamimi adalah saat beliau berumur 14 tahun. Pada usia 20 tahun beliau berhaji dan belajar hadis di Makkah dengan al-Qo’nabi setelah itu pergi ke Kuffah dan belajar kepada Ahmad bin Yusuf. Adz-Dzahabi mengatakan bahwa Imam Muslim adalah orang yang (selain hadis) banyak hafal perkataan sahabat, tabi’in dalam perkara fikih dan tafsir. (asy-Syayi’, 2018)

  1. Guru, Murid dan Karyanya
GuruMuridKaryaSyarh Kitabnya
Imam al-Bukhari, Yahya bin Yahya at-Tamimi an-Naisaburi, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Yahya bin Ma’in

Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi

Abu Isa at-Tirmidzi, Ibrahim bin Abi Thalib, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan Al faqih, Abu Bakar bin Khuzaimah, Abdurahman bin Abi Hatimal-Musnad al-Kabir alar Rijal, Kitab al-Jami al-Kabir alal Abwab, Kitab al-Asami wal Kuna, Kitab al-Ilal,

Kitab al-Afrad

Al-Ma’lam bi Fawaid Muslim karya al-Marizi, al-Minhaj bi Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya an-Nawawi

 

  1. Dua Guru dan Murid yang Terkenal

Dua guru yang terkenal adalah Yahya an-Naisaburi aatau nama lengkapnya Yahya bin Yahya at-Tamimi an-Naisaburi beliau merupakan guru pertama dimana imam Muslim belajar hadis. Belia lahir pada tahun 142 H dan meninggal pada tahun 226 H. Kedua adalah Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi beliau adalah guru tertua imam Muslim, ia lahir pada tahun 130 H dan meninggal pada tahun 221 H.

Adapun murid yang terkenal adalah at Tirmidzi salah satu ulama hadis yang amat terkenal lahir di penghujung tahun 210 H dan meninggal pada tahun 279 H. Kedua adalah Ibrahim al-faqih atau nama lengkapnya Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih an-naisaburi murid Imam Muslim yang terkenal telah meriwayatkan Shahih Muslim kepada banyak penutul ilmu, tidak ada Riwayat jelas tenttang tahun kelahiran beliau namun beliau hidup dipertengahan abad ke 3 H karena beliau sempat bersua dengan imam Muslim. Dan beliau meninggal pada tahun 338 H (asy-Syayi’, 2018).

  1. Kitab Shahih Muslim

Mayoritas ulama lebih mengedepankan kitab shahih muslim dibandingkan shahih al-Bukhari dari segi susunan kata, pengurutan bab dan pengumpulan jalur riwayat hadis (an-Nawawi 2016). Dalam shahih muslim terdapat 3033 hadis menurut perhitungan pentahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi (Faqih, 2018)

C. Abu Dawud

  1. Nama dan Nasab

Nama lengkap beliau adalah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin Amr al-Azdi as-Sijistani al-Bashri. Beliau lahir pada tahun 202 H dan wafat pada tanggal 14 Syawal tahun 275 H di kota Bashrah (asy-Syayi’, 2018).

  1. Masa Kecil dan Belajar

Imam Abu Dawud telah menuntut ilmu sejak kecil, ia berpergian ke berbagai daerah seprti Hijaz, Syam, Mesir, Iraq dan Khurosan untuk belajar hadis kemudian pada usia 18 tahun ia menetap di kota Bashrah dan menjadi seorang pakar hadis terkenal disana (adz-Dzahabi, 1991)

  1. Guru, Murid dan Karyanya
GuruMuridKaryaSyarh Kitabnya
Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Musadad bin Musarhad al-Asdi, Sulaiman bin Harb, Ibn Abu SyaibahAbu Isa at-Tirmidzi, Abdullah bin Sulaiman bin al-Asy’ats (putra beliau), Abu Abdirahman an-Nasai, Abu Ali Muhammad bin Ahmad al-Lu’lu’.As-Sunan, al-Mursalat

al-Qadr, Risalah li Ahlil malah, an-Nasikh wa Mansukh, Fadhail al-Anshar

Ma’alim as-Sunan karya Hamd bin Ibrahim al-Khathabi, ‘Aunul Ma’bud karya Syamsul Haq al-‘Adhim Abadi

