Home Blog Page 44

Begini Cara Memperlakukan Sobekan Mushaf Al-Qur’an

0

Di Sebagian pesantren atau masjid kadang bingung bagaimana solusi bila ada Al-Quran yang rusak, sobek atau (usang) tidak layak lagi dibaca yang disebabkan karena sudah termakan oleh usia dan sebab-sebab lainnya.

Muslim yang baik tentunya tahu bahwa kita wajib memuliakan dan mengagungkan Al-Quran dan dalam menangani adanya permasalahan semisal diatas tentunya kita butuh ilmu, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam hal yang termasuk menghina dan merendahkan Al-Quran, merkipun itu dilakukan terhadap lembaran-lembaran yang sobek, tercecar atau rusak.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ * فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ * لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ * تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Waqi’ah: 77 – 80)

Ada beberapa cara agar kita tidak dianggap sebagai orang yang menghina atau tidak menghargai Al-Quran atau ayat-ayat Allah ta’ala ketika menghancurkan atau membuangnya. Yaitu:

Pertama, Ditanam atau dikubur di tempat yang jauh dari kunjungan orang-orang. Ini adalah pendapat madzhab Hanafiyah dan madzhab Hanabiklah. Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وأما المصحف العتيق و الذي تخرق وصار بحيث لا ينتفع به بالقراءة فيه، فإنه يدفن في مكان يصان فيه، كما أن كرامة  بدن المؤمن دفنه في موضع يصان فيه

“Adapun mushaf using yang telah sober, tercecar sehingga tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk dibaca, maka mushaf tersebut dikubur di tempat yang jauh dari kunjungan orang-orang (tidak sering dilewati orang). Sebagaimana diantara bentuk memuliakan badan seorang mukmin setelah meninggal adalah dengan menguburkan (demikian pula dengan Al-Quran). (Majmu Al-Fatawa 12/599)

Kedua, Dibakar dengan api, ini adalah pendapat madzhab Malikiyyah dan Syafi’iyyah hal ini berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu ketika membakar mushaf-mushaf yang menyelisihi Mushaf Al-Imam, yaitu mushaf yang dijadikan pedoman bagi seluruh umat islam pada waktu itu agar manusia tidak disibukkan dnegan banyak perselisihan tulisan mushaf. Perbuatan Utsman ini tidaklah ditentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat dan seluruh umat, bahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Bila Utsman tidak melakukannya, maka akulah yang akan melakukannya (membakarnya)”. (Al-Mashahif, Ibnu Abi Daud hlm.68).

As-Suyuti rahimahullah berkata,“Membakar Al-Quran yang rusak itu tidak mengapa, sahabat Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah membakar mushaf-mushaf yang di dalamnya masih terdapat ayat dan qiroat yang sejatinya telah di nashahk oleh syariat, dan tidak ada sahabat yang mengingkari perbuatan Utsman bin Affan tersebut. Dan Sebagian ula berpendapat bahwa membakar (mushaf robek atau rusak) lebih utama dibandingkan menucinya (sampai tinta dan lafahdznya hilang).”

Al-Halimi rahimahullah berpendapat dengan cara direndam dalam air hingga tinta-tintanya hilang, namun pendapat ini hanya diikuti oleh sedikit dari golongan ulama.

Bagi setiap pendapat di atas, baik dibakar atau dikubur keduanya memiliki sisi pendalilan yang cukup kuat oleh karena itu bagi setiap muslim tidak mengapa baginya untuk memilih salah satu dari keduanya insyaallah. Hanya saja membakar lebih utama karena adanya atsar dari sahabat terkait hal tersebut berbeda dengan dikubur dimana tidak ada atsar dari sahabat akan hak tersebut. Wallahu ta’ala alam

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Bila ada lembaran (rusak tidak bermanfaat) yang tertulis di atasnya ayat-ayat Al-Quran, basmalah, dzikir dan lafadz Allah maka wajib untuk dibakar atau dikubur.”

Wallahu a’lam

Referensi: Hilyatu Ahlil Quran fii Adabi Hamalatil Quranil Karim

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.4) : Pengertian Asmaul Husna

0

Definisi atau pengertian yang baik kata para ‘ulama adalah Jami’ Mani’  yaitu memasukkan seluruh makna yang terkandung dan mengeluarkan semua makna yang tidak ada sangkut paut dengannya, pengertian alasmaa alhusnaa sendiri banyak di definisikan oleh para ‘ulama, diantaranya Ibnu taimiyyah rahomahullah berkata :

لأسماء الحسنى المعروفة هي التي يدعى بها، و هي التي وردت في الكتاب و السنة، و هي التي تقتضي المدح و الثناء بنفسها

Nama-nama dan sifat-sifat Allah yang terindah, yang diketahui, yaitu nama-nama dan sifat-sifat yang dibaca tatkala bermunajat, dan nama-nama dan sifat-sifat yang terdapat didalam Al-Qur’an dan As-sunnah, sekaligus nama-nama dan sifat-sifat yang mengaharuskan pujian yang sempurna  dengan sendirinya. (Syarah Aqidah Al Ashfahaniyah)

Definisi Ibnu taimiyyah  ini di dasari dengan dalil Al-Qur’an.

