Home Blog Page 42

Menebar Salam Meniti Jalan Menuju Surga

0

Saudaraku pembaca yang budiman…

Iman adalah harta yang paling berharga dikehidupan ini, tanpanya maka tidak ada petunjuk untuk hidup yang baik dan tidak ada arahan untuk berjalan yang penuh dengan makna.

Iman adalah kunci kebahagiaan seseorang dan kunci utama untuk bisa masuk surga abadi, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menggantungkan masuknya surga dengan keimanan.

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا

Kalian tidak akan pernah masuk surga hingga kalian beriman”. (HR. Muslim)

Dan juga beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menggantungkan keimanan seseorang dengan saling mencintai

وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai” (HR. Muslim)

Cinta, kasih sayang dan saling menghormati bisa menimbulkan keimanan yang kuat dan sempurna, rasa kasih sayang seseorang kepada saudaranya kaum muslimin manjadi tolak ukur kesempurnaan seseorang

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

”Tidaklah di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya seperti  ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menunjukkan bahwa rasa cinta dan kasih sayang termasuk kesempurnaan iman seseorang, dan bahwa iman tidak akan menjadi sempurna hingga dia mencintai saudara sesama muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tips dengan sebuah amalan, jika hal itu dilakukan maka akan mendorong untuk saling mencintai sesama kaum muslimin. Dalam lanjutan dua hadis di atas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

Maukah kalian aku tunjukkan pada sesuatu, jika dilaksanakan maka kalian akan saling mencintai, Sebarkanlah salam diantara kalian” (HR. Muslim)

Sungguh indah jika salam menjadi buah lisan setiap bertemu sesama kaum muslimin, karena salam akan menunjukan cinta kasih antar mereka. Maka ucapan salam dan menyebarkannya  menjadi salah satu sebab timbul rasa cinta dan kasih sayang.

Menyebarkan salam tidak hanya dianjurkan kepada kaum mulimin yang dikenal saja, melainkan juga kepada mereka yang belum dikenal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika di tanya oleh salah satu sahabatnya

أيّ الإسلام خير؟ قال: تُطعم الطَّعام، وتقرأ السلامَ على مَن عرفتَ، ومَن لم تعرف

“syareat islam manakah yang paling baik ? beliau bersabda : kamu memberi makan dan memberi salam kepada yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR Bukhari dan Muslim)

Termasuk kewajian seorang muslim hendaknya senatiasa berusaha mencari sebab yang menjadikan antar kaum muslimin saling mencintai, menyayangi dan menghormati, bukan sebaliknya.

Pembaca yang budiman…

Semoga anda termasuk orang muslim yang mempunyai rasa cinta kepada saudara sesama muslim lainnya.   Aamiiin.

 

Referensi : Al khishol al mujibah li dukhulil jannah

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

Artikel hamalatulquran.com

donatur-tetap

Empat Bekal Bagi Pengusaha Muslim

0

Berdagang adalah profesi yang mulia dalam Islam. Nabi adalah seorang pedagang dan para sahabat juga mayoritas pekerjaannya adalah berdagang.

Maka menjadi pedagang atau pengusaha adalah jalan mulia dalam mengais rezeki, hanya saja itu harus dikerjakan dengan taqwa serta mengikuti tuntunan syariat sehingga kelak ia tidak menjadi pengusaha yang fajir, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan dalam sabdanya,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا، إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

“Sesungguhnya para pedagang dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang fajir (pendosa), kecuali yang bertakwa kepada Allah, baik lagi jujur.” (HR. At-Tirmidzi no. 1210)

Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan empat bekal pokok bagi siapa saja yang ingin menjadi pengusaha atau pedagang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ، فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِى طُعْمة

“Empat perkara yang seandainya ada pada dirimu, tidak akan merugikanmu hal-hal yang engkau luput dari perkara-perkara dunia: Menjaga amanah, Bicara jujur, Akhlak yang baik, Menjaga ‘iffah pada makanan.” (Silsilah Ash-Shahihah no. 733)

Ini adalah hadis sangat agung yang sepatutnya bagi seorang pengusaha Muslim untuk benar-benar memerhatikannya. Bahkan sudah semestinya hadis ini disebarkan di tengah-tengah para pengusaha, toko-toko, perusahaan-perusahaan, sehingga dapat memerbaiki siapa saja yang bergelut di dunia perdagangan, kinerja, dan metode mereka di dalam hal jual beli dan muamalahnya. Yang demikian itu adalah menjadikan empat perkara ini sebagai asas pedoman pokok yang tidak bisa ditawar sebesar apa pun keuntungannya.

