Home Blog Page 37

Jalan itu Bernama Orang Tua (Bag.3)

0

Apakah jika orang tua sudah tiada (meninggal dunia), seorang anak masih bisa berbakti padanya ?

Pertanyaan di atas akan menjadi topik pembahasan kita pada artikel kali ini.

Berbakti kepada orang tua adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap anak. Lantas bagaimana cara berbakti kepada orang tua sedangkan mereka telah tiada, berikut cara bakti kepada mereka setelah salah satu atau keduanya meninggal dunia:

  1. Menepati Nadzar yang Belum Tertunaikan

Ini adalah perbuatan dan amalan yang shalih untuk berbakti pada orang tua, sahabat Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: ‘Ibuku telah meninggal dan masih ada nadzar yang belum tertunaikan, maka Nabi menjawab : اقضه عنها tunaikan dia untuknya (ibu)’

  1. Mendoakan Mereka Berdua

Mendoakan kedua orang tua tidak hanya berlaku ketika mereka telah tiada saja, tetapi sedari mereka masih hidup dan sehat sudah dianjurkan, dan itu salah satu bentuk amal baik kepada mereka berdua, akan tetapi dalam kondisi mereka telah tiada lebih dianjurkan lagi, karena mereka di alam barzakh/kubur sangat membutuhkan doa dari yang masih hidup, terutama anak-anaknya; untuk menambah nikmat bagi yang mendapat nikmat dan untuk meringankan beban bagi yang mendapatkan beban.

ِوَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّیَانِی صَغِیرࣰا

“Dan ucapkanlah, “Wahai Robku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sejak aku kecil.” (QS. Al Isro: 24)

  1. Memintakan Ampun untuk Mereka Berdua

Istighfar dari anak untuk orang tuanya adalah amalan yang sangat agung dan sangat bermanfaat bagi orang tua yang sudah tiada, Nabi ‘alaihis sholatu was salam pernah bersabda

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ! أَنَّى لِي هَذِهِ؟! فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh Allah ‘azza wa jalla meninggikan derajat hamba yang sholeh di surga, maka dia (hamba) bertanya: ya Robbi dengan apa saya dapatkan ini ?! Maka Allah menjawab: dengan istighfarnya anakmu untukmu.” (HR. Ahmad)

  1. Membayarkan Hutang Mereka Berdua

Orang meninggal akan tertahan dari masuk surga karena hutang yang belum terlunasi sampai benar-benar terlunasi. Tidak pula orang tua yang meninggal dan masih punya hutang, maka seorang anak yang cerdas tidak rela jika orang tuanya harus ditunda untuk masuk surga dikarenakan hutang yang belum terbayar. Maka hendaknya orang tua ketika sudah dekat ajalnya memberi wasiat dan memberi tahu tentang tanggungannya yang belum terlunasi, sehingga anak-anaknya bisa melunasinya.

  1. Bershodaqoh untuk Mereka Berdua

Hal ini berdasarkan kisah Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, tatkala ibunya meninggal sedang dia (Sa’ad) dalam keadaan tidak di rumah, maka dia bertanya kepada Nabi ‘alaihis shalatu was salam, ibuku meninggal dan saya tidak sedang di rumah, apakah bisa memberi manfaat kepada ibuku jika aku shodakoh untuknya? Beliau menjawab: iya, ” (HR Bukhari)

  1. Berbuat Baik kepada Teman Mereka Berdua

Menjalin ukhuwah (pertemanan) yang telah dibangun oleh orang tua, termasuk berbuat baik kepada orang tua setelah kepergian mereka untuk selamanya.

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sungguh termasuk perbuatan yang paling baik, yaitu menyambung shilah (rantai) keluarga teman karib kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)

Termasuk amalan yang akan senantiasa diraih oleh orang tua pahalanya, dan seorang anak bisa terus berbakti kepada mereka berdua yaitu dengan menjalankan apa yang telah diajarkan oleh orang tua selagi mereka masih hidup dahulu, karena  seorang anak menjadi usaha orang tuanya, hal ini masuk ke dalam keumuman sabda Nabi ‘alaihis sholatu was salam

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا

“Siapa saja yang  mengajak kepada hidayah(kebaikan), maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim)

Maka hendaknya orang tua tidak lupa mengajarkan kebaikan kepada anaknya, agar selalu mendapatkan pahala walau jasad telah terkubur.

