Home Blog Page 19

Ibadah Hati Bag.4: Kiat Menghidupkan Hati

0

Hati yang hidup dan sadar merupakan sebuah anugerah dari Allah. Sedangkan orang yang memiliki hati yang mati maka sebenarnya dia telah mati sebelum waktunya, karena hidupnya di dunia ini tidak mengandung arti dan nilai.

Diantara kiat-kita agar hati kita adalah hati yang hidup:

  1. Mengingat Allah.

Manfaat dzikir tidak lagi perlu diragukan lagi. Orang yang berdzikir adalah orang yang hatinya tidak rusak dan tidak mati. Nabi bersabda:

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الحَيِّ وَ المَيِّتِ

Permisalan orang yang mengingat Allah dengan  orang yang tidak mengingat Allah adalah sebagaimana orang yang hidup dengan orang yang mati. (HR Bukhari)

  1. Mengingat Kematian.

Orang yang mengingat kematian akan sedikit berangan-angan, giat beramal sehingga sedikit dosanya.

Al Imam al Hafizh Sa’id bin Jubair al Kufi (dibunuh oleh Hajjaj pada tahun 95 H) mengatakan: Andai hatiku tidak mengingat kematian, aku khawatir hatiku akan menjadi rusak. (Nuzhalul Fudhala’ 1/393-396)

  1. Berziarah Kubur.

Ziarah kubur merupakan sunnah nabi yang sudah ditinggalkan dan saat ini dilupakan oleh sebagian besar orang-orang shalih bahkan umat Islam secara umum. Padahal ziarah kubur termasuk sarana yang paling efektif agar hati kita hidup dan memiliki hubungan dengan Allah, dzat yang mengetahui hal-hal yang gaib. Oleh karena itu para ulama’ salaf berantusias tinggi untuk melaksanakannya.

Safwan bin Salim (wafat pada tahun 132 H dalam usia 72 tahun) pernah hendak mendatangi Baqi’. Hal ini diketahui oleh salah seorang yang shalih karena itu dia lantas membuntutinya sambil bergunam, “Aku hendak melihat apa yang dia lakukan? Sofwan lalu duduk di dekat sebuah kubur. Dia terus menangis hingga aku merasa kasihan kepadanya dan aku mengira bahwa kubur tersebut merupakan salah seorang anggota keluarganya. Suatu ketika yang lain, Sofwan melintas di dekatku. Aku puun lantas membuntutinya. Dia lalu duduk di dekat kubur yang lain. Di kubur inipun beliau menangis sebagaimana dahulu.

Hal ini kuceritakan kepada Muhammad al Munkadir(lahir 30-an H, wafat 130 H) “Aku kira kubur itu merupakan kubur salah satu sanak keluarganya”, komentarku. Kata Ibnu al Munkadir: “Semua penghuni  kubur itu merupakan keluarga dan saudara-saudaranya. Karena beliau adalah orang yang tersentuh hatinya karena mengingat orang-orang yang telah meninggal. Hal ini beliau lakukan setiap kali hati beliau hendak mengeras. (Nuzhatul Fudhala’ 1/395-397).

  1. Mengunjungi orang-orang shaleh dan mengetahui amal yang mereka lakukan.

Hal ini merupakan suatu hal yang sangat bermanfaat. Jika tidak memungkinkan untuk dilakukan maka dengan mengunjungi orang-orang shaleh dan meminta izin kepada mereka melalui buku-buku yang menceritakan perjalanan hidup mereka, karena ini juga merupakan suatu hal yang sangat berfaedah.

Ja’far bin Sulaiman mengatakan “Setiap kali hatiku mulai mengeras, aku pergi pagi-pagi untuk menatap wajah Muhammad bin Wasi’ (Abu Bakr AL Azdi al Bashri, salah seorang tokoh tabi’in, wafat 123 H). Wajah Muhammad bin Wasi’ seperti orang yang baru saja ditinggal mati oleh sanak keluarganya (Nuzhatul Fudhala’ 1/526).

Salah satu kewajiban kita adalah selalu menjaga hati, jangan sampai terasuki was-was setan dan berbagai penyakit hati semisal riya’ dan syirik.

Abu Hafsh an Naisaburi (Amr bin Salam an Naisaburi, wafat 264 H) mengatakan, Kujaga hatiku selama 20 tahun akibatnya aku dijaga oleh hatiku selama 20 tahun (Nuzhatul Fudhala’ 2/513).

