Home Blog Page 34

Haram, Ucapan Selamat Natal dan Hadiah Natal

0

Setiap apa yang diucapkan oleh manusia akan dicatat oleh malaikat, entah itu ucapan yang baik atau pun ucapan yang buruk. Ucapan baik akan dapat menghantarkan seseorang kepada ridha Allah Ta’ala, adapun ucapan buruk dapat mendatangkan murka Allah Ta’al.

Allah Ta’ala berfirman,

 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkan pun melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 24)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إن الرجل ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يرى بها بأسا فيهوي بها في نار جهنم سبعين خريفا

“Sungguh ada seseorang yang mengucapkan suatu kalimat yang membuat Allah murka, ia menganggap perkataan itu biasa saja, padahal hal itu menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Bukhari dishahihkan oleh Al-Albani).

Ucapan selamat natal bukanlah ucapan yang remeh dan ringan dalam Islam, bagaimana mungkin seorang muslim yang menyakini bahwa Allah Ta’ala adalah tuhan yang Maha Esa, tidak memiliki anak namun ia mengucapkan “selamat atas kelahiran anak Tuhan”

Dalam shalat mungkin kita sering membaca Al-Ikhlas yang artinya:

  1. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.
  2. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu
  3. Dia (Allah) tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
  4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Lalu pantaskah lidah sering yang kita gunakan untuk membaca ayat-ayat tauhid tersebut kita gunakan untuk mengucapkan:

“Selamat atas kelahiran anak Tuhan”

Sekali-kali tidak.. Lidah yang kita pakai untuk melafadzkan ayat-ayat tauhid sangat tidak pantas kita gunakan untuk mengucapkan kata-kata syirik tersebut.

Bila ada yang mengatakan, “Kan hanya sekedar basa-basi.!?”

Jawab kami “Maaf, tidak ada basa-basi dalam perkara kesyirikan”.

Ingatlah firman Allah Ta’ala,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

”Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Berikut ini kami hadirkan pula beberapa fatwa ulama terkait hukum ucapan selamat natal

1. Mufti Kerajaan Arab Saudi Muhammad bin Ibrahim rahimahullahu berkata:

“Diceritakan kepada kami bahwa sebagian pedagang di tahun lalu mengimpor hadiah-hadiah spesial dalam rangka memperingati Natal dan tahun baru Masehi. Di antara hadiah-hadiah tersebut adalah pohon Natal. Dan sebagian kaum muslimin membelinya untuk dihadiahkan kepada orang-orang pendatang (dari orang-orang Nashara) di negeri kita sebagai bentuk kebersamaan dalam memperingatinya. Ini adalah suatu kemungkaran yang tidak boleh mereka lakukan. Dan kami tidak ragu bahwa kalian mengetahui ini sesuatu yang tidak dibolehkan. Dan para ulama telah menyebutkan kesepakatan/ijma’ (ulama) akan haramnya mengikuti orang kafir dari kaum musyrikin serta ahli kitab dalam perayaan (keagamaan) mereka.” (Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim 3/105)

2. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata:

“Tidak boleh bagi seorang muslim dan muslimah untuk mengikuti orang-orang Nashara atau Yahudi atau selain mereka dari orang-orang kafir dalam perayaan mereka. Bahkan wajib untuk meninggalkan hal tersebut karena “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut”. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan kita dari menyerupai mereka (dalam hal yang merupakan kekhususan dan ajaran agama mereka) dan dari akhlak mereka. Maka wajib bagi setiap mukmin dan mukminah untuk menjauhi hal tersebut.” (Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah 6/405)

3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata:

“Mengucapkan selamat Natal kepada orang-orang kafir atau selainnya dari hari-hari raya keagamaan mereka itu hukumnya haram sesuai kesepakatan (para ulama Ahlussunnah). Hal ini karena di dalamnya mengandung unsur pengikraran terhadap syiar-syiar kekafiran mereka dan ridha kepadanya, meskipun dia tidak ridha akan kekafiran tersebut bagi dirinya. Namun tetap diharamkan bagi seorang muslim untuk ridha terhadap syiar-syiar kekafiran atau mengucapkan selamat dalam rangka menyambut atau memperingatinya. Demikian juga diharamkan atas kaum muslimin untuk menyerupai orang-orang kafir seperti menyelenggarakan acara-acara untuk menyambut hari raya (Natal dan tahun baru) mereka atau tukar menukar hadiah atau membagi-bagikan makanan. Nabi ﷺ bersabda: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut. (HR. Abu Daud dan Ahmad)” (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibni Al-Utsaimin 3/45-46).

