Home Blog Page 41

Jangan Remehkan Shalat Bag.2

0

Keutamaan Shalat

Tidaklah Allah memberi kewajiban kepada hambaNya, melainkan didalamnya ada fadhelah dan hikmah yang bisa dipetik, diantara fadhelah shalat adalah sebagai berikut:

1. Mencegah perbuatan keji dan mungkar

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (QS. Al Ankabut 45)

Jika seorang mukmin mendirikan shalat dengan benar, memperhatikan syarat, rukun, wajib dan sunnah shalat, maka pasti dia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, karena firman Allah tidak akan pernah salah dan janjiNya tidak pernah diingkari.

2. Salah satu ibadah yang disyariatkan dari sebelum nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi Ibrohim ‘alaihis shalatu was salam memohon kepada Allah untuk dijadikan dia dan anak keturunannya menjadi orang-orang yang mendirikan shalat:

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء

“Ya Rob jadikanlah aku dan anak keturunanku termasuk orang-orang yang mendirikan shalat, dan terimalah doaku.” (QS. Ibrohim: 40)

3. Shalat adalah salah satu sarana untuk mengingat Allah.

Allah berfirman kepada nabi Musa yaang diabadikan dalam Al-Quran:

 إِنَّنِیۤ أَنَا ٱللَّهُ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِی وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِیۤ

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingatKu.” (QS. Thoha 14)

4. Allah menggantungkan keberuntungan orang mukmin ada di shalat yang khusyu’.

Allah ta’ala berfirman :

 قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman”

Siapakah mereka dan bagaimana sifatnya ? Allah lanjutkan

 ٱلَّذِینَ هُمۡ فِی صَلَاتِهِمۡ خَـٰشِعُونَ

“Yaitu mereka(orang beriman) yang khusyu’ di dalam shalat mereka”. (QS. Al Mukminun 1-2)

Pertama kali Allah sebutkan sifat orang beriman yang beruntung adalah mereka yang mendirikan shalat dengan khusyu’.

5. Sifat ahlu iman

Firman Allah :

 وَٱلَّذِینَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَ ٰ⁠تِهِمۡ یُحَافِظُون

“Dan menjaga shalat-shalat mereka” (QS. Al Mukminun: 9)

إِلَّا الْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

“Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya, (QS. Al Ma’arij 22-23)

Mereka yang beriman dan istiqomah dalam imannya adalah mereka yang senantiasa menjaga shalatnya.

6. Shalat penghapus kesalahan dan dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ ، قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ:  فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Bagaimana pendapat kalian, jika ada sungai di depan rumah kalian yang dia mandi disitu setiap hari 5 kali, apakah masih sisa dari kotorannya ? Mereka menjawab: tidak, beliau bersabda: itulah perumpamaan shalat lima waktu yang dengannya Allah menghapus kesalahan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Shalat adalah cahaya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصَّلاةُ نُورٌ

“Dan shalat adalah cahaya”. (HR Muslim)

Cahaya yang menyinari wajah; aura wajah orang yang menjaga shalat sangat berbeda dengan aura wajah yang tidak pernah shalat, cahaya yang menyinari hati, cahaya yang menyinari kegelapan alam barzakh(kubur) dan cahaya yang menyinari kelak di hari kiamat.

Inilah beberapa keutamaan shalat, keutamaan ini tidak akan bisa diraih kecuali mereka yang istiqomah mendirikan dan menjaga shalat. Semoga pembaca dan penulis termasuk orang-orang yang istiqomah.

Semoga bermanfaat. Bersambung…

Referensi:

  1. dorar.net
  2. binbaz.org.sa
  3. fiqh.islamonline.net
  4. Dll
donatur-tetap

Menyambut Kedatangan Santri Baru dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah TA. 2023-2024

0

Bantul, Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta menyambut kedatangan santri baru untuk memulai kegiatan pembelajaran tahun ajaran 2023-2024 pada Kamis (09/07/2023).

Penyambutan kedatangan santri baru telah disiapkan dengan matang oleh panitia dan segenap musyrif yang membantu menerima kedatangan para santri dan wali santri yang mengantar.

Suasana tampak haru saat wali santri harus meninggalkan dan melepaskan anaknya belajar di pondok pesantren Hamalatul Quran. Bersamaan dengan harapan dan cita-cita yang akan diperjuangkan yaitu menjadi penghafal Al-Quran.

Sebagai orang tua, berpisah dengan buah hati tentunya bukan hal yang mudah, dari yang biasanya tiap hari bisa melihat sang buah hati ngaji di pojokan rumah, kini momen-momen indah itu pun tak dapat disaksikan lagi setiap hari.

