Home Blog Page 36

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU HAMALATUL QURAN 2024-2025 TINGKAT SMP/SW

0

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU

TINGKAT SW/SMP PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN

TAHUN AJARAN 2024/2025

Berdasarkan hasil seleksi dan musyawarah pengurus pondok pesantren yang tidak dapat diganggu gugat, kami selaku Panitia Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Hamalatul Quran  menerangkan bahwa nama-nama yang tercantum di daftar berikut ini dinyatakan DITERIMA sebagai calon santri baru Program Salafiyah Wustha Pondok Pesantren Hamalatul Quran Tahun Ajaran 2024/2025.

donatur-tetap

Peran Ibu dalam Mendidik Anak

0

Tak pernah lepas dari benak wanita muslimah, bahwa tanggung jawab seorang ibu terhadap anak-anaknya dalam mendidik dan membentuk kepribadian mereka lebih besar dari tanggung jawab seorang ayah. yang demikian itu terkait dengan kedekatan seorang ibu dengan anak-anaknya dan juga sebagian besar waktunya dihabiskan bersama dengan mereka. Terlebih dengan pengetahuannya yang utuh tentang keadaan dan perkembangan mereka, pada saat pertumbuhan dan pubertas yang merupakan masa paling berbahaya dalam kehidupan seorang anak, baik dari sisi akalnya, perasaan maupun tingkah lakunya.

Dari kenyataan tersebut, maka wanita muslimah yang shalihah dia mengetahui tugas berat yang dipikul di atas pundaknya dan memahami tanggungjawabnya yang besar terhadap pendidikan mereka, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam Al-Qur’an:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. At Tahrim: 6)

Rasulullah shalallhhu aliihi wa sallam juga telah menggambarkan tanggung jawab tersebut dalam sebuah sabdanya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (HR. Muttafaqun alaihi)

Itulah tanggung jawab yang sempurna yang dibebankan Islam di pundak manusia seluruhnya, tanpa terkecuali satu pun dari mereka. Dan tuntutan tanggung jawab tersebut dilimpahkan kepada kedua orang tua, khususnya ibu dalam mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang Islami secara runut dan rinci. Sehingga mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang shaleh, tegak di atas pondasi akhlak yang mulia, seperti yang pernah dijelaskan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwasanya beliau diutus untuk menyempumakan budi pekerti manusia.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)

Tidak ada bukti yang lebih kuat mengenai tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya selain dari apa yang telah ditetapkan oleh para ulama terutama bagi setiap keluarga yang mendengar sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ

“Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat pada saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan mengenjalankannya pada saat mereka berusia sepuluh tahun.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Maka hendaknya setiap keluarga mengulang-ulang sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ini, tetapi tidak serta merta orang tua mempraktikkannya secara total, yaitu dengan jalan memerintahkan anak-anaknya untuk shalat, ketika telah berusia tujuh tahun dan tidak memukul mereka karena enggan melaksanakannya kecuali ketika telah berusia sepuluh tahun. Itulah keluarga yang berdosa lantaran tidak utuh dalam melaksanakan hadits tersebut. Dan kedua orang tua akan bertanggung jawab di hadapan Allah ta’ala atas kelalaian mereka dalam mendidik anak-anak mereka.

Yang demikian itu karena keluarga merupakan masyarakat kecil sebagai tempat pembentukan jiwa, membina akal, tingkah laku, dan kecenderungan individu. Mereka adalah bibit-bibit lunak yang mendengar petunjuk yang baik dan bimbingan yang lurus. Dari sana tampak peran orang tua yang sangat penting dalam membentuk jiwa putra-putrinya, dan membimbing mereka menapaki jalan yang lurus, jalan hidayah dan amal shaleh.

Wanita muslimah senantiasa sadar dengan tanggung  jawabnya dalam mendidik putra-putrinya setiap waktu, piawai dalam mencetak sebuah generasi, memberikan kesan dan nilai-nilai yang luhur ke dalam lubuk hati mereka, dan menanamkan budi pekerti yang mulia dalam jiwa mereka.

Jasa Ibu Kepada Tokoh Umat Islam

Banyak tokoh umat Islam, yang ditulis oleh tinta emas sejarah, berkat jasa dari ibu-ibu mereka yang agung.

Lihatlah bagaimana Zubair bin Awwam radhiyallahu anhu menjadi sahabat yang terpandang, tidak lain karena berkat jasa ibunya yang bemama Shaflyah binti Abdul Muthalib, yang telah menanam pilar-pilar akhlak yang mulia dan sifat kedermawanan dalam jiwanya. Juga Abdullah, Al Mundzir dan Urwah, sebagai putra-putra Zubair, semuanya memiliki pengaruh yang kuat dan memiliki kedudukan yang terpuji berkat jasa sang ibu Asma’ binti Abu Bakar yang telah mendidik mereka.

Abdullah bin Ja’far, menjadi tokoh yang paling dermawan dan sgbaik-bgik pemuda pada zamannya, yang menjadi yatim sejak kecil, dia mendapat sentuhan tarbiyah ang kuat dari ibunya Asma’ binti Umais, yang telah terwarnai dengan warna keutamaan dan keluhuran akhlak, yang memposisikan dirinya menjadi tokoh wanita yang terdepan dalam sejarah Islam.

Dalam sejarah kita, banyak tercatat wanita-wanita besar, yang telah mewariskan kepada putra-putranya kunci kecerdasan, dan menanamkan ke dalam jiwa mereka kemuliaan akhlak. Wanita-wanita inilah yang sebenarnya berada di balik layar bagi kebesaran, keluhuran dan prestasi agung yang telah diukir oleh putra-putra mereka.