Ya Allah ampunilah kami dan kedua orang tua kami, sayangilah kami dan kedua orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami sejak kecil. Aaamiiiin

Referensi:

  • http://islamway.net
  • mawdoo3.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) Di Madrasah Aliyah Hamalatul Quran Bantul

0

HAMALATULQURAN.COM – Bantul, Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) Tahun 2023 berlangsung di Madrasah Aliyah Hamalatul Quran, pada Sabtu (21/10/2023) bertempat di ruang aula MA Hamalatul Quran, Bantul.

Penilaian kinerja kepala madrasah (PKKM ) merupakan proses evaluasi yang dilakukan oleh Tim Penilai dari kementrian agama yang bertujuan untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginterpretasi data tentang kualitas kinerja kepala Madrasah dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala madrasah.

Kinerja kepala madrasah dalam penilaiannya dinilai berdasarkan 6 komponen penilaian, komponen tersebut meliputi:

1. Kepribadian dan Sosial
2. Usaha Pengembangan Madrasah
3. Pelaksanaan Tugas Manajerial
4. Pengembangan Kewirausahaan
5. Supervisi Guru dan Tendik
6. Hasil Kinerja Kepala Madrasah

Hadir dalam kegiatan PKKM sebagai tim penilai Ibu Heni Prilantari, S.Pd., M. Pd. selaku penilai 1 dan Bapak H. Drs. Mugiyanta, M. Si. selaku penilai 2.

Dalam sambutanya Zusuf Affandi, B.A. selaku kepala MA Hamalatul Quran menyampaikan sangat bersyukur dengan dilaksanakannya PKMM.

“Kami sangat bersyukur dengan diadakannya penilaian kinerja kepala madrasah ini, karena dengannya kita akan mengetahuai sejauh mana pencapaian sebagai kepala madrasah dan hal-hal yang baik akan terus dikembangkan dan yang kurang akan terus dievaluasi”, jelasnya.

Selanjutnya Zusuf menyampaikan “kami mewakili guru dan tenaga kependidikan MA Hamalatul Quran mengucapkan terimakasih kepada Tim Penilai dari Kemenag Bantul, semua kritik dan saran dari Tim Penilai akan kami jadikan sebagai acuan untuk evaluasi mendatang”. (Zuf)

donatur-tetap

Mulailah Mengucapkan Salam

0

Diantara sunnah yang mulai memudar dikalangan kaum muslimin adalah mengucapkan salam kepada saudara kita, lebih-lebih terhadap yang belum kita kenali, kita mungkin merasa canggung, padahal rasul shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita agar mengucapkan salam kepada saudara kita seiman, baik yang kita kenali maupun yang tidak kita kenali.

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن أَوْلَى الناس بالله من بَدَأَهُمْ بالسلام. وفي رواية للترمذي: قيل: يا رسول الله، الرَّجُلان يَلْتَقِيَان أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بالسلام؟، قال: أَوْلاهُمَا بالله تعالى.

Dari Abu Umamah raḍiyallāhu ‘anhu dia berkata, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang memulai salam.” (HR. Abu Dawud)

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Umamah raḍiyallahu ‘anhu, ada yang bertanya, “Ya Rasulullah! Jika ada dua orang yang berjumpa, siapa yang mengawali salam?” Beliau bersabda, “Yang paling dekat kepada Allah Ta’ala.”(Hadis shahih – Diriwayatkan oleh Tirmidzi)

Para ulama menjelaskan siapakah yang paling dekat dengan Allah, yaitu orang yang taat kepada Allah dan mendapatkan hidayah untuk mengamalkan ilmunya, yaitu dengan memulai salam.

Lebih Lengkap Lebih Utama

Dari ‘Imran bin Huṣain raḍhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

جاءَ رجُلٌ إِلَى النَّبيِّ ﷺ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكُم، فَرَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النبيُّ ﷺ: عَشْرٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عليهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: عِشْرون، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه، فَرَدَّ عليهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: ثَلاثُونَ رواه أَبُو داود، والترمذي وقال: حديث حسن.

“Seorang laki-laki datang menemui Nabi ṣallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam, “assalamu ‘alaikum.” Beliau menjawabnya kemudian ia duduk. Lalu Nabi ṣallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sepuluh”. Kemudian datang yang lain, lalu mengucapkan salam, “assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi.” Beliau menjawab salamnya kemudian ia duduk. Lalu Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Dua puluh.” Kemudian datang yang lainnya lalu mengucapkan salam, “assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa baarakaatuhu.” Beliau menjawab salamnya lalu bersabda, “Tiga puluh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata “Hadis Hasan”)

Pilihan ada ditangan kita, mau mendapatkan sepuluh atau duapuluh atau tiga puluh pahala tergantung salam kita, menjawab salam tidak akan membuat seseorang capek atau berkeringat, janganlah merasa berat untuk menyalami atau menjawab salam saudara kita.