Sang anak kini harus pergi, melangkah dan berjalan menapaki jalan ilmu dengan meninggalkan keluarganya di kampung halaman.

Sebagai orang tua, ayah dan bunda haruslah bersabar dan senantiasa mendo’akan, semoga kelak ananda bisa menjadi ulama yang bermanfaat untuk umat. Dan ingat bahwa ketika memasukkan anak ke pesantren maka antara ustadz, santri dan orang tua semuanya harus sama-sama bersabar.

Semoga ananda-ananda santri baru dimudahkan oleh Allah Ta’ala dalam menghafal Al-Quran dan mempelajari ilmu agama.

Sehari setelah bergabungnya santri baru di pondok pesantren Hamalatul Quran, para santri mengikuti kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang diadakan selama sepekan dari tanggal 10-26 Juli 2023.

Kegiatan MPLS adalah sebuah kegiatan untuk memperkenalkan santri baru dengan pondok, lingkungan pondok, pengenalan antar santri baru serta pembekalan materi dasar agama.

Untuk menciptakan kebersamaan dan memupuk rasa bahagia kegiatan MPLS ditutup dengan jalan-jalan bersama para santri baru ke Goa Selarong yang berada di daerah Pajangan, Bantul. (redaksihq/hamalatulquran.com)

Berikut galeri foto kedatangan santri baru dan kegiatan MPLS santri baru TA. 2023-2024 :

 

donatur-tetap

Jangan Remehkan Shalat Bag.1

0

Manusia hidup tidak sekedar untuk makan, minum, melampiaskan hawa nafsu, bersendau gurau, dan lain sebagainya; melainkan ada tujuan yang sangat agung, yaitu ibadah kepada kholik (pencipta). Allah berfirman:

 وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyaat: 56)

Tingkatan ibadah berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya; ada ibadah yang menjadi rukun, ada yang wajib setiap hari, ada yang wajib setahun sekali, ada yang wajib seumur hidup sekali, ada juga yang sunnah.

Ibadah yang paling agung di sisi Allah Ta’ala dan adalah sholat, kewajiban shalat adalah setiap hari sebanyak 5 kali. Tak terhitung dalil tentang wajibnya sholat yang menunjukkan betapa tinggi dan agungnya kedudukan shalat di sisi Allah.

Berikut artikel yang mengulas singkat tentang shalat:

Kedudukan sholat di dalam islam

A. Rukun Islam Terpenting

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله ، وأن محمداً عبده ورسوله ، وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة ، وحجِّ البيت ، وصوم رمضان

“Islam dibangun di atas lima pilar: persaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya, mendirikan sholat, membayar zakat, haji ke baitullah, dan puasa romadhon”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rukun adalah bagian penting dari sesuatu, jika bagian tersebut tidak ada maka tidak sah/lengkap sesuatu itu, sebagai contoh: diantara rukun sholat adalah rukuk dan sujud, ketika ada seseorang melakukan sholat tanpa ada rukuk, maka sholatnya tidak sah.

 

B. Tiang Agama

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رأس الأمر الإسلام ، وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله

“Inti dari perkara ini adalah islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah”. (HR Tirmidzi)

Apa yang terbetik dalam pikiran jika ada bangunan tanpa ada penyangga atap; baik itu tembok atau tiang !? Tentu bangunan tersebut tidak kokoh dan akan roboh. Itulah gambaran agama islam, diperumpamakan dengan bangunan yang tersusun dari pondasi, tiang dan atap.

 

C. Pertama Kali Amalan yang Akan Dihisab pada Hari Kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر

“Sungguh pertama kali seorang dihisab nanti pada hari kiamat dari amalannya adalah sholatnya, jika sholatnya baik, maka dia beruntung dan selamat, jika sholatnya rusak, maka dia gagal dan merugi”. (HR Hakim dan ibnu Majah)

 

D. Shalat adalah ibadah yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan apapun alasannya selama masih hidup.

jika tidak mampu mengerjakan shalat dengan berdiri bisa dengan duduk, jika tidak bisa dengan duduk bisa dengan berbaring dst, bahkan dalam keadaan di tengah peperanganpun sholat tetap diwajibkan untuk ditegakkan, itulah yang disebut dengan sholat khouf.

Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda kepada sahabat Imron bin Hushoin radhiyallahu ‘anhuma ketika dia terkena sakit bawasir:

صَلِّ قائما، فإن لم تستطع فقاعدا، فإن لم تستطع فعلى جَنْبٍ

“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring ke arah samping”. (HR. Bukhari)

Inilah beberapa hal yang menjadikan shalat sebagai kedudukan yang sangat tinggi di dalam syareat islam, maka jangan dikarenakan urusan duniawi lantas melalaikan shalat.

Semoga penulis dan pembaca, Allah jadikan termasuk para hamba yang senantiasa mendirikan shalat.

Semoga bermanfaat. Bersambung…

Referensi:

  1. islamqa.info
  2. fiqh.islamonline.net
  3. binbaz.org.sa
  4. hadeethenc.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

 

 

 

donatur-tetap

Bolehkah Dana Zakat Dijadikan Sumur?

0

Hari ini banyak kita dapati diberbagai tempat lembaga-lembaga yang membantu menyalurkan zakat dari kaum muslimin kepada yang berhak menerima, dan sebagian diantara mereka ada yang menyalurkan zakat dari kaum muslimin tersebut untuk dijadikan sumur bagi orang-orang miskin di suatu tempat.

Apakah hal yang demikian ini dibolehkan?

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa zakat itu untuk dimiliki oleh orang fakir, miskin dan golongan yang berhak menerimanya, berdasarkan gadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تُؤخَذُ مِن أَغنِيَائهِم وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِم

“(Zakat) diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” (HR. Bukhari no. 1395)

Dan zakat pun ada ketentuan syariat terkait golong-golongan yang berhak mendapatkannya, hal ini telah Allah Ta’ala jelaskan dalam firman-Nya,

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ  فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ  وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Maka berdasarkan dalil yang ada, golongan yang berhak mendapatkan zakat adalah:

  1. Orang-Orang Fakir.
  2. Orang-Orang Miskin.
  3. Riqab atau biasa disebut sebagai hamba sahaya (Budak).
  4. Orang yang terlilit hutang
  5. Mualaf, orang yang dilunakkan hatinya yaitu orang yang baru memeluk agama Islam.
  6. Fiisabilillah, yaitu orang yang berjuang di jalan Allah.
  7. Ibnu sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh.
  8. Amil, yaitu orang yang menyalurkan zakat.

Berangkat dari penjelasan dan dalil di atas maka dapat kita katakan zakat yang di salurkan dalam bentuk pembuatan sumur itu tidak sah, karena tidak memenuhi unsur kepemilikan bagi salah satu person golongan yang berhak menerima zakat.

Namun ada sebagian ulama kontemporer yang membolehkan dalam kondisi tertentu, bahwa sumur di suatu tempat tersebut tidak akan ada atau tida bisa ada kecuali hanya dengan menggunakan zakat. Maka dalam kondisi ini para ulama memasukkannya ke dalam kaidah

الضَرُورَاتُ تُبِيْحُ المَحذُورَات

“Darurat itu dapat membolehkan semua yang dicegah/dilarang”

 

Apakah Wajib Membagi Rata Harta Zakat Kepada Semua GolonganTersebut?

Dalam masalah ini ada dua pendapat:

Pertama: Wajib menyerahkannya kepada semua golongan dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i dan jama’ah para ulama.

Kedua: Tidak wajib menyerahkannya kepada semua golongan, bahkan boleh membagikannya kepada satu golongan saja dan menyerahkan semua harta zakat kepada mereka walaupun ada golongan yang lain. Dan ini adalah pendapat Imam Malik dan beberapa orang dari kaum Salaf dan khalaf, di antara mereka ‘Umar, Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, Sa’id bin Zubair dan Maimun bin Mihran.

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, ‘Ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu.’ Berdasarkan pendapat ini, maka tujuan penyebutan golongan-golongan tersebut dalam ayat ini adalah untuk menerangkan tentang golongan yang berhak menerima zakat bukan untuk menjelaskan kewajiban membagikannya kepada semua golongan tersebut.”

Referensi: Al-Fiqh Al-Muyassar 5/148

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Menjadi Pribadi yang Bertakwa

0

Takwa adalah harga mati, kenapa demikian? Karena dengan takwalah kita bisa menjadi mulia disisi Allah dan hanya dengan takwa pula kita dapat mengarungi kehidupan di dunia ini dengan selamat. Oleh karena itu menjadi pribadi yang bertakwa adalah suatu hal yang amat penting.

Pada artikel kali ini kami akan memaparkan hakekat takwa dan buah manis yang akan diaraih bagi orang-orang yang bertakwa baik di dunia maupun di akherat.