Berikut empal bekal bagi pengusaha yang diambil dari hadis di atas:

1. Menjaga Amanah

Seorang muslim haruslah menjadi seorang yang amanah pada muamalahnya. Tidak menipu, tidak curang, tidak berbuat makar. Selalu amanah di dalam menjaga hak-hak manusia. Amanah di dalam mengembalikan harta-harta mereka. Dia tidak mengabaikan hak-hak orang lain. Bahkan menjaganya dengan baik, apa yang menjadi hak dari amanah tersebut.

Seseorang yang masuk kepada dunia usaha akan diuji, apakah dia akan menjaga amanah. Atau justru dia mengabaikannya untuk mendapatkan harta, atau sesuatu dari kemegahan dunia?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah orang yang memberikan amanah tersebut kepadamu, dan janganlah khianati orang yang mengkhianatimu!” (HR. Abu Daus no. 3535)

 

2. Berkata Jujur

Pengusaha muslim yang baik ia tidak berdusta, bahkan menjaga dirinya untuk senantiasa jujur. Ketika dia berbicara tentang usahanya kepada orang lain, dia selalu jujur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Berhati-hatilah kalian dari dusta! Karena dusta akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menyeret ke Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam keadaan dia mengimani dan meyakini, bahwasanya rezeki ada di tangan Allah Subhanahu wa Taala semata, maka tidaklah lembaran-lembaran uang ang di dapat tersebut bisa menghilangkan akhlak jujur yang ada padanya, karena kejujuran adalah pokok yang tidak tergantikan, dan tidak akan dia sia-siakan.

 

3. Akhlak yang Baik

Seorang pengusaha muslim dia harus bermuamalah dengan akhlak yang baik manusia kepada manusia lainnya. Seorang yang berkecimpung di dunia usaha dan jual beli niscaya akan menyaksikan berbagai macam perilaku manusia dan karakter yang berbeda-beda. Bahkan mereka yang bermuamalah sangat buruk sangatlah banyak.

Seringnya berinteraksi dengan manusia di dunia usaha dan muamalah ini akan berpengaruh negatif terhadap akhlak, jika sekiranya dia tidak berupaya untuk menjaga dirinya dengan pedoman yang telah dijelaskan dalam hadis ini, yaitu akhlak yang mulia.

 

4. Menjaga ‘Iffah Pada Makanannya

Di mana dia menjaga kehormatan dirinya pada hal makanannya. Yaitu dengan berusaha memerolehnya dengan cara yang halal, dan menjauh dari perkara yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka Neraka lebih layak baginya.”

Dia berusaha untuk menjaga makanannya. Yaitu makanan yang terjaga dari perkara yang haram, walaupun setitik noda. Jika pada suatu transaksi terdapat riba, penipuan, atau kecurangan, atau selainnya dari bentuk transaksi yang diharamkan oleh syariat, maka dia menjauh sejauh-jauhnya. Karena dari prinsip utama yang ada padanya adalah menjaga makanannya.

Semoga Allah melindungi kita dari kemungkaran akhlak, kemungkaran amalan dan hawa nafsu. Semoga Allah menganugerahkan untuk kita rezeki berupa harta yang halal dan kehidupan yang sejahtera.

 

Referensi: https://www.al-badr.net/muqolat/3952

 

donatur-tetap

Jadilah Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan

0

Diantara rahmat Allah Ta’ala dalam syariat adalah terdapat balasan nan agung bagi para penyeru kebaikan. Siapa saja yang menyerukan kebaikan, mendakwahi, menasehati seseorang kemudian seseorang tersebut mengamalkan amal tersebut maka yang menunjuki kepada amal shaleh tersebut pun akan mendapatkan pahalanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Dalam hadis yang lain diterangkan bahwa golongan manusia terbaik adalah mereka yang membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang-orang yang ada disekitarnya. Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

 “Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi jalan kebaikan, dan menjadi penutup jalan keburukan. Diantara manusia juga ada yang menjadi jalan keburukan, dan menjadi penutup kebaikan. Maka, berbahagialah orang yang Allah jadikan jalan-jalan kebaikan melalui tangannya. Dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan jalan-jalan keburukan melalui tangannya.” (HR Ibnu Majah no. 237).