Dianjurkan tatkala menjawab salam, dengan jawaban yang lebih baik dari yang menyalami,

 وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (QS. An-Nisa: 86)

Sering kita menjawab salam dengan salam yang singkat “wa’alaikumsalam”, dan jawaban tersebut sudah baik, akan tetapi ada yang lebih baik yaitu, “wa’alaikumussalaam” dan jika kita di salami saudara kita minimal jawablah dengan yang se level, jika di salami dengan “Assalamu’alaikum” jawaban yang se-level adalah “wa’alaikumussalaam”, Adapun level di atasnya, maka jawablah dengan jawaban yang lebih lengkap “wa’alaikumussalaam warahmatullah” atau dengan “wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh”.

Faidah Singkat Memulai Salam!

  1. Orang yang pertama salam akan mendapatkan pahala sunnah mengamalkan sunnah
  2. Akan mendapatkan pahala mendoakan saudaranya keselamatan Rahmat dan keberkahan dari Allah ta’aala.
  3. Ikut berandil dan mendapatkan pahala dari penjawab salam yang dihukumi (menjawab salam) sabagai wajib oleh para ulama.
  4. Akan di doakan oleh yang menjawab salam.
  5. Akan di doakan oleh malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa malaikat akan mendoakan orang yang mendoakan orang lain “walaka bimitsli” (semoga doa mu Kembali kepadamu).

Sehingga tatkala kita berjumpa dengan saudara kita sesama muslim maka jangan menunggu di salami, sekalipun kita lebih tua darinya, akan tetapi kalau bukan kita yang memulai siapa lagi

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Refrensi : Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. M.A

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.com

donatur-tetap

Jalan itu Bernama Orang Tua (Bag.2)

0

Adanya orang tua dalam hidup manusia adalah nikmat yang besar, hidup berdampingan dengannya adalah anugrah yang indah, bisa merawat dan melayaninya adalah pahala yang agung yang menhantarkan kita pada keridhaan Allah serta surga firdaus-Nya

Berikut hal-hal yang masih berkaitan dengan bakti pada orang tua:

1. Hukum bakti pada orang tua

Seorang muslim wajib mengetahui kewajiban-kewajibannya sebagai orang muslim, ada hal- hal yang pengetahuan tentang kewajiban tersebut sesuatu yang harus dan darurat untuk mengetahuinya, diantara kewajiban-kewajiban yang darurat untuk mengetahuinya tersebut  adalah hukum bakti pada orang tua. Hukum bakti pada orang tua adalah wajib, jika ditinggalkan maka dia berdosa, dan ini wajib diketahui oleh semua orang muslim.

Kewajiban untuk berbakti pada orang tua tidak hanya ditinjau dari syareat agama islam semata, melainkan semua ajaran agama samawi (agama yang datang dari langit dan di bawa oleh nabi) juga mengajarkan demikian, Allah berfirman mengabadikan sebagian perkataan nabi Isa ‘alaihis salam dalam Alquran

 وَبَرَّۢا بِوَ ٰ⁠لِدَتِی وَلَمۡ یَجۡعَلۡنِی جَبَّارࣰا شَقِیࣰّا

“dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32)

Allah juga menceritakan tentang nabi Yahya bin Zakaria tentang bakti kepada orang tuanya, seperti dalam firmanNya

 وَبَرَّۢا بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ وَلَمۡ یَكُن جَبَّارًا عَصِیࣰّا

“dan sangat berbakti kepada kedua orangtuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka.” (QS. Maryam: 14)

Tidak hanya agama saja yang menyuruh untuk bakti kepada orang tua, tapi dari segi fitroh yang lurus juga menuntut untuk bakti kepada orang tua.

2. Hak orang tua yang harus ditunaikan oleh anak.

a. Berbuat baik kepada keduanya.

وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ وَبِٱلۡوَ ٰ⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An-Nisa: 36)

Perbuatan baik kepada orang tua tidak pernah terbatasi dengan kata-kata, melainkan semua bentuk perbuatan baik.

b. Menundukkan dan merendahkan diri kepada keduanya

Allah berfirman

 وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّیَانِی صَغِیرࣰا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku semenjak aku kecil.” (QS. Al-Isro: 24)

C. Taat kepada keduanya selama tidak dalam hal maksiat.

Dasar yang paling utama dalam ketaatan kepada orang tua bukan karena mereka telah membesarkan dan mendidiknya, tetapi yang paling mendasar untuk taat kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah dan karena menjalankan perintah agama. Taat kepada orang tua hukumnya wajib walaupun mereka berbeda agama, dan kewajiban taat kepada mereka tidak bersifat mutlak, tetapi jika ketaatan itu tidak dalam hal maksiat kepada Allah. ini berdasarkan  firman Allah

 وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰۤ أَن تُشۡرِكَ بِی مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِی ٱلدُّنۡیَا مَعۡرُوفࣰاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِیلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَیَّۚ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempuyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)

Dan dalam keumuman hadits Nabi ‘alaihis sholatu was salam

لا طَاعَةَ في مَعْصِيَةِ اللهِ، إنَّما الطَّاعَةُ في المَعروفِ

“Tidak ada ketaatan di dalam kemaksiatan kepada Allah, ketaatan hanyalah dalam kebaikan (tidak menyelisihi ajaran agama)” (HR. Muslim)

d. Memuliakan keduanya

Memuliakan orang tua adalah kewajiaban anak dan menjadi hak orang tua, terlebih ketika orang tua sudah lanjut usia. Allah berfirman

 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ وَبِٱلۡوَ ٰ⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ إِمَّا یَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَاۤ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَاۤ أُفࣲّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلࣰا كَرِیمࣰا

“Dan Rabmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isro: 23)

Inilah beberapa hak orang tua yang menjadi kewajiban seorang anak, semoga Allah menjadikan penulis dan pembaca termasuk orang yang senantiasa menunaikan hak-hak orang tua.

Bersambung

Referensi:

  • https://mawdoo3.com
  • islamweb.net
  • alukah.net

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Pintu itu Bernama Orang Tua (Bag.1)

0

Semua manusia terlahir dari seorang bapak dan ibu, dari hubungan merekalah manusia dilahirkan ke dunia ini, kecuali beberapa manusia saja yang Allah ciptakan tidak dari hubungan bapak ibu. Maka, orang tua adalah termasuk manusia yang paling berjasa dalam kehidupan dunia ini.

Syareat agama islam sangat menjunjung tinggi akan jasa orang tua, sehingga islam mewajibkan untuk berbakti kepadanya dan mengharomkan durhaka kepadanya hingga tingkatan terendah dari bentuk kedurhakaan. Allah berfirman

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ وَبِٱلۡوَ ٰ⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ إِمَّا یَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَاۤ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَاۤ أُفࣲّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلࣰا كَرِیمࣰا

“Dan Rabmu telah memerintahkan jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isro: 23)

Pembaca yang budiman..

Pada coretan kali ini in sya Allah penulis akan membahas secara singkat tentang bakti kepada orang tua.

1. Makna Birrul Walidain (بر الوالدين)

Kata bir (بر) mempunyai makna الإحسان berbuat baik, الخير baik, الإعطاء pemberian, dengan kata lain semua yang berkaitan dengan kebaikan bisa dikatakan بر.

Satu diantara nama-nama Allah adalah البرyang berarti “maha baik”, seperti firman Allah :

 إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِیمُ

“Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan, Maha Penyayang.” (QS. At-Thur: 28)

Maka makna birrul walidain adalah; berbuat baik kepada kedua orang tua, baik dengan perkataan maupun perbuatan, dalam rangka pendekatan diri kepada Allah ta’ala.

 

2. Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua.

Dari orang tua manusia itu berasal, maka berbakti kepadanya adalah suatu kewajaran dan kewajiban, Allah menerangkan pentingnya bakti pada orang tua dari berbagai segi, diantaranya;

a. Allah menyandingkan bakti kepada orang tua dengan ushul (pondasi) syareat islam yaitu Tauhid kepadaNya, sebagaimana firman Allah

وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ وَبِٱلۡوَ ٰ⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰا وَبِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡیَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِینِ وَٱلۡجَارِ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالࣰا فَخُورً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An-Nisa: 36)

Tidak ada amalan yang lebih agung di sisi Allah dari pada mentauhidkanNya (mengesakan), sedangkan bakti kepada orang tua diletakkan tepat setelah Tauhid, hal ini menunjukkan betapa agung dan penting bakti kepada orang tua.

b. Allah menyandingkan antara bersyukur kepada orang tua dengan bersyukur kepada Allah

 وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنࣲ وَفِصَـٰلُهُۥ فِی عَامَیۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِی وَلِوَ ٰ⁠لِدَیۡكَ إِلَیَّ ٱلۡمَصِیرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

c. Bakti kepada orang tua tidak memandang agama mereka berdua.

 وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰۤ أَن تُشۡرِكَ بِی مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِی ٱلدُّنۡیَا مَعۡرُوفࣰاَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempuyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (QS. Luqman: 15)

Tidaklah ada orang yang menyuruh untuk berbuat kesyirikan kecuali dia telah berbuat syirik.

d. Bakti kepada orang tua jalan menuju surga

رَغِمَ أنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُ، قيلَ: مَنْ؟ يا رَسولَ اللهِ، قالَ: مَن أدْرَكَ أبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أحَدَهُما، أوْ كِلَيْهِما فَلَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ

“Celaka, celaka dan celaka, beliau ditanya: siapa ya Rosulallah? Siapa saja yang mendapati orang tuanya tatkala sudah sepuh, satu atau kedua-duanya dan (hal tersebut tidak menyebabkan) dia masuk surga.” (HR. Muslim no. 2551)

Inilah beberapa hal yang menjadi pentingnya bakti kepada orang tua, semoga penulis dan pembaca menjadi anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua.

Bersambung…

Referensi:

  • https://mawdoo3.com
  • alukah.net

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.com

 

donatur-tetap

Kapan Mengenalkan Ibadah kepada Anak?

0

Salah satu hal yang sangat penting untuk diketahui oleh orang tua adalah kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan ibadah kepada anak, karena setiap orang tua hakekatnya diamanahi untuk menjaga fitrah anak, jangan sampai fitrahnya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi atau ateis karena kelalaian orang tua yang tidak mau menjaga kesucian hati buah hatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1385)

Dan keetahuilah bahwa Allah menciptakan manusia agar beribadah hanya kepada-Nya, tidak menyekutukan_Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ومَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الَّذِينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya men- yembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepa- da-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ketika orang tua sudah mengenal tujuan Allah Ta’alamenciptakan hamba agar beribadah hanya kepada-Nya, maka orang tua harus menjaga kesucian hati anak agar menjadi anak yang ahli ibadah. Tentu orang tua harus mengerti terlebih dahulu apakah maksud dari ibadah itu sendiri, sehingga bisa mengajari anak-anaknya agar beribadah kepada Allah dengan cara yang benar.

Ibadah bukan hanya shalat atau mengerjaka rukun Islam saja, tetapi makna ibadah yang luas ialah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, Dan yang lebih jelas lagi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, bahwa ibadah

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأقوال والأفعال الظاهرة والباطنة

“adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir (nampak)maupun yang batin.” (Iqtidha’ Sirath al-Mustaqim)

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal (ketergantu ngan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah yang berkaitan dengan hati. Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisan dan hati. Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah fisik dan hati.

 

Kapan Mengenalkan Ibadah kepada Anak?

Dengan dasar makna ibadah yang telah dipaparkan di atas makan anak hendaknya dibimbing dalam ibadah semenjak dia punya perhatian atau mengerti, walaupun belum sempurna akalnya. Karena ibadah bukan hanya gerakan anggota badan, tetapi perkataan dan keyakinan dalam hati. Dalam kata lain idealnya semasa tamyiz anak sudah diajarkan berbagai ibadah yang bersifat fardhu ‘ain.

Setiap orang tua tentunya menginginkan anak keturunanya menjadi anak yang shaleh dan shalehah, maka hal yang harus dilakukan dan paling lebih utama adalah ajarkan dan berikan contoh kepada anak-anak kita hal-hal yang berkaitan dengan ibadah sejak akal pertumhuhan anak. Semisal anal sudah mulai berbicara maka ajarkan kalimat-kalimat yang baik, sering dengarkan dan menirukan bacaan Al-Quran. Ketika badan sugah tegak bisa berlari kesana dan kemari, mulai ajarkan untuk menirukan gerakan shalat walau minimal hanya disertai dengan kalimat takbir dan salam saja dalam gerakan tersebut. Begitu seterusnya dalam aspek ibadah yang ada dalam keseharian anak kita.