و لله الأسماء الحسنى فادعوه بها

“Dan milik Allah subhaanahu wata’aala nama-nama dan sifat-sifat terbaik, maka bermunajatlah dengannya.”

Pengertian yang di definisikan oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjadi kaidah dasar dalam al-Asmaa al-Husnaa menjadi 3 kaidah dasar :

  1. Syarat yang pertama adalah nama atau sifat tersebut, harus berasal dari Al-Qur’an dan As-sunnah (tidak berlaku qiyas dalam hal ini), sebagai mana tatkala nabi berdoa beliau memulai dengan memujinya dan bersabda “Sammaita bihi nafsak” Artinya : “yang Allah menamai dengan nama tersebut” , diantara nama-nama yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Assunnah. Contoh :
  1. Nama Al-Jawaad الجوادadalah nama yang benar, berarti yang luas kedermawanannya. Adapun nama As-Sakhy السخي   adalah nama yang salah, karena tidak ada landasan dalilnya dan berarti kedermawanan yang memiliki makna kelemahan.
  2. Nama Al-Qowy القوي adalah nama yang benar dan bermakna yang maha kuatan. Adapun nama Al-Jalad الجلد adalah nama yang salah karena tidak ada dalil dan bermakna yang maha kuat akan tetapi di dahului dengan usaha.
  3. Nama Al-’Aliim العليم adalah nama yang benar dan bermakna yang maha mengetahui. Adapun nama Al-’Aarif  العارف adalah nama yang salah karena tidak ada dalil dan bermakna yang maha mengetahui akan tetapi di dahului dengan kebodohan.
  1. Yaitu nama-nama yang di anjurkan untuk berdoa dengan nama-nama tersebut. Contoh :
  2. Salah satu nama Allah subhaanahu wata’aala adalah Al-Ghoffaar الغفار maha penganmpun, يا غفار إغفرلي “ Yaa Allah yang maha pengampun, ampunilah aku” dan seterusnya.

 

  1. Nama-nama tersebut harus menunjukan keindahan dengan sendirinya, jika nama tersebut di ambil dari Al-Qur’an akan tetapi tidak menunjukan keindahan dengan sendirinya, maka nama tersebut tidak termasuk al-Asmaa al-Husnaa, dan kata (الحسنى) adalah bentuk kata perempuan muannats dari kata (الحسن)  yang berarti yang terindah dan mencapai puncak keindahan dengan sendirinya, oleh karena itu alasmaa alhusnaa harus memiliki makna indah dengan sendirinya. Contoh :
  1. Dalam ayat Allah menyebutkan (صنع الله….) yang berarti “Perbuatan Allah” kita tidak boleh menamakan Alloh subhanahu wata’aala dengan nama As-Shooni’ الصانع “Yang maha berbuat”
  2. Kita juga tidak di bolehkan menamakan Allah subhanahu wata’aala dengan sifat-sifat yang terikat keindahannya dengan suatu kejadian, (ومكرو ومكرالله) “Mereka membuat tipu daya dan Alloh membuat tipu daya (untuk mereka)” maka tidak boleh kita menamai Alloh dengan Almaakir الماكر “pembuat tipu daya”
  3. Nama-nama yang benar adalah yang bermakna keindahan dengan sendirinya,

Contoh : الرحيم “yang maha penyayang”   الحي “yang maha hidup”, dan seterusnya.

Semoga bermanfaat, insyaalloh akan bersambung wallohu a’lam bisshowaab

Referensi : kitab Fiqih al asmaa al husnaa karya syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul muhsin al ‘Abbad al badr hafidzahullahu

 

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Pembagian Tauhid Bag.1

0

Pembaca yang budiman… Iman adalah harta paling berharga yang ada pada diri seseorang, tanpanya seseorang tidak akan mengetahui tujuan hidupnya; kemana harus berlayar dan dimana dia akan berlabuh. Di antara rukun iman yang paling penting dan mendasar adalah iman kepada Allah ta’ala, maka iman kepada Allah diletakkan paling pertama dari rukun-rukun iman yang ada. Perlu diketahui bahwa iman kepada Allah tidak berguna jika tidak memiliki tauhid kepadaNya. Lantas apa itu tauhid…? Berikut penulis akan membahas dalam artikel singkat ini.

