Home Blog Page 16

Agar Puasa Membuahkan Ketakwaan

0

Ibadah adalah sebuah amalan yang sangat luhur, dengannya seorang hamba meraih ridha Allah dan mendekatkan diri kepada sang maha Esa, dengannya hati terasa aman dan nyaman, dengannya jiwa menjadi tenang, tentram dan tertata, tanpanya hati seorang hamba akan gersang dan bahkan bisa mati. Tapi adakalanya seseorang beribadah tetapi sikap dan hati tetap sama, bukan salah fungsi ibadahnya tetapi salah cara beribadahnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang terkumpul didalamnya berbagai amal ibadah dan dilipatgandakan pahalanya, tidak seperti di bulan-bulan lainnya. Alangkah meruginya orang yang tak mendapat kemulyaan bulan Romadhon padahal dia menjumpainya bahkan berkali-kali berjumpa dengannya, dan alangkah beruntungnya orang yang bisa memanfaatkan bulan Romadhon. Bukankah buah dari suatu ibadah adalah menumbuhkan ketaqwaan kepada Allah ?!

Bagaimana cara agar Ramadhan ini membuahkan ketakwaan ?

Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. (QS. Al Baqarah: 183)

Puasa adalah suatu ibadah yang sangat mulia di sisi Allah ta’ala, dia adalah satu diantara lima pilar syareat islam. Agar puasa ini membawa pemiliknya ke arah ketaqwaan, maka tunaikan dengan baik dan benar seperti yang dicontohkan dan dianjurkan oleh Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam.

1. Puasa dengan penuh keimanan dan harapan

Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“siapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman (kepada Allah dan rosulNya) dan berharap pahala dariNya, diampuni dosanya yang telah lewat”. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Memanfaatkan waktu puasa

Puasa tidak hanya menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu syahwat kemaluan semata, tetapi puasa yang benar adalah yang bisa menahan dirinya dari hal-hal yang membatalkan dzat puasanya secara dzohir dan juga menahan dirinya dari berkurangnya pahala puasa dengan menghindari buruknya lisan (ghibah, namimah dst) buruknya perilaku (berlaku kasar, bertengkar, marah dst). Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

Cara memanfaatkan waktu puasa, diantaranya dengan berikut:

  1. Banyak berdoa ketika puasa
  2. Banyak baca Al-Quran
  3. Tinggalkan hal-hal yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya baik bersifat duniawi maupun ukhrowi, seperti : ngobrol, nonton TV dan atau medsos, kebanyakan tidur, dst.

3. Antusias ikut tarawih

Pada bulan Romadhon ada amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada malam harinya, yaitu sholat tarowih. Tentang hal ini Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berdiri (sholat malam) pada bulan Romadhon (sholat tarowih) karena iman kepada Allah dan rosulNya dan berharap pahala dariNya, maka dosa-dosanya yang telah lampau diampuninya”. HR Bukhori Muslim

Semoga bermanfaat..

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Pondok Pesantren Hamalatul Quran Hadiri Acara Mangayubagyo Pelantikan Bupati Bantul

0

Bantul, 21 Februari 2025 – Pondok Pesantren Hamalatul Quran Bantul mendapatkan kehormatan untuk menghadiri acara Mangayubagyo Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bantul masa jabatan 2025-2030 yang diselenggarakan di Pendopo Parasamya Bantul pada Jumat pagi, pukul 08.00 WIB.

Pondok Pesantren Hamalatul Quran mengirimkan perwakilannya, yaitu Direktur Pondok Ustadz Samhudi, S.Pd., dan Ustadz Ali Fatkhulloh, S.Pd. Tepat pada pukul 08.04 WIB, kedua perwakilan pondok melakukan registrasi kehadiran dengan menandatangani daftar tamu undangan.

Acara diawali dengan ramah tamah serta penampilan kesenian khas Bantul. Kemudian, pukul 09.00 WIB, acara inti dimulai dengan sambutan dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bantul, Dr. KH. Habib A. Syakur, M.A., yang mewakili masyarakat Bantul. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Gubernur DIY, diikuti oleh sambutan Bupati terpilih, H. Abdul Halim Muslih.