 

Makna Takwa

Takwa adalah menjalankan apa-apa yang Allah Ta’ala perintahkan serta menjauhi apa-apa yang Allah Ta’ala larang. Dan diantara definisi takwa terbaik adalah yang disampaikan oleh Tholq bin Habib rahimahullah yaitu,

أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“(Takwa adalah) Amalan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah, dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari adzab Allah”.

 

Buah Ketakwaan yang Disegerakan di Dunia

1. Diberikan jalan keluar dari berbagai kesempitan dan kesusahan hidup serta diberi rezeki dari arah yang tanpa ia duga.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. At-Thalaq: 2-3)

 

2. Dengan takwa hidup seseorang akan menjadi mudah

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

 

3. Allah akan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang yang bertakwa.

واتقوا الله ويعلمكم الله

“Bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu (ilmu).” (QS. Al-Baqarah: 282)

 

4. Orang yang bertakwa akan senantiasa dilindungi oleh Allah Ta’ala dari tipudaya orang fasik

إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120)

 

5. Orang yang bertakwa akan diberikan berkah yang melimpah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96)

 

Buah Ketakwaan di Akherat

1. Diampuni dosa-dosana serta diagungkan pahalanya

مَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. Ath-Thalq: 5)

 

2. Orang bertakwa adalah orang-orang yang akan mewarisi surga.

 

3. Akan mendapatkan kedudukan yang tinggi pada hari kiamat

وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ

“Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia (tinggi kedudukan) daripada mereka di hari kiamat” (QS. Al-Baqarah: 212)

 

4. Akan dimasukkan ke dalam surga Bersama rombongan orang yang bertakwa.

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula).” (QS. Az-Zumar: 73)

 

5. Surga akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.

وَأُزْلِفَتِ ٱلْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).” (QS. Qof: 31)

 

Bagaimana Mencadi Pribadi yang Bertakwa

  1. Jadikan raca cinta kepada Allah senantiasa memenuhi isi hati, menjawab setiap seruan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
  2. Hadirkan hati rasa selalu diawasi dan dekat dengan Allah Ta’ala (muroqobatullah)
  3. Sadar dan selalu ingat bahwa di jalan kemaksiatan hanyalah ada kesengsaraan dan keburukan.
  4. Menjaga hawa nafsunya agar tidak menerjak apa yang Allah larang.
  5. Memperbanyak dzikrullah.

Semoga Allah Ta’ala  menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa dan mulia disisi-Nya. Aamiin

Referensi: http://saaid.org/daeyat/alromaysa/8.htm

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Akidah Imam Asy-Syafii (Bag. 4): Makna Kalimat Tauhid

0

Dakwah baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dakwah tauhid, inti dari setiap apa yang beliau sampaikan dari awal berdakwah sampai menjelang kematian beliau adalah selalu tentang tauhid.

Maka bagi setiap muslim wajib baginya untuk belajar tauhid, minimal paham betul dan mengamalkan pokok dari kalimat tauhid yaitu,

لا إله إلا الله

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah (diibadahi) selain Allah Ta’ala.”

Dari Sahabat Abi Malik dari ayahnya ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari semua yang disembah selain Allah, haramlah harta dan darahnya dan hisabnya tergantung kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23)

Imam Asy-Syafii meriwayatkan dari sahabat Ubadah bin Al-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Kami berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan enam hal sebagaimana para Wanita telah berbaiat dengan 6 hal tersebut,

أنْ لا تُشرِكوا باللَّهِ شيئًا، ولا تسرِقوا، ولا تزنوا، ولا تقتُلوا أولادكم ولا يغتَبْ بعضُكم بعضًا، ولا تعصوني في معروفٍ،فمن أصاب منهنَّ حدًّا فعُجل له عقوبتُه، فهو كفارتُه، وإن أُخر عنه فأمرُه إلى اللهِ إن شاءَ عذَّبَه وإن شاء رَحِمَهُ

(Yaitu berbaiat) untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berbuat dosa yang didatangkan diantara tangan-tangan dan kaki-kaki kalian, tidak mendurhakaiku dalam perkara yang ma’ruf. Siapa diantara kalian yang menunaikannya maka baginya pahala di sisi Allah, dan siapa yang melanggarnya lalu Allah menghukumnya di dunia ini maka hukuman itu sebagai tebusan, dan siapa yang melanggarnya maka perkaranya terserah kepada Allah. Jika Dia menghendaki, akan disiksanya dan jika Dia menghendaki akan diampuinya (di akhirat) ” (As-Sunan Al-Ma’tsurah lisy Syafi’I hlm. 438)