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

donatur-tetap

Hakikat Ahlul Quran yang Sejati

0

Ahlul Quran, sebuah kata yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita dewasa ini. Namun sudah benarkah pemahaman kita dengan kata “Ahlul Quran” ini? Apakah yang dimaksud hanya yang sering membaca Al-Quran, yang hafal Al-Quran atau yang mengamalkan isinya walau tidak hafal Al-Quran.

Pada tulisan kali ini kita akan membagas kedudukan mulia Ahlul Quran serta hakikat Ahlul Quran yang sejati.

Adapun terkait kedudukan agung dan tinggi disisi Allah Ta’ala, cukuplah 2 hadis yang akan kami jelaskan ini.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟قَالَ: “هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai banyak ahli (keluarga) dari kalangan manusia”.Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?”Beliau bersabda: “Ahli Qur`an adalah ahli Allah dan orang-orang khusus-Nya.”(HR. Ahmad no. 12279 Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Dalam hadis di atas Nabi menjelaskan agung dan tingginya kedudukan ahlul Qur’an. Yang di maksud dengan Ahlul Qur’an, yaitu merekanyang mengamalkan isi Al-Quran, senantiasa membaca Al-Qur’an sepanjang hidupnya, dan sebagian ulama seperti Ibnu Atsir, Al-Munawi dan As-Sindi memasukkan pula para penghafal Al-Qur’an.

“Keluarga Allah dan orang-orang khususnya” mereka adalah orang yang memiliki kemuliaan dan anugrah dari Allah Ta’ala. Mereka dinamai dengan Ahlul Qur’an sebagai pemuliaan sebagaimana Ka’bah kiblat kaum muslimin disebut pula dengan nama Baitullah.

At-Tirmidzi berkata, “yang disebut Ahlul Quran adalah mereka yang membaca Al-Qur’an sampai ke hati mereka, yang bersih hati mereka dari dosa, Al-Qur’an mengangkat derajat mereka dan tersingkaplah kemuliaan dan keindahan mereka.

Dan bukanlah Ahlil Quran kecuali siapa yang membersihkan diri dari dosa baik secara dijahit maupun batin serta menghiasi diri dengan ketaatan. Haram bagi yang tidak memiliki sifat ini untuk menjadi orang-orang khusus-Nya” (Faidhul Qadir 3/67)

Dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم وحامل القرآن غير الغالى فيه ولا الجافى عنه وإكرام ذي السلطان المقسط

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang yang sudah tua, orang yang membaca Al Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak meninggalkannya, serta memuliakan pemimpin yang adil.” (HR. Abu Dawud no.4843 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

“Orang yang membaca Al Qur’an yang tidak berlebihan” maksudnya adalah para pembaca Al-Quran yang tidak melampaui batas dalam beramal dengannya, serta menyelami dan mengamati makna tersembunyi dalam ayat, tidak berlebihan pula dalam makhorijul huruf sehingga malah melenceng dari makhraj aslinya.

“dan tidak meninggalkannya” maksudnya adalah meninggalkan Al-Qur’an enggan membacanya, bahkan dengan hukum-hukum bacaannya, enggan menyelami makna-maknanya seta enggan mengamalkan isinya.

Sebagain ulama menerangkan ghuluw maksudnya adalah berlebihan dalam tajwid dan terlalu cepat membaca Al-Quran, sehingga menyusahkan mereka dalam mentadabburu makna. Adapun Al-Jufa’ artinya adalah enggan mengamalkan isi Al-Quran (‘Aunul Ma’bud 13/132)

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa makna Ahlul Quran tidak dibatasi dengan salah satu sifat saja, semisal germar beramal saja, gemar membacanya saja, gemar menghafalkan saja. Namun disebut Ahlul Quran ketika sifat-sifat mulia yang telah dipaparkan oleh para ulama itu ada dalam diri seorang muslim, ketika itulah ia akan mendapatkan predikat mulia berupa Ahlul Quran.

Referensi: Hilyah Ahlil Quraan, Mrkaz Ad-Dirasat wal Ma’lumat Al-Quraniyyah bi Ma’had A-Imam Asy-Syatibhi

donatur-tetap

Bekerjalah Walau Dipandang Sebelah Mata

0

Sesungguhnya Allah ta’qla memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha bekerja mencari Rizki demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman

 هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Allah Ta’ala Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada makhlukNya, dengan menundukkan dan merendahkan bumi bagi mereka, dengan menjadikannya tenang dan stabil, tidak berguncang dan tidak miring, dengan gunung-gunung yang telah Dia pancangkan padanya. Allah mengalirkan dari dalamnya mata air-mata air, dan menyediakan padanya jalan-jalan, serta menyediakan padanya berbagai manfaat dan tempat-tempat untuk ditanami untuk keperluan tanaman.