Dalam sambutannya, Bupati Bantul yang baru dilantik menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diberikan. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf karena undangan acara yang mendadak, mengingat pelantikannya oleh Presiden Prabowo Subianto baru berlangsung pada hari Kamis sebelumnya. Selain itu, beliau menegaskan bahwa pada sore hari yang sama, ia harus segera bertolak ke Magelang untuk mengikuti penataran.

Bupati Abdul Halim Muslih juga menekankan pentingnya kedisiplinan bagi seluruh aparatur dan pamong, dengan mencontoh proses pelantikan kabinet yang menekankan disiplin dan profesionalisme. Selain itu, beliau mengajak seluruh elemen masyarakat Bantul untuk bersatu tanpa ada lagi perbedaan pilihan politik. “Tidak ada lagi 01, 02, atau 03. Yang ada adalah 00,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau mengajak seluruh warga Bantul untuk bersama-sama membangun daerah dengan menjunjung tinggi nilai keberagamaan yang ada sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Di akhir acara, para tamu undangan diberikan sesi untuk mengucapkan selamat dan kami juga berkesempatan menyalami Bapak Bupati dan Wakil Bupati sembari mengucapkan selamat kepada beliau.

Kehadiran perwakilan Pondok Pesantren Hamalatul Quran dalam acara ini mencerminkan dukungan pondok terhadap pembangunan daerah serta komitmen dalam menjalin sinergi dengan pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan di Bantul. (Aliftkhu)

 

donatur-tetap

Benarkah Syaban, Bulan Mulia Untuk Ziyarah Kubur?

0

Di berbagai tempat di Indonesia, banyak masyarakat muslimnya yang mengkhususkan bulan syaban untuk ziarah kubur, di beberapa tempat dikenal dengan istilah nyadran.

Nyadran sendiri adalah tradisi ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat Islam untuk mendoakan leluhur menjelang bulan Ramadan khususnya di bulan Syaban atau orang jawa sering menyebut bulan ruwah.

Lantas bagaimana hukum perbuatan semisal di atas?

Terdapat riwayat hadis yang shahih tentang kebolehan berziarah kubur namun tidak ada keterangan mengkhususkan hari tertentu. Bahkan di awal dakwah Islam Nabi Muhamad shallallhu ‘alaihi wasallam melarang ziarah kubur karena ada sebagain orang yang ghuluw terhadap para mayit di kuburan dan terlalu meratapi si mayit. Kemudian ketika hukum larangan ghuluw dan meratapi mayit maka dibolehkan kembali ziarah kubur, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تزهد في الدنيا و تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

“Sesungguhnya aku pernah melarang kamu untuk menziarahi perkuburan. Maka (sekarang) ziarahlah kerana ia membuat zuhud di dunia dan mengingatkan kamu kepada akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1571 dengan sanad Hasan)

Oleh karenanya ziarah kubur adalah salah satu wasilah untuk mengingat kematian dan akherat, selain itu dapat membuat diri semakin zuhud terhadap dunia.

donatur-tetap

Al-Haitsami dalam kitab Majmu’ Zawaid telah memaparkan berbagai hadis dari Abi Said, Ummu Salamah, Aisyah, Zaid bin al-Khattab, Ali, Zaid bin Tsabit dan sahabar lainnya tentang dizinkan atau dibolehkannya berziarah kubur.

Terdapat sebuah hadis yang dibawakan ath-Thabrani dalam kitab al-Aswaht tentang anjuran ziarah kubur kedua orang tua pada hari jumat,

من زار قبر أبويه أو أحدهما كل يوم جمعة غفر له وكتب برا

“Barangziapa menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satunya setiap hari jumat maka akan diampuni dosanya dan akan dicatat sebagai kebaikan untuknya”

Akan tetapi dalam sanad hadis di atas terdapat Abdul Karim Abu Umayyah yang statusnya adalah dhaif menurut para ulama hadis.

Begitu pula riwayat riwayat lain yang dibawakan oelah ath-Thabranni

الخروج إلى الجبان في العيدين من السنة

“Pergi ke kuburan (untuk ziarah) pada kedua hari raya (idul fitri dan idul adha) adalah bagian dari sunnah”

Sama halnya dengan riwayat sebelumnya, dalam riwayat ini terdapat perawi yang dhaif bernama al-Harist al-A’war.