Selain contoh pengajaran dan pengenalan anak terkait ibadah di atas ada beberapa poin yang penting sekali dalam mengenalkan akan akan ibadah, yaitu:

  1. Anak dilatih berbicara baik
  2. Anak dilatih agar takut kepada Allah
  3. Anak dilatih mengenal amalan shalat
  4. Biasakan anak untuk mengerjakan amalan sunnah
  5. Dilaranga banyak bergurau dan tertawa (bukan tidak boleh namun harus ada porsinya)
  6. Jangan membebani amal ibadah diluar kemampuannya.

 

Disadur dari kajian ustadz Aunur Rofiq Ghufron dengen tema “Mendidik Anak dengan Benar” dengan disertai beberapa tambahan seperlunya

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Pelaksanaan AKMI 2023 Madrasah Aliyah Hamalatul Quran Bantul Berjalan Tertib dan Lancar

0

HamalatulQuran.Com — Bantul, Madrasah Aliyah Hamalatul Quram sukses melaksanakan Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) pada Rabu-Senin (4-9/10/2023).

AKMI adalah program evaluasi yang diselenggarakan oleh kementrian agama untuk mengukur kompetensi peserta didik madrasah dalam bidang literasi membaca, literasi numerasi, literasi sains dan literasi sosial budaya.

“Alhamdulillah tahun ini MA Hamalatul Quran mendapatkan amanat untuk menyelenggaran Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) bersama dengan 15 madrasah aliyah lainnya di provinsi DI. Yogyakarta,” terang Zusuf Affandi selaku kepala MA Hamalatul Quran.

Pada pelaksanaannya AKMI MA Hamalatul Quran diikuti oleh seluruh siswa kelas XI MA yang terdiri dari 68 siswa dan dilaksanakan secara semi online atau dalam jaringan. Terbagi menjadi tiga bagian dan masing-masing bagian melaksanakan 3 sesi.

Menurut laporan tim pelaksana teknis dan proktor, “pelaksanaan AKMI MA Hamalatul Quran alhamdulilah dapat berjalan dengan tertib dan lancar serta tidak banyak kendala.”

(zuf/hamalatulquran.com)

 

donatur-tetap

Cegah Bahaya Stunting, Kegiatan Screening Kesehatan dilaksanakan di PPHQ Sempu

0
Pemeriksaan tinggi badan sebagai salah satu identifikasi visual indikasi stunting

Bantul, Yogyakarta – Sebanyak 186 santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ) Sempu menjalankan screening kesehatan yang diadakan oleh Petugas Puskesmas Kasihan 1 pada hari Senin dan Selasa, 25 -26 September 2023 dalam rangka pencegahan stunting dengan didampingi oleh bagian pengurus kesehatan pondok. Pada hari pertama, sejumlah enam tenaga kesehatan dikerahkan untuk memeriksa sekitar 87 santri kelas 3 Salafiyah Wustho yang berjumlah 3 rombel, sementara itu empat tenaga kesehatan menyelesaikan sisanya yaitu tiga rombel kelas satu di keesokan harinya. Para santri mengantre di depan ruangan pemeriksaan yang dilaksanakan di ruang perpustakaan dengan tertib dan antusias. Di lain sisi, para petugas kesehatan juga tampak teliti dalam memeriksa satu demi satu santri secara bergiliran. Dari total santri yang diperiksa, sebanyak 23 santri diimbau untuk datang ke fasilitas kesehatan guna pemeriksaan lebih lanjut.

Stunting merupakan suatu gangguan pada tumbuh kembang yang dapat diidentifikasi dengan kurangnya tinggi badan anak dibandingkan dengan tabel pertumbuhan semestinya. Penyebab stunting bermacam-macam, mulai dari gizi anak yang tidak terpenuhi selama dalam kandungan, kelahiran bayi prematur, penyakit-penyakit, pola hidup yang kurang sehat, hingga kurangnya pemenuhan asupan gizi selama tumbuh kembang anak. Bukan hanya bertubuh kerdil, seorang anak yang mengalami stunting berpotensi terkena gangguan perkembangan otak jangka panjang seperti keterbelakangan mental, sulit berkonsentrasi ketika belajar, hingga mudah terserang penyakit-penyakit kronis yang berujung pada kematian.

Melihat bahaya yang mungkin ditimbulkan, pemerintah bersama dengan lembaga-lembaga kesehatan di Indonesia bekerja sama dalam melakukan kegiatan screening secara rutin di instansi-instansi pendidikan dini, dasar dan menengah beberapa tahun belakangan, salah satunya di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta. Kegiatan tersebut disambut baik oleh pengelola pesantren karena selain fokus pada pendidikan agama dan umum, PPHQ juga sangat peduli dengan kesehatan fisik dan mental para santri. Selain program tahunan yang diselenggarakan dari Puskesmas Kasihan 1, Pondok Pesantren Hamalatul Quran juga telah berupaya menyediakan pemenuhan gizi seimbang dalam konsumsi santri sehari-hari disertai dengan waktu untuk beraktivitas fisik terstruktur maupun mandiri yang sejalan dengan program pencegahan stunting.