Maka Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya” (QS. Hud: 61)

Yaitu, berjalanlah ke mana pun yang kalian kehendaki di berbagai kawasannya, serta lakukanlah perjalanan mengelilingi daerah dan kawasannya untuk berbagai mata pencaharian dan perniagaan.

Dan ketahuilah bahwa upaya kalian tidak dapat memberi manfaat sedikit pun bagi kalian kecuali jika Allah memudahkannya bagi kalian. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦ

“dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”(QS. Al-Mulk: 15)

Maka berupaya dengan menempuh sarananya tidaklah bertentangan dengan tawakal kepadaNya. Dialah yang Menundukkan, Memperjalankan, dan Menjadikan penyebabnya (Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan) yaitu dikembalikan di hari kiamat.

Mujahid, As-Suddi, dan Qatadah berkata tentang lafadz (manakibiha) yaitu daerah-daerah yang jauh, daerah-daerah pedalaman, dan seluruh kawasannya.

Anjuran untuk Bekerja dalam Islam

Islam memerintahkan kepada kita untuk bekerja keras dan mengcari rizki yang halal, walau pekerjaan yang dilakukan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Mau itu sekedar mencari kayu bakar, jasa cuci piring, tukang sapu, berjualan es teh, berjualan kopi, menjadi petani atau pekrjaaan lainnya. Asalkan itu semua pekerjaan yang halal maka sejatinya itu adalah pekerjaan yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumah: 10)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, (Apabila shalat telah ditunaikan) yaitu, apabila shalat diselesaikan (maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah) Setelah mereka dilarang melakukan transaksi setelah seruan yang memerintahkan mereka untuk berkumpul, kemudian diizinkan bagi mereka setelah itu untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat menganjurkan dan memerintahkan umatnya untuk bekerja mencari rizki yang halal apapun bentuk pekerjaannya, beliau bersabda,

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis) lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya.” (HR. Bukhari no. 2074)

Dalam hadis yang lain dijelaskan pula bahwa bekerja keras dengan menggunakan tangan, itu adalah salah satu pekerjaan terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri” (HR. Bukhari no. 2072)

Perintah-perintah untuk bekerja dan mencariri zki yang halal ini menunjukkan bahwa profesi atau pekerjaan apapun asalkan itu halal dsan di bolehkan oleh agama, maka itu lebih mulia dibandingkan meminta-minta seperti para pengemis (karena dalam Islam meminta-minta itu suatu yang hina dan dibolehkan hanya saat darurat dengan syarat-syarat yang ada)

Dalam hadis yang lain masih tentang anjuran bekerja nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَة ٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian pohon/tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari no.2321)

Terkait hadis ini Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini memaparkan kentang kemulian menanam tanaman atau Bertani, bahkan pahalanya bisa langgeng dan awet selama tanamannya masih hidup.

Referensi:

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.3: Antara Amal Hati dan Amal Jasmani

0

para pembaca yang budiman..

Kita masih pada bahasan ibadah hati merupakan landasan dan sebab seseorang dapat selamat dari neraka dan dapat meraih surga. saat ini kita memasuki poin ke enam sampai terakhir.

6. Pahala dan pengaruh ibadah hati lebih besar daripada ibadah badaniah.

Para ulama salaf lebih mengutamakan ibadah hati daripada memperbanyak ibadah badaniah. Berikut ini merupakan beberapa pernyataan mereka mengenai suatu jenis ibadah yaitu memikirkan perintah Allah dan kampung akherat, suatu ibadah hati yang sangat mulia.

Seorang sahabat besar, Abu Darda ‘Umair bin Zaid bin Qois al-Anshory (wafat di Damsyiq 32 H) mengatakan, Berpikir sesaat itu lebih baik daripada sholat semalam suntuk (Nuzhatul Fudhala’ 1/160).

Dikatakan kepada Hujamah al-Aushabiyyah al-Humairiyyah ad-Dimasyqiyyah yang terkenal dengan sebutan Ummu Darda’ as-Shughra: Ibadah apa yang paling sering dilakukan oleh Abu Darda’. Beliau mengatakan: Berpikir dan merenung (Nuzhatul Fudhala’ 1/160).

Seorang ulama’ besar Madinah dan pemimpin para tabiin di zamannya, Sa’id bin Musayyib mendapatkan cerita mengenai sekelompok orang yang melaksanakan sholat dari zhuhur hingga ashar. Beliau lantas berkomentar: Demi Allah, itu bukanlah ibadah. Ibadah yang sebenarnya hanyalah merenungkan perintah Allah dan tidak mendekati hal-hal yang Allah haramkan (Nuzhatul Fudhala’ 1/376).