Referensi: Syakhshiyah Al Marah Al Muslimah, syeikh Muhammad Ali Al Hasyimi

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Rendah Hati Sifat Mulia Penuntut Ilmu

0

“Air hanya akan mengalir membasahi tempat-tempat yang merendah, begitu pula dengan ilmu, ia enggan membasahi hati-hati yang sombong dan meninggi.”

Rendah hati atau tawadhu adalah salah satu kunci sukses seseorang dalam menuntut ilmu, adapun orang yang sombong maka ia tidak akan merail ilmu dengan maksimal. Karena kesombongannya akan membuatnya selalu merasa puas dan berbangga hati atas ilmu yang telah dikuasai.

Pantas saja Allah melarang hamba-Nya untuk berperilaku sombong dan memerintahkan untuk selalu menghiasi diri dengan sifat rendah hati, hal ini Allah Ta’ala isyaratkan dalam firman-Nya,

وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy-Syuara’: 215)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun terlah bersabda,

إنَّ اللهَ أوحى إليَّ أن تواضَعوا حتى لا يبغيَ أحدٌ على أحدٍ، ولا يفخرَ أحدٌ على أحدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku untuk (senantiasa) rendah hati sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain dan tidak ada pula seseorang yang melampaui batas atas orang lain.”  (HR. Abu Daud no.4895)

Dalam hadis di atas terdapat perintah untuk senantiasa rendah hati dan menjauhhi sifat sombong. Maka wajib bagi setiap orang yang berakal untuk melakukan hal tersebut, dan tidaklah seseorang senantiasa mempraktekkan rendah hati dalam hidupnya melainkan akan bertambah kemuliaan pada dirinya.

Abu Hatim Al-Busti rahimahullah berkata, “Manusia yang paling utama adalah mereka yang senantiasa rendah hati walau sejatinya ia mulia, mampu berzuhud walu sejatinya ia orang yang mampu (harta), hatinya lem but walau sejatinya (badannya) kuat”

Suatu Ketika Ibrahim bin Al-Asy’ats rahimahullah ditanya tetang tawadhu’ maka beliau menjawab, “ Tawahu adalah Ketika engkau tunduk terhadap kebenaran dan lapang hati menerimanya walau itu datang dari anak kecil yang lebih muda darimu atau datang dari orang yang lebih bodoh darimu”.

Rendah Hati Kunci Meraih Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang beriringan dengan sifat tawadhu tersebut adalah ilmu yang bermanfaat. Dalam kitab Shaidul Khathir Imam Ibnu Jauzi rahimahullah berakata,

هو العلم النافع الذي يلح أعظم العلماء أحقر عند نفسه من أجهل الجهال ورأيت بعض من تعبد مدة ثم فتر فبلغني أنه قال: قد عبدته ما عبده بها أحد والأن قد ضعفت

“Ilmu (bermanfaat adalah) yang membuat sehebat-hebatnya ulama merasa dirinya lebih hina daripada sebodoh-bodohnya manusia, itulah ilmu yg bermanfaat. Aku telah melihat Sebagian orang yang beibadah begitu lama kemudia ia terkena future (rasa malas) ia mendatangiku seraya berkata, ‘aku telah beribadah kepada Allah melebihi seorang pun, akan tetapi saat ini aku lemah (dalam beribadah)”

Perkataan di atas melambangkan keindahan sebuah ilmu yang dihiasi dengan sifat tawadhu, di mana kondisi ilmu tersebut akan menghasilkan sumber-sumber kemulian. Dan ilmu yang demikian itu yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat.cBahkan sekelas ulama terhebat pun masih merasa hina dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang lain yang bodoh. Ketika seorang mampu menghadirkan tawadhu dalam ilmu yang dimilikinya, beragam kemaslahatan akan didapatkannya.

Namun bagi orang yang sombong dan merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain, nyatanya ia akan menjadi hamba yang lemah dalam beribadah dikemudian hari, inilah fakta orang sombong yang Ibnu Jauzi kisahkan. Oleh karena itu kita haruslah pandai-pandai menata hati kita untuk senantiasa rendah hati dan menjauhi sifat sombong.

Referensi: Al-Arba’un Haditsan fi Al-Akhlaq

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Walau Berat Maafkanlah Saudaramu

0

Ketika seseorang berbuat salah kepada kita, seringnya kita merasa marah dan benci. Namun bila kita dapat menahan amarah, menghilangkan dendam dan bahkan mampu memaafkan kesalahannya maka disaat itulah kita menjadi pribadi yang mulia dan ditinggikan derajatnya oleh Allah Ta’ala.

Memaafkan adalah amalan yang kadang seseorang lebih memilih amalan lain saja yang lebih sulit dan rumit serta berresiko ketimbang harus memaafkan. Padahal sudah lumrah sejak zaman dahulu kala bahwa manusia tak luput dari salah, hanya saja manusia lebih bisa memaafkan dan memberi udzur kepada dirinya sendiri, adapun kepada orang lain seringnya lebih memilih memberi sangsi atas luka yang menganga, hati yang teriris derita, hak yang terabaikan sia-sia, pengkhianatan yang selalu membekas di dada.

Karena beratnya amalan memaafkan ini, sampai-sampai Allah mengkhususkan dalam firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ali Imran: 133-134).