 

  1. Dua Guru dan Murid yang Terkenal

Guru beliau yang terkenal adalah Yahya bin Main sering disebut juga dengan gelar Imam jarh wa ta’dil, beliau lahir tahun 158 H dan meninggal pada tahun 233 H. Adapun guru lainnya adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah pengarang kitab Mushonnaf Ibn Abi Syaibah beliau lahir pada 159 H dan meninggal pada tahun 235 H.

Adapun muridnya yang terkenal adalah at-Tirmidzi yang sudah kita jelaskan biografinya serta Abu Ali Muhammad bin Ahmad al-Lu’lu’ selaku perowi kitan as-Sunan milik Abu Dawud (ash-shiddieqy, 2009).

  1. Kitab Sunan Abu Dawud

Kitab karya Abu Dawud yang terkernal bernama as-Sunan, nama ini beliau sendiri yang menamainya sebagaimana yang Abu Dawud sebutkan dalam kitab Risalah ila Ahli Makkah. Kitab ini berisikan 5274 hadis tanpa hadis Gharib, kita ini berfokus pada pengumpulan hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah fikih (asy-Syayi’, 2018). Para ulama sangat menyarankan untuk membaca dan mempelajari kitab ini terutama yang ingin mendalami ilmu fikih.

Bersambung insyaallah

donatur-tetap

Hibah dari Ibu untuk Anak-Anaknya Berbeda, Bagaimana Hukumnya?

0

Tidak jarang suatu keluarga yang sebagian saudaranya diberikan oleh Allah kekayaan yang melimpah, sedangkan saudara lainnya masih memiliki kebutuhan pokok yang perlu dicukupi. Pada kondisi seperti ini, tidak heran apabila seorang ibu memberikan sesuatu kepada anaknya yang tidak mampu. Sehingga terkadang mendorong seorang ibu untuk memberikan sesuatu ke salah satu anaknya saja tangpa memberi kepada lainnya.

Bagaimanakah hukumnya memberikan harta kepada salah satu anaknya tanpa memberikannya kepada anak yang lain?

Ada dua ketentuan yang membuat hukum menyamakan hibah untuk sesama saudara menjadi berbeda:

Pertama, Hibah untuk salah satu anak tanpa alasan yang urgen

Apabila hibah diberikan kepada salah satu anak tanpa anak lainnya dengan tidak disertai alasan yang urgen, maka hukum menyamakan pemberian di momen seperti ini menjadi wajib. Karena apabila tidak disamakan akan berakibat pada hilangnya keadilan dalam keluarga. Hal ini pernah terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam yang dimana beliau ketika akan dilibatkan pada pembagian yang tidak adil beliau menolak untuk terlibat. Sebagaimana yang pernah diceritakan oleh salah satu sahabat yang bernama Nu`man bin Basyir:

أَنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ، سَأَلَتْ أَبَاهُ بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ مِنْ مَالِهِ لِابْنِهَا، فَالْتَوَى بِهَا سَنَةً ثُمَّ بَدَا لَهُ، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَا وَهَبْتَ لِابْنِي، فَأَخَذَ أَبِي بِيَدِي وَأَنَا يَوْمَئِذٍ غُلَامٌ، فَأَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمَّ ‌هَذَا بِنْتَ رَوَاحَةَ أَعْجَبَهَا أَنْ أُشْهِدَكَ عَلَى الَّذِي وَهَبْتُ لِابْنِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا بَشِيرُ ‍ ‌أَلَكَ ‌وَلَدٌ ‌سِوَى ‌هَذَا؟» قَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ: “أَكُلَّهُمْ وَهَبْتَ لَهُ مِثْلَ ‌هَذَا؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَلَا تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْر”