Dari Yusuf bin Asbath, beliau mengatakan bahwa Sufyan pernah mengatakan kepadaku setelah sholat Isya’: Berikanlah kepadaku bejana air yang bisa kugunakan untuk berwudhu’. Bejana itu lalu kuberikan kepadanya. Beliau lalu menerimanya dengan tangan kanan. Tangan kiri beliau letakkan pada pipi beliau. Beliaupun lantas merenung. Akupun lalu pergi tidur. Aku baru terbangun ketika fajar telah terbit, ternyata bejana air itu masih berada di tangan beliau sebagaimana semula. Aku berkomentar: Fajar telah terbit?! Beliaupun menjawab: sejak kau berikan bejana air ini kepadaku, aku terus memikirkan akherat hingga saat ini. (Nuzhatul Fudhala’ 1/584).

Ibadah hati merupakan landasan untuk mencapai kerajat ihsan. Derajat ihsan merupakan derajat agama yang paling tinggi. Ihsan merupakan target para ulama’ dan perjuangan orang-orang shalih. Ihsan dibangun di atas muraqabah (merasa diawasi oleh Allah). Muraqabah merupakan murni ibadah hati. Ihsan didefinisikan oleh Nabi, dengan sabdanya:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia itu melihatmu (HR Bukhari)

7. Ibadah hati merupakan motor dan mesin penggerak anggota tubuh.

Bila iman, tauhid dan rasa cinta kepada Allah di dalam hati makin kuat maka anggota tubuh makin tergerak untuk beribadah.

‘Uthah al Ghulam yaitu ‘Utbah bin aban al Bashri (beliau syahid ketika memerangi Ramawi) mengatakan: Barangsiapa mengenal Allah tentu akan mencintai-Nya. Siapa saja yang mencintaiNya tentu akan mentaati-Nya” (Nuzhatul Fudhala’ 1/564).

Ini merupakan suatu hal maklum dan bisa disaksikan sehingga tidak perlu membawakan berbagai dalil untuk menetapkan hal tersebut. Setiap orang mengakui bahwa jika kondisi hati baik maka akan ada kesungguhan untuk melaksanakan sholat dan puasa. Namun jika hati rusak dan melemah maka ibadah menurun dan anggota tubuh menjadi kaku.

8. Ibadah hati menyebabkan ibadah badaniah makin bernilai.

Misalnya  adalah niat. Niat memiliki peran besar untuk menjaga dan meningkatkan mutu ibadah badaniah. Bahkan tanpa adanya niat, hampir saja ibadah badaniah itu tidak bernilai.

Imam al Hafizh Abdullah bin Mubarok bin Wadhih al Maruzi (wafat 181 H) mengatakan Berapa banyak amal yang sepele berubah menjadi besar karena niat. Begitu pula sebaliknya berapa banyak amal yang besar menjadi remeh dikarenakan niat (Nuzhatul Fudhala’ 1/657).

Niat merupakan murni amal hati, sedikitpun tidak ada peran anggota tubuh di dalamnya.

9. Terkadang ibadah hati bisa menggantikan ibadah badaniah.

Terkadang ibadah hati bisa menepati posisi ibadah badaniah dalam berbagai keadaan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syariat. Contohnya adalah jihad, Nabi bersabda:

مَنْ مَاتَ وَ لَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Barangsiapa mati dalam kondisi belum pernah berperang atau belum berniat untuk berperang maka dia mati di atas salah satu cabang kenifakan (HR Muslim 13/50).

Keinginan, tekad dan kehendak hati untuk berperang insya Allah bisa menggantikan perang (baca: jihad) untuk seorang yang terhalang untuk bisa bersegera melaksanakan jihad.

Nabi juga bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَ إِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Barangsiapa berdoa dengan tulus meminta agar bisa mati syahid maka Allah memberikan kepadanya derajat para syuhada’ meski dia mati di atas tempat tidur. (HR Muslim 13/49).

Ketulusan untuk meminta agar bisa mati syahid hanya terdapat di dalam hati. Contoh yang lain adalah mengingkari kemunkaran. Sabda Nabi:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِِهِ فََإِنْ لمَْْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ

Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidakmampu maka dengan hatinya (HR Muslim 2/217).