Oleh karena itu mengkhususkan bulan syaban sebagai bulan khusus untuk melakukan ziarah kubur tidak ada tuntunan dan anjurannya dari Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak ada keutaman tersendiri ziarah kubur pada bulan syaban, hari jumat atau hari raya dibandingkan dengan hari-hari biasa lainnya.

Referensi: Fatawa fi at-Tauhid karya syaikh Abdullah al-Jibrin

donatur-tetap

Apakah Curhat Tanda Tidak Sabarnya Hati?

0

Ketika seorang muslim menghadapi sebuah masalah atau ujian, adakalanya ia bercerita, mengeluh atau curhatkan kepada orang lain. Baik secara langsung maupun via media sosial yang dimiliki.

Lantas bagaimana pandangan Islam akan hal ini? Apakah mengeluh dan curhat kepada orang lain seperti ini adalah tanda tidak sabarnya hati?

Mari kita bahas hal tersebut dalam artikel kali ini.

Pada hakekatnya seorang pribadi muslim yang baik akan mengadukan permasalahannya dan berkeluh kesah hanya kepada Allah Ta’ala. Bahkan selevel Nabi Ya’kub ‘alaihissalam pun mengadukan kesedihan dan kesusahannya kepada Allah Ta’ala.

 قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86)

Adapun terkait mengeluh, bercerita dan curhat kepada orang lain akan masalah yang sedang dihadapi makan dalam hal ini perlu dirinci,

Pertama, Jika seseorang itu mengadu kepada orang lain yang mana orang tersebut diharapkan bisa membantu dirinya atau memberi solusi akan masalah yang sedang dihadapi maka ini tidak terlarang. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنُ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Berdasarkan ayat di atas maka boleh-noleh saja bagi kita bertanya kepada orang yang kita Yakini ia ahli dan memiliki ilmu untuk memberikan solusi atau jalan keluar akan masalah atau musibah yang sedang dihadapi.

Kedua, Jika syakwa atau mengadu dan curhat ini bersifat kepada semua orang ia ceritakan, bertemu dengan siapapun baik itu teman, kerabat atau kenalan dia bercerita bahwa “saya ini sedang susah”, “saya ini sedang ada musibah” maka hal seperti inilah yang menjadi tanda tidak sabarnya hati serta terlarang dalam syariat

Adapun bila seseorang itu pilah pilih atau filtering terkait kepada siapa ia akan bercerita, mengeluh dan curhat dengan tujuan agar mendapatkan solusi dan jalan keluar, makah hal ini di perbolehkan.

Karena yang demikian ini terdapat manfaat atau maslahat yang bersar bagi seseorang tersebut. Dan sejatinya syariat ada untuk memberi kemudahan kepada manusia bukan malah sebaliknya.

Maka cara yang tepat ketika dilanda musibah atau ujian adalah:

  1. Mengadu dan minta pertolongan kepada Allah, ingat Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Mengijabahi doa hamba-Nya.
  2.  Boleh bercerita, curhat kepada seseorang yang diyakini ia bisa memberi solusi atau pun membantu kesusahan yang di hadapi.

Dan aalam syariat islam meminta bantuan kepada sesama makhluk itu di bolehkan dengan beberapa syarat.

  1. Orang yang dimintai bantuan adalah orang yang masih hidup. Tidak boleh minta bantuan dan curhat kepada orang yang sudah mati.
  2.  Orang yang dimintai bantuan mampu untuk membantu.
  3.  Orang yang dimintai bantuan hadir saat dimintai bantuan atau fii hukmil hadir. (walau badannya tidak ada di tempat si peminta namun ia bisa dimintai bantuan dengan wasilah lain semisal HP)

Wallahu Ta’ala a’lam

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Mentadaburi Nama Allah Al-Lathif Bag.2

0

Allah maha Lathiif yang bermakna maha lembut, kelembutan Allah untuk semua makhluk-Nya, diantara bentuk kelembutan Allah adalah bahwa Allah telah menetapkan ketetapan untuk hamba-hamba-Nya, diantara ketetapanNya adalah datangnya musibah dengan berbagai macamnya. Hamba tidak mengetahui dari mana kedatangan kebaikan dan keburukan, bisa jadi kebaikan datang dari hal-hal yang di benci dan bisa jadi keburukan datang dari hal yang dia cintai.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 216)

Allah memberi syariat yang wajib ditegakkan oleh hamba-Nya dalam bentuk perintah dan larangan bukan karena Dia ingin mempersulit hamba atau tidak cinta kepada hamba, tetapi justru dengan adanya perintah dan larangan itu menjadi tanda dan bukti bahwa Dia sangat sayang dan lembut kepada hamba-Nya.