Maka barangsiapa ingin menjadikan dirinya sebagai jalan bagi kebaikan, penutup bagi keburukan dan menjadi orang yang beruntung, maka hendaknya ia melakukan beberapa hal berikut;

Pertama, Ikhlas kepada Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan. Karena ia adalah pokok seluruh kebaikan dan sumber segala keutamaan.

 

Kedua, Berdo’a dengan sungguh-sungguh serta memohon kepada Allah taufiq. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan, dan Allah tidak akan menolak seorang hamba yang berdo’a kepadanya, juga tidak akan merugikan seorang mukmin yang memanggilnya.

 

Ketiga, Bersemangat dalam mencari ilmu dan mendapatkannya. Karena ilmu adalah pendorong kepada perbuatan utama dan mulia, pencegah dari perbuatan keji dan dosa-dosa besar.

 

Keempat, Memperhatikan amal-amal ibadah terutama ibadah-ibadah fardhu khususnya shalat, karena ia mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

 

Kelima, Berhias diri dengan akhlak yang mulia dan luhur, serta menjauhi akhlak yang rendah dan tidak terpuji.

 

Keenam, Menyertai orang-orang baik dan bermajlis dengan orang-orang shaleh. Kerena majlis-majlis mereka di hadiri oleh para malaikat dan diliputi rahmat. kemudian berhati-hatilah agar tidak bermajlis dengan orang-orang buruk dan jelek. Kerena majlis-majlis mereka adalah tempat berkumpulnya setan.

 

Ketujuh, Menasehati hamba-hamba Allah saat bercengkrama dan bergaul dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.

 

Kedelapan, Mengingat akhirat, saat bertemu dengan Allah, saat Allah membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan dan membalas orang-orang yang berbuat buruk dengan keburukan. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Sandaran semua itu adalah keinginan kuat seorang hamba dalam meraih kebaikan, mencapai manfaat dan memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah yang lain. Maka, ketika keinginan terpancang, niat teguh, tekad semakin kuat, serta selalu memohon pertolongan kepada Allah, maka seseorang dengan izin Allah akan menjadi jalan bagi kebaikan dan penutup bagi keburukan.

Allah lah yang menguasai hamba-hamba-Nya dengan taufiq-Nya, membukakan bagi siapa saja yang dikehendakinya kebenaran, Dia-lah sebaik-baik pembuka.

Semoga kita menjadi salah satu hamba tersebut. Amin

Referensi: https://www.al-badr.net/detail/Q9N0aydb71

donatur-tetap

Mempersiapkan Generasi Pengabdian yang Handal Melalui Daurah Pembekalan Pra Khidmah

0

Pesantren Hamalatul Quran menyelenggarakan daurah pembekalan pra khidmah untuk santri kelas 12 MA yang baru saja menyelesaikan studi mereka di Madrasah Aliyah guna mempersiapkan mereka dalam menjalankan tugas sebagai pengabdian (khidmah). Program pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 8 hingga 27 Mei 2023 dan dirancang untuk melengkapi para santri kelas 12 MA dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi penganbdian yang efektif di pesantren.

Program ini khusus ditujukan untuk para santri kelas 12 MA yang baru saja menyelesaikan studi mereka di Madrasah Aliyah. Pelatihan bertujuan memberikan alat yang diperlukan bagi para santri kelas 12 MA agar dapat menjadi pendidik yang handal dalam bidang pendidikan Islam.

Acara tersebut diisi oleh beberapa ustadz dan tenaga pendidik dari Pesantren Hamalatul Quran. Dalam acara pembukaan Daurah Pembekalan Pra Khidmah, Ustadz Samhudi menekankan pentingnya kerja sama tim dalam memastikan kesuksesan suatu program.