Pembaca yang budiman

Tauhid merupakan inti hikmah dari terciptanya kita manusia, sebagaimana firman Allah ta’ala

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (Q.S Adz Dzariyat : 56)

Tauhid adalah seorang hamba mengesakan Allah di dalam hak-hakNya atau di dalam hal yang menjadi kekhususanNya; rububiyah, uluhiyah dan asma’ was shifat, maka para ulama ahlus sunnah wal jamaah telah meneliti dan menelaah dari ayat-ayat alquran dan hadits-hadits nabi bahwa tauhid terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:

1. Tauhid Rububiyah.

Yaitu mengesakan Allah di dalam perbuatanNya. Rububiyah diambil dari kata Robb yang mempunyai makna dzat yang maha pencipta, merajai/memiliki dan mengatur.

Tidak ada yang menciptakan kecuali Allah

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Allah pencipta segala sesuatu”. (Q.S Az Zumar : 62)

Tidak ada yang memiliki dan merajai alam semesta ini kecuali Dia

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”  (Q.S Al Mulk : 1)

Tidak ada yang mengatur alam semesta ini dari ujung langit hingga ujung dunia kecuali Allah semata

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi,”…. (Q.S As Sajadah : 5)

Inti dari tauhid ini adalah mengimani bahwa Allahlah yang menciptakan, memelihara, memiliki, merajai dan mengatur alam semesta ini tanpa ada yang ikut andil di dalamnya, sebagaimana firmanNya

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِین

“Segala puji bagi Allah, Rob seluruh alam.” (Q.S Al Fatihah  : 2)

Tauhid macam ini telah diakui oleh orang musyrikin dahulu, tetapi tidak cukup untuk menjadikan mereka masuk islam,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ  لَيَقُولُنَّ اللَّهُ.

“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” (Q.S Luqman : 25)

وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ یُؤۡفَكُونَ

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan Bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (Q.S Al-Angkabut : 61)

Bahkan tauhid macam ini tidak ditemukan golongan dari manusia yang mengingkarinya, kecuali segelintir saja, semua hati difitrohkan untuk mengimaninya, keyakinan hati akan adanya tuhan lebih besar daripada keyakinan hati kepada yang dilihatnya dari alam semesta, sebagaimana sabda para rosul yang Allah ceritakan dalam alquran

قَالَتْ رُسُلُهُمْ اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ

“Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?”. (Q.S Ibrohim : 10)

Mereka yang tidak mengakui adanya tuhan/Allah pengatur alam semesta ini, hanyalah muncul dari kesombongan dan keangkuhan belaka, dalam hati tetap yakin, sebagaimana sabda nabi Musa kepada fir’aun yang Allah abadikan dalam alquran

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ اَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ بَصَاۤىِٕرَۚ

“Dia (Musa) menjawab, “Sungguh, engkau benar-benar telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata” (Q.S Al Isro’ : 102)

Pengikraran dan pengakuan mereka akan hal Rububiyah Allah ini tidak menyelamatkan mereka dari adzab Allah dan tidak menjadikan mereka muslim apalagi menjadi wali, maka jika ada orang yang meyakini bahwa ada selain Allah baik itu wali, dewi, nabi maupun malaikat yang ikut andil dalam mengatur alam semesta ini, maka dia lebih jahil dari pada orang musyrik dahulu.

Bersambung…

 

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.3) : Faidah Agung Mempelajari Asmaul Husna

0

Dengan keyakinan kita bahwa ilmu Al-Asmaa Al-Husnaa adalah salah satu ilmu yang paling mulia, maka hati seorang muslim akan terpanggil untuk mempelajarinya, bukan hanya sekedar penasaran akan tetapi mempelajarinya dengan rasa cinta yang ada didalam hatinya kepada Allah Ta’ala.

Diantara faidah mempelajari Al-Asmaa Al-Husnaa adalah kebahagiaan hidup bagi siapa yang mengenal rabbul ’alamiin Allah subhaanahu wata’aala, betapa indah perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’aala merangkum syarat kebahagiaan hati seseorang beliau berkata :

فإن حيات الإنسان بحياة قلبه وروحه، ولا حياة لقلبه إلا بمعرفة فاطره ومحبته و عبادته وحده والإنابة إليه والطمأنينة بذكره والأنس بقربه ، ومن فقد هذه الحياة فقد الخير كله، ولو تعوض عنها بما تعوّض من الدنيا، بل ليست الدنيا بأجمعها عوضا عن هذه الحياة، فمن كل شيء يفوت عوض، و إذا فاته الله لم يعوض عنه شيء البتة

“Sungguh kehidupan manusia berdasarkan kehidupan(perasaan) hati dan ruhnya, hati tidak akan hidup kecuali dengan mengetahui penciptanya, kecintaan kepadannya  penyembahan kepadanya semata, dengan bertaubat Kembali kepadanya, serta ketenangan dan kebahagiaan  saat mengingat Alloh subhaanahu wata’aala, dan siapa yang luput darinya kehidupan tersebut maka hilanglah seluruh kebaikan darinya, seandainya dia menggantinya dengan dunia, maka dunia tidak lah sebanding, dan semua yang menggantinya akan musnah, siapa yang kehilangan Alloh, maka dia tidak akan mendapatkan pengganti sesuatupun.” (Al-Jawab Al-Kaf hlm. 133)

Alangkah pahit kehidupan ini tanpa mengetahui sang pencipta Allah subhaanahu wata’aala dan betapa manis kehidupan ini jika kita mengenal Ar-Rahmaan Allah subhaanahu wata’aala. Dan siapa yang merasa bahwa kehidupannya telah bahagia walapun tanpa ada Allah di dalamnya, maka ketahuilah bahwa dia berada didalam pusaran istidroj, Allah sedang mengulurnya.