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata, “Adapun apa yang Allah wajibkan dan harus ada dalam hati setiap orang muslim dari keimanan adalah: Brikrar, memahami, ridha dan menerima dengan tulus hati bahwa Allah adalah dzat satu-satunya yang berhak diibadahi dan tidak ada sekutu baginya, Ia tidak memiliki pasangan dan tidak pula memiliki anak. serta bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan rasul-Nya. Serta berikrar pula dengan apa yang datang dari Allah Ta’ala (berupa syariat) melalui Nabi-Nya atau dari kitab-Nya (Al-Quran) demikianlah apa yang Allah Ta’ala wajibkan ada dalam setiap hati (mukmin).” (Manaqib Asy-Syafii 1/389)

Abul Abbas bin Suraij Al-Baghdadi rahimahullah berkata,

توحيد أهل العلم وجماعة المسلمين أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

“Tauhidnya ahli ilmu dan kaum muslimin adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rasulullah (utusan Allah).” (I’lam Al-Muwaqi’in 4/191)

Referensi: Kitabut Tauhid fii Dhaui ‘Aqidati Al-Imam Asy-Syafi’i

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.7): Nama Allah dan Ilah

0

Sesungguhnya inti atau pokok dari Asmaaul husnaa yang seluruh nama-nama Allah Kembali kepada nama tersebut, ada tiga nama yaitu Allah, Rabb dan Ar-Rahman maka nama Allah mengandung sifat-sifat uluuhiyyah, dan nama rabb mengandung sifat-sifat rububiyyah, dan Ar-Rahman mengandung sifat-sifat keindahan kedermawanan dan seluruh kebaikan, dan nama-nama Allah meliputi tiga nama tersebut, yang terkumpul di dalam surat Al-Fatihah.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah ta’aala berkata :

إعلم أن هذه السورة إشتملت على أمهات المطالب العالية أتم اشتمال، و تضمنتها أكمل تضمن، فاشتملت على تعريف بالعبود تبارك وتعالى بثلاثة أسماء الحسنى و الصفات العليا إليها، و مدارها عليها، و هي : (( الله و الرب و الرحمان ))، و بنيت السورة على الإلهية و الربوبية و الرحمة ف(إيّاك نعبد) مبني على الإلهية، و( إيّاك نستعين ) على الربوبية، و طلب الهداية إلى صراط المستقيم بصفة الرحمة، و الحمد يتضمن الأمور الثلاثة، فهو المحمود في إلهيته و ربوبيته و رحمته

“Ketahuilah bahwa surat ini (Alfatihah) mencakup perkara-perkara yang paling pokok yang paling istimewa dengan cakupan yang sempurna, dan memiliki kandungan makna yang sempurna, maka cakupan pengertian mengenai Allah tabaaroka wata’aala dalam tiga nama dari nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, dan Asmaaul husnaa yang seluruh nama-nama Allah Kembali kepada nama tersebut, yaitu ( Allah Rabb dan Arrohman ) dan surat alfatihah terbangun atas peribadatan ketuhanan dan kasih saying, maka potongan ayat (hanya kepadamu kami beribadah) terbangun atas peribadatan, (dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan) terbangun atas ketuhanan, dan memohon hidayah ke jalan yang lurus terbangun atas kasih saying Allah ta’aala, dan seluruh pujian mengandung tiga hal, yaitu dialah Allah yang maha terpuji dalam peribadatan ketuhanan dan kasih sayang-Nya”. (Madarijus Salikin 1/7)

Nama Allah ta’aala yang kita bahas pertama insyaaAllah adalah الله, yang merupakan nama yang paling mulia sebagaimana disebutkan oleh para ulama, diantara dalil yang menunjukan  hal tersebut adalah firman Allah ta’aala dalam surat Al A’rof yang ke 180 :

و لله الأسماء الحسنى فادعوه بها

nama “Allah” berasal dari kata إله, wazannya adalah أله – يأله – إله , kata إله wazannya adalah فعال maknanya مفعول, sebagaimana مكتوب ~ كتاب  yaitu yang di tulis, معبود – مألوه – إله maknanya yaitu yang di sembah, Ibnu ‘Abbas radhiyallah ‘anhu berkata :

“الله” : ذو الألوهيّة و المعبوديّة على خلقه أجمعيا

“Allah” : “Dialah pemilik penyembahan dan peribadatan dari seluruh makhluqnya.”

