Home Artikel Adab dan Akhlak Apakah Curhat Tanda Tidak Sabarnya Hati?

Apakah Curhat Tanda Tidak Sabarnya Hati?

187
0

Ketika seorang muslim menghadapi sebuah masalah atau ujian, adakalanya ia bercerita, mengeluh atau curhatkan kepada orang lain. Baik secara langsung maupun via media sosial yang dimiliki.

Lantas bagaimana pandangan Islam akan hal ini? Apakah mengeluh dan curhat kepada orang lain seperti ini adalah tanda tidak sabarnya hati?

Mari kita bahas hal tersebut dalam artikel kali ini.

Pada hakekatnya seorang pribadi muslim yang baik akan mengadukan permasalahannya dan berkeluh kesah hanya kepada Allah Ta’ala. Bahkan selevel Nabi Ya’kub ‘alaihissalam pun mengadukan kesedihan dan kesusahannya kepada Allah Ta’ala.

 قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86)

Adapun terkait mengeluh, bercerita dan curhat kepada orang lain akan masalah yang sedang dihadapi makan dalam hal ini perlu dirinci,

Pertama, Jika seseorang itu mengadu kepada orang lain yang mana orang tersebut diharapkan bisa membantu dirinya atau memberi solusi akan masalah yang sedang dihadapi maka ini tidak terlarang. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنُ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Berdasarkan ayat di atas maka boleh-noleh saja bagi kita bertanya kepada orang yang kita Yakini ia ahli dan memiliki ilmu untuk memberikan solusi atau jalan keluar akan masalah atau musibah yang sedang dihadapi.

Kedua, Jika syakwa atau mengadu dan curhat ini bersifat kepada semua orang ia ceritakan, bertemu dengan siapapun baik itu teman, kerabat atau kenalan dia bercerita bahwa “saya ini sedang susah”, “saya ini sedang ada musibah” maka hal seperti inilah yang menjadi tanda tidak sabarnya hati serta terlarang dalam syariat

Adapun bila seseorang itu pilah pilih atau filtering terkait kepada siapa ia akan bercerita, mengeluh dan curhat dengan tujuan agar mendapatkan solusi dan jalan keluar, makah hal ini di perbolehkan.

Karena yang demikian ini terdapat manfaat atau maslahat yang bersar bagi seseorang tersebut. Dan sejatinya syariat ada untuk memberi kemudahan kepada manusia bukan malah sebaliknya.

Maka cara yang tepat ketika dilanda musibah atau ujian adalah:

  1. Mengadu dan minta pertolongan kepada Allah, ingat Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Mengijabahi doa hamba-Nya.
  2.  Boleh bercerita, curhat kepada seseorang yang diyakini ia bisa memberi solusi atau pun membantu kesusahan yang di hadapi.

Dan aalam syariat islam meminta bantuan kepada sesama makhluk itu di bolehkan dengan beberapa syarat.

  1. Orang yang dimintai bantuan adalah orang yang masih hidup. Tidak boleh minta bantuan dan curhat kepada orang yang sudah mati.
  2.  Orang yang dimintai bantuan mampu untuk membantu.
  3.  Orang yang dimintai bantuan hadir saat dimintai bantuan atau fii hukmil hadir. (walau badannya tidak ada di tempat si peminta namun ia bisa dimintai bantuan dengan wasilah lain semisal HP)

Wallahu Ta’ala a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here