Memaafkan dan menahan marah adalah dua hal yang sebenarnya berbeda, menahan marah adalah sebatas sikap meninggalkan balas dendam tatkala mampu melampiaskan, sedangkan memaafkan adalah selain meninggalkan dendam juga berlapang dada meluluh-lantakkan ego yang sedang menyala terhadap orang yang telah melukai hatinya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadiy ketika menjelaskan ayat ini berkata, “Dan mema’afkan (kesalahan) orang lain”, artinya termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaafkan segala hal yang terjadi dari orang yang telah berbuat jelek kepada kita baik kejelekan dengan perkataan mupun perbuatan. Memaafkan itu adalah sikap lebih luas lagi ketimbang sekedar menahan marah. Karena memaafkan itu adalah tindakan meninggalkan balas dendam disertai dengan sikap kelapangan dada terhadap orang yang berbuat jelek. Itu hanya dapat terjadi dari orang-orang yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji dan jauh dari akhlak yang tercela, dan sikap memaafkan juga hanya terjadi dari orang-orang yang melakukan perdangan dengan Allah dan ia memaafkan hamba-hamba Allah sebagai suatu kasih sayang kepada mereka dan merupakan tindakan kebaikan kepada mereka serta benci bila terjadi keburukan yang akan menimpa mereka, itu semua ia lakukan agar Allah mengampuni dirinya sehingga mendapatkan pahala di sisi Allah yang Maha Mulia, bukan pahala dari sang hamba yang miskin.

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lain,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim”. (QS. Asy-Syuura: 40).

Memaafkan orang lain memang begitu berat, bagaimana tidak? Keutamaannya besar dan menggiurkan. Sudah lumrah bahwa pendapatan atau hasil yang menjanjikan tentu upaya mencapainya mesti butuh susah payah berlelah-lelah. Di antara keutamaan memaafkan orang lain adalah sebagai berikut:

1. Menjadi Mulia di sisi Allah.

Rasululullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Shadaqah itu sejatinya tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Ta’ala menambahkan untuk seorang hamba yang mau memaafkan kecuali Allah tambahkan kemuliaan, dan tidaklah seorang rendah hati (tawadhu’) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat (derajatnya)” (HR. Muslim no. 2588).

2. Memperoleh kecintaan dan ampunan dari Allah.

Memaafkan termasuk sikap kasih sayang seseorang kepada sudaranya, dan siapa yang penyayang akan disayangi oleh Allah.

Rasululullah shallallahualaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يَغْفِرِاللهُ لَكُمْ

“Sayangilah maka kamu akan disayangi oleh Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah akan mengampunimu”. (Al-Adab Al-Mufrad no. 293).

Al-Munawi rahimahullahu berkata: “Allah mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat) rahmah dan pemaaf. Allah Ta’ala juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut”. (Faidhul Qadir 1/607).

3. Memperoleh Kecintaan dari Sesama Hamba dan Memadamkan Pertikaian di antara Mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”. (QS. Fushshilat: 34-35).

Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi menjadi merapat denganmu, menjadi mencintaimu, dan menjadi condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat.

 

Referensi:

  • Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.11): Al-Khaliq dan Al-Khallaaq

0

Nama Allah subhanahu wata’aala Al-Khaliq, maknanya adalah “yang Maha pencipta”, Adapun Al-Khallaq maknanya adalah “yang sering atau selalu menciptakan, setelah menciptakan yang satu kemudian menciptakan yang lainnya.

Dalam artian “Tidak ada sesuatupun yang terjadi atau yang berlaku di alam semesta ini kecuali merupakan ciptaan Allah subhanahu wata’aala.

Makna Al-Khalq secara bahasa ada tiga makna yang disebutkan oleh para ulama,

  1. Menciptakan atau mengadakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, dalilnya Firman Allah,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (QS. Az-Zumar : 62 ).

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. As-Saaffat : 96)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fatir: 3 ).

  1. Merubah dari sesuatu yang ada menjadi sesuatu yang lain, dalilnya firman Allah,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman (QS. Al Imran : 49 )

Kata “Akhluqu” di atas bermakna merubah, wallahu a’lam.

  1. Makna yang ke tiga adalah merencanakan, dalilnya perkataan sya’ir dan firman Allah,

 ولأنت تفري ما خلقت ** وبعض القوم يخلق ثم لا يفري

“Dan sungguh engkau mengeksekusi apa yang engkau rencanakan — sementara sebagian kaum merencanakan namun tidak mampu mengeksekusi”, kata “Khalaqa” diatas bermakna berencana.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS. Al-Muminun : 14 ), kata “Al-Khaliqiin” dimaknai juga dengan perencana.

Bisa kita fahami bahwa betapa sempurnanya sifat-sifat Allah, karena dialah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan sempurna, dari malaikat manusia binatang tumbuhan jin dan yang lainnya, begitu juga semua perbuatan yang mampu dilakukan oleh makhluq merupakan ciptaan Allah, tanpa terkecuali, kemudian Allah menegaskan, bahwa seandainya semua tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah dikumpulkan, niscaya tidak akan mampu untuk menciptakan apapun, Allah ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah” (QS. Al-Hajj : 73 ).

Maka tatkala kita membaca atau mendengan ayat-ayat tentang penciptaan, maka renungkanlah bahwa semua harta atau apapun yang ada dihadapan kita, orang-orang di sekitar kita, tubuh kita, dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki, bukanlah milik kita, semuanya merupakan ciptaan Allah ta’aala yang akan dipertanggung jawabkan.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Baari’ dan Al-Mushawwir di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi: Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan juga penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu ta’ala.

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

4 Langkah Menumbuhkan Self-Control Pada Anak

0

Kita hidup di ere digital, dimana perkembangan informasi dan teknologi berjalan begitu cepat. Kemajuan ini bila tidak dibarengi dengan ilmu dan iman bukan manfaat yang dapat diraih namun sebaliknya, madarat dan kerusakan besar yang akan dirasakan.