 

Diantara kekhususan nama “Allah” adalah:

1. “Allah” adalah sumber dari semua nama, kita mengatakan diantara nama-nama Allah adalah Arrohman, Alghofur, dan seterusnya, akan tetapi tidak sebaliknya diantara nama Arrohman adalah Allah, dalilnya adalah firman Allah surat thoha ayat ke 8 :

الله لا إله إلا هو له الأسماء الحسنى

“Dialah Allah tidak ada sesembahan yang haq kecuali dia, dan milik-Nya nama-nama terindah”.

2. Nama “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, tidak boleh menamakan seseorang dengan nama Allah.

3. Tidak dihilangkan alif lam (ال) tatkala kita menyeru nama Allah seperti “يا الله “ berbeda dengan nama-nama yang lain maka alif lam dihilangkan, seperti “يا رحمن”.

4. Dialah (Allah) nama yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an.

Semoga Allah memberikan manfaat kepada penulis dan pembaca, insyaalloh kami akan membahas nama Allah yang kedua yaitu Robb di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu 

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

Artikel : Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Tak Sekedar Takbiran

0

Kaum muslimin yang berbahagia…

Tentunya momen lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu dan membahagikan hati semua orang beriman. Dalam syareat islam ada syiar yang sangat terlihat ketika datang hari lebaran itu, baik lebaran idul fitri maupun Idul Adha. Syiar tersebut adalah lentunan takbir.

Tatkala malam lebaran tiba maka bergemalah dunia islam dengan lantunan takbir, dari penjuru arah angin lantunan takbir ini terdengar sangat ramai, dengan suka ria kaum muslimin menggemakan latunan takbir ini.

Lantunkan takbir dengan benar !

Bagaimana lantunan takbir yang benar ? Ada beberapa lafadz takbir, diantanya adalah:

1. Dengan dua kali takbir 

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

2. Dengan tiga kali takbir

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

3. Dengan tiga kali takbir di depan dan dua kali takbir di belakang

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله و الله أكبر، الله أكبر و لله الحمد

4. Dengan di tambah lafadz

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

 

Inilah lafadz-lafadz takbir yang ada riwayatnya dari salafus shaleh.

Kaum muslimin yang semoga Allah rahmati…

Hendaknya takbir yang dilantunkan tidak hanya dilantunkan dengan lisan semata, melainkan juga dihayati makna dari lantunan takbir tersebut. Takbir yg sering kita baca adalah takbir ketiga di atas, yaitu dengan lafadz

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر و لله الحمد

“Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah maha besar, Allah maha besar, dan bagi Allah segala pujian”.

Dalam tulisan ini penulis akan membahas dengan singkat makna dari lafadz takbir di atas.

  1. الله أكبر (Allah maha besar) lafadz ini adalah takbir yang mempunyai makna; bahwasanya Allah lebih besar dari pada segala yang ada, Dia lebih besar, lebih agung, lebih mulia, dan lebih tinggi dari apa yang terdetik dalam benak akal, atau yang terbayang dalam khayalan. Ketika seseorang mengatakan lafadz الله أكبر berarti dia telah mengagungkan Allah, maka seharusnya tidak sekedar lafadz dengan lisan, tetapi juga penghayatan dalam hati akan hal kebesaran dan keagungan Allah.
  2. لا إله إ الله tidak ada yang berhak disembah selain Allah) ini adalah lafadz kalimatut tauhid, dengannya seorang kafir masuk islam, harom darahnya, hartanya dan kehormatannya. Kalimat لا إله إلا الله adalah kalimat yng paling afdzol di sisi Allah, dengan kalimat inilah para Rosul di utus.

Makna لا إله إلا الله adalah لا معبود حق إ الا الله (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah), ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

 ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِیُّ ٱلۡكَبِیرُ

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar”. (QS. Al Haj : 62)

Ada dua rukun di dalam kalimat tauhid tersebut, yaitu:

  1. Nafyu (لا إله) ) peniadaan semua peribadahan kepada selain Allah, jika ada seseorsng yang mengucapkan kalamat tauhid ini tetapi dia beribadah kepada selain Allah, maka dia telah mendustakan kalimat tauhid yang dia ucapkan.
  2. Itsbat  (إلا الله) penetapan semua jenis peribadahan hanya untuk Allah. Sholat, shodaqoh, doa, penyembelihan, berkurban, dst ditujukan hanya untuk Allah semata.
  3. و لله الحمد (dan kepunyaan Allah segala pujian) ini adalah lafadz tahmid yang mempunyai makna bahwa semua bentuk pujian yang didasari atas keagungan dan kecintaan yang tinggi hanyanya milik Allah.