Program pelatihan pra khidmah meliputi berbagai topik, termasuk metodologi pengajaran, panduan kepengasuhan, manajemen halaqoh dan pembinaan karakter.

Pesantren Hamalatul Quran berencana untuk terus menyelenggarakan program pelatihan pra khidmah untuk para para santri kelas 12 MA yang baru saja menyelesaikan studi mereka di Madrasah Aliyah setiap tahunnya guna memastikan bahwa mereka siap menghadapi tantangan dalam perannya sebagai pengabdian. Pesantren percaya bahwa investasi dalam pengembangan profesional para pendidiknya sangat penting untuk memberikan pendidikan berkualitas dan memastikan keberhasilan misinya dalam memberikan pendidikan Islam bagi generasi mendatang.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan daurah pembekalan pra khidmah:

 

donatur-tetap

Islam Agama yang Mudah

0

Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan. Allah tidak berikan ke susahan untuk umat Islam, demikian pula Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai kadar kemampuan yang ia miliki. Maka syariat Islam ini tidak datang untuk mempersulit dan menyempitkan kehidupan manusia, ia justru datang untuk menjadi rahmat dan kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah, tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam agama, melainkan ia akan terkalahkan.” (HR. An-Nasai no.5049)

Allah Ta’ala berfiman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Syariat Islam hadir dengan berbagai kemudahan bagi setiap muslim, sedikit saja kita tengok kemudahan itu ada dalam perintah shalat. Nabi Saalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak bisa maka duduklah, dan jika tidak bisa maka shalat dengan berbaring” (HR. Bukhari)

Dalam hadis di atas Nampak jelas syariat memberi kemudahan bagi orang yang tidak mampu shalat dengan berdiri makai a boleh mengerjakan dengan duduk, bila pun duduk ia tidak mampu maka boleh mengerjakan shalat dengan berbaring. Sungguh indah dan mulia syariat Islam ini.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Sudah menjadi ijma’ umat Islam bahwa bagi siapa saja yang tidak mampu berdiri untuk melaksanakan shalat fardhu maka dilakukan dengan duduk dan tidak perlu mengulanginya lagi. Teman-teman kami berkata: “Pahalanya tidak berkurang dari pahala shalat dengan berdiri; karena dia memiliki udzur (alasan yang dibenarkan),”

Bila ada yang mengatakan agama Islam adalah agama yang berat, susah atau bahkan agama tetoris, maka katakanlah kepada mereka bahwa Islam adalah agama yang mudah, ilmiyah dan sesuai fitrah manusia yang sesungguhnya ia bukanlah agama yang sulit apalagi teroris.

Syaikh Ali Musthafa Thantawi rahimahullah mengatakan,

“Kata pertama dalam dustur Islam adalah Iqra (bacalah)’, bukan Qatil (bunuhlah)” atau Ightanin (rampaslah) dan juga bukan Saithitr (kuasailah). Karena Islam bukan agama perang, bukan agama harta, juga bukan agama kekuasaan. Tapi Islam adalah agama ilmu, agama yang mengajak untuk berfikir dan agama yang menuntun pada jalan hidayah.

Sungguh Islam agama yang mudah lagi memudahkan, dalam segala perintah yang Allah dan Rasulnya perintahkan pasti ada manfaat atau maslahat bagi hambanya Ketika mengerjakannya, begitupun dalam apa-apa yang Allah dan rasul-Nya larang terdapat kerusakan dan madharat yang mana Allah ingin hamba-Nya jauh dari hal tersebut.

Bila kita tidak tahu tentang adanya manfaat atau tidak atau adanya kerusakan atau tidak di dalam perintah dan larangan dari Allah Ta’ala, itu bukan berarti tidak ada namun hanya saja kita belum mengilmuinya atau ilmu kita masih sedikit sehingga kita belum tahu manfaat dan madharat dari setiap perintah Allah dan Rasul-Nya dalam syariat Islam ini.