Diantara kemaha lembutan Allah kepada hamba-Nya adalah ketika hamba tersebut hidup di kalangan masyarakat yang baik, mendapati kedua orang tuanya yang sholeh, tetangga yang baik-baik, banyak alim ulama disekitarnya, banyak yang ngaji, dst dari berbagai kebaikan yang dia dapati di sekelilingnya. Hal ini seperti yang didapati wanita agung yang Allah ta’ala muliakan dia yaitu Maryam binti Imron -rohimahumallah-.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا

Maka Robbnya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. (QS. Ali Imron: 370)

Ketika seseorang hidup di kalangan yang baik, masyarakat yang menjunjung tinggi syareat islam, bisa belajar kepada para asaatidzah, maka ini bentuk kelembutan Allah yang sangat agung untuk hamba tersebut, karena sumber munculnya kebaikan seseorang dari sebab yang bermacam-macam, dan paling sering dan paling banyak adalah dari lingkungan yang baik.

Diantara kemaha lembutan Allah kepada -juga adalah ketika Allah memberinya rizki yang halal, baik dan berkah. Dengan rizki tersebut hati menjadi qonaah (menerima apa adanya), jiwa terasa tenang, dan rizkinya tidak menyibukkan hamba tersebut dari tujuan dia diciptakan yaitu beribadah kepada Allah. Bahkan dengan rizkinya itu dia terdorong untuk semakin giat untuk beribadah mendekatkan diri kepada Robnya dengan mendalami islam dan mengamalkannya.

Diantara kemaha lembutan Allah kepada hamba-Nya juga adalah ketika Allah memberikan kepada hamba pasangan dan keturunan yang sholeh dan sholehah yang menyejukkan pandangan mata, dan ketika Allah mengujinya dengan berkurangnya anggota keluarganya dia bisa bersabar atas musibah tersebut, dan bahkan meyakini apa yang di ambil oleh Allah itu lebih baik dari pada apa yang di sisinya. Hal ini termasuk nikmat yang agung dan kelembutan dari Allah kepada hamba-Nya tersebut.

Diantara kemaha lembutan Allah adalah ketika Allah menyelamatkan hamba-Nya dari hal-hal yang bisa melemahkan iman dan dari hal yang bisa mengikis keyakinannya.

Inilah beberapa perwujudan dan dampak dari nama Allah Al-Lathiif. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada penulis dan pembaca.

Referensi : kitab tsalaatsuuna majlisan fit tadabbur

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Nikmat itu Bernama Uswatun Hasanah

0

Allah Ta’ala telah menjadikan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik. Kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk mempelajari dan meneladani seluk beluk kehidupan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata; “Seakan-akan Allah menginginkan kepada umat manusia untuk menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri tauladan, jika memang ingin berharap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir (masuk kedalam surga dan bertemu dengan Allah), dan juga mendapatkan pahala yang besar di akhirat kelak.”

Sungguh nikmat luar biasa yang kita terima adalah nikmat uswatun hasanah, ini adalah nikmat yang umat lainnya tidak punya. Bangsa amerika sampai menyebut Thomas Jeferson sebagai “The prophet of This Country” atau nabi bangsa ini tapi apakah mererka mengikuti seluruh hidup Thomas jeferson ini?  Tidak.

Orang komunis sangat bangga dengan Karl Max Namun apakah mereka mengikuti seluruh kehidupan Karl max? tidak. Ada buku yang ditulis oleh paul Jhonson judulnya “Intellectuals” buku ini menggambarkan paracendekiawan di barat salah satunya Karl Max ternyata dalam buku tersebut disebutkan bahwa Karl max ini orang yang jarang mandi, kotor. Apakah perilaku seperti ini dicontoh?