Bahwa ibunya binti Rawahah pernah meminta kepada ayahnya sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada anaknya. Saat itu ayah menangguhkannya sampai setahun sesudah itu barulah diberikan. Kata ibu: Saya tidak suka sebelum pemberian itu disaksikan oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasallam. Lalu ayah menggandeng tanganku dan mengajakku menemui Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasallam. Sedangkan waktu itu saya masih kanak-kanak. Ayah berkata kepada beliau “Ibu anak ini, binti Rawahah memandang perlu untuk meminta persaksian kepada engkau atas pemberian yang saya berikan kepada anaknya. Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasallam bertanya: “Wahai Basyir apakah anda memiliki anak selain anak ini? Ayahku menjawab: “iya” Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah anak itu mendapat seperti apa yang engkau hibahkan untuk anak ini? Ayah berkata: “tidak” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu saya tidak mau menjadi saksi atas pemberian yang tidak adil”  (HR. Muslim no. 1623)

Status Ibu sama seperti ayah dalam hal ini. Sama-sama menjadi orang tua yang dituntut untuk adil. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah Rahimahullahu Ta`ala: “Karena ibu itu terhitung sebagai orang tua yang berlaku baginya aturan terkait hibah. Karena sebagaimana dampak yang ditimbulkan dari ketidak adilan bapak terhadap anaknya berupa hasad dan permusuhan di antara anak-anaknya, Bisa juga terjadi pada seorang ibu yang berlaku tidak adil terhadap anak-anaknya.”

Kedua, Hibah untuk salah satu anak dengan mempertimbangkan kebutuhan

Setiap pemberian berpotensi tidak adil antara sesama anak. Bisa jadi ketidak seimbangan itu muncul dari tidak samanya kualitas atau kuantitas. Namun ketidak seimbangan itu bisa dipangkas apabila pemberian didasarkan pada alasan kebutuhan. Sehingga anak-anak akan lebih paham tentang hakikat hibah yang tidak selamanya bisa sama karena alasan tertentu.

Diantara alasan kebutuhan yang bisa membuat hibah itu tidak mungkin sama rata adalah seperti apa yang disampaikan oleh Ibnu Qudamah Rahimahullahu Ta`ala: “Jika salah satu orang tua mengkhususkan salah satu anak dengan pemberian, hendaklah memenuhi kekhususan tersebut seperti apabila adanya kebutuhan,  atau orang buta, banyaknya anggota keluarga, disibukkan ilmu, atau hal-hal lainnya yang bernilai mulia”

Selama kondisi salah satu anak mengalami hal hal yang disebutkan di atas, maka seorang ibu berhak memberikan apa yang dibutuhkan anaknya walaupun tidak memberikannya kepada yang lain. Dan sikap ibu memahamkan anak lainnya agar bersikap dewasa untuk melihat alasan yang mendorongnya. Lebih dari itu, ada Jalan yang lebih damai selain memahamkan anak-anak yang lain, yaitu melibatkan keridhoan mereka. Sehingga apapun yang seolah-olah terlihat tidak seimbang di pandangan manusia, tetap hati mereka yang mengapresiasi keadilan.

Prinsip melibatkan keridaan ini pernah dilakukan oleh dua sahabat mulia yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Sebagaimana yang disampaikan oleh imam Malik. Beliau mengatakan: “Bahwasannya Abu Bakar pernah pernah memberikan sebagian hartanya kepada Aisyah dan tidak memberikannya kepada yang lain.” Diriwayatkan juga “Umar memberi sebagian harta kepada Ashim dan tidak memberikan yang semisal kepada yang lain.”  Riwayat ini ditanggapi oleh Al hafidz Ibnu Hajar “Urwah mengatakan tentang kisah aisyah bahwa saudara-saudaranya Aisyah telah ridho dengan yang diberikan kepadanya. Hal itu juga terjadi pada kisah Umar.”

