Home Artikel Adab dan Akhlak Bila Mandul Menggerus Ketenangan Keluarga

Bila Mandul Menggerus Ketenangan Keluarga

261
0

Dari berbagai takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah, ada takdir yang oleh sebagian orang dianggap sebagai aib,  yaitu pasangan yang ditakdirkan belum mempunyai keturunan hingga usia pernikahan mencapai puluhan tahun. Sebagian masyarakat memandang hal itu merupakan kekurangan dalam suatu keluarga bahkan sampai menjadi bahan pembicaraan yang tidak baik untuk didengar. Hal itu membuat pasangan tidak merasa nyaman untuk hidup di lingkungan seperti itu.

Apabila pasangan yang belum dikaruniai anak mendapat berbagai cibiran, sindiran, ataupun fitnah di masyarakat maka ada hal-hal yang bisa diterapkan untuk meringankan rasa ketidak nyamanan tersebut:

1. Memperbanyak Belajar Ilmu Agama

Memperbanyak belajar agama dapat menjadikan seorang lebih sering mengingat Allah, sehingga apa yang menimpanya tidak lepas dari keyakinan bahwa itu semua sudah ditakdirkan Allah. Keyakinan yang seperti itulah yang dapat menghindarkan diri seorang dari rasa gelisah, bingung, dan khawatir terhadap apa-apa yang menimpanya, sehingga menjadikan hatinya selalu tenang sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata`ala:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati jadi tentram” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Berapapun gunjingan, sindiran, bahkan fitnah yang menimpa seorang maka solusinya adalah mengingat Allah. Dengan kuasanya, Allah dapat menjadikan yang kuat menjadi lemah, yang benci menjadi cinta dan segala hal bisa dibolak balikkan oleh Allah. Keyakinan-keyakinan seperti ini tidak mudah untuk diaplikasikan kecuali harus memperbanyak bekal ilmu.

2. Bersosialisasi dengan Masyarakat yang Baik

Masyarakat yang baik memiliki peran positif terhadap rumah tangga. Selain dapat menjadi teman gotong-royong di lingkungan sekitar, masyarakat yang baik juga dapat memberi support yang bermanfaat utuk keluarga dikala suatu keluarga mengalami kesulitan. Mereka menjadi garda terdepan dalam mencurahkan perhatian.

Menjadikan mereka teman bersosialisasi hakekatnya mengalihkan hal-hal yang buruk ke hal yang baik karena mereka adalah salah satu solusi yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallalohu Alaihi Wasallam ketika kita sedang berada di lingkup yang tidak memberikan manfaat :

مِنْ ‌حُسْنِ ‌إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara tanda kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untuknya” (HR. Tirmidzi no. 2317)

Dengan meninggalkan teman-teman yang terlalu sering membuat kegaduhan, hakikatnya dia telah memilih pergaulan yang bermanfaat untuknya. Sehingga dia akan mendapat kenyamanan dan ketenangan karena Rasulullah Shallalohu Alaihi Wasallam telah memberi kriteria teman yang baik itu teman yang tidak meramapas kenyamanan dan ketenangan dari diri orang lain:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang baik) itu yang lisan dan tangannya itu tidak menyakiti orang lain”  (HR. Bukhari no. 101)

3. Menyibukkan Diri dengan Kegiatan Positif

Kegiatan poisitif baik urusan duniawi ataupun ukhrowi dapat mengalihkan seorang dari urusan yang meresahkan dirinya. Seperti seorang murid yang sedang mendapat PR matematika, ketia ia fokus memecahkan masalah-masalah yang ada pada tugas tersebut, seringkali sampai lupa dengan kondisi sekitar bahkan lupa dengan dirinya sendiri. Seperti saat dia mengerjakan tugasnya sampai lupa makan padahal sedang dalam kondisi lapar

Dalam urusan akhirat, seorang yang benar-benar fokus pada ibadahnya bisa sampai tidak terasa kalau dirinya sedang dalam kondisi yang menyakitkan. Sebagaimana yang pernah dialami oleh salah satu sahabat Rasulullah Shallalohu Alaihi Wasallam ketika ada anak panah yang tertancap di tubuhnya, dia meminta untuk dicabutkan saat dia sedang dalam ritual ibadah yang membutuhkan tingkat ke fokusan yang paling tinggi, yaitu saat sedang sholat. Ketika permintaannya dipenuhi, anak panah yang sedang menancap benar-benar dicabut saat beliau sholat, dan ketika beliau selesai dari sholat secara mengejutkan beliau bertanya “apakah anak panah sudah dicabut?” padahal umumnya manusia akan merasa sakit yang luar biasa ketika ia mengalami hal itu

Gambaran-gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa menyibukkan diri dan benar-benar fokus pada kegiatan yang sedang dijalani dapat mengalihkan dari hal yang negatif. Semakin fokus pada apa yang sedang dijalaninya semakin tidak terasa hal yang negatif tersebut.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here