Ketika seseorang mengucapkan tahmid الحمد لله berarti dia telah memuji Allah dengan pujian yang sempurna dibarengi dengan rasa pengagungan dan kecintaan kepada Allah dzat yang dia puji.

Kamu muslimin rahimakumulkah

Inilah makna ringkas dari lantunan takbir yang menggema ketika hari raya tiba, semoga kita termasuk hamba Allah yang melantunkan tidak hanya dengan lisan tetapi juga dengan hati.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  1. Islamweb.net
  2. binbaz.org
  3. elbalad.news
  4. tafsir.app/ibn-uthaymin
  5. islamqa.info

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

 

donatur-tetap

Sifat Hewan Kurban yang Ideal

0

Kaum muslimin yang berbahagia…

Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah adalah waktu musim panen amal, yang Nabi ‘alaihis shalatu was salam sabdakan:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قالوا يا رسول الله: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari-hari yang di situ ditunaikan amal sholeh lebih dicintai oleh Allah melainkan hari-hari ini (sepuluh awal dari bulan dzul hijjah), mereka bertanya : tidak juga jihad di jalan Allah ya Rosulallah ?, beliau menjawab : tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang dia keluar untuk jihad dengan sepenuh jiwa dan hartanya, dan tidak ada yang kembali ke keluarganya sama sekali”. (HR. Bukhari.)

Puncak dari hari-hari ini adalah hari kesepuluh, yaitu hari Idul adha, Nabi ‘alaihis shalatu was salam memberi kekhususan dengan amal yang khushus di hari ‘ldul adha, yaitu menyembelih hewan kurban, Beliau bersabda:

 ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض، فطيبوا بها نفسا.

“Tidak ada amalan yang diamalkan oleh manusia di hari nahr (idul adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain menumpahkan darah (menyembelih qurban), sungguh dia (hewan qurban itu) akan didatangkan nanti di hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, kukunya. Dan sungguh darah akan sampai kepada ridho Allah sebelum jatuh ke bumi, maka sucikan jiwamu dengannya”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Amal shaleh semua baik dan dicintai Allah, tetapi adakalanya suatu hari ada amal yang paling Allah cintai, diantaranya adalah amal sholeh yang dilakukan di hari Idul adha dengan menyembelih qurban, maka hendaknya setiap muslim yang mampu hartanya untuk menunaikan amal sholeh ini dia tunaikan dengan sebaik-baiknya, dan jangan menyia-nyiakan, walaupun hukumnya sunnah muakkadah (pendapat jumhur), tetapi tidak pantas seorang muslim meremehkannya.

Bagaimana Sifat Kurbannya Nabi ?

Ketika ingin berkurban, maka hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk mencari hewan kurbannya sama atau mendekati dengan hewan kurbannya Nabi ‘alaihis sholatu was salam, sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bagaimana sifat hewan qurbannya Nabi ‘alaihis sholatu was salam

ضحى النبي -صلى الله عليه وسلم- بكبشين أملحين أقرنين، ذبَحهما بيده وسمى وكبَّر، ووضع رجله على صفاحهما

“Nabi ‘alaihis sholatu was salam berqurban dengan dua kambing jenis kibasy, putih ada hitamnya dan bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri dan membaca bismillah dan bertakbir, beliau juga meletakkan kakinya di atas pangkal leher kambing tersebut (tatkala menyembelihnya)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan sifat hewan qurbannya Nabi

أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان إذا أراد أن يضحي اشترى كبشين عظيمين سمينين أقرنين أملحين موجوءين

“Bahwa Nabi ‘alaihis sholatu was salam jika ingin berqurban, beliau membeli dua kibasy yang besar, gemuk, ada tanduknya, berwarna putih campur hitam yang dikebiri”. (HR. Abdur Rozaq)

Inilah sifat hewan Kurbannya Nabi ‘alaihis sholatu was salam, yaitu:

  1. Domba jantan, karena makna dari kibasy adalah jantan dari domba
  2. Gemuk
  3. Besar
  4. Berwarna putih ada hitamnya.
  5. Di kebiri (untuk penggemukkan)

Semoga bermanfaat.