Referensi: https://www.islamweb.net/

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

7 Alumni Hamalatul Quran diterima di Timur Tengah

0

HamalatulQuran.com – Bantul, Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmu as-shalihat, sebuah kabar gembira berhembus dari kota Nabi shalallahu alaihi wasallam atas diterimanya tiga alumni santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta di Universitas Islam Madinah. Tak hanya itu kabar gembira ini masih berlanjut dengan adanya beberapa alumni yang telah diterima pula di Al Azhar Mesir dan Darul Hadis Yaman.

Dari ketiga alumni yang diterima di Universitas Islam Madinah yaitu:

1. Abdullah Ariq (Alumni 2022)

2. Hanif (Alumni 2022)

3. Zaki Abdillah (Alumni 2022)

Alumni yang diterima di Al Azhar Mesir yaitu:

1. Hanifullah (Alumni 21)

Alumni yang diterima di Darul Hadis Yaman yaitu:

1. Najmuddin Fahmi (Alumni 2022

2. Abdurrahman Hafiz (Alumni 2021)

3. Urwah Abu Ubaidah (Alumni 2021)

Iman Syafi’i rahimahullah berkata,

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ  ***   إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِب

Merantaulah…

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan…Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang (Diwan Imam Asy-Syafi’i)

Seseorang jika ingin mendapatkan ilmu maka ia harus keluar dari rumahnya dan mencari ilmu

Teriring doa kami panjatkan untuk anak-anak kami semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq-Nya dan memberikan kemudahan dalam menutut ilmu sehingga dapat memberikan manfaat bagi kaum Muslimin.

Semoga dengan kabar bahagia ini dapat menjadi motivasi untuk para santri adik kelas yang masih menimba ilmu di Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta. (redaksihq/hamalatulquran.com)

donatur-tetap

Alumni Pesantren Hamalatul Quran Menjadi Wisudawan Berprestasi FAI Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

0

Hamalatulquran.com — Yogyakarta, Satu lagi alumni Pondok Pesantren Hamalatulquran Yogyakarta kembali menorehkan prestasi, yaitu Hamzah Qolbi Salsabila yang terpilih menjadi mahasiswa berprestasi fakultas pendidikan agama Islam prodi Ilmu Hadis pada wisuda Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta periode II pada hari Sabtu (03/02/24)

Alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran tahun 2018 ini meraih indek prestasi (IPK) 3,94 dengan masa perkuliahan 4 tahun dan dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi prodi Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan. Pada acara tersebut Ia diwisuda bersama dengan mahasiswa lainya dari berbagai jurusan.

Hamzah Qolbi Salsabila adalah alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran tahun 2018 asal Balikpapan, telah meyelesaikan hafalan Al-Qurannya sejak tamat Mts/SMP kemudian setelah lulus dari Pesantren Hamalatul Quran ia melanjutkan pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan pada prodi Ilmu Hadis.

Sembari menjalani kesibukan kuliah Qolbi begitu ia akrab disapa juga membantu mengajar dan bagian bidang media dakwah di pondok pesantren Hamalatul Quran.

Mewakili civitas Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta mengucapkan selamat kepada Hamzah Qolbi Salsabila atas prestasi yang diraih, semoga Allah memberkahi ilmu yg didapatkan dan bermanfaat untuk ummat islam seluruhnya.

(Redaksi/hamalatulquran.com)

donatur-tetap

Perbedaan Respon dari Potret Maksiat Iblis dan Nabi Adam

0

Manusia dan jin diciptaan oleh Allah untuk selalu tunduk, patuh dan beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Allah telah menjelaskan hal ini dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat ayat 56. Adapun manusia yang pertama kali diciptakan dan dimasukkan ke dalam surga adalah Nabi Adam ‘alaihissalam belau diberi nama Adam karena beliau diciptakan dari adiim al-Ardh atau inti tanah (al-Alusi, 2008). Kisah penciptaan Nabi Adam dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala mengabarkan kepada para malaikat bahwa Ia akan menjadikan Nabi Adam ‘alaihissalam sebagai pemimpin di muka bumi dan tugas utamanya adalah memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah (Humaid, 2014)