 

Referensi:

Rowai’ At-Thanthawi

https://islamqa.info/ar/answers/67934

https://islamqa.info/ar/answers/228189

donatur-tetap

Tiga Macam Hijrah

0

Perintah hijrah sudah dalam Al Quran serta dijelaskan dalam beberapa ayat, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal : 74)

Syikh Shalih bin Abdillah Al Ushoimi hafidzahullah ketika mensyarah kitab Ushul At Tsalatsah beliau berkata,

“Hijrah itu terbagi menjadi tiga, pertama hijrah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk, kedua hijrah meninggalkan negeri yang buruk, ketiga hijrah meninggalkan teman yang buruk.”

1. Hijrah Meninggalkan Perbuatan Buruk.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

المُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّٰه عَنْهُ

“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna dari sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang dimaksud dengan meninggalkan apa-apa yang Allah larang adalah meninggalkan segala bentuk dan macam keburukan, baik itu berupa kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau mengikuti hawa nafsu.

Meninggalkan maksiat yang sudah menjadi kebiasaan seseorang itu pada awalnya akan sangat berat.

Pasti akan timbul rasa rindu ingin kembali melakukan kemaksiatan tersebut, dikarenakan hati sudah menganggap bahwa itulah kebahagiaannya, padahal hakikatnya kebahagiaan tersebut hanyalah kebahagiaan yang semu. Namun, apabila seseorang terus berusaha untuk meninggalkannya, melawan rasa rindu tersebut meski ia harus jatuh bangun dalam proses hijrahnya, suatu ketika ia terjatuh lagi dalam kemaksiatan tersebut, ia menyesal, kemudian ia mencoba lagi,

Bukan malah berputus asa dan pesimis seraya berkata:

“Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan kebiasaan ini”.

Akhirnya ia pun kembali melakukan kemaksiatan tersebut. Disitulah sebetulnya Allah uji kejujuran hati seseorang. Apakah dia betul-betul serius ingin hijrah kepada Allah, ataukah tidak ?

Memang pada awalnya akan susah dan berat, tapi yakinlah, keistiqomahan dan kejujuran hati itulah yang akan menguatkan langkah hijrah.

Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithy mengatakan:

ماتاب عبد لله إﻻ وامتحن الله صدق توبته بتسهيل السبيل للذنب الذي تاب منه

“Tidaklah seorang hamba bertaubat kepada Allah Azza wa jalla, melainkan Allah Azza akan kembali menguji kejujuran taubatnya dengan memudahkan jalan baginya menuju dosa yang pernah dia lakukan sebelumnya.”

2. Hijrah Meninggalkan Negeri yang Buruk.

Hijrah dari negeri yang buruk ini sangatlah ditekankan oleh syariat Islam yakni hijrah dari negeri yang penuh kemusyrikan menuju negeri Islam, namun hal ini hukumnya menjadi wajib dengan adanya 2 syarat :

  1. Mampu untuk hijrah.
  2. Karena dia tidak bisa bebas mensyiarkan atau melaksanakan syariat agama Islam di negeri tersebut.

Bila mana kedua syarat di atas tidak terpenuhi maka hijrah tidak menjadi wajib seseoran tersebut.

3. Hijrah Meninggalkan Teman yang Buruk.

Dalam proses hijrah terkadang kita harus rela mencoret satu persatu orang-orang yang memberikan pengaruh negatif dalam hidup kita, dan pastikan bahwa diri kita dikelilingi oleh orang-orang baik yang dapat memberikan dampak positif dalam hijrah kita serta menjadikan kita semakin dekat dengan Allah Ta’ala.

Pepatah arab mengatakan :

الصَاحِبُ سَاحِبُ

“Teman itu menarik”

Teman yang baik akan menarik dan mengajak kepada hal-hal yang baik sedangkan teman yang buruk cepat atau lambat pun akan menarik kepada hal-hal yang buruk.

Maka saat kita ingin hijrah kita harus siap untuk meninggalkan teman-teman buruk yang memberi dampak negatif tersebut, sehingga kedepannya dia tidak dapat menarik kita menuju hal-hal yang dilarang oleh Allah ta’ala.

Tak perlu risau bila teman anda menjadi berkurang, karena saat anda tulus ikhlas hijrah maka akan Allah datangkan teman-teman baru yang akan menerima dan ridha terhadap anda, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ إِلَّا أَعْطَاكَ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti, pen.) yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad no. 20739)

Maka setelah anda hijrah tetap teguhlah dalam beribadah yang sesuai dengan tuntunan syariat kemudian carilah teman-teman yang shalih yang senantiasa menguatkan anda serta yang siap merangkul dan menggenggam tangan anda untuk berjalan bersama diatas jalan hijrah.