Biasanya orang itu kagum, meniru dan meneladani seseorang itu paling hanya salah satu aspek hidupnya, tidak ada seorang manusia pun yang dicontoh seluruh aspek hidupnya kecuali Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka kita sebagai umat Islam harus berbangga diri dan mensyukuri nikmat tersebut, serta tunduk patuh dengan perintah nabi shallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ

“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nisa: 59)

Lantas bagaimanakah cara kita mensyukuri nikmat Uswatun Hasanah ini? Diantara caranya adalah:

  1. Mempelajari sirah nabawiyah (Sejarah Kehidupan Nabi)
  2. Banyak membaca hadis-hadis nabi.
  3. Membaca dan mempelajari kehidupan para sahabat, karena merekalah yang paling dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka pula lah yang paling unggul dalam meneladani Nabi.
  4. Berusaha mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari, dan pada hakekatnya inilah tujuan dari menuntut ilmu sendiri yaitu beramal, dengan amalan yang ikhlas serta sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
  5. Tumbuhkan dan kuatkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hati.
  6. Memperbanyak shalawat kepada Nabi dengan diiringi ketulusan hati dan paham betul makna shalawat yang ia ucapkan.

Referensi:

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Mentadaburi Nama Allah Al-Lathif Bag.1

0

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan ucapan Rasul-Nya yaitu Yusuf bin Ya’qub ‘alaihimas sholatu was salam

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 “Sesungguhnya Robku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100)

Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengatakan demikian setelah diterpa berbagai cobaan; dibuangnya beliau ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, dipisahkan dari kedua orangtua dan keluarganya, dijual dan dijadikan budak, di fitnah berbuat keji, dijebloskan ke penjara, dsb, hingga beliau di angkat menjadi menteri dan mempunyai kedudukan di negeri dan akhirnya berkumpul kembali dengan keluarganya. Semua rintangan dan ombang-ambing ini hingga sampai beliau naik tahta, beliau mengetahui benar bahwa ini adalah kelembutan Allah kepadanya, maka beliau benar-benar mengakui bahwa semua ini adalah karunia dari Allah dan beliau nisbatkan kepadaNya dengan mengucapkan إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ.  Hal seperti ini adalah termasuk nikmat Allah yang sangat besar yang dikaruniakan kepada hambaNya, yaitu mampu mengimani dan menyambungkan antara keadaan yang dilalui dengan makna-makna nama Allah yang indah dan sifatNya yang tinggi.

Memahami nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan benar, dan juga berusaha untuk bisa mengemplementasikan di kesehariannya akan membuahkan dua hal:

1. Menambah iman

2. Mudah menerima ketentuan atau taqdir yang menyakitkan, terutama lagi ketika hal tersebut diiringi dengan keridhoan dia kepada Allah, yaitu dengan meyakini seyakin-yakinnya bahwa apa yang di pilih Allah pasti yang terbaik baginya dari pada pilihan sendiri..

Di antara nama-nama Allah yang sering di sebut dan terulang-ulang penyebutannya dalam al-quran, dan mempunyai dampak dalam kehidupan hamba -bagi yang memahami dan merealisasikannya- yaitu namaNya اللطيف dzat yang maha lembut.

Allah ta’ala menyanjung diri-Nya di dalam beberapa ayat dalam al-quran, diantaranya:

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan, sedang penglihatan Dia dapat mencapai segala penglihatan; dan Dialah Yang Maha lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103)

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui ?!”. (QS. Al Mulk: 14)

Bagaimana kita mewujudkan makna dari nama Allah Al-Lathif ini dalam kehidupan keseharian ? Dan apa dampaknya ?

Sungguh yang mentafakkuri dan mentadabburi pada dampak dari sifat Allah yang lembut kepada hambaNya ini, dialah yang bisa menjawab pertanyaan di atas.