10. Amal badani memiliki batas tertentu sedangkan amal hati tidak memiliki batas bahkan dilipatgandakan tanpa batas.

Amal badani, sebesar dan sebanyak apapun, memiliki batas tertentu dan waktu tertentu. Sedangkan ibadah hati bila diupayakan oleh seseorang sehingga merasuk ke dalam hati maka hal itu menjadi sesuatu yang selalu menyertai baik  dalam kondisi tidur ataupun terjaga, sehat ataupun sakit, susah ataupun gembira, ringkasnya dalam segala keadaan.

Contoh adalah rasa cinta, rela dan mengagungkan Allah serta keikhlasan. Jika ini semua telah menyatu dalam diri seseorang maka betapa banyak pahala yang didapatkan dan berapa lipat kebaikan akan diberikan kepadanya.

Hal ini jelas berbeda dengan ibadah badaniah yang tidak bisa dilakukan oleh seseorang dalam sebagian besar waktunya meski telah benar-benar bersungguh-sungguh. Ibadah badaniah terhenti ketika dalam kondisi tidur, bekerja mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sendiri atau keluarga dan lain-lain.

11. Sebagian ibadah hati bisa terus berjalan dalam berbagai kondisi dimana ibadah badaniah berkurang atau terhenti sama sekali

Seorang muslim di alam kubur harus menampakkan tauhid. Sedangkan tauhid adalah murni ibadah hati. Dua orang malaikat akan menanyainya mengenai tuhan, nabi dan agamanya. Seorang mukmin akan bisa menjawab dengan baik pada saat orang-orang kafir dan munafik tidak bisa memberikan jawaban apapun.

Ibadah masih kita temukan di dalam surga karena orang beriman di dalam surga mencintai Allah, mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya dan mengagungkan-Nya. Ibadah-ibadah ini dan sejenisnya termasuk ibadah hati yang teragung.

Sedangkan ibadah badaniah yang bisa ditemukan dalam surga hanya tasbih dengan lisan. Tasbih merupakan sarana agar para penghuni surga bisa semakin sempurna dalam mengagungkan Allah. Sedangkan mengagungkan Allah termasuk ibadah hati. Nabi bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الجََنَّةِ يَأْكُلُوْنَ فِيْهَا َو يَشْرَبُوْنَ وَ لاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَيَبُوْلُوْنَ وَلاَيَتَغَوَّطُوْنَ وَلاَ يَتَمَخَّطُوْنَ وَلَكِنْ طَعَامُهُمْ ذَلِكَ جُشَاءٌ كَرَشْحِ المِسْكِ. يُلْهَمُوْنَ التَّسْبِيْحَ وَالحَمْدَ كَمَا تُلْهَمُوْنَ النَفْسَ

Sungguh penghuni surga itu makan dan minum tapi tidak berludah, kencing, berak tidak pula berdahak. Namun makanan mereka berubah menjadi sendawa seperti minyak kasturi. Mereka bertasbih dan bertahmid secara otomatis sebagaimana bernapas (HR Muslim 17/30)

Dalam hal ini, tidak boleh dicampuradukkan antara pengertian ibadah dan taklif (beban untuk beribadah) karena ibadah itu lebih luas cakupannya daripada taklif. Ibadah didefinisikan sebagai nama untuk semua hal yang Allah cintai baik berupa perkataan ataupun perbuatan baik yang nampak ataupun yang tersemunyi. Ibadah itu tetap terdapat dalam surga sedangkan taklif terhenti dengan kematian.

Berdasar penjelasan di atas nyatalah bahwa ibadah hati itu lebih baik dari ibadah badaniah. Ibadah hati lebih nikmat dan pengaruhnya dalam jiwa lebih mendalam daripada ibadah badaniah. Hal ini tentu memotivasi kita untuk memperhatikan dan memberikan perlakuan khusus untuk hati serta bersegera untuk menterapi hati setiap kali hendak menyimpang, merasa bosan ataupun hendak mengeras karena hati merupakan raja, pemimpin dan pengatur anggota tubuh.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

donatur-tetap

Tadabbur Surat An-Nas Bag.4

0

Setan dalam membisiki manusia ada beberapa tingkatan:

1. Mengajak dalam bisikan tersebut untuk berbuat kekafiran dan kesyirikan, supaya manusia menjadi pasukannya setan, Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?!”. (QS Maryam: 83)

2. Jika setan tidak mampu untuk menjerumuskan ke dalam kekafiran dan kesyirikan, maka setan akan menyeru dalam bisikannya untuk berbuat kebid’ahan dan menjadikan kebid’ahan tersebut dicintai dalam hati manusia karena bahayanya bid’ah yang besar dalam agama.