4. Lajnah Daimah Lil Buhuts Wa Al-Ifta’ dengan diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumullahu menyatakan:

“Tidak boleh bagi seorang muslim untuk berpartisipasi dengan orang-orang kafir dalam perayaan mereka (Natal dan tahun baru), menampakkan kegembiraan dalam rangka perayaan mereka, meliburkan kegiatan/pekerjaan mereka baik yang berkaitan dengan urusan agama atau dunia. Hal ini dikarenakan termasuk bentuk menyerupai musuh-musuh Allah yang telah diharamkan dan termasuk bagian tolong-menolong bersama mereka dalam kebatilan. Sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut. (HR. Abu Daud dan Ahmad). (Fatwa No.2540).

Maka jelaslah bahwa haram hukumnya mengucapkan selamat natau atau memberikan hadiah natal. Wallahu Ta’ala a’lam

Referensi: Channel telegram syaikhSyaikh Abdul Aziz Ar-Rayyis hafizhahullahu

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Akhlak Kepada Allah (Bag.2)

0

Akhlak merupakan sutau hal yang fundamental dalam kehidupan manusia, sering kita mendengar kalimat “yang penting akhlaknya”, karena akhlak menentukan baik buruknya penilaian seseorang, sehingga banyak dari kita yang sungguh-sungguh dalam menjaga perilakunya di hadapan manusia, lalu bagaimana di hadapan Allah, pernahkah terbetik dalam hati kita untuk menjaga perilaku kita di hadapan Allah, bukankah kita meyakini Dia-lah Allah yang maha Melihat, maha Mendengar, maha Mengetahui, maka kita sebagai seorang muslim harus berusaha meberikan perilaku akhlak dan adab terbaik kita kepada Allah subhanahu wata’aala.

Akhlak terhadap aturan Allah atau syariat Allah merupakan Alkhlak yang harus kita perhatikan sebagai seorang hamba.

Diantaranya adalah menerima aturan dan sayariat Allah dengan lapang dada, tidak boleh ada satupun aturan yang kita tolak, bantah, debat atau menerima akan tetapi dengan menggerutu.

 فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَافِرِينَ

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Az-Zumar: 32)

Merupakan kezaliman yang keji, seseorang mendustakan kebenaran Al-Quran maupun Hadits Ketika telah datang kepadanya, hanya mengambil Sebagian hukum dan meninggalkan yang dia tidak suka, seperti istilah “Agama prasmanan”.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Tidaklah pantas bagi seseorang yang mengaku islam, akan tetapi belum menjadi orang yang benr-benar islam, karena makna islam adalah menyerah, menyerah kepada aturan dan hukum-hukum Allah ta’aala,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Merupakan keharusan bagi setiap manusia yang mengaku islam untuk menyerah terhadap aturan Allah ta’aala, dan mengakui bahwa aturan Allah lah yang paling sempurna, sehingga seorang muslim tatkala melaksanakan aturan Allah merasa dirinya sedang di jaga oleh Allah.

Karena Allah lah yang paling tau apa yang terbik untuk hambanya, sebagai mana firman Allah,

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. TaHa: 123)

Allah berjajnji untuk memberikan keamanan bagi siapa yang mengikuti petunjuk-Nya.

Maka kita harus memperhatikan sikap kita khususnya kepada sang pencipta kita, jangan sampai kitab isa dan mampu ber akhlak kepada makhluk akan tetapi kita acuh dalam bersikap kepada sang pencipta kita.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas  Akhlak kepada Allah yang ke-3 di artikel yang akan datang. Wallahu a’lam bisshawaab.