Dan diantara faidah Al-Asmaa Al-Husnaa adalah Allah menyukai atsar dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya berada pada hamba-Nya, dan hal ini di sebutkan dalam banyak ayat dan hadis, contohnya  potongan hadis nabi shallallahu’alaihi wasallaam :

إن االه جميل يحب الجمال

Sesungguhnya Alloh maha indah dan Alloh menyukai keindahan.” (HR Muslim no. 91)

Allah menyukai keindahan ada pada hamba-hambanya, dari perilaku penampilan tempat tinggal dan lain-lain.

Contoh yang lain dari firman Alloh subhanahu wata’aala :

إنالله يحب المحسنين

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Albaqoroh : 195)

 

Allah subhaanahu wata’aala juga berfirman :

 إنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. An-Nahl: 128)

Terdapat pula sebuah riwayat,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي”

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Kahmas bin Al Hasan dari Abdullah bin Buraidah dari ‘Aisyah bahwa dia berkata; “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendapatkan malam lailatul Qodar, apa yang harus aku ucapkan?” beliau menjawab: “Ucapkanlah; ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Ibnu Majah no. 3840)

Al-Muhsin adalah yang terus berbuat baik, dan Allah menyukai hamba-Nya yang berbuat kebaikan, banyak ayat-ayat dan hadis yang menganjurkan kita untuk berbuat baik, diantaranya yang paling ringan adalah memindahkan gangguan di tengah jalan dan seterusnya

Semoga bermanfaat, insyaalloh akan bersambung wallahu alam bisshowaab

Referensi : kitab Fiqih al asmaa al husnaa karya syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul muhsin al ‘Abbad al badr hafidzahullahu 

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

4 Santri Berhasil Simakkan Hafalan Al-Qur’an 30 Juz Dalam Dua Hari

0

HAMALATULQURAN.COM — Yogyakarta, Pondok Pesantren Hamalatul Quran, kembali menggelar semaan hafalan Al Quran 30 Juz dalam dua hari pada Sabtu-Ahad (25-26/02/2023) serentak di tiga tempat, yaitu Ponpes Hamalatul Quran Gunung Sempu, Ponpes Hamalatul Quran Sanden dan Ponpes Hamalatul Quran Sleman.

Simaan hafalan Al-Qur’an 30 Juz dalam dua hari kali ini dibacakan oleh empat santri sekaligus, mereka adalah,

  • Nama : Hamdan
  • Putra dari : Bapak Edi Supomo dan Ibu Sri wulandari
  • Asal : Banguntapan, Bantul
  • Kelas : XII MA Hamalatul Quran

 

  • Nama : Muhammad Afif
  • Putra dari : Bapak Abdul Kholiq dan Ibu Camelia Shaeriyah C.R
  • Asal : Banguntapan, Bantul
  • Kelas : XII MA Hamalatul Quran

 

  • Nama : Abdullah Zain
  • Putra dari : Bapak Ahmad Sultoni dan Ibu Martini
  • Asal : Kasongan, Bantul
  • Kelas : XI MA Hamalatul Quran

 

  • Nama : Muhammad Idris Abdussalam
  • Putra dari : Bapak Sukatno dan Ibu Yunartini
  • Asal : Bandung
  • Kelas : XI MA Hamalatul Quran

Setelah berakhirnya semaan, ananda Abdullah Zain memimpin membacakan doa khotmil quran yang kemudian disusul dengan adanya pemberian motivasi dan semangat untuk teman-teman santri yang lain oleh ananda Muhammad Idris Abdussalam.

“Dulu saya sempat berpikiran, ah.. buat apa tasmi, yang penting lancer 30 juz. Sampai suatu Ketika saya ngobeol dengan seseorang. Saya bertanya

Apa motivasi kamu buat tasmi 30 juz?  “Aku ingin membahagiakan orang tuaku” jawabnya singkat.

Seketika itu pikiran saya berubah, saya ingin membahagiakan orang tua saya.

Orang Tua kita telah banyak berkorban untuk kita, tapi apa? apa yang kita korbankan untuk mereka?

Walau tasmi ini tidak bisa dibandingkan dengan perngorbanan orang tua kami, namun kami hadiahkan tasmi ini untuk kedua orang tua kami, semoga dengan ini kami bisa sedikit memberikan kebagaiaan bagi mereka” Tutur Ananda Muhammad Idris Abdussalam

Dalam penutupan acara semaan tersebut disampaikan juga tausiyah nasehat kepada para santri oleh ustadz Abu Huraerah, B.A, M.A. hafidzahullah ta’ala tentang Penjagaan Allah terhadap Al-Quran, Hafal Al-Quran adalah standar dasar untuk menjadi seorang ulama serta motivasi agar selalu memurojaah hafalan Al-Quran sebanyak mungkin.

Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan bagi para santri untuk istiqomah dalam menghafal dan menjaga hafalan Al Quran. (redaksihq/hamalatulquran.com)

Galeri Simakkan Hafalan Al-Qur’an 30 Juz Dalam Dua Hari:

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.2) : Faidah Agung Mempelajari Asmaul Husna

0

Semua ilmu tentunya memiliki faidah masing-masing, dan faidah dalam mempelajari al-Asmaa al-Husnaa merupakan faidah yang amat besar, yang dapat merubah kehidupan seseorang menjadi lebih beriman dan bertaqwa kepada Allah Ta’aala.

Diutusnya para nabi dan rasul adalah dengan tujuan mendakwahkan ketauhidan Allah Ta’aala, kemudian menjelaskan jalan agar kita bisa mentauhidkan Allah, dan menjelaskan balasan yang Allah Ta’ala siapkan bagi orang yang mau mengikuti jalan tersebut. Oleh karnanya berkata Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullahu ta’aala berkata :

ان دعوة الرسول تدور على ثلاثة أمور, الأصل الأول : تعريف الرب المدعو اليه بأسمائه وصفاته وأفعاله, الأصل الثاني: معرفة طريقة الموصلة اليه , وهي ذكره وشكره وعبادته التي تجمع كمال حبه و كمال الذل له, الأصل الثالث : تعريفهم ما لهم بعد الوصول اليه في دار كرامته من النعيم الذي أفضله وأجله رضاه عنهم و تجليه لهم و رؤيتهم وجهه الأعلى وسلامه عتيهم و تكليمه إياهم

“Sesungguhnya dakwah para rasul meliputi tiga perkara dasar yang pertama : mengenal rabb yaitu Allah subhanahuwata’aala dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah dan juga perbuatanya, dasar yang kedua : mendakwahkan tatacara agar kita bisa mengenal rabb Allah subhanahuwata’aala yaitu dengan mengingatnya mensyukuri nikmatnya dan beribadah kepadanya yang semua itu dapat menumbuhkan kesempurnaan rasa cinta kepada Allah dan kesempurnaan ketundukan seorang hamba kepada Allah, dasar yang ketiga : memberitahukan kepada hamba-hambanya apa yang telah Allah siapkan untuk mereka (dengan kecintaan dan ketundukannya) di dalam kemuliaan syurga dan seluruh kenikmatannya yang sempurna lagi memuliakan para penghuninya disebabkan karna keridhoan mereka terhadap Allah Ta’ala dan juga kenikmata memandang wajah sang kholiq Allah Ta’ala  merupakan kenikmatan yang paling mulia dan ucapan slaam kepada mereka” (Ash-Shawa’iq Al-Mursalah 4/1489)

Maka mempelajari tauhid beserta nama-nama dan sifat-sifat-Nya merupakan faidah yang sangat besar, mengamalkan sekaligus melanjutkan tujuan di utusnya para rasul ke muka bumi ini. Dengan mengenal Allah Ta’ala seseorang akan tumbuh rasa cinta pengharapan (rojaa) dan juga rasa takut (khouf), pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang” berarti siapa yang mengaku cinta Allah cinta rasul akan tetapi belum mengenalnya, maka dia belum mencintai Allah sebagaimana mestinya, bukti kecintaan adalah minimal dia mengenal siapa yang dia cintai.

Ahmad bin ‘Ashim al-Anthoqy rahimahullah berkata:

من كان لله أعرف كان منه أخوف

Siapa yang lebih mengenal Allah maka dia lebih takut kapadanya”

Tatkala seseorang mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifatnya, dia akan cenderung menjauhi larangan larangannya, karena dia tau siapa yang dia maksiati, dengan menganal maha agungnya Allah maka seseorang akan berfikir tentang betapa agungnya Allah bukan memikir dosa dan hukuman dari kemaksiatan tersebut.

Syeikh Muhammad Al amin syinqithy rahimahullah berkata: “Perkara yang paling mencegah seseorang dari berbuat kemaksiatan adalah dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

 

Allah subhanahu wata’aala berfirman:

إنما يخشى الله من عباده العلماء

Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir : 28)

Ibnu katsir rahimahullah berkata mengomentari ayat tersebut

لأنه كانت المعرفة للعظيم العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنا كلما كانت المعرفة أتم و العلم به أكمل كانت الخشية له أعظم و أكثر

Jika pengetahuan hamba terhadap Allah yang maha agung, yang disifati dengan sifat-sifat sempurna, yang disifati dengan nama-nama terindah semakin besar dan luas, maka rasa takutnya kepada Allah semakin besar dan semakin tinggi.”