3. Jika setan tidak mampu untuk menjerumuskan ke dalam kebid’ahan, maka dia akan mengajak untuk berbuat kabaa-ir (dosa-dosa besar di bawah kesyirikan dan kebid’ahan) dengan berbagai macamnya,

4. Jika setan tidak mampu, maka dia akan mengajak untuk terjerumus ke dalam shoghoo-ir (dosa-dosa kecil) dan meremehkan dosa kecil itu sehingga menumpuk dosanya dan tidak bertaubat,

5. Jika setan tidak mampu menjerumuskan manusia ke dalam dosa, maka dia akan menjerumuskan ke dalam kesibukan dengan hal-hal yang mubah; dengan sibuk makan, minum, banyak istirahat, banyak piknik dan tamanya akhirnya dia membuang-buang waktunya dalam hal-hal yang mubah dalam rangka duniawi bukan ukhrowi, sehingga umurnya hilang tanpa pahala. Sibuk dengan hal-hal yang mubah ini bisa menjerumuskan manusia ke dalam:

  1. Mengentengkan kewajiban,
  2. Mengentengkan hak-hak orang lain,
  3. Mengentengkan hak dirinya sendiri.

Termasuk dampak ketika orang sibuk dengan yang halal adalah dia mengutamakan amal mafdhul dari pada amal afdhol (amalan yang lebih utama)

Setan tidak akan berhenti sampai batas ini saja, tetapi dia akan selalu mencari celah manusia untuk bisa mengelabuhiya, jika bisikan dari diri setan (jin) maka dia akan mengerahkan pasukannya dari kalangan setan dari bangsa manusia.

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ .الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang tersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

Ini menunjukkan bahwa sebagaimana bisikan itu bersumber dari jin juga bisa bersumber dari manusia. Surat ini dinamakan dengan surat an-naas dikarenakan adakalanya bisikan setan dari kalangan manusia bisa lebih ampuh dan lebih besar dampaknya dari pada bisikan setan dari kalangan jin.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain dengan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’aam: 112)

Bahaya amalnya setan dari kalangan jin hanya sampai bisikan dan menghiasi amalan buruk menjadi seperti baik, dia tidak bisa membuat orang yang dibisiki tersebut berbuat maksiat kecuali jika ada keinginan dari dirinya sendiri, berbeda dengan gangguan dari setan dari kalangan manusia bahayanya mereka dengan selalu mengikuti dan hampir tak terpisahkan olehnya.

Setan manusia adalah mereka yang menutup pintu kebaikan yang ada di depan manusia dan membuka lebar pintu keburukan. Maka hendaknya seorang mukmin senantiasa berhati-hati dan selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan baik dari kalangan jin maupun manusia.

Semoga Allah senantiasa memberi perlindungan kepada kita dari godaan setan… Aamiiin.

Referensi: tadabbur-alquran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Tadabbur Surat An-Nas Bag.3

0

Allah ta’la menyantumkan tiga sifat di dalam surat an-Naas, ini memberikan faedah dimana dengan tiga sifat Allah itu hamba memohon perlindungan dari bisikan setan yang menjadi inti dari semua kejahatan dan keburukan, juga bahayanya yang bisa merusak manusia, masyarakat, negara dan peradaban manusia.

Kata yang sering terulang dalam surat an-Naas ini ada kata الناس (manusia), kita adalah satu di antara manusia yang Allah sebut itu. Surat an-Naas ini difokuskan untuk kita sebagai manusia dan Allah memperhatikan kita sebagai hamba-Nya padahal Dia tidak membutuhkan kita sama sekali, ini adalah bentuk pemuliaan Allah kepada kita.

Betapa Allah mencintai kita hingga mewasiatkan di akhir dari kitabNya untuk senantiasa perhatian kepada diri sendiri dan untuk berlindung kepada Allah supaya Dia selalu melindungi diri kita.

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang tersembunyi”

الوسوسة (al waswasah) adalah memasukkan ucapan yang sembunyi ke dalam jiwa, bisa jadi dengan suara yang tidak bisa di dengar kecuali orang yang di masuki ucapan tersebut atau dengan tanpa suara atau juga ucapan sembunyi mendorong untuk melakukan keburukan.

الوسواس(al was was) ini pelakunya adalah syaithon (Jin)  yang mengiringi manusia, tidaklah manusia kecuali ada syaiton yang mengiringinya/mengikutinya, ini yang di sebut dengan Qoriin yang mempunyai pekerjaan untuk menghiasi manusia suatu keburukan di pandang menjadi kebaikan.

