Home Artikel Jangan Hanya Mengejar Kuantitas Amal

Jangan Hanya Mengejar Kuantitas Amal

258
0

Sebagian kaum muslimin sangat antusias dalam melaksanakan amal-amal yang bernilai ibadah, sholat, puasa, sedekah, dzikir, doa, dst. Tetapi sangat disayangkan, karena hanya mementingkan jumlah amal tanpa memperbaiki amal, hanya sekedar memperhatikan kuantitas tanpa mempedulikan kualitas. Sedikit tetapi kualitas prima lebih baik dari pada kuantitas banyak tanpa ada kualitasnya sama sekali, ibadah yang berbobot di sisi Allah dan diterima itu lebih baik dari pada ibadah yang tidak diterima di sisiNya karena kopong kosong tanpa bobot, tetapi ibadah yang banyak dan berkwalitas jauh lebih baik.

Benar… bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah mentauhidkanNya, tetapi dalam ibadah ada tata caranya, tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah sesuai keinginan dia belaka, tetapi harus sesuai keinginan Allah ta’ala.

 وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah mentauhidkanKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Inilah tujuan pokok hidupnya manusia di muka bumi, hikmah Allah dibalik menciptakan jin dan manusia, memberi rizki dan nikmat kepada mereka, yaitu mentauhidkan Allah dalam semua bentuk peribadahannya. Dalam usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada penciptanya, maka harus mengikuti tata cara jalan untuk menuju kepada Allah, jangan pakai semboyan “yang penting memperbanyak ibadah” karena Allah ta’ala menciptakan adanya kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

 ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalannya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Imam Muhammad bin ‘Ajlan rohimahullah berkata : “Allah tidak menyatakan paling banyak amalnya”

Imam al Fudhail ibnu ‘Iyadh rahimahullah ketika di tanya :

يا أبا علي، ما معنى أحسن العمل؟ قال: “أخلصه وأصوبه”، قيل: ما أخلصه؟ وما أصوبه؟ قال: «إنَّ العمل إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإن كان صوابًا ولم يكن خالصًا فلم يُقبل، حتى يكون خالصًا صوابًا”، قيل: يا أبا علي، ما هو الخالص الصواب؟ قال: “الخالص: أن يكون لله، والصواب: أن يكون على السنة”.

“Wahai abu Ali apa makna ahsanul amal (amal yang paling baik)? Beliau menjawab :”Yang paling ikhlas dan paling baik” ditanya lagi : “apa itu paling ikhlas dan paling baik ?” beliau menjawab : “suatu amal jika dilakukan dengan keikhlasan tetapi tidak baik tidak akan diterima, jika amalan itu baik tetapi tidak dengan keikhlasan tetap tidak diterima sampai amal tersebut dilakukan dengan keikhlasan dan baik” ditanya lagi : ” wahai abu Ali apa itu ikhlas dan baik ?” beliau menjawab : “ikhlas itu beramal hanya karena Allah, dan baik itu amalan tepat di atas sunnah”

 

Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah berkata :

هذا يدل على أنَّ الحُسن أهم، إحسان العمل أهم من كثرته، وإن كانت الكثرةُ مطلوبةً، لكن الأهم من الكثرة إحسان العمل

“Ini menunjukkan bahwa baiknya amal itu lebih penting dari banyaknya, walaupun banyak amal juga dituntut, tetapi lebih penting dari banyaknya amal adalah baiknya amal”

Adakalanya sebagian kaum muslimin tergiur dengan banyaknya amal, tetapi tidak melihat amal tersebut disyareatkan atau tidak, sesungguhnya amal sedikit di atas sunnah jauh lebih baik daripada banyak tapi di luar sunnah, sebagaimana perkataan para imam salaf terdahulu

 قال ابن مسعود : الاقتصاد في السنة خير من الاجتهاد في البدعة

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata : artinya “mencukupkan diri di dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan” Diriwayatkan oleh imam Ad Darimi di dalam as sunan dan Ibnu abdil Bar dalam Jami’ bayanil ‘ilmi.

 عمل قليل في سنة، خير من عمل كثير في بدعة

Al Hasan mengatakan : “Amalan sedikit di atas sunnah lebih baik daripada amal banyak di atas kebid’ahan”. Diriwayatkan oleh imam Ad Darimi di dalam as sunan dan Ibnu abdil Bar dalam Jami’ bayanil ‘ilmi.

Kaum muslimin hendaknya cerdas dalam beramal, yaitu mementingkan baiknya amal daripada jumlah amal itu sendiri, ketika ingin beramal hendaknya mempertanyakan apakah amalan tersebut ada syareatnya ataukah tidak, jika ada maka dilaksanakan semampunya dan sebaliknya jika tidak ada maka dijahui sejauh-jauhnya, islam itu mudah dan Allah menginginkan dalam syareatNya kemudahan

 یُرِیدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡیُسۡرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡر

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Sebuah amal jika ada syareatnya diamalkan jika tidak ada maka ditinggalkan ini termasuk kemudahan dalam islam, didalam mengamalkan hanya sebagaimana mampunya.

Sehubungan dengan ini, maka terungkaplah pentingnya ilmu dan buruknya kebodohan, amal tanpa ilmu bisa jadi hanya mendapatkan rasa lelah dan capek tanpa ada pahala didalamnya, bahkan dapat dosa dikarenakan dia terjerumus ke dalam amalan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah syareatkan. Sedangkan dengan ilmu senantiasa mencari amalan-amalan yang hanya disyareatkan, sehingga terhindar dari kelelahan yang tidak berarti dan senantiasa di atas pahala yang menanti.

Semoga penulis dan pembaca selalu diberi hidayah oleh Allah.

Semoga bermanfaat.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here