Home Artikel Fiqih Asmaul Husna (Bag.11): Al-Khaliq dan Al-Khallaaq

Fiqih Asmaul Husna (Bag.11): Al-Khaliq dan Al-Khallaaq

195
0

Nama Allah subhanahu wata’aala Al-Khaliq, maknanya adalah “yang Maha pencipta”, Adapun Al-Khallaq maknanya adalah “yang sering atau selalu menciptakan, setelah menciptakan yang satu kemudian menciptakan yang lainnya.

Dalam artian “Tidak ada sesuatupun yang terjadi atau yang berlaku di alam semesta ini kecuali merupakan ciptaan Allah subhanahu wata’aala.

Makna Al-Khalq secara bahasa ada tiga makna yang disebutkan oleh para ulama,

  1. Menciptakan atau mengadakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, dalilnya Firman Allah,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (QS. Az-Zumar : 62 ).

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. As-Saaffat : 96)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fatir: 3 ).

  1. Merubah dari sesuatu yang ada menjadi sesuatu yang lain, dalilnya firman Allah,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman (QS. Al Imran : 49 )

Kata “Akhluqu” di atas bermakna merubah, wallahu a’lam.

  1. Makna yang ke tiga adalah merencanakan, dalilnya perkataan sya’ir dan firman Allah,

 ولأنت تفري ما خلقت ** وبعض القوم يخلق ثم لا يفري

“Dan sungguh engkau mengeksekusi apa yang engkau rencanakan — sementara sebagian kaum merencanakan namun tidak mampu mengeksekusi”, kata “Khalaqa” diatas bermakna berencana.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS. Al-Muminun : 14 ), kata “Al-Khaliqiin” dimaknai juga dengan perencana.

Bisa kita fahami bahwa betapa sempurnanya sifat-sifat Allah, karena dialah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan sempurna, dari malaikat manusia binatang tumbuhan jin dan yang lainnya, begitu juga semua perbuatan yang mampu dilakukan oleh makhluq merupakan ciptaan Allah, tanpa terkecuali, kemudian Allah menegaskan, bahwa seandainya semua tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah dikumpulkan, niscaya tidak akan mampu untuk menciptakan apapun, Allah ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah” (QS. Al-Hajj : 73 ).

Maka tatkala kita membaca atau mendengan ayat-ayat tentang penciptaan, maka renungkanlah bahwa semua harta atau apapun yang ada dihadapan kita, orang-orang di sekitar kita, tubuh kita, dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki, bukanlah milik kita, semuanya merupakan ciptaan Allah ta’aala yang akan dipertanggung jawabkan.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Baari’ dan Al-Mushawwir di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi: Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan juga penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu ta’ala.

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here