Allah Ta’ala memuliakan Nabi Adam ‘alaihissalam dengan berbagai kemuliaan yang agung (Syafii, 2020). Kemuliaan tersebut telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an diantaranya adalah, Nabi Adam diciptakan langsung dengan tangan Allah Q.S Shad ayat 75, ditiupkan ruh kedalam dirinya Q.S Al-Hijr ayat 29, dimuliakan di hadapan para malikat Q.S Al-Hijr ayat 29, diajarkan ilmu Q.S Al-Baqarah ayat 31, dan salah satu kemuliaan terbesar adalah malaikat diperintahkan bersujud kepadanya (Alu Su’ud, 2019).

Ketika seluruh malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam maka dengan sombongnya Iblis menolak karena ia merasa dirinya lebih mulia dibandingkan Nabi Adam. Kesombongan inilah dosa dan maksiat pertama yang ada di dunia. Hal ini dijelaskan Allah di dalam QS. Al-Baqarah: 34. Nabi Adam pun di lain kesempatan karena godaan Iblis ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Nabi Adam dan Hawa memakan buah yang telah Allah larang sehingga keduanya dikeluarkan dari Surga. Hal ini dijelaskan Allah di dalam QS. Thaha: 121.

Kisah Nabi Adam dan Iblis ini telah Allah kabarkan dalam Al-Qur’an dalam berbagai surat dan ayat. Namun nyatanya ada sebagian umat Islam yang belum tahu perbedaan antara maksiat Nabi Adam dan Iblis. Sehingga ada syubhat dalam pikiran mereka kenapa Allah ampuni Nabi Adam sedangkan Iblis tidak diampuni, padahal maksiat Iblis tidak sampai derajat syirik (menyekutukan Allah) yang mana Allah jelaskan dalam QS. An-Nisa: 48 bahwa Allah akan mengampuni dosa selain syirik.

Penelitian ini akan membahas tentang apa saja bentuk maksiat yang dilakukan oleh Iblis kepada Allah, bagaimana Nabi Adam tertipu dengan godaan Iblis yang mengakibatkan Nabi Adam pun akhirnya bermksiat kepada Allah dengan melanggar perintahnya. Kemudian pembahasan akan dilanjutkan dengan perbedaan antara respon Nabi Adam dan Iblis ketika bermaksiat kepada Allah serta bantahan akan syubhat kenapa Nabi Adam diampuni sedangkan Iblis tidak Allah ampuni.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Metode yang digunakan yaitu analisis teks pada sumber-sumber yang relevan. Dalam hal ini penulis merujuk kepada kitab-kitab tafsir, buku-buku dan tulisan ilmiah yang menunjang dalam pengumpulan data terutama tentang kisah Nabi Adam dan Iblis. Kemudian menemukan titik perbedaan dari kesalahan mereka serta respon keduanya setelah berbuat maksiat.

Pembahasan

A. Potret Maksiat yang Dilakukan Iblis kepada Allah

  1. Menolak Sujud Kepada Nabi Adam

Ketika Iblis diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk bersujud kepada Nabi Adam ia menolak. Hal ini dijelaskan Allah di dalam Q.S. al-Baqarah:34, Q.S. al-A’raf:11, Q.S. al-Hijr: 30-31, Q.S. al-Isra’: 61, Q.S. Thaha:116, dan Q.S. Shad:73-74. Ibnu Katsir mengutip pernyataan Ibnu Abbas dalam Tafsir Al-Qur’an al-Adzhim menyatakan bahwa Iblis sebelum bermaksiat adalah golongan malaikat yang sering berijtihad dan memiliki banyak ilmu. Hal inilah yang mendorong Iblis berbuat sombong dan menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam (Ibnu Katsir, 2008). Menolak dan enggan melaksanakan perintah Allah sama saja dengan durhaka dan bermaksiat kepada Allah. Hal ini menjadikan Iblis dilaknat oleh Allah dan keluarkan dari surga (al-Wahidi, 2018)

