Home Aqidah Pembagian Tauhid Bag.1

Pembagian Tauhid Bag.1

475
0

Pembaca yang budiman… Iman adalah harta paling berharga yang ada pada diri seseorang, tanpanya seseorang tidak akan mengetahui tujuan hidupnya; kemana harus berlayar dan dimana dia akan berlabuh. Di antara rukun iman yang paling penting dan mendasar adalah iman kepada Allah ta’ala, maka iman kepada Allah diletakkan paling pertama dari rukun-rukun iman yang ada. Perlu diketahui bahwa iman kepada Allah tidak berguna jika tidak memiliki tauhid kepadaNya. Lantas apa itu tauhid…? Berikut penulis akan membahas dalam artikel singkat ini.

Pembaca yang budiman

Tauhid merupakan inti hikmah dari terciptanya kita manusia, sebagaimana firman Allah ta’ala

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (Q.S Adz Dzariyat : 56)

Tauhid adalah seorang hamba mengesakan Allah di dalam hak-hakNya atau di dalam hal yang menjadi kekhususanNya; rububiyah, uluhiyah dan asma’ was shifat, maka para ulama ahlus sunnah wal jamaah telah meneliti dan menelaah dari ayat-ayat alquran dan hadits-hadits nabi bahwa tauhid terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:

1. Tauhid Rububiyah.

Yaitu mengesakan Allah di dalam perbuatanNya. Rububiyah diambil dari kata Robb yang mempunyai makna dzat yang maha pencipta, merajai/memiliki dan mengatur.

Tidak ada yang menciptakan kecuali Allah

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Allah pencipta segala sesuatu”. (Q.S Az Zumar : 62)

Tidak ada yang memiliki dan merajai alam semesta ini kecuali Dia

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”  (Q.S Al Mulk : 1)

Tidak ada yang mengatur alam semesta ini dari ujung langit hingga ujung dunia kecuali Allah semata

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi,”…. (Q.S As Sajadah : 5)

Inti dari tauhid ini adalah mengimani bahwa Allahlah yang menciptakan, memelihara, memiliki, merajai dan mengatur alam semesta ini tanpa ada yang ikut andil di dalamnya, sebagaimana firmanNya

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِین

“Segala puji bagi Allah, Rob seluruh alam.” (Q.S Al Fatihah  : 2)

Tauhid macam ini telah diakui oleh orang musyrikin dahulu, tetapi tidak cukup untuk menjadikan mereka masuk islam,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ  لَيَقُولُنَّ اللَّهُ.

“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” (Q.S Luqman : 25)

وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ یُؤۡفَكُونَ

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan Bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (Q.S Al-Angkabut : 61)

Bahkan tauhid macam ini tidak ditemukan golongan dari manusia yang mengingkarinya, kecuali segelintir saja, semua hati difitrohkan untuk mengimaninya, keyakinan hati akan adanya tuhan lebih besar daripada keyakinan hati kepada yang dilihatnya dari alam semesta, sebagaimana sabda para rosul yang Allah ceritakan dalam alquran

قَالَتْ رُسُلُهُمْ اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ

“Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?”. (Q.S Ibrohim : 10)

Mereka yang tidak mengakui adanya tuhan/Allah pengatur alam semesta ini, hanyalah muncul dari kesombongan dan keangkuhan belaka, dalam hati tetap yakin, sebagaimana sabda nabi Musa kepada fir’aun yang Allah abadikan dalam alquran

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ اَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ بَصَاۤىِٕرَۚ

“Dia (Musa) menjawab, “Sungguh, engkau benar-benar telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata” (Q.S Al Isro’ : 102)

Pengikraran dan pengakuan mereka akan hal Rububiyah Allah ini tidak menyelamatkan mereka dari adzab Allah dan tidak menjadikan mereka muslim apalagi menjadi wali, maka jika ada orang yang meyakini bahwa ada selain Allah baik itu wali, dewi, nabi maupun malaikat yang ikut andil dalam mengatur alam semesta ini, maka dia lebih jahil dari pada orang musyrik dahulu.

Bersambung…

 

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here