Home Artikel Syaban, Pemanasan Sebelum Ramadhan

Syaban, Pemanasan Sebelum Ramadhan

775
0

Tak terasa kini kita telah berada di bulan Syaban tinggal beberapa pekan lagi kita akan berjumpa dengan bulan Ramadhan insyaallah, bulan yang dianti-nanti oleh setiap orang yang beriman.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

ولما كان شعبان كالمقدمة لرمضان شرع فيه ما يشرع في رمضان من الصيام وقراءة القرآن ليحصل التأهب لتلقي رمضان وترتاض النفوس بذلك على طاعة الرحمن

“Sya’ban adalah bagaikan mukadimah untuk Ramadhan. Maka disyariatkan padanya apa yang disyariatkan pada bulan Ramadhan berupa puasa dan membaca Al-Qur’an agar jiwa kita siap saat menyongsong Ramadhan, dan terbiasa untuk mentaati Ar-Rahman.” (Lathaiful Ma’arif hlm. 248)

Sahabat seiman yang semoga Allah Ta’ala rahmati, maka jelas sudah bahwa bulan syaban adalah muqoddimah atau bulan pemanasan menuju bulan Ramadhan. Amal ibadah seperti berpuasa dan membaca Al-Quran sangat dianjurkan untuk senantiasa dikerjakan pada bulan ini, oleh karena itu setiap muslim hendaknya mulai giat beribadah dan beramal shalat dari bulan ini bukan dari tanggal 1 ramadhan sampai akhir Ramadhan saja.

Potren Puasa Nabi di Bulan Syaban

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dibanding puasa beliau di bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1969)

Di dalam hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban bahkan beliau lebih banyak berpuasa dibanding bulan-bulan selainnya.

Di dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Tidak pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Bahkan beliau puasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari no.1970)

Hadits diatas pun menunjukkan akan kekhususan bulan Sya’ban untuk memperbanyak puasa di dalamnya dibanding bulan-bulan lain serta menunjukkan akan keutamaan puasa di bulan syaban dibanding puasa di bulan lainnya.

Ibnu Rajab rahimahullaha berkata:

فظهر بهذا أفضل التطوع ما كان قريبا من رمضان قبله وبعده وذلك يلتحق بصيام رمضان لقربه منه وتكون منزلته من الصيام بمنزلة السنن الرواتب مع الفرائض قبلها وبعدها فيلتحق بالفرائض في الفضل وهي تكملة لنقص الفرائض وكذلك صيام ما قبل رمضان وبعده فكما أن السنن الرواتب أفضل من التطوع المطلق بالصلاة فكذلك صيام ما قبل رمضان وبعده أفضل من صيام ما بعد منه

“Puasa di bulan Sya’ban lebih utama dibanding puasa di bulan-bulan haram. Dan sebaik-baik ibadah sunnah adalah jika telah mendekati bulan Ramadhan baik sebelum atau sesudahnya. Perumpamaannya seperti ibadah sunnah rawatib yang mengiringi ibadah wajib sebelum atau sesudahnya. Dan hal ini untuk menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib. Demikian pula dengan puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Sebagaimana ibadah sunnah rawatib itu lebih afdhal daripada ibadah sunnah yang mutlak seperti dalam shalat maka puasa sebelum dan sesudah Ramadhan itu lebih afdhal daripada puasa yang jauh darinya.”

Hikmah Disyariatkannya Memperbanyak Ibadah di Bulan Syaban
  1. Puasa pada bulan syaban semisal puasa qobliyah sebelum Ramadhan.
  2. Memperbanyak ibadah di bulan syabak sejatinya untuk pemanasan di bulan Ramadhan, sehingga pada bulan Ramadhan kita dapat beribadah dengan maksimal dari awal bulan hingga akhir bulan.
  3. Amal ibadah itu, semakin sesuai dengan petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam paka pahalanya semakin besar.
  4. Syaban adalah ujian bagi kita, apakah kita bisa mulai memanaskan diri sebelum ramadhan ataukah tidak.

 

Referensi: Lhataiful Maarif, karya Ibnu Rajab Rahimahullah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here