Termasuk kemaha lembutan Allah kepada hambaNya adalah ketika Allah telah menentukan rizkiNya untuk hamba-hambaNya. Tentunya ketika Allah menentukan rizki untuk hambaNya didasari ilmuNya tentang kemaslahatan untuk hamba tersebut, tidak disesuaikan dengan keinginan hamba, bisa jadi hamba ini menginginkan rizki ini tetapi yang lainnya lebih berhak mendapafkannya dan lebih baik. Allah menentukan rizki hamba sesuai dengan kemaslahatan yang Allah ketahui dan itu berdasarkan kelembutan Allah kepada hambaNya, walaupun hambaNya tidak menyukainya. Allah berfirman:

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syu’aro’: 19)

Wa Allahu ‘alam bis showaab.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathani, B.A

donatur-tetap

Ilmu, Sebaik Bekal Menyambut Ramadhan

0

Tak terasa sebentar lagi bulan ramadhan kan tiba, sebuah bulan bak musim semi bagi setiap muslim. Sebuah bulan dimana amal kebaikan dilipatgandakan dan pintu ampunan terbuka lebar.

Sebuh bulan yang di rindukan setiap insan yang menancap keimanan di hatinya.

Namun entahlah… Kita kan bersua dengan ramadhan atau malah ajal terlebih dahulu lendatangi kita. Ingat kawan… Setiap menit dan detik yang kita miliki haruslah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. (HR. Muslim no. 2664)

Mari kita manfaatkan waktu di bulan sya’ban ini untuk menambah bekal dan mempersiapakan diri demi bersua dengan bulan ramadhan.

Dan tentunya ilmu lah bekal terbaik Menya ut bulan ramadhan, karena lmu itu mesti ada sebelum berbuat dan bertindak.

Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu”. (Al-Amru bil Ma’ruf Wan-Nahyu ‘Anil Munkar, hal. 15).

Belajar ilmu Ramadhan, atau ilmu tentang puasa Ramadhan, atau ilmu tentang shalat tarawih, atau ilmu tentang berbuka dan sahur, ilmu-ilmu ini mestinya sudah tamat kita pelajari sebelum Ramadhan kita mulai, kenapa? Karena agar ibadah kita berjalan berdasarkan ilmu, yakni dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jika kita menjadi seorang penumpang rental dan sang sopir mengatakan sambil mengendarai mobil bahwa ia tidak tahu cara mengendarai mobil kecuali baru satu jam yang lalu karena belajarnya mendadak, apakah kita akan bersyukur atau panik? Ya, mereka yang belajarnya dadakan adalah sosok jiwa-jiwa yang mengkhawatirkan!!!

Demikian pula orang yang memasuki bulan Ramadhan dengan balajar secara mendadak, ia tidak mengagungkan Ramadhan, ia menganggap murah terhadap nilai sebuah bulan yang agung.

Semoga Allah pertemukan kita dengan bulan ramadhan dan jadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.

donatur-tetap

Tadabbur Antara Awal dan Akhir Ayat Ba.2

0

Di antara jalan untuk mentadabburi Al-Quran adalah faham korelasi antara awal ayat dan penutupnya, berikut contohnya:

  1. Allah berfirman

 يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman: 29)

Makhluk yang meminta kepada Allah tidak hanya bangsa manusia saja, akan tetapi semua yang ada di alam semesta ini dari jin, manusia, malaikat, dsb meminta kepada Allah di setiap waktunya. Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan “setiap waktu Dia dalam kesibukan” ini memberikan arti bahwa Allah menghargai hambanya yang meminta dan memohon, juga adanya harapan untuk cepatnya pergantian dan perubahan.

Jika para hamba Allah memohon dan  merengek dalam permohonannya kepadaNya, maka pasti Allah akan mengabulkan apa yang di mohon, dan akan merubah situasi dan keadaannya dari kepurukan, kebodohan dan dari sakit menjadi kemulyaan, keilmuan, dan kesehatan.

  1. Diceritakan bahwa ada seorang baduwi mendengar seseorang yang sedang membaca suatu ayat yaitu فَإِن زَلَلْتُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ “tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran” orang yang membaca ayat tadi menutup ayat ini dengan فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” orang baduwi tadi spontan berkata ” kalau ini firman Allah, tidak mungkin Dia berfirman seperti ini” padahal dia bukan ahli qiroah, maka lewatlah seseorang depan mereka berdua (baduwi dan pembaca) lantas baduwi bertanya kepadanya “bagaimana kamu membaca ayat ini (ayat di atas)? Maka orang itu membacanya:

فَإِن زَلَلْتُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah: 209)

Lantas orang baduwi mengomentari “seperti inilah bacaan yang seharusnya, karena Al-Hakim (maha bijaksana) tidak akan menyebutkan pengampunan di saat penyimpangan, karena hal itu bisa menjadikan sebab untuk berbuat penyimpangan lainnya”.