Referensi: Ta’liqoot ‘Ala Tsalatsah Ushul wa Adillatiha syeikh Sholeh bin Abdillah Al ‘Ushoimi hafidzahullah, dengan beberapa tambahan seperlunya.

 

donatur-tetap

Kiat Agar Senantiasa Istiqomah

0

Pembaca yang budiman…

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada sang Penciptanya, kewajiban ibadah tersebut dimulai dari dia baligh ssampai dengan ajal menjemput, itulah tujuan Allah menciptakan manusia, sebagaimana dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”  (QS. Adz Dzaryaat : 56)

Adakalanya manusia dalam beribadah tersebut merasakan futur (malas), hal ini sesuatu yang lumrah jika rasa futur tersebut tidak terus menerus dan segera bangkit kembali, dan menjadi tercela jika futur tersebut menjadi sifatnya. Maka perlu adanya perjuangan untuk senantiasa istiqomah di atas jalan Allah.

Pada artikel berikut ini, insyaAllah penulis akan membagikan kiat agar senantiasa istiqomah di dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah.

1. Usahakan Senantiasa Berteman Dengan Orang-Orang Shaleh Yang Istiqomah Di Atas Jalan Allah.

Manusia dengan tabiatnya akan terbawa dan terpengaruh dengan teman setianya, dengan siapa dia berteman, maka seperti itulah dia berbuat dan bersifat. Jika berteman dengan orang sholeh maka in sya Allah dia akan terbawa kesholehannya, dan sebaliknya, jika berteman dengan orang yang perangainya buruk, maka dia akan terbawa keburukannya. Wal ‘iyadzhu billah.

Berkenaan dengan pertemanan ini, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan dengan gambaran yang sangat mendalam.

إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً، ونَافِخُ الكِيرِ إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Memperbanyak Dzikir Dan Mengingat Allah.

Banyak mengingat Allah akan menjaga hati dan akan menjadikan hamba selalu terikat dengan Allah, sedikit terikatannya dengan gemerlapnya dunia. Allah menganjurkan kepada hamba-Nya yang beriman unuk memperbanyak dzikir kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya”

وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

“dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41-42)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah mengumpamakan antara orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah dialah yang hatinya hidup dan senantiasa ingat akherat, maka hal ini akan mendorong untuk istiqomah di atas jalan Allah.

3. Berdoa Kepada Allah Agar Senantiasa Mendapatkan Hidayahnya

Doa bagi seorang muslim adalah senjata yang paling ampuh untuk mendapat sesuatau yang dia inginkan. Banyak doa yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam agar senantiasa mendapat ketegaran di atas ketaatan, diantaranya :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Diantara sifat orang berilmu adalah selalu berdoa kepada Allah agar senantiasa diberi keteguhan dalam hidayah taufiq-Nya, sebagaimana Allah berfirman,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imron : 8)

4. Jangan Sekali Kali Mencampakkan Diri Ke Dalam Fitnah (Baca: Hal-Hal yang Bisa Membuat Malas Beribadah).

Zaman ini adalah zaman yang penuh dengan fitnah, baik fitnah syubuhat maupun fitnah syahwat, baik yang nampak dengan jelas maupun yang tidak nampak (baca: samar-samar). Suatu kebaikan ketika seseorang mengetahui hal-hal yang bisa menjauhkan dirinya dari ketaatan dan peribadahan kepada Allah sehingga dia bisa menjahuinya sejauh-jauhnya.

Manusia tidak mengetahui seberapa tebal keimanannya, sehingga tidak perlu mencoba ngetes keimanannya dengan menjerumuskan diri ke dalam lubang fitnah. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewanti-wanti untuk menghindar dari fitnahnya dajjal

من سمع بالدجال فلينأ عنه

“Siapa saja yang mendengar Dajjal hendaknya menjahuinya” (HR. Abu Dawud)

Orang beriman tentunya sudah mengetahui bagaimana besar fitnahnya Dajjal, maka ketika Dajjal keluar dengan membawa fitnahnya, maka jangan sekali-kali mencampakkan dirinya ke dalam fitnahnya tersebut.