  1. Sombong dan Merasa Lebih Mulia dari Nabi Adam

Setelah menolak perintah Allah, Iblis memunculkan kesombongan dan keangkuhan di dalam dirinya bahwa ia lebih baik daripada Nabi Adam. Iblis merasa lebih mulia karena diciptakan dari api sementara Nabi Adam diciptakan dari tanah. Ia juga merasa lebih kuat dan lebih mulia karena lebih dahulu diciptakan (Jasmi, 2018). Kesombongan Iblis ini diabadikan di dalam Al-Qur’an yaitu pada Q.S. al-A’raf: 12, Q.S. al-Hijr :26-27, Q.S. Al-Hijr: 32-33, Q.S. Al-Kahfi: 50 dan Q.S. Shad: 75. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa sifat angkuh Iblis timbul karena ia diciptakan dari api. Iblis beranggapan bahwa api lebih unggul dibandingkan tanah (al-Qurthubi, 2011).

  1. Menantang dan Menyalahkan Allah Karena Kesesatannya

Laknat dan hukuman yang diberikan oleh Allah kepada Iblis tidak menjadikannya menyesal dan memohon ampun kepada Allah. Bahkan Iblis menyalahkan Allah yang membuatnya menjadi tersesat. Ia memohon kepada Allah untuk ditangguhkan kematiannya, dan Allah mengabulkannya. Iblis bahkan berjanji dan bersumpah akan menghalangi anak-cucu Nabi Adam dari jalan yang lurus. Perkataan Iblis ini diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an, Q.S. Al-A’raf: 16-17. Berdasarkan keterangan ayat ini maka kehidupan manusia akan selalu diiringi dengan godaan dan tipu daya Iblis. Hanya orang yang bertakwalah yang akan selamat dari godaannya.

  1. Hasad

Iblis adalah makhluk pertama yang melakukan dosa hasad. Iblis hasad kepada Nabi Adam karena Nabi Adam diberikan berbagai kemuliaan yang tidak diberikan kepada Iblis. Padahal Iblis merasa bahwa dia lebih mulia dan lebih berhak mendapat berbagai kemuliaan disbanding Nabi Adam (Ibnu Athiyah, 2001). Dosa hasad telah menjari ciri dari Iblis oleh karenanya Ibnu Qoyyim memaparkan bahwa orang yang memiliki sifat hasad makai a menyerupai dan mengikuti jalan Iblis.

  1. Dendam

Pengusiran dan diturunkannya Iblis dari tempat yang mulia rupanya tidak memberi kesadaran kepada Iblis, melainkan menambah kesombongan dengan dendam. Sebab itu Iblis memohon kepada Allah agar kepadanya diberi kesempatan menghadapi Nabi Adam dengan segala keturunannya itu, sejak dia disuruh keluar itu sampai kepada masa kebangkitan kelak, yaitu sampai berbangkit di hari kiamat. Permohonannya itu dikabulkan oleh Allah sebagaimana dalam Q.S Al-A’raf: 14 (Hamka, 1998). Iblis pun menggoda Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah dari pohon larangan, ia memberikan tipu daya dengan bersumpah atas nama Allah. Hal ini telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an Q.S. Thaha: 120 (Humaid, 2014).

B. Maksiat Nabi Adam kepada Allah

Setelah Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan Allah masukkan ia ke dalam surga kemudian Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam. Setelah itu Allah perintahkan keduanya untuk tinggal di surga dan Allah izinkan keduanya menikmati apa saja yang ada di surga sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Q.S Al-Baqarah: 35 (Ibnu Katsir, 2008).

Hanya saja Allah memberikan sebuah ujian kepada Nabi Adam dan Hawa untuk tidak mendekati sebuah pohon apalagi mengkonsumsi buahnya. Imam at-Thabari menerangkan bahwa para ulama berselisih pendapat mengenai pohon apakah ini, ada yang berpendapat pohon gandum, pohad tin dan ada pula yang berpendapat pohon anggur. Namun semua pendapat tidak ada yang kuat karena Allah sendiri tidak menjelaskan dengan deail tentang pohon tersebut dan juga tidak ada dalil shahil yang menguatkan salah satu pendapat yang ada (Syakir, 2005).