Betapa besar faidah mempelajari al-Asma’ al-Husnaa, sangat di sayangkan jika kita lalai dari mempelajari ilmu yang agung ini

insyaallah akan bersambung Wallahu alam bisshowaab

Referensi: Kitab fiqih al asmaa al husnaa karya syeikh Abdurrozzaq bin Abdul muhsin al-Abbad al badr hafidzohullahu ta’aala.

 

Ditulis Oleh: Baduzzaman, Lc

 

donatur-tetap

Syaban, Pemanasan Sebelum Ramadhan

0

Tak terasa kini kita telah berada di bulan Syaban tinggal beberapa pekan lagi kita akan berjumpa dengan bulan Ramadhan insyaallah, bulan yang dianti-nanti oleh setiap orang yang beriman.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

ولما كان شعبان كالمقدمة لرمضان شرع فيه ما يشرع في رمضان من الصيام وقراءة القرآن ليحصل التأهب لتلقي رمضان وترتاض النفوس بذلك على طاعة الرحمن

“Sya’ban adalah bagaikan mukadimah untuk Ramadhan. Maka disyariatkan padanya apa yang disyariatkan pada bulan Ramadhan berupa puasa dan membaca Al-Qur’an agar jiwa kita siap saat menyongsong Ramadhan, dan terbiasa untuk mentaati Ar-Rahman.” (Lathaiful Ma’arif hlm. 248)

Sahabat seiman yang semoga Allah Ta’ala rahmati, maka jelas sudah bahwa bulan syaban adalah muqoddimah atau bulan pemanasan menuju bulan Ramadhan. Amal ibadah seperti berpuasa dan membaca Al-Quran sangat dianjurkan untuk senantiasa dikerjakan pada bulan ini, oleh karena itu setiap muslim hendaknya mulai giat beribadah dan beramal shalat dari bulan ini bukan dari tanggal 1 ramadhan sampai akhir Ramadhan saja.

Potren Puasa Nabi di Bulan Syaban

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dibanding puasa beliau di bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1969)

Di dalam hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban bahkan beliau lebih banyak berpuasa dibanding bulan-bulan selainnya.

Di dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Tidak pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Bahkan beliau puasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari no.1970)

Hadits diatas pun menunjukkan akan kekhususan bulan Sya’ban untuk memperbanyak puasa di dalamnya dibanding bulan-bulan lain serta menunjukkan akan keutamaan puasa di bulan syaban dibanding puasa di bulan lainnya.

Ibnu Rajab rahimahullaha berkata:

فظهر بهذا أفضل التطوع ما كان قريبا من رمضان قبله وبعده وذلك يلتحق بصيام رمضان لقربه منه وتكون منزلته من الصيام بمنزلة السنن الرواتب مع الفرائض قبلها وبعدها فيلتحق بالفرائض في الفضل وهي تكملة لنقص الفرائض وكذلك صيام ما قبل رمضان وبعده فكما أن السنن الرواتب أفضل من التطوع المطلق بالصلاة فكذلك صيام ما قبل رمضان وبعده أفضل من صيام ما بعد منه

“Puasa di bulan Sya’ban lebih utama dibanding puasa di bulan-bulan haram. Dan sebaik-baik ibadah sunnah adalah jika telah mendekati bulan Ramadhan baik sebelum atau sesudahnya. Perumpamaannya seperti ibadah sunnah rawatib yang mengiringi ibadah wajib sebelum atau sesudahnya. Dan hal ini untuk menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib. Demikian pula dengan puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Sebagaimana ibadah sunnah rawatib itu lebih afdhal daripada ibadah sunnah yang mutlak seperti dalam shalat maka puasa sebelum dan sesudah Ramadhan itu lebih afdhal daripada puasa yang jauh darinya.”

Hikmah Disyariatkannya Memperbanyak Ibadah di Bulan Syaban
  1. Puasa pada bulan syaban semisal puasa qobliyah sebelum Ramadhan.
  2. Memperbanyak ibadah di bulan syabak sejatinya untuk pemanasan di bulan Ramadhan, sehingga pada bulan Ramadhan kita dapat beribadah dengan maksimal dari awal bulan hingga akhir bulan.
  3. Amal ibadah itu, semakin sesuai dengan petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam paka pahalanya semakin besar.
  4. Syaban adalah ujian bagi kita, apakah kita bisa mulai memanaskan diri sebelum ramadhan ataukah tidak.

 

Referensi: Lhataiful Maarif, karya Ibnu Rajab Rahimahullah

 

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.1) : Urgensi Mempelajari Asmaul Husna

0

Sesungguhnya pemahaman dalam ilmu al-Asmaa al-Husnaa termasuk dari pembahasan yang paling mulia, dan menjuarai makna yang terkandung dalam sabda rosul sholallohu’alaihi wasallam

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقهْهُ فِيْ الديْنِ

“Barang siapa yang Alloh inginkan kebaikan padanya maka akan di fahamkan dalam perkara agama.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Maka pemahaman yang paling mulia adalah mempelajari dan menelaah nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wata’aala. Suatu ilmu diukur kemuliaannya dengan melihat pokok pembahasanya, dan mempelajari tentang al-Asmaa’ al-Husna adalah ilmu termulia, karena membahas tentang Allah subhanahu wata’aala,

Para ulama berkata:

 شَرَف العِلْم بِشَرف المعلوم

“Kemuliaan ilmu tergantung dengan kemuliaan yang di pelajarinya”

Maka ilmu al-Asma al-Husnaa adalah ilmu termulia dari semua ilmu-ilmu yang ada di muka bumi ini, karena membahas tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, dan hal tersebut terindikasi dengan hal-hal berikut ini:

1. Di dalam Alqur’an sangat banyak menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat Alloh melebihi penyebutan hari kiamat, penyebutan Syurga, penyebutan hukum-hukum dan lain lain, bahkan hampir setiap lembar dalam Alqur’an ada penyebutan nama Alloh.

2. Ayat teragung di dalam Al Qur’an adalah ayat kursy, hal tersebut di karenakan ayat kursy hanya membahas nama-nama dan sifat-sifat alloh secara murni

3. Surat teragung didalam Al Qur’an adalah surat Al fatihah disebut juga dengan ummulqur’an(induk Al qur’an) , karena surat Al fatihah dibuka dengan nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang mulia

4. Surat yang sepadan dengan sepertiga Al qur’an adalah surat Al ikhlash, Sebagian ulama menyebutkan karena ukhlishot lillah ta’aala dikhususkan surat Al ikhlash membahas tentang Alloh subhanahuwata’aala

Banyak dalam ayat-ayat Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk mempelajari dan menelaah al-Asmaa’ al-Husnaa yaitu nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahuwata’aala  yang mulia.

Allah subhanahu wata’aala  berfirman dalam surat Al-Baqarah:

فَاعْلَمُو أَن اللهَ عَزِيْز حَكِيْم

“Maka ketahuilah kalian bahwasannya Alloh maha perkasa maha bijaksana” (QS. Al-Baqarah : 209)

Allah subhanahu wata’aala  juga berfirman:

  واعلمو أن اللهَ سَمِيْع عَلِيْم

“Dan ketahuilah kalian bahwasannya Alloh maha mendengar maha mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 244)

Allah subhanahu wata’aala juga berfirman masih dalam surat Al-Baqarah ayat 233 :

  واعلمو أن الله بِمَاتَعْمَلُوْنَ بَصِيْر

“Dan ketahuilah kalian bahwasannya Allah maha melihat terhadap yang kalian lakukan” (QS. Al-Baqarah : 233)

Allah subhanahu wata’aala  juga berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 98 :

اعلموأن الله شَدِيْدُ العِقَابِ وَ أَن اللهَ غَفُوْر رَحِيْم

“Ketahuilah kalian bahwasannya Allah maha keras siksanya dan bahwasannya Alloh maha pengampun maha penyayang.” (QS. Al-Maidah : 98)

Ayat yang semisalnya kurang lebih sekitar 30 ayat yang memerintahkan kita untuk mempelajari ilmu al-Asmaa al-Husnaa, dengan mempelajarinya sehingga kita bisa memuliakan Allah dengan semestinya,  dan terhindar dari menyebut nama Allah dengan nama-nama yang tidak Allah ridhai.

Maka mempelajari al-Asmaa al-Husnaa adalah suatu kewajiban setiap muslim karena Allah subhanahu wata’aala yang memerintahkannya secara langsung dalam ayat-ayat Al-Quran, insyaalloh akan bersambung wallohu a’lam bisshowaab

Referensi: kitab fiqih al asmaa al husnaa yang di karang oleh syeikh ‘abdurrozzaq bin ‘abdul muhsin al ‘abbad al badr hafidzohullohu ta’aala.

Ditulis Oleh : Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Penyakit-Penyakit Lisan

0

Allah Ta’ala telah memberikan kepada manusia nikmat yang banyak, dan diantara nikmat agung tersebut adalah nikmat dapat berbicara dengan lisan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,” (QS. Al-Ahzab: 70)

Sejatinya lisan itu bagaikan pedang yang bermata dua, apa bila digunakan dalam ketaatan kepada Allah semisal membaca Al-Quran, amar maruf nahi munkar, membantu orang yang terdhzalimi maka ini sejatinya adalah yang dituntut dari setiap muslim, dan ini menjadi bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala atas nikmat tersebut.

Adapun orang yang menggunakannya untuk mentaati setan, semisal memecah belah kaum muslimin, berdusta,gghibah, adu domba dan hal-hal lain yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka itu adalah perkara yang haram dilakukan oleh setiap muslim, bahkan semua itu adalah bentuk kufur atas nikmat lisan.