Pengawas bagian kesehatan PPHQ yang turut mendampingi dalam kegiatan screening

“Stunting merupakan suatu kondisi yang bisa dicegah. Salah satu ikhtiar kami dalam penanggulangannya adalah dengan mengikuti kegiatan screening yang diadakan oleh Puskesmas Kasihan 1 secara rutin tiap tahunnya. Dengan sinergi yang dilakukan oleh PPHQ bersama-sama dengan intansi kesehatan dan pemerintah, kami harap para santri bisa terhindar dari stunting serta dampak-dampak negatif yang menyertainya,” ujar Riswan D Nonci, salah satu ustaz pembimbing di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sempu.(RDN)

donatur-tetap

Bila Mandul Menggerus Ketenangan Keluarga

0

Dari berbagai takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah, ada takdir yang oleh sebagian orang dianggap sebagai aib,  yaitu pasangan yang ditakdirkan belum mempunyai keturunan hingga usia pernikahan mencapai puluhan tahun. Sebagian masyarakat memandang hal itu merupakan kekurangan dalam suatu keluarga bahkan sampai menjadi bahan pembicaraan yang tidak baik untuk didengar. Hal itu membuat pasangan tidak merasa nyaman untuk hidup di lingkungan seperti itu.

Apabila pasangan yang belum dikaruniai anak mendapat berbagai cibiran, sindiran, ataupun fitnah di masyarakat maka ada hal-hal yang bisa diterapkan untuk meringankan rasa ketidak nyamanan tersebut:

1. Memperbanyak Belajar Ilmu Agama

Memperbanyak belajar agama dapat menjadikan seorang lebih sering mengingat Allah, sehingga apa yang menimpanya tidak lepas dari keyakinan bahwa itu semua sudah ditakdirkan Allah. Keyakinan yang seperti itulah yang dapat menghindarkan diri seorang dari rasa gelisah, bingung, dan khawatir terhadap apa-apa yang menimpanya, sehingga menjadikan hatinya selalu tenang sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata`ala:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati jadi tentram” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Berapapun gunjingan, sindiran, bahkan fitnah yang menimpa seorang maka solusinya adalah mengingat Allah. Dengan kuasanya, Allah dapat menjadikan yang kuat menjadi lemah, yang benci menjadi cinta dan segala hal bisa dibolak balikkan oleh Allah. Keyakinan-keyakinan seperti ini tidak mudah untuk diaplikasikan kecuali harus memperbanyak bekal ilmu.

2. Bersosialisasi dengan Masyarakat yang Baik

Masyarakat yang baik memiliki peran positif terhadap rumah tangga. Selain dapat menjadi teman gotong-royong di lingkungan sekitar, masyarakat yang baik juga dapat memberi support yang bermanfaat utuk keluarga dikala suatu keluarga mengalami kesulitan. Mereka menjadi garda terdepan dalam mencurahkan perhatian.

Menjadikan mereka teman bersosialisasi hakekatnya mengalihkan hal-hal yang buruk ke hal yang baik karena mereka adalah salah satu solusi yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallalohu Alaihi Wasallam ketika kita sedang berada di lingkup yang tidak memberikan manfaat :

مِنْ ‌حُسْنِ ‌إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara tanda kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untuknya” (HR. Tirmidzi no. 2317)

Dengan meninggalkan teman-teman yang terlalu sering membuat kegaduhan, hakikatnya dia telah memilih pergaulan yang bermanfaat untuknya. Sehingga dia akan mendapat kenyamanan dan ketenangan karena Rasulullah Shallalohu Alaihi Wasallam telah memberi kriteria teman yang baik itu teman yang tidak meramapas kenyamanan dan ketenangan dari diri orang lain:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang baik) itu yang lisan dan tangannya itu tidak menyakiti orang lain”  (HR. Bukhari no. 101)

3. Menyibukkan Diri dengan Kegiatan Positif

Kegiatan poisitif baik urusan duniawi ataupun ukhrowi dapat mengalihkan seorang dari urusan yang meresahkan dirinya. Seperti seorang murid yang sedang mendapat PR matematika, ketia ia fokus memecahkan masalah-masalah yang ada pada tugas tersebut, seringkali sampai lupa dengan kondisi sekitar bahkan lupa dengan dirinya sendiri. Seperti saat dia mengerjakan tugasnya sampai lupa makan padahal sedang dalam kondisi lapar