Mengegtahui Nabi Adam dan istrinya tinggal di sruga dan menikmati segala hal yang ada disana maka Iblis semakin marah dan dendamnya semakin memuncak. Ia merasa mereka berdua tidak pantas merasakan kenikmatan surga sementara ia diusir dari sana dan menerima laknat Allah. Akan tetapi, Iblis telah menyusun rencana jahat sebagai jalan balas dendam kepada Nabi Adam.

Iblis menghasut dan melakukan tipu daya kepada Nabi Adam dan Hawa dengan membujuknya memakan buah larangan tersebut. Iblis menggoda mereka dengan mengatakan bahwa jika mereka berdua memakan buah tersebut maka mereka akan kekal di dalam surga (Jasmi, 2018).

Berbagai upaya dilakukan oleh Iblis untuk membujuk Adam dan Hawa. Iblis meyakinkan mereka berdua dengan bersumpah atas nama Allah bahwa ia adalah seorang yang jujur dalam memberikan nasehat serta petunjuk. Akhirnya Nabi Adam dan Hawa pun tertipu dengan bujukan Iblis sehingga mereka berdua memakan buah pohon larangan tersebut. Hal ini Allah jelaskan dalam Q.S al-A’raf: 20. al-Adawi mengukit perkataan Imam at-Thabari dalam tafsirnya bahwa Iblis mengatakan bahwa ia lebih tahu tentang surga dibandingkan Nabi Adam dan Hawa karena dia diciptakan lebih dahulu. Setelah itu iblis pun bersumpah dengan nama Allah sampai akhirnya Nabi Adam dan Hawa terketuk hatinya menerima nasehat Iblis dan memakan buah dari pohon terlarang. Demikianlah hati mukmin yang sejati selalu terketuk hatinya ketika disebut nama Allah (al-Adawi, 2009).

Setelah Nabi Adam dan Hawa memakan buah dari pohon tersebut maka tersingkaplah aurat keduanya sehingga mereka berdua menutupi aurat mereka dengan daun-daun surga. Setelah itu Allah turunkan Adam dan Hawa dari surga disebabkan pelaggaran yang mereka lakukan.

Penjelas kisah maksiat Nabi Adam karena tipu daya Iblis dan konsekuensi yang Nabi Adam terima semuanya dirangkum dalam tabel deskripsi berikut:

NoSuratAyatUraian
1Al-Baqarah36Nabi Adam dan istrinya tergelincir atas godaan Iblis dan diturunkan dari surga.
2Al-A’raf20-22Nabi Adam dan istrinya terbujuk tipu daya Iblis, melanggar larangan Allah dan terbukalah aurat keduanya.
3Thaha120-121Tampak aurat akibat atas maksiat terhadap Allah karena tipu daya Iblis.

 

C. Perbedaan Potret Maksiat yang Dilakukan Iblis dan Nabi Adam

Berdasarkan penjelasan di atas, perbedaan maksiat yang dilakukan Iblis dan Nabi Adam adalah respon masing-masing dari mereka atas kesalahan yang telah mereka perbuat. Iblis merespon maksiat yang ia lakukan dengan kesombongan dan perilaku buruk lainnya. Sementara Nabi Adam merespon pelanggaran yang ia lakukan dengan bersebera bertaubat mohon ampun kepada Allah. Hal ini Allah jelaskan dalam Q.S al-A’raf: 20-22.