Pembaca yang budiman…

Inilah segelintir dari kiat-kiat menjaga keistiqomahan di dalam ketaatan kepada Allah, semoga Allah senantiasa menjaga keimanan penulis dan pembaca. Aamiiin.

 

Referensi : ‘Uqudul jummaan fi durusi syahri Romadhon karya Syekh Dr. Sa’ad bin Turki al khotslaan.

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Semangat Baru: Serah Terima Jabatan Jam’iyyah Tholabah untuk Masa Bakti 2023-2024

0

Pada tanggal 7 Mei 2023, Pondok Pesantren Hamalatul Quran melaksanakan serah terima jabatan Jam’iyyah Tholabah untuk masa bakti 2023-2024. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh anggota Jam’iyyah Tholabah yang lama, Jam’iyyah Tholabah yang baru, para santri dan asatidzah Pondok Pesantren Hamalatul Quran.

Tahun ini, terdapat perubahan dalam proses pemilihan anggota Jam’iyyah Tholabah. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana anggota Jam’iyyah Tholabah hanya berasal dari satu angkatan kelas 2 MA, pada tahun ini tidak semua dari kelas 2 MA menjadi Jam’iyyah Tholabah, dan ada beberapa anggota dipilih dari kelas 1 MA untuk bergabung dalam tim.

Acara dimulai dengan sambutan penuh makna dari para asatidzah, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Jam’iyyah Tholabah masa bakti 2022-2023. Ketua lama menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dan kerja keras seluruh anggota selama masa bakti mereka. Selanjutnya, mereka memberikan selamat kepada anggota Jam’iyyah Tholabah baru yang telah dipilih dan memberikan semangat serta doa untuk masa bakti mereka yang akan datang.

Proses serah terima jabatan dipimpin oleh Ustadz Samhudi, kemudian dilakukan secara simbolis oleh Ketua Jam’iyyah Tholabah yang lama kepada Ketua yang baru. Acara tersebut ditutup dengan doa bersama dan harapan agar Jam’iyyah Tholabah Pondok Pesantren Hamalatul Quran terus berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota dan santri yang berada di Pondok Pesantren Hamalatul Quran.

Semoga dengan kehadiran anggota baru dan semangat yang baru, Jam’iyyah Tholabah dapat terus memberikan kontribusi yang besar bagi Pondok Pesantren Hamalatul Quran.

donatur-tetap

Adab Menasehati (Bag.2) : Definisi dan Objek Nasehat

0

Definisi secara bahasa, adalah makna yang di artikan oleh ahli bahasa sesuai dengan bahasa yang di definisikan, maka kata Annashihah النصيحة di definisikan secara bahasa oleh pakar bahasa Arab, Annashihah النصيحة  diambil dari kata nashoha نصح yang memiliki dua makna setidaknya, makna nashoha yang pertama adalah murni, yang kedua adalah menjahit. 

Nasehat bermakna murni maksudnya, tatkala seseorang memberikan nasihat, maka niatnya harus murni, niatnya harus ikhlas karena Alloh ta’aala, benar benar mengharapkan kebaikan terhadap orang yang dinasehati, bukan dengan niatan yang lain, terkadang seseorang menasehati akan tetapi dengan niat untuk menjatuhkannya atau dengan niat mnecela atau dengan niat agar didengar oleh orang-orang, maka nasehatnya hanya berbuah dosa.

Nasehat bermakna menjahit maksudnya, lazimnya seorang penjahit ahli, dia akan menjahit dengan persisi, pelan dan rapi, merekatkan antara satu kain dengan kain yang lain, menasehati dimaknai menjahit adalah adanya kedekatan hubungan antara orang yang menasehati dan orang yang dinasehati, karena nasehat tersebut masuk (atau diharapkan masuk) kedalam hatinya. 