Dalam urusan akhirat, seorang yang benar-benar fokus pada ibadahnya bisa sampai tidak terasa kalau dirinya sedang dalam kondisi yang menyakitkan. Sebagaimana yang pernah dialami oleh salah satu sahabat Rasulullah Shallalohu Alaihi Wasallam ketika ada anak panah yang tertancap di tubuhnya, dia meminta untuk dicabutkan saat dia sedang dalam ritual ibadah yang membutuhkan tingkat ke fokusan yang paling tinggi, yaitu saat sedang sholat. Ketika permintaannya dipenuhi, anak panah yang sedang menancap benar-benar dicabut saat beliau sholat, dan ketika beliau selesai dari sholat secara mengejutkan beliau bertanya “apakah anak panah sudah dicabut?” padahal umumnya manusia akan merasa sakit yang luar biasa ketika ia mengalami hal itu

Gambaran-gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa menyibukkan diri dan benar-benar fokus pada kegiatan yang sedang dijalani dapat mengalihkan dari hal yang negatif. Semakin fokus pada apa yang sedang dijalaninya semakin tidak terasa hal yang negatif tersebut.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

donatur-tetap

Bertekad Meniti Jalan Rasulullah dan Para Sahabat

0

Begitu banyak jalan kehidupan yang manusia arungi, dan hanya ada satu jalan yang Allah ridhai, maka sebagai seorang muslim jalan yang sepatutnya dia pilih adalah jalan yang telah diarungi oleah rasul dan para sahabatnya, dengan tekad kesungguhan dan kesabaran hingga akhirnya Allah mencabut nyawa kita.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud no. 4031)

Menyerupai suatu kaum memiliki sisi positif dan negatif, dan sisi positif dari hadits di atas adalah dengan berusaha menyerupai orang-orang shaleh, dan orang yang paling shaleh tentunya adalah beliau nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian para sahabat beliau, mungkinkah kita menyerupai beliau, jawabannya “mungkin”, akan tetapi tidak mungkin akan sama persis 100%, dan hal itu mustahil.

Terdapat kisah yang menarik tentang Imam Sufyan Ats-tsaury rahimahullahu ta’aala dengan salah satu murid beliau, dikisahkan bahwa beliau sang imam memiliki murid yang pendiam, dia hanya datang ke majlis kemudian duduk mencatat kemudian pulang tanpa mengucapkan satu patah kata , sehingga sang imam penasaran dengan murid tersebut, maka suatu hari sang imam tidak sengaja berpapasan dengan murid tersebut, maka sang imam memulai pembicaraan dan beliau berkata “wahai pemuda, sesungguhnya orang orang sebelum kita, mereka telah berlari kencang dengan kuda-kuda mereka, sedangkan kita masih terseok-seok menunggangi keledai lagi lambat”, ujar sang imam kepada si pemuda ingin mengetahui apa potensi yang dimiliki oleh pemuda tersebut, maka sang pemuda menjawab “Wahai Abi ‘abdillah (kunyah sang imam) jika kita senantiasa meniti jalan yang mereka lewati, maka cepat atau lambat kita akan sampai kepada mereka, selama kita tidak menoleh kepada jalan selain jalan yang mereka lewati, walaupun kita hanya memiliki bekal yang sedikit”.

Walaupun kita tidak mampu untuk menyerupai Rasul dan para sahabat beliau, akan tetapi selama kita bertekad untuk meniti jalan rasul dan para sahabat insyaaAllah kita akan sampai, walaupun amalan dan keilmuan kita miliki tidak akan mungkin menyamai mereka.

 حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

 

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan (HR. Bukhari no. 6171)

Maka jika kita menginginkan untuk dikumpulkan kelak dengan Rasul dan para sahabat, kita harus berusaha meniti jalan rasul dan para sahabat, dengan kecintaan yang jujur dan Ikhlas mengharapkan wajah Alllah ta’ala.

Semoga penulis dan pembaca Allah berikan keberkahan dari coretan singkat ini, wallahu a’lam bish-shawaab.

 

Refreansi : Diambil dari Syarh bulughul marom oleh beliau Ustadz Abdullah zaen Lc, MA. Hafidzahullah ta’alaa.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.com

donatur-tetap