  1. Nabi Isa ‘alaihis salam bersabda yang diabadikan dalam al-quran, Allah berfirman:

إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Maidah: 118)

Mengapa dalam ayat ini Allah menutup bukan dengan الغفور الرحيم (maha pengampun maha penyayang) ? Maka jawabannya adalah: karena posisi keadaannya adalah keadaan marah dan membalas orang-orang yang menjadikan sekutu bagi Allah (berbuat syirik), maka sangat sesuai jika menyebutkan keperkasaan Allah dan kebijaksanaanNya dari pada rohmatNya.

  1. Firman Allah ta’ala setelah menyebutkan hukuman bagi orang yang berbuat qodzf (menuduh seseorang berbuat zina tanpa bukti) Dia berfirman

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

“Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 10)

Mungkin seseorang jika membaca ayat ini akan menebak akhir ayat dengan تواب رحيم(maha penerima taubat dan penyayang) karena rohmah sesuai dengan taubah, tapi ternyata tidak seperti itu, Allah menutup ayat ini dengan kebijaksanaanNya, ini menjadi isyarat suatu faidah dari hukuman orang yang berbuat qodzf yaitu Allah menutupi perbuatan kejinya itu.

Senantiasa memohon kepada Allah sang pencipta alam agar selalu di beri hidayah-Nya.

Sumber : kitab tsalaatsuuna majlisan fit tadabbur

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Kondisi Anak Wajib Meminta Izin Kepada Orang Tua

0

Diantara keagungan adab serta bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya adalah dimana seorang anak meminta izin kepada kedua orang tua akan hal-hal yang ingin dilakukan.

Namun kapankah meminta izin kepada keduanya ini menjadi wajib?

Adapun perkara yang wajib Aini, semisal shalat, puasa haji, zakat, pergi shalat berjamaah dan semisalnya maka tidak perlu izin kedua orang tua, pun demikian tidak harus izin kedua orang tua untuk berbuat hal-hal yang mubah semisal membeli HP, membeli mobil dan semisanya.

Izin kepada orang tua menjadi wajib adalah pada kondisi dimana apabila aktifitas dilakukan akan memunculkan ketakutan dan kekhawatiran atau akan datang bahaya yang mengancam serta kematian. Contohnya adalah pergi untuk berjihad, maka seorang anak tidak boleh pergi tanpa mendapat izin dari orang tuanya karena hal ini mengkhawatirkan dnan bisa mengarah pad kematian.

Demikian pula ketika bersafar yang berbahaya, melalui medan dan rute yang sangat berbahaya maka perlu izin, sedangkan safar biasa dan biasanya aman maka tidak mengapa pergi tanpa izin dari orang tua.

Al-Kisai dalam kitab Badai’ Ash-Shani’ berkata,

كل سفر لا يؤمن فيه الهلاك، و يشتد فيه الخطر، لا يحل للولد أن يخرج إليه بغير إذن والديه، لأنهما يشفقان على ولدها، فيتضرران بذلك

“Setiap safar yang tidak aman dari kebinasaan (kematian), berat dan berbahaya maka tidak halal bagi anak untuk pergi kecuali setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, karena keduanya sayang dan bersimpati kepada anaknya, maka dengan pergi kesana itu akan membuat khawatir kedua orang tua”

Di setia safar yang aman, tidak membayakan maka boleh bagi anak untuk pergi tanpa izin dari kedua orang tua.

Maka secara ringkasnya safar boleh tanpa izin orang tua dengan adanya 2 syarat

  1. Safar tersebut aman.
    2. Orang tua tidak ada hajat dala safar tersebut, yang membuat khawatir akan ke selamatan si anak.

Referensi: Ahkam Birrul Walidain karya, Muhammad Shalih Al-Munajjid

donatur-tetap