Refrensi :

  1. https://www.alukah.
  2. Islamweb.net
  3. binbaz.org
  4. Dll

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Adab Menasehati Bag.3

0

Maksud menasehati Allah, Al-Quran dan Rosulullah yang disampaikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis, yaitu makna yang Kembali kepada definisi yang kedua yaitu menjahit, sehingga bisa kita simpulkan maknanya adalah merekatkan (mendekatkan) hubungan antara seorang hamba dengan Allah, Al-Quran dan Rasulullah

Nasihat atau mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan bertakwa kepadanya, melakukan apa yang Allah perintahkan dari kewajiban-kewajiban maupun yang dianjurkan (sunnah), dan juga menjauhi segala yang Allah larang, sebagaimana dinuqil dalam kitab Ta’dzim Qadr ash-Shalah Nasihat untuk Allah ta’ala artinya: menunaikan hak-hak Allah baik itu hak yang wajib maupun yang sunnah, Tidak rela melihat larangan-Nya dilanggar, serta merasa bahagia jika melihat para hamba-Nya taat dalam menjalankan perintah-Nya, (karya Muhammad bin Nashr al-Marwazy, II/691-692).

Nasihat untuk Al-Quran atau mendekatkan diri kepada Allah dengan Al-Quran, adalah dengan menjalankan hak-hak yang wajib dan yang dianjurkan, diantara yang wajib adalah dengan meyakini bahwa Al-Quran yang diwahyukan kepada nabi adalah kalamullah ta’aala (perkataan Allah) sebagai pedoman hidup manusia dan jin, Allah ta’aala berfirman :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus”. (QS. Al-Israa: 9)

 

Nasihat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam al-Qurthuby tatkala beliau menafsirkan ayat:

 إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ

“Jika mereka menunaikan nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya”. (QS. At-Taubah: 91). Beliau berkata: “Nasihat untuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti: mempercayai kenabiannya, senantiasa menaatinya di setiap perintah dan larangannya, mencintai siapa yang mencintainya serta memusuhi siapa yang memusuhinya, menghormatinya, mencintainya dan mencintai keluarganya, mengagungkannya serta mengagungkan sunah-sunahnya dengan cara menghidupkannya tatkala dia padam, mencari dan berusaha memahaminya, melindungi, menyebarkan dan mengajak umat manusia untuk kembali kepadanya, serta berusaha untuk berakhlak dengan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.” (Tafsir al-Qurthuby, VIII/210)

 

Nasihat kepada pemerintah adalah menaati perintah dan larangannya selama perintah dan larangan tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rosulnya, dan menaati pemerintah merupakan ibadah berdasarkan firman Allah ta’aala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amr di antara kalian”. QS. An-Nisa: 59

 

Dan juga makna nasihat yang lain adalah sebagaimana di sebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bentuk nasihat kepada pemerintah, “Membantu mereka dalam mengemban amanat yang dibebankan kepadanya, mengingatkan mereka tatkala mereka lalai, menutupi kekurangan mereka tatkala keliru, menyatukan kalimat di bawah kepemimpinan mereka, mendekatkan hati yang menjauh dari mereka, dan merupakan nasihat yang paling agung bagi pemerintah melindungi mereka dengan baik dari kezaliman.” (Fath al-Bary, I/138)

 

Nasihat untuk kaum muslimin maksudnya adalah sebagaimana Imam an-Nawawy menguraikan penjelasan tentang nasihat untuk kaum muslimin dengan perkataannya, “Memberikan petunjuk kepada mereka terhadap hal-hal yang membawa kebaikan dalam perkara duniawi dan ukhrawi. Tidak menyakiti mereka. Mengajari hal-hal agama yang belum mereka ketahui. Membantu mereka dengan perkataan dan perbuatan. Menutupi aurat dan kekurangan mereka. Melindungi mereka dari marabahaya, serta berusaha mendatangkan manfaat. Menyuruh mereka terhadap kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dengan lemah lembut dan penuh keikhlasan. Menaruh belas kasihan kepada mereka. Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Menyampaikan nasihat yang baik kepada mereka, juga tidak iri atau menipu mereka. Senang mendatangkan kebaikan untuk mereka, sebagaimana kita senang mendatangkannya untuk diri sendiri, juga membenci tertimpanya mereka dengan keburukan, sebagaimana kita benci jika kita tertimpa keburukan. Melindungi harta, kehormatan serta keadaan mereka yang lain dengan ucapan dan perkataan kita. Menghasung mereka untuk berakhlak dengan hal-hal yang telah kita sebutkan. Menggugah semangat mereka untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Sampai-sampai sebagian salaf rela mengorbankan kepentingan duniawinya, demi tersampaikannya nasihat kepada kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, I/239)

InsyaaAllah akan bersambung di adab menasehati ke empat, semoga Allah memberikan kita semua manfaat dari artikel singkat ini, wallohu alam bisshowaab.

Referensi : Syarh bulughul marom kitaabul jaami’ hadis pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. Ma.

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

 

 

 

 

donatur-tetap