Adapun secara istilah, makna yang di ungkapkan oleh ulama sekaligus pakar dalam bidang disiplin ilmu tersebut, ada bebrapa definisi diantaranya yang dibawakan oleh Imam Alkhotthoby dan Imam Roghib Alasfahany rohimahumalloh

قال الإمام الخطّابي : إرادة الخير للمنصوح له

Berkata Alimam Alkhotthoby : Nasehat adalah “menginginkan kebaikan kepada orang yang di nasehati”

Dalam artian nasehat tersebut ikhlas dari dalam hati, mengharapkan kebaikan dari orang yang dia nasehati.

قال العلماء : إنّ المقول إذا خرج من القلب وقع في القلب

Berkata para ulama : “Sebuah nasehat atau perkataan yang keluar dari hati akan menetap atau masuk kedalam hati”

Definisi kedua dibawakan oleh Alimam Roghib Alashfahany

قال الإمام راغب الأصفهاني : النصح تحرّ فعل او قول فيه صلاح صا حبه

Berkata imam Roghib Alashfahany : “Nasehat adalah memilih perbuatan atau ucapan yang memberikan mashlahat kepada penasehat dan yang menasehati”

Dalam artian nasehat tidak harus dengan ucapan, akan tetapi sikap seseorang yang memberikan peringatan dan kemashlahatan termasuk nasehat.

Adapun objek nasehat disebutkan dalam hadits rosul sholallohu ‘alaihi wasallam secara lengkap, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya,

قال صلى الله عليه و سلّم : الدين النصيحة، لمن يا رسول الله، قال : لله و لكتابه و لرسوله و لأئمة المسلمين و عا متهم

Rosul sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Agama adalah nasehat”para sahabat bertanya “bagi siapa wahai Rosululloh” Rosululloh menjawab “untuk Alloh dan kitabnya Alqur’an dan Rosulnya dan pemerintah dan Masyarakat secara umum”. 

Rosululoh menyebutkan bahwa inti agama adalah memberikan nasehat kepada sesama muslim, sehingga hukum memberikan nasehat adalah wajib pada aslanya, siapa yang mengaku muslim maka minimal pernah memberikan nasehat kepada orang lain.

Dan Rosululloh menyebutkan ada lima objek nasehat yaitu Alloh, Alqur’an, Rosululloh, pemimpin, dan masyarakat umum, bisa kita klasifikasikan menjadi dua bagian, pertama Alloh Alqur’an dan Rosululloh, yang kedua pemimpin dan masyarakat.

Insyaalloh akan di sambung di artikel berikutnya mengenai makna nasehat kepada Alloh ALqur’an dan Rosulnya, juga mengenai nasehat kepada pemimpin dan masyarakat umum. 

wallohu a’lam bisshowaab 

 

Referensi: Syarh bulughul marom kitaabul jaami’hadits pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. Ma,. Hafidzohulloh ta’aala

Ditulis oleh Badruz Zaman, Lc.

donatur-tetap

Buka Puasa Para Santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran

0

Alhamdulillah, dengan limpahan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, acara buka puasa bersama para santri penghafal Al-Quran di Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ) berjalan setiap harinya. Acara ini diadakan di tiga lokasi sekaligus yaitu PPHQ Sanden, PPHQ Kasihan, dan PPHQ Sleman setiap hari dari sebelum berbuka hingga setelah maghrib dengan menu yang beragam setiap harinya.

Acara buka puasa bersama ini merupakan salah satu tradisi di PPHQ yang dijalankan secara rutin setiap tahunnya. Selain untuk mempererat hubungan antar santri, acara ini juga menjadi momen yang sangat dinanti-nanti oleh semua santri. Kegiatan buka puasa bersama ini juga menjadi sarana untuk mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, dan persaudaraan yang tinggi di antara para santri.

Tidak lupa, kami mengucapkan jazakumullahu khairan kepada para muhsinin yang telah memberikan sebagian hartanya sehingga kegiatan buka bersama ini bisa berjalan setiap hari. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberkahi harta dan keluarganya. Kontribusi dari para muhsinin tersebut memberikan dampak yang sangat besar bagi kelancaran acara ini. Selain itu, kontribusi ini juga membantu memenuhi kebutuhan para santri dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Galeri buka puasa Pondok Pesantren Hamalatul Quran:

 

Buka puasa di PPHQ Sanden

 

Buka puasa di PPHQ Kasihan

 

Buka puasa di PPHQ Sleman

donatur-tetap