Balasan yang diterima Iblis dari respon buruk yang ia lakukan setelah bermaksiat kepada Allah adalah dikeluarkan dari surga serta mendapatkan laknat dari Allah di dunia sampai akherat. Kelak di akherat Iblis akan dimasukkan ke dalam neraka (al-Adawi, 2009)

Sementara Nabi Adam merespon pelanggarannya dengan segera bertaubat kepada Allah. Setelah memakan buah terlarang dan tampak aurat keduanya Allah memanggil Nabi Adam dan Hawa menegur atas kesalahan mereka serta memperingati mereka bahwaIblis adalah musuh Nabi Adam dan semua keturunannya nanti (al-Wahidi, 2018). Konsekuensi yang diterima Nabi Adam adalah terhindar dari murka Allah.

Kasimpulan

Allah memberikan Nabi Adam berbagai kemuliaan yang agung. Kemuliaan yang diterima oleh Nabi Adam ini membuat Iblis hasad, dengki dan dendam, bahkan enggan untuk bersujud kepadanya walau atas perintah Allah. Hal inilah yang memicu Iblis untuk menggoda Nabi Adam agar ia juga ikut bermaksiat kepada Allah.

Nabi Adam bermaksiat dan Iblis pun juga bermaksiat, namun yang menjadikan kedudukan keduanya berbeda adalah Nabi Adam sadar akan kesalahannya maka ia menyesalinya dan segera bertaubat maka Allah terima taubatnya. Adapun Iblis ia tetap angkuh dengan keseombonganya, dan tidak merasa bersalah, sehingga ia tidak bertaubat dan mohon ampun kepada Allah. Akhirnya laknat dan hukuman Allah kepada Iblis tetap abadi.

Taubat dari dosa dan maksiat adalah kunci mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala. Adapun makhluk yang enggan bertaubat dan tidak menyesali atas dosa yang telah dilakukan maka ia akan mendapatkan murka dari Allah baik di dunia maupun di akherat, Seperti yang diterima oleh Iblis.

Daftar Pustaka

  • al-Adawi, M. (2009) at-Tashil li Takwil at-Tanzil. Kairo: Maktabah Makkah
  • al-Alusi, M.S. (2008) Ruh al-Ma’ani fi Tafsir Al-Qur’an wa as-Sab’u al-Matsani. Idarah ath-
  • Thiba’ah al-Munirah
  • al-Asyqar. (1984) ‘Aalamul Jin was Syayaatin. Kuwait: Maktabah Al-Falaah.
  • al-Qurthubi, A. A. (2011). Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Beirut: Dar Al-Fikr.
  • as-Sa’di, A. N. (2012). Taisir al-Karim ar-Rahman Fi tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh:
  • Darussalam.
  • as-Suyuthi, J. (2011). Ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir al-Ma’tsur. Beirut: Dar al-Fikr.
  • al-Wahidi, A. A. (2018) al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid. Riyadh: Obekan
  • Hamka, B. (1998) Tafsir al-Azhar. Penerbit Bulan Bintang
  • Humaid. S.A (2014) Tafsir Al-Mukhtashar. Riyadh: Markaz Tafsir.
  • Ibnu Athiyah. (2001) al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz. Mesir: Dar al-Kutub al-
  • Ilmiyah.
  • Ilyas, D. (2014). Di Balik Kisah Adam as: Menarik Nalar Makna Penciptaan. Jurnal Ilmu
  • Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, Dan Fenomena Agama, 15(1), 111–123.
  • Ibnu Katsir. (2008) Tafsir al-Quran al-Adzhim. Dar at-Thayibah
  • Jasmi, K. A. (2018). Perseteruan Iblis Terhadap Manusia: Surah al-Baqarah (2: 34-39). Program
  • Anjuran Pusat Islam, UTM.
  • Alu Su’ud S. S (2018) Mausu’ah al-Aqidah wa al-Adyan wa al-Firaq wa al-Madzahib al         Mu’ashirah. Riyadh: Dar at-Tauhid li an-Nasyr
  • Syakir. A. M. (2005) Umdatu at-Tafsir. Mesir: Dar al-Wafa’
  • Syafii, S. (2020). Nilai-Nilai Moral Kisah Nabi Adam As di dalam Al-Qur’an. El Tarikh: Journal
  • of History, Culture and Islamic Civilization, 1(2), 68–81.

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap