Home Artikel Adab dan Akhlak Rendah Hati Sifat Mulia Penuntut Ilmu

Rendah Hati Sifat Mulia Penuntut Ilmu

233
0

“Air hanya akan mengalir membasahi tempat-tempat yang merendah, begitu pula dengan ilmu, ia enggan membasahi hati-hati yang sombong dan meninggi.”

Rendah hati atau tawadhu adalah salah satu kunci sukses seseorang dalam menuntut ilmu, adapun orang yang sombong maka ia tidak akan merail ilmu dengan maksimal. Karena kesombongannya akan membuatnya selalu merasa puas dan berbangga hati atas ilmu yang telah dikuasai.

Pantas saja Allah melarang hamba-Nya untuk berperilaku sombong dan memerintahkan untuk selalu menghiasi diri dengan sifat rendah hati, hal ini Allah Ta’ala isyaratkan dalam firman-Nya,

وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy-Syuara’: 215)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun terlah bersabda,

إنَّ اللهَ أوحى إليَّ أن تواضَعوا حتى لا يبغيَ أحدٌ على أحدٍ، ولا يفخرَ أحدٌ على أحدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku untuk (senantiasa) rendah hati sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain dan tidak ada pula seseorang yang melampaui batas atas orang lain.”  (HR. Abu Daud no.4895)

Dalam hadis di atas terdapat perintah untuk senantiasa rendah hati dan menjauhhi sifat sombong. Maka wajib bagi setiap orang yang berakal untuk melakukan hal tersebut, dan tidaklah seseorang senantiasa mempraktekkan rendah hati dalam hidupnya melainkan akan bertambah kemuliaan pada dirinya.

Abu Hatim Al-Busti rahimahullah berkata, “Manusia yang paling utama adalah mereka yang senantiasa rendah hati walau sejatinya ia mulia, mampu berzuhud walu sejatinya ia orang yang mampu (harta), hatinya lem but walau sejatinya (badannya) kuat”

Suatu Ketika Ibrahim bin Al-Asy’ats rahimahullah ditanya tetang tawadhu’ maka beliau menjawab, “ Tawahu adalah Ketika engkau tunduk terhadap kebenaran dan lapang hati menerimanya walau itu datang dari anak kecil yang lebih muda darimu atau datang dari orang yang lebih bodoh darimu”.

Rendah Hati Kunci Meraih Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang beriringan dengan sifat tawadhu tersebut adalah ilmu yang bermanfaat. Dalam kitab Shaidul Khathir Imam Ibnu Jauzi rahimahullah berakata,

هو العلم النافع الذي يلح أعظم العلماء أحقر عند نفسه من أجهل الجهال ورأيت بعض من تعبد مدة ثم فتر فبلغني أنه قال: قد عبدته ما عبده بها أحد والأن قد ضعفت

“Ilmu (bermanfaat adalah) yang membuat sehebat-hebatnya ulama merasa dirinya lebih hina daripada sebodoh-bodohnya manusia, itulah ilmu yg bermanfaat. Aku telah melihat Sebagian orang yang beibadah begitu lama kemudia ia terkena future (rasa malas) ia mendatangiku seraya berkata, ‘aku telah beribadah kepada Allah melebihi seorang pun, akan tetapi saat ini aku lemah (dalam beribadah)”

Perkataan di atas melambangkan keindahan sebuah ilmu yang dihiasi dengan sifat tawadhu, di mana kondisi ilmu tersebut akan menghasilkan sumber-sumber kemulian. Dan ilmu yang demikian itu yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat.cBahkan sekelas ulama terhebat pun masih merasa hina dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang lain yang bodoh. Ketika seorang mampu menghadirkan tawadhu dalam ilmu yang dimilikinya, beragam kemaslahatan akan didapatkannya.

Namun bagi orang yang sombong dan merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain, nyatanya ia akan menjadi hamba yang lemah dalam beribadah dikemudian hari, inilah fakta orang sombong yang Ibnu Jauzi kisahkan. Oleh karena itu kita haruslah pandai-pandai menata hati kita untuk senantiasa rendah hati dan menjauhi sifat sombong.

Referensi: Al-Arba’un Haditsan fi Al-Akhlaq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here