Refrensi : Syarah bulughul Marom oleh ustadz Abdullah zaen Lc, MA. Hafidzahullah ta’aala, hadits ke 3.

Ditulis Oleh: Badruz Zama, Lc

donatur-tetap

Liburan, Santri Ngapain Aja?

0

Bagi santri liburan bukan berarti rehat dari aktivitas menghafal, murojaah dan belajar.

Di sela-sela waktu liburan hendaknya santri dapat selalu menyisihkan waktunya untuk murojaah hafalan Al-Quran atau mengikuti kajian. Baik kajian offline atau pun online melalui berbagai platfrom yang kini telah banyak ragamnya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)

Gunakanlah waktu liburan untuk hal-hal yang bermanfaat, jangan gunakan padahal yang tidak bermanfaat atau bahkan melailaikan dari berbagai kewajiban sebagai seorang muslim. Karena kesempurnaan Islam seseorang adalah dengan meningalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”. (HR. Tirmidzi no. 2317)

Dewasa ini salah satu perkara yang sangat melalaikan terutama bagi anak-anak adalah gadget.

Bila selama liburan santri dibiarkan berduaan dengan gadget di kamar sendiri tanpa ada pengawasan dari orang tua, dikhawatirkan akan digunakan dalam hal-hal yang terlarang. Karena mereka merasa aman dari pengawasan orang tua.

Bahkan seharusnya orang tua selalu mengawasi bagaimana anak menghabiskan waktu liburannya di rumah, bagaimana ia menggunakan gadget dan dengan siapa saja dia bermain.

Teman yang baik tentunya akan menarik anak kita kepada hal-hal yang baik, adapun teman yang buruk akan menarik anak-anak kita pada hal-hal yang buruk.

Mari gunakan waktu liburan anak-anak kita untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat dengan menambah hafalan, murojaah hafalan dan menambal ilmu agama dengan mengikuti kajian-kajian yang ada.

Semoga anak-anak kita menjadi calon ulama yang shalih dan berbakti kepada orang tua.

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.12): Al-Maalik dan Al-Malik

0

Makna dari nama Allah subhanahu wata’aala المالك Al-Maalik adalah sang pemilik, diambil dari kata المِلك Al-Milku yang berarti pemilik.

Adapun nama Allah الملك Al-Malik maknanya adalah sang raja, diambil dari kata المُلك Al-Mulku yang bermakna kekuasaan.

Berikut dalil-dalil yang menyebutkan nama Allah Al-Maalik dan Al-Malik

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai di Hari Pembalasan” (QS. Al-Fatihah: 4)

مَلِكِ النَّاسِ

“Raja manusia” (QS. An-Naas : 2)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ، وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ”.

[Abu Hurairah] berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanannya seraya berkata: ‘Akulah Raja, mana yang mengaku raja dibumi?” (HR. Bukhary no. 4438)

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa” (QS. Al-Qamar: 55 )

Nama Allah Al-Maalik menunjukan bahwa Allah Maha memiliki semua yang ada di langit dan di bumi dan Allah mengatur dengan sepenuhnya, Adapun selain Allah para thaghut mereka tidaklah menguasai apapun walaupun hanya selaput biji kurma, mereka tidak menguasainya sama sekali, sebagai mana dalam firman Allah ta’aala

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari” (QS. Fatir : 13 )

Begitu juga dengan kepemilikan manusia, kepemilikan manusia bersifat nisby (tidak mutlak) berbeda dengan kepemilikan Allah, maka kepemilikan Allah bersifat mutlak sebagai mana firman Allah ta’aala

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya” (QS. Al-Hadid : 7 )

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Asy-Syura : 49 )

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali ‘Imran : 26)

Maka perlu kita sadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan, yang sejatinya semuanya adalah milik Allah ta’aala dan point penting yang perlu kita perhatikan bahwa semua titipan tersebut merupakan nikmat yang luar biasa dari