Sebagai orang tua terutama seorang Ayah, ia dituntut untuk mendidik dan mengajari keluarganya terutama agar istri dan anak-anaknya terhindar dari api neraka. Allah Ta’ala berfriman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6)

Fudhail bin Iyadh mengomentari ayat di atas berkata, “Jagalah dirimu dengan amalanmu, jagalah istri dan anak-anakmu dengan mendidik dan menasehati mereka”

Salah satu perkara yang penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita adalah tentang self-control. Dan inilah yang akan menjadi pembahasan kita pada tulisan kali ini.

Definisi Self-Control

Self-control adalah perasaan di dalam jiwa sekaligus kekuatan yang dapat mengendalikan anak. la muncul dari keimanan anak atas pengawasan Allah dan keyakinannya bahwa Allah senantiasa melihat segala perbuatannya. Perasaan dan kekuatan tersebut akan mendorongnya untuk selalu berusaha melakukan kebaikan demi mencari keridhaan Allah dan pahala-Nya, serta menjauhi keburukan karena takut dari siksa-Nya. Selanjutnya, anak akan berkomitmen untuk senantiasa mengevaluasi dirinya atas segala perbuatannya secara terus-menerus sehingga dia akan selalu menjaga kesesuaian perbuatannya dengan nilai-nilai akhlak dan norma-norma Islam, baik saat sedang sendirian maupun saat sedang bersama orang lain.

Pentingnya Self-Control

Di era kemajuan informasi dan teknoligi ini, bila anak tidak dibekali dengan self-control yang baik maka bisa jadi anak terjerumus dan terjatuh ke dalam hal-hal yang diharamkan oleh syariat yang dapat merusak nilai-nilai pendidikan, moral, akhlak, serta munculnya berbagai dampai psikologi, prilaku dan social pada anak. Dampak negative kemajuan teknologi ini telah banyak terjadi di masyarakat semisal, anak kecanduan main game, anak menonton video porno, anak menonton dan mepraktekan prilaku bullying dan beberapa dampak negative lainnya.

Bahkan beberapa waktu lalu terdapat berita yang cukup menggemparkan bahwa Disney selaku perusahaan film animasi dengan bangganya memberi pernyataan bahwa kedepan animasi-animasi yang ditampilkan akan mengusung tema LGBT agar sedari kecil anak-anak sudah dapat menerima adanya LGBT -na’udzu billah min dzalik-.

Berdasarkan fenomena yang ada, maka penanaman self-contol pada anak sangatlah penting. Ketika seorang anak telah mampu mengawasi dan menjaga dirinya, lisannya dan seluruh anggota tubuhnya. dia pun akan mampu mengevaluasi dirinya tanpa membutuhkan evaluasi dari orang lain yang lebih tua darinya. Dia juga akan menjadi orang yang bertanggung jawab atas dirinya dan perbuatannya, senantiasa berjuang untuk melawan hawa nafsunya, serta menghindari perkara-perkara yang akan mencederai adab-adab dan prinsip-prinsip Islam yang menjadi fondasi pertumbuhannya dan yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.

Berikut kami paparkan 4 cara menumbuhkan self-control pada anak

1. Menghadirkan Perasaan; Allah Bersama kita dan mengawasi kita.

Penjelasan tentang asmaul husna terutama nama Allah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), As-Sami (Yang Maha Mendengar), Al-Bashir (Yang Maha Melihat), Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi).

Barangsiapamengenal nama-nama Allah dan memahaminya dengan benar maka dia akan mengetahui jalan untuk memuji Allah, memuliakan-Nya dan mengagungkan-Nya. Dia juga akan mampu menghadirkan perasaan bahwa Allah senantiasa dekat dengannya, mengawasinya dan mengetahui segala perbuatannya.

Sepenggal Kisah Tentang Self-Control

Dalam sebuah perjalanan, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bertemu dengan seorang anak (budak) yang sedang menggembalakan kambing milik tuannya. Ibnu Umar berkata, “Aku beli kambingmu, seekor saja.”

Si anak menjawab, “Kambing-kambing ini bukan milikku.”

“Katakan saja pada tuanmu, bahwa ada serigala yang memangsa seekor kambingnya,” bujuk Ibnu Umar.

Anak itu bertanya lagi, “Jadi, dimanakah Tuhan?”

Setelah peristiwa itu, Ibnu Umar selalu mengulang-ulang kata anak tersebut, “Lalu, di manakah Allah?”

2. Megontrol Diri dan Mengendalikannya

Para peneliti mendefinisikan “kontrol diri” sebagai kemampuan manusia dalam mengontrol berbagai perasaan, perilaku, dan segala keinginan, khususnya dalam situasi- situasi yang saling bertentangan yang menuntutnya untuk mengambil satu sikap dalam menghadapinya. Hal ini demi mendapatkan “imbalan pada masa yang akan datang” yang berupa kemampuan dalam “manajemen yang efektif untuk masa depannya”.

Makin bertambah kemampuan mengendalikan diri maka makin sedikit kebutuhan anak terhadap kontrol yang bersumber dari kekuatan eksternal (di luar dirinya). Dengan demikian, pengawas bagi segala gerak-geriknya itu muncul dari dalam dirinya sendiri.

3. Memilih Teman yang Baik

Pertemanan atau persahabatan itu indikator paling tampak yang menunjukkan adanya perkembangan anak dalam sisi sosial dan psikologis. Anak membutuhkan banyak teman setiap kali usianya bertambah, untuk memenuhi berbagai kebutuhan-kebutuhannya, seperti mewujudkan keamanan diri, perasaan memiliki, juga menumbuhkan sisi emosional, bahasa, dan sosial di dalam dirinya.

Persahabatan itu dibangun di atas penerimaan, keridhaan, saling memercayai, kesamaan dalam cara pandang dan norma-norma serta keyakinan, juga kesamaan tokoh idola yang dikagumi.

Oleh karena itu, memilih teman yang baik itu sangat penting karena akan berdampak pada kepribadiannya. Pepatah Arab mengatakan,

الصَاحِبُ سَاحِبٌ

“Teman itu dapat menarik”

Teman yang baik akan menarik anak kita kepada hal-hal yang bagik, adapun teman yang buruk maka sebaliknya mengajak kepada hal yang buruk.

4. Mengatur Waktu

Waktu adalah kehidupan manusia, komoditas yang tiada bandingannya yang dianugerahkan kepada umat manusia. Oleh karena itu, kita harus mengatur dan memperhatikannya. Hal inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah, beliau bersabda,

لا تَزُولُ قَدَمًا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْتَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“Tidak akan beranjak kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggung- jawaban) tentang umurnya; untuk apa dihabiskannya, tentang ilmunya; bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana dia memperolehnya dan untuk apa dia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan-nya “ (HR. At-Tirmidzi no.24117)

Di dalam hadis tersebut terdapat penjelasan bahwa waktu merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagi seorang muslim. Dia harus menjaganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya pada hari kiamat. Berbagai macam ibadah yang telah Allah wajibkan kepada kita sangat berkaitan erat dengan waktu-waktu tertentu.

Waktu itu seperti harta, keduanya harus dijaga dan dihemat dalam penggunaannya serta diatur sedemikian rupa meskipun harta itu berbeda dengan waktu karena ia bisa dikumpulkan, disimpan, dan dikembangkan. Adapun waktu kebalikan dari itu! Setiap menit, bahkan setiap detik yang telah berlalu maka selamanya ia tidak akan bisa kembali lagi. Oleh karena itu, setiap orang harus benar- benar menjaga dan mempergunakannya dengan sebaik mungkin, serta tidak menyia-nyiakannya, baik sedikit maupun banyak.

Wallahu Ta’ala A’lam

Referensi:

  • Allah Mengawasimu, Nak. Nurah binti Musfir Al-Qarni terjemah kitab Ta’ziz ar-Raqabah adz-Dzatiyah lil Athfal
  • Tarbiyatuth Thifl ‘Ala Dhabtin Nafsi, Ahmad Khudair
  • https://www.alukah.net/culture/0/5268/

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Obat Kecemburuan Sosial

0

Manusia merupakan makhluk sosial, adayang Allah berikan banyak rizkinya, ada juga yang Allah tahan rizkinya, semua itu tentunya Allah tetapkan dengan kasih sayangnya kepada makhluknya.

Hadits yang mulia mengajarkan kepada kita untuk melihat ke “bawah”. Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, dari Nabi – ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

 انظروا إلى من هو أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تَزْدَرُوا نعمة الله عليكم. متفق عليه

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah kalian memandang orang yang ada di atas kalian. Itu lebih layak membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian.” ( Muttafaqun ‘alaih )

Berkata Al-Hasan Al-Bashry ahimahullahu ta’aala

 إذا نفسك أحد في الدين فنفسه, و إذا نفسك في الدنيا فألقيه

“Jika ada seseorang yang berusaha menyaingimu dalam perkara agama, maka saingilah, jika ada seseorang yang berusaha menyaingimu dalam masalah akhirat, maka berikanlah”.

Orientasi seorang muslim bukanlah harta yang akan di tinggalkan, akan tetapi akhirat yang akan dia tinggali selamanya,

Pernahkah kita mendengar kisah seorang kakek yang tidak lagi memiliki kedua tangan, kedua kaki dan penglihatannya pun hilang, akan tetapi senantiasa bersyukur kepada Allah ta’aala

Beliau bernama ‘Abdullah bin Zaid al Jarmi, salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari al Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin al Huwairits Radhiyallahu anhuma. Beliau wafat di Negeri Syam pada tahun 104 Hijriah, yaitu pada masa kekuasaan Yazid bin ‘Abdil-Malik.

‘Abdullah bin Muhammad berkata:

Aku keluar menuju tepi pantai untuk memantau kawasan pantai (dari kedatangan musuh). Tatkala tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai). Di dataran tersebut ada sebuah kemah, yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya. Pendengarannya telah lemah dan matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya, kecuali lisannya. Orang itu berkata :

اللَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَنْ أحمدك حمدا أكافىء بِهِ شُكْرَ نِعْمَتِكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ ، وَفَضَّلْتَنِي على كَثِيرٍ من خَلَقْتَ تَفْضِيلا

“Ya, Allah. Tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan.”

‘Abdullah bin Muhammad berkata,”Demi Allah, aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini. Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya itu? Ataukah ucapannya itu ilham yang diberikan kepadanya?”

Akupun mendatangi, lalu mengucapkan salam kepadanya. Kukatakan kepadanya: “Aku mendengar engkau berkata ‘Ya, Allah. Tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan’. Nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu, sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut? Kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu, sehingga engkau menysukurinya?”

Orang itu menjawab:

Tidakkah engkau melihat yang telah dilakukan Robbku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku sehingga membakar tubuhku, atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku sehingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah semua itu, kecuali semakin membuat aku bersyukur kepada-Nya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidahku ini.

Namun, wahai hamba Allah. Engkau telah mendatangiku, maka aku perlu bantuanmu. Engkau telah melihat keadaanku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang anak yang selalu melayaniku. Saat tiba waktu sholat, ia mewudhukan aku. Jika aku lapar, ia menyuapiku. Jika aku haus, ia memberi aku minum. Namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya, maka tolonglah engkau mencari kabar tentangnya. Semoga Allah merahmati engkau.

Aku berkata,”Demi Allah, tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau,” maka akupun berjalan mencari anak orang tersebut, hingga tidak jauh dari tempat itu, aku sampai di suatu gudukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati anak orang tersebut telah diterkam dan dimakan binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’un. Aku berkata,”Bagaimana aku mengabarkan kejadian ini kepada orang tersebut?”

Tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub Alaihissallam. Begitu aku menemui orang tersebut, maka akupun mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku dan bertanya,”Bukankah engkau orang yang tadi menemuiku?”

Aku menjawab,”Benar.”

Ia bertanya,”Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”

Akupun berkata kepadanya,”Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub Alaihissallam ?”

Ia menjawab,”Tentu Nabi Ayyub Alaihissallam.”

Aku bertanya,”Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub? Bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”

Orang itu menjawab,”Tentu aku tahu.”

Aku bertanya,”Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”

Ia menjawab,”Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah.”

Aku berkata,”Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya.”

Ia menimpali,”Benar.”

Aku bertanya,”Bagaimanakah sikapnya?”

Ia menjawab,”Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah.”

Aku berkata,”Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau tentang hal itu?”

Ia menjawab,”Iya.”

Aku bertanya,”Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub?”

Ia menjawab,”Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah. Langsung saja jelaskan maksudmu. Semoga Allah merahmatimu.”

Aku (pun) berkata,”Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau.”

Orang itu berkata,”Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya, lalu Ia menyiksanya dengan api neraka,” kemudian ia berkata,”Inna lillah wa inna ilaihi roji’un,” lalu ia menarik nafas yang panjang, kemudian meninggal dunia.

Baca Juga  Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu Seorang Orator Ulung

Aku berkata,”Inna lillah wa inna ilaihi roji’un.”

Besar musibahku, orang seperti ini, jika aku biarkan begitu saja, maka akan dimakan binatang buas. Dan jika aku hanya duduk, maka aku tidak bisa melakukan apa-apa. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya, dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku: “Wahai ‘Abdullah. Ada apa denganmu? Apa yang telah terjadi?”

Akupun menceritakan kepada mereka yang telah aku alami.

Lalu mereka berkata,”Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”

Akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata: “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah. Demi Allah, tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur”.

Aku bertanya kepada mereka: “Siapakah orang ini. Semoga Allah merahmati kalian?”

Mereka menjawab,”Abu Qilabah al Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas. Dia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” lalu kamipun memandikan dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolati dan menguburkannya. Setelah usai merekapun berpaling pulang, dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di daerah perbatasan.

Tatkala malam hari tiba, akupun tidur. Aku melihat di dalam mimpi, ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah:

سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Salamun ‘alaikum bima shabartum” [keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian], maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. ar-Ra’d: 24).

Aku bertanya kepadanya,”Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”

Ia menjawab,”Benar.”

Aku berkata,”Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua?”

Ia menjawab,”Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi, yang tidak bisa diperoleh, kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang, dan tenteram bersama dengan rasa takut kepada Allah, baik dalam keadaan sendirian maupun dalam keadaan di depan khalayak ramai.”

Sungguh kisah ini telah banyak mengobati kecemburuan social di masyrakat kaum muslimin, semoga kita termasuk diantara mereka, wallahu a’lam bish-shawaab.

 

(Diterjemahkan oleh Abu Abdil-Muhsin, dari Kitab ats-Tsiqot, karya Ibnu Hibban. Tahqiq as-Sayyid Syarofuddin Ahmad, Penerbit Darul Fikr, Jilid 5 halaman 2-5 sempat dimuat di Majalah As Sunnah edidi 01/2007)

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

Adab dan Keutamaan Mengiringi Jenazah (Bag.1)

0

Kematian merupakan kepastian yang sering kali dilupakan oleh manusia. Islam membahas tentang kematian dengan sempurna, diantaranya adalah syariat mengiringi jenazah.

Mengiringi jenazah tidak tertuju hanya kepada orang-orang yang kita kenal saja, akan tetapi kepada semua muslim yang meninggal kita disyariatkan untuk mengiringinya, sebagaimana telah diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya nabi Muhammad shalallah ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ شهدَ الْجَنَازَةَ حتى يصلَّى عليها فله قِيرَاطٌ، ومن شهدها حتى تُدفن فله قِيرَاطان، قيل: وما القِيرَاطَانِ؟ قال: مثل الجبلين العظيمين. ولمسلم: أصغرهما مثل أُحُدٍ .

Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dia menyalatinya, maka baginya satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan maka baginya dua qirath.” Ditanyakan kepada beliau, “Apa itu dua qirath ?”, Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang sangat besar.”

Dan dalam riwayat muslim, “Yang terkecil dari keduanya seperti gunung uhud.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Hadis di atas bersifat umum, ditujukan untuk setiap muslim yang meninggal, maka ketika ada seorang muslim yang meninggal kita disyariatkan untuk bertakziah dan ikut menyalatinya kemudian mengiringinya sampai dikuburkan.

Dan merupakan kerugian jika kita melewatkan kesempatan tersebut, sama saja dengan kita melewatkan suatu pahala  yang  besarnya sebesar dua gunung besar, dan untuk mengumpulkan amalan sebanyak itu tidaklah mudah.

Disebutkan dalam sebuah atsar dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya ia menceritakan tentang  ayahnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma,

كان ابن عمر يصلي عليها ثم ينصرف, فلما بلغه حديث أبو هريرة، قال:لقد ضيعنا قراريط كثير

“Beliau Ibnu Umar biasanya menyalati mayit kemudian langsung pergi, maka tatkala sampai kepadanya hadis Abu Hurairah beliau berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan qirath yang sangat banyak”. (HR. Muslim no. 945)

Diantara adab mengiringi jenazah :

  1. Boleh berjalan mengiringi jenazah di depan, di belakang, di samping kanan dan kiri jenazah, kecuali jika seseorang menaiki kendaraan maka ia di belakang , berdasarkan hadis nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam,

الراكب يسير خلف الجنازة، والماشي يمشي خلفها، وأمامها، وعن يمينها، وعن يسارها قريبا منها.

Orang yang berkendaraan berjalan di belakang jenazah, dan orang yang berjalan kaki, berjalan di belakangnya, dan di depannya, serta di samping kanan, dan di sebelah kirinya dekat dengannya (mayit).” (HR. Abu Dawud no. 3180)

Disebutkan “belakang” yang paling pertama karena mengiringi jenazah yang paling dianjurkan adalah dekat di belakang sang mayit, dengan tujuan untuk mengingat kematian dan akhirat, dan ini lebih utama daripada posisi yang lainnya, dan ini juga merupakan inti faidah mengantarkan jenazah yaitu mengingat kematian.

  1. Dianjurkan mengiringi jenazah dengan berjalan kaki sebagaimana praktik rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Tsauban radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah hadis,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أُتِيَ بدابة وهو مع الجنازة، فأبى أن يركبها، فلما انصرف أتي بدابة فركب، فقيل له، فقال: “إن الملائكة كانت تمشي، فلم أكن لأركب وهم يمشون، فلما ذهبوا ركبت.”.

“Bahwasanya rasul shalallahu ‘alaihi wasallam disiapkan hewan tunggangan ketika beliau mengiringi jenazah, beliau pun enggan untuk menaikinya, tatkala beliau hendak pergi (setelah selesai mengiringi jenazah) beliau menaikinya, maka beliau ditanya “mengapa demikian wahai rasul?” beliau menjawab “sesungguhnya malaikat berjalan (mengiringi jenazah), maka bagaimana mungkin aku berkendara sedangkan malaikat berjalan, maka tatkala malaikat telah pergi aku pun menaikinya.” (HR. Abu Dawud no. 3177)

InsyaaAllah akan berlanjur di part dua, Wallahu a’lam bish-shawaab.

Referensi : Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. M.A

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

Artikel: hamalatulquran.com

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.10): Al-Hayyu dan Al-Qayyuum

0

Nama Allah subhanahu wata’ala Al-Hayyu maknanya adalah yang Maha Hidup, dan Al-Qayyuum maknanya adalah yang Maha Tegak sendiri dan menegakkan, atau maha mengurusi ciptaannya yang keduanya termasuk nama-nama Allah yang paling mulia.

Nama Allah subhanahu wata’ala Al-Hayyu  dan Al-Qayyuum disebutkan dalam Al-quran secara bersamaan dalam tiga ayat, Allah ta’ala berfirman :

الله لا إله إلا هو الحي القيوم

“Dialah Allah, tiada ilah (yang haq) kecuali -Dia, yang maha hidup maha berdiri sendiri” (Ayat kursy)

الله لا إله إلا هو الحي القيوم

“Dialah Allah, tiada ilah (yang haq) kecuali -Dia, yang maha hidup maha berdiri sendiri” (QS. Ali-‘imran: 1-2)

وعنت الوجوه للحي القيوم

“Dan semua wajah tertunduk di hadapan Allah, yang maha hidup maha berdiri sendiri” (QS. Thaha: 111)

Dan disebutkan bersendiri dalam banyak ayat, diantaranya

 وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”(QS. Al-Furqan: 58).

 هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Al-Mu’min: 65).

Makna Al-Hayyu adalah kehidupan Allah yang Azaly (tidak didahului ketiadaan <selainnya didahului dengan ketiadaan> dan tidak diakhiri dengan kematian)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan berkaitan dengan nama Allah Al-hayyu “Kehiduan Allah sempurna Al-Hayaah Al-Kaamilah kehidupan Allah melazimkan memilki sifat-sifat lazimah (dzatiyah) yang sempurna, seperti melihat mendengar Qudrah ilmu dan lain lain, kesimpulannya :semua sifat dzatiyah Allah Kembali kepada nama Allah Al-Hayyu.”

Kata Al-Qayyuum القيوم diambil dari kata قام – يقوم yang berarti berdiri, makna Al-Qayyuum adalah قيمه بنفسه Maha Tegak dengan dirinya sendiri, dan tidak membutuhkan kepada selainnya dan maha mengurusi makhluk-makhluknya.

Dalil bahwa Allah maha mengurusi makhluk-makhluknya,

 أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (QS. Ar-Ra’d: 33).

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Fatir: 41).

Ibnul Qayyim Aljauzy juga menjelaskan tentang A-qayyuum “Maha mengurusi makhluknya melazimkan Allah memiliki sifat-sifat fi’liyah yang sempurna seperti menciptakan menghidupkan mematikan dan lainnya, kesimpulannya : semua sifat fi’liyah (yang berkaitan dengan pengaturan makhluk) Kembali pada nama Allah Al-qayyuum.

Dengan demikian nama Allah Al-hayyu dan Al-qayyuum adalah diantara nama Allah yang paling agung yang jika seseorang berdoa dengan keduanya maka doanya mustajab sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Dari Anas bin Maalik radhiyallahu’anhu beliau berkata,

 كانَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا كربَهُ أمرٌ قالَ: يا حيُّ يا قيُّومُ برَحمتِكَ أستغيثُ

“Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam jika terdesk pada suatu perkara beliau bersabda “wahai dzat yang maha hidup dan maha berdiri sendiri, dengan rahmatmu aku memohon” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh syeikh Alalbany)

عن أنس أن رجلاً دعا فقال: اللهم إني أسألك بأن لك الحمد لا إله إلا أنت المنان بديع السماوات والأرض يا ذا الجلال والإكرام! ياحيُّ ياقيوم! فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لقد دعا الله باسمه الأعظم الذي إذا دُعِيَ به أجاب، وإذا سُئِلَ به أعطى