Sejatinya lisan itu memiliki dua pokok penyakit, yaitu:

  1. Penyakit berupa perkataan yang batil.
  2. Penyakit berupa diam dari kebenaran.

Orang yang diam dari kebenaran maka dia laksana setan yang, durhaka kepada Allah Ta’ala, terkadang ia korbankan agamanya demi meraih dunia. Adapun orang yang berbicara dengan batil makai a laksana setan yang berbicara, ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dan kebanyakan manusia tergelincir baik dengan diam atai bicaranya kedalam dua model penyakit ini. Muslim yang bai kia akan menjaga lisannya dari berbagai keburukan, dia berusaha menggunakannya dalam hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

Sungguh penyakit lisan adalah penyakit yang amat berbahanya bagi setiap orang, karena manusia bisa menahan dirinya untuk tidak makan dan minum dari yang haram, menahan diri dari zina, mencuri dan dosa-dosa lainnya.Namun ia selalu sulit untuk menjaga diri dari dosa lisan.

Sampai-sampai orang yang diannggap bertaqwa, zuhud dan ahli ibadah mereka terkadang berbicara dengan kalimat-kalimat yang Allah Ta’ala murkai

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sungguh penyakit lisan ini amat berbahaya baik bagi individu, masyarakat atau umat Islam secara umum. Maka sebagai seorang muslim yang baik kita haruslah senantiasa menjaga lisan, selain dapat menjaga diri kita dari berbagai keburukan babi orang-orang yang menjaga lisannya dengan baik Nabi shallallahu alaihi wasallam telah jamin bagi mereka surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 من يضمَنْ لي ما بين لَحيَيْه وما بين رِجلَيْه أضمنُ له الجنَّةَ

“Barangsiapa yang menjamin untukku untuk menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya (lidah) dan di antara dua kakinya (kemaluan) maka menjamin untuknya surga”. (HR. Bukhari no.6474)

Referensi: Aafatu Al-Lisan fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah, karya syaikh Sa’id bin Ali Al-Qathani

 

donatur-tetap

Halaqoh Al-Quran di Masjid Besar Sleman Kota (MBSK)

0

HAMALATULQURAN.COM – Sleman, Sabtu pekan pertama dan ketiga menjadi waktu yang selalu dinanti oleh seluruh santri pondok pesantren Hamalatul Quran 2 Sleman, pasalnya setiap sabtu pagi tersebut pada tiap bulannya halaqoh bada subuh dilaksanakan di Masjid Besar Sleman Kota (MBSK).

Selepas shalat subuh berjamaah di masjid pondok, para santri dan asatidzah berjalan bersama-sama menuju Masjid Besar Sleman Kota (MBSK), sesampainya disana para ustadz mulai duduk di tiang-tiang yang ada kemudiab disusul santri-santri anggota halaqohnya duduk melingkari ustadz pengampu halaqoh quraniyyah masing-masing.

Selesai halaqoh santri diberikan waktu 30 menit untuk berbelanja di pasar Sleman yang kebetulan telaknya tepat di depan MBSK untuk berbelanja kebutuhan atau sekedar membeli jajanan pasar atau yang lainnya. Hal ini menjadi penyemangat tersendiri bagi santri ketika halaqoh di MBSK sehingga momen halaqoh di MBSK adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua santri dan sayang untuk dilewatkan.

Seusai halaqoh terkadang ada muhsinin yang berbagi makanan untuk para santri, seorang penjual gorengan yang dikenal dengan nama GORENGAN KHAS SOLO yang berjualan tepat disamping MBSK. Dengan gorengan khasnya berupa donat, pisang manis, cahkwe dll dengan rasa khas yang tidak membuat bosan bagi penikmatnya. Memanggil santri dengan kalimat merendah ” mas ini ada rizki dari Allah” begitu beliau biasa memanggil santri saat menyerakhan gorengannya. MasyaAllah jazaahumullah khoiro semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan dan memberkahi rizki dan perniagaannya.

“Dengan adanya agenda ini, yaitu halaqoh di luar pesantren diharapkan dapat membuat para santri lebih akrab dengan warga sekitar serta menjadi kesenangan dan hiburan tersendiri bagi para santri. Disisi lain kami berharap dengan adanya agenda ini membuat para santri merasakan tempat dan suasana baru dalam menghafal Al-Quran sehingga santri tidak merasa jenuh dalam menghafal Al-Quran.” tutur ustadz Muhammad Sufyan, Lc selaku Kabag. Tahfidz Hamalatul Quran Sleman

Kegiatan ini sejatinya adalah hasil kerjasama pengurus pondok pesantren Hamalatul Quran Sleman dengan pengurus Masjid Besar Sleman Kota (MBSK). Semoga kedepannya Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sleman bisa bekerja sama kembali dengan Masjid Besar Sleman Kota (MBSK) dalam kegiatan-kegitan lainnya  yang tentunya bermanfaat untuk para santri dan juga warga sekitar.

 

 

donatur-tetap