Dinamakan الخناس (al khonnaas) disebabkan lembutnya dan tersembunyinya tempat masuk dan keluar pada manusia.

Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan berjalan dalam tubuh manusia melalui aliran darah”. (HR Muslim)

Seperti inilah keadaan setann kepada manusia, senantiasa duduk di hatinya, selalu mengelilingi sekitarnya, secara diam-diam mendatangi manusia untuk menjerumuskan ke kebinasaan, isti’adzah ini datang untuk melindungi dari bisikan bisikan itu.

Peperangan antara manusia dan syaiton terus menerus, kadang menang kadang kalah. Keadaan ini terus menerus sampai hari kiamat.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“yang membisiki (kejahatan) ke dalam dada manusia”

Yang menjadi tempat untuk was wasah adalah dada, maka hakikatnya syaiton tidak sampai masuk ke hati, tetapi hanya sampai di dada yang meliputi hati. Kewajiban seorang mukmin adalah mengusir syaiton yang mengelilingi dada itu, karena sebagaimana seseorang bisa terdampak dengan keadaan sekelilingnya, maka hatipun juga bisa terdampak oleh sekelilingnya.

يوسوس(yu was wisu) ini kata fi’il mudhori’ yang mempunyai makna bahwa bisikan itu akan terus menerus ada dan syaiton tidak akan berhenti dari pekerjaannya ini.

Bisikan syaiton itu ada di dada manusia, hal ini menunjukkan bahwa syaiton itu sangat lemah, ini seperti apa yang Allah firmankan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah.” (QS an-Nisa’: 76)

Seandainya was wasatus syiton (bisikan setan) itu masuk hati, sungguh ini hal yang sangat sulit untuk dihindari, jika demikian maka hati akan menjadi rumah dan sarang untuk syaiton.

Bersambung…

Referensi: tadabbur-quran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Serial Ahli Qiroat #24: Abul Harits

0

Nama asli beliau adalah Al-Laits bin Khalid Al-Baghdadi, ada pula menisbatkannya sebagai Al-Marwarzi. Beliau dikenal sebagai orang yang tsiqqah (terpercaya), pandai dan kuat hafalannya.

Beliau merupakan salah satu ulama qiroat yang masyhur di kota Baghdad, masyarakat banyak belajar Al-Quran darinya. Imam Abul Harits merupakan periwayat utama qiroah dari jalur Imam Ali bin Hamzah Al-Kisai.

Abu Amr Ad-Duri berkata:

كَانَ مِنْ جِلَّة أَصْحَاب الكِسَائِي

“Dia adalah salah satu yang paling dekan dan mulia dari Imam Al-Kisai”

Imam Abul Harits senantiasa mengajar Al-Quran dalam hidupnya serta beliau dikenal sebagai seseorang yang pandai dalam ilmu qiroat sehingga banyak orang berbondong-bondong datang untuk belajar kepadanya. Selain itu beliau juga meriwayatkan beberapa huruf (ilmu bacaan quran) dari Hamzah bin Qosim Al-Ahwal.

Guru & Murid

Diantara guru Abul Harits adalah Imam Al-Kisai, Hamzah bin Al-Qasim dan Abu Muhammad Yahya At-Turkimani

Adapun diantara jajaran muridnya adalah Salamah bin Ashim, Muhammad bin Yahya Al-Kisai Ash-Shaghir, Al-Fadh bin Syadzan dan Ya’qub bin Ahmad At-Turkimani.

Wafat

Imam Abul Harits meniggal dunia pada tahun 140 Hijriyah.

Referensi:

  • Ahasin Al-Akhbar, Abdul Wahhab Al-Hanafi.
  • Ma’rifatul Qurro, Adz-Dzahabi
donatur-tetap

Penilaian Akhir Semester (PAS) Salafiyah Wustha dan Madrasah Aliyah Hamalatul Quran Yogyakarta 2024

0

HamalatulQuran.Com. Senin, 25 November 2024. Para santri Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta baik jenjang Salafiyah Wustah (SW) maupun Madrasah Alyah (MA) mulai melaksanakan Penilaian Akhir Semester (PAS). dan insyaallah akan berakhir pada hari sabtu 7 Desember 2024.

Ujian ini dilaksanakan untuk mengukur pemahaman santri dalam pelajaran yang telah mereka lalui selama 1 semester ini.