“Dari Anas bin Maalik bahwa seseorang berdoa kemudian berkata “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan seluruh pujian, tiada ilah yang haq kecuali engkau yang maha memberi lagi pencipta seluruh langit dan bumi, wahai yang maha agung lagi maha mulia, wahai yang maha hidup dan maha berdiri sendiri” maka Nabi Shalallahu “alaihi wasallam bersabda : “Sungguh di telah berdoa kepada Allah dengan nama Allah yang paling mulia, yang jika berdoa dengannya maka akan dikabulkan, jika meminta dengannya akan diberikan” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Syeikh Alalbany)

Maka tatkala kita membaca naman nama tersebut, renungkanlah makna yang terkandung dan jangan lupakan keduanama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum saat kita berdoa.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Khaliq dan Al-Khallaq di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan juga penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu ta’ala.

Ditulis Oleh : Badruz Zaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.com

donatur-tetap

Hamalatul Quran turut Ramaikan Even FIBA Cup 2023 di Solo

0
Pertandingan perempat final Tim Hamalatul Quran dengan Tim Azzam

Jumat, 27 Oktober 2023 – 11 santri Hamalatul Quran turut berpartisipasi dalam perlombaan futsal yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Imam Bukhari di Solo.

Even tersebut diikuti oleh 16 tim perwakilan pesantren yang telah diundang oleh tuan rumah. Pesantren yang berasal dari DIY diantaranya adalah Ponpes Yaumi, Ponpes Jamilurrahman, Ponpes Bin Baz, termasuk juga Ponpes Hamalatul Quran. Tim dari Ponpes Hamalatul Quran diiringi oleh penanggung jawab tim yaitu Ustaz Ridwan Fauzan, Lc. dan Ustaz Khanif Faturrahman, S.Pd. Selain itu, rombongan juga didampingi oleh bagian kesantrian pondok yaitu Ustaz Jeje Rijalul Haq, Lc., Ustaz Riswan D Nonci, S. Pd., dan Ustaz Wildan Abdillah.

Sesi technical meeting dan drawing floating pertandingan FIBA Cup 2023

Rombongan futsal Hamalatul Quran bertolak dari Jogja pukul 04.00 dan sampai di Pondok Pesantren Imam Bukhari sekitar pukul 07.00 pagi. Tim mengikuti kegiatan pembukaan FIBA pada pukul 08.00 yang berisi pengarahan serta aturan pertandingan dan pembagian grup jadwal pertandingan. Semua tim terbagi ke dalam dua plot dengan sistem gugur yaitu plot A berisi 8 tim dan plot B berisi 8 tim pula termasuk di dalamnya Ponpes Hamalatul Quran.

Sesi pengarahan pra acara

Pertandingan pertama Ponpes Hamalatul Quran melawan Ponpes Yaumi dimulai sekitar pukul 09.00. Kemampuan kedua tim terlihat berimbang, dan Ponpes Hamalatul Quran sempat tertinggal 1-0. Selanjutnya, Ponpes Hamalatul Quran terus mengejar hingga skor 3-3 dan pada akhirnya Ponpes Hamalatul Quran come back dengan skor 4-3 di menit-menit terakhir. Dengan hasil tersebut, tim Hamalatul Quran maju ke babak selanjutnya di perempat final.

Pertandingan perempat final dilangsungkan setelah waktu duhur sekitar pukul 13.00. Pada pertandingan tersebut, Ponpes Hamalatul Quran dipertemukan dengan tim dengan strategi lebih menyerang yaitu perwakilan dari Ponpes Azzam. Hamalatul Quran berhasil mengawali skor 1-0, namun hal tersebut tidak bertahan lama. Tim lawan sempat membalikkan keadaan dengan skor 4-3. Tidak menyerah sampai di situ, Tim Hamalatul Quran kembali memgejar hingga skor 4-4 sama sehingga harus diselesaikan dengan adu penalti. Pada sesi adu penalti, Hamalatul Quran bisa mengungguli skor 3-2. Hal tersebut disebabkan oleh penendang kedua dari tim lawan tidak bisa menyelesaikan tugas dengan maksimal. Kemenangan tersebut mengantarkan Hamalatul Quran ke babak semi final.

Pertandingan semi final Tim Hamalatul Quran dengan Tim Imam Bukhari B

Pertandingan semi final dilaksanakan setelah waktu ashar sekitar pukul 15.30. Di babak ini, Ponpes Hamalatul Quran dipertemukan dengan tim tuan rumah yaitu Imam Bukhari B. Pada pertandingan ini Tim Hamalatul Quran harus mengakui kekuatan dari tim tuan rumah. Dengan kemenangan Tim Imam Bukhari B, mereka berhak melanjutkan ke babak final sementara itu Tim Hamalatul Quran harus puas hanya dengan perebutan peringkat 3 dan 4. Di partai perebutan 3 dan 4, Hamalatul Quran menghadapi tim yang sama-sama berasal dari Jogja yakni perwakilan dari Ponpes Bin Baz. Pertandingan dilaksanakan setelah waktu isya sekitar pukul 20.00. Di pertandingan ini, Tim Hamalatul Quran sempat mencuri gol di menit-menit awal permainan, namun skor tersebut berhasil disamai oleh tim lawan. Akhirnya, tim Hamalatul Quran juga harus menerima kekalahan di pertandingan tersebut. Dari kekalahan tersebut, Tim Hamalatul Quran hanya bisa meraih peringkat 4 sedangkan tim lawan menempati peringkat 3 di FIBA Cup 2023. Sementara itu, peringkat 1 dan 2 diraih oleh tim tuan rumah. (RDN)

donatur-tetap