Para santri terlihat sangat konsentrasi saat mengerjakan soal-soal ujian, ini terbukti ketika ujian kelas terasa sunyi dan sepi. Mereka menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Semoga para santri mendapatkan nilai yang terbaik pada ujian semester kali ini, karena pepatah arab mengatakan

 الجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ العَمَل

“Balasan itu sesuai dengan amalanya”

Maksudnya jikalau mereka bersungguh-sungguh dalam belajar tentu mereka mendapat nilai yang terbaik. Dan semoga mereka bisa mengajarkan ilmu mereka kepada orang lain, karena ilmu adalah warisan dari para Nabi.

Semoga Allah Ta’ala senantiaasa memberikan kemudahan, kelancaran dantaufik-Nya. Amiin

نَسْأَلُ اللهَ العَلِي الكَبِيْر أَنْ يُوفقكُمْ وَ ييسر أُمُوْرَكُمْ وَ يُبَارِكُ فِيْ جُهُوْدِكُمْ

donatur-tetap

Tadabbur Surat An-Nas Bag.2

0

Surat an-naas di buka dengan tiga isti’adzah (mohon perlindungan) yaitu: mohon perlindungan kepada Robbnya manusia (رب الناس), rajanya manusia (ملك الناس) dan sesembahannya manusia (إله الناس) hal ini dikarenakan sesuatu yang orang mukmin berlindung darinya yaitu bisikan syaithon bisa mempengaruhi keselamatan agamanya.

Keselamatan agama seseorang adalah hal yang paling penting dan paling agung, maka dari itu berlindung dari hal yang bisa merusaknya adalah hal yang paling ditekankan, dan dalam surat an-naas ini berlindung kepada tiga shifat Allah subhanahu wa ta’ala yaitu robnya manusia, rajanya manusia dan sesembahannya manusia, ini suatu hal yang sesuai antara yang dimintai perlindungan dengan suatu hal yang berlindung darinya.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ “katakan aku berlindung kepada robnya manusia” ini adalah bimbingan dari Allah kepada nabiNya Muhammad ‘alaihis sholatu was salam dan juga kepada umatnya untuk meminta perlindungan kepadaNya dari musuhnya musuh yaitu iblis dan pasukannya laknatullah yang menggoda manusia dengan berbagai bisikan dan godaan. Isti’adzah (minta perlindungan) adalah lari dengan hati nurani, pikiran dan perasaan kepada sang pencipta.

Minta perlindungan kepada Rob, murobbi dan pengatur semua perkara manusia, karena semua yang ada dalam alam semesta ini adalah hamba Allah,

إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا . لَّقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا . وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 93-95)

Semua yang ada tunduk di bawah kekuasaan Allah, maka Dia kuasa untuk menundukkan manusia dan jin dan melindungi dari kejahatan mereka.

مَلِكِ النَّاسِ “Raja manusia” Allah bersifat malik (raja dan pemilik), sifat malik adalah sifat keagungan, maka Allah adalah raja, pemilik, penguasa yang mempunyai kuasa untuk mewujudkan keinginannya dan semua yang ada adalah hambaNya yang tidak akan keluar dari perintahNya, Dia yang mempunyai kekuasaan yang muthlak, kerajaan yang sempurna, tidak membutuhkan apapun dan siapapun.

إِلَٰهِ النَّاسِ “sesembahan manusia” Allah menyebutkan uluhiyahNya setelah rububiyah dan malik, supaya hambaNya yang berlindung kepadaNya benar-benar ingat bahwa yang mempunyai sifat-sifat itu adalah Dia satu-satunya dzat yang berhak disembah/diibadahi dan Dia satu-satunya dzat yang kepadaNya berlindung. Siapa saja yang semakin tulus dan tinggi tauhidnya maka semakin Allah memberi perlindungan kepadanya.

Siapa yang mengenal dan faham tiga sifat ini dan membacanya dengan menghadirkan hati juga mengulang ngulanginya, maka dia akan mengenal Robnya, tenang jiwanya, dan hatinya pasti akan menggantung kepada yang memiliki penciptaan dan perintah yaitu Allah ta’ala. Maka tidak ada yang pantas untuk ditakuti, diharapi, dicintai, ditunduki kecuali Dia dan tidak menyandarkan diri kecuali hanya kepadaNya.

Bersambung…

Sumber: tadabbur-alquran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU HAMALATUL QURAN 2025-2026 TINGKAT MA/SMA

0

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU

TINGKAT MA/SMA PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN

TAHUN AJARAN 2025/2026

Bismillahirrahmanirrahim

Berdasarkan rapat Panitia Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Hamalatul Quran, maka nama-nama yang tercantum dibawah ini dinyatakan DITERIMA sebagai calon santri baru Program Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Hamalatul Quran Tahun Ajaran 2025/2026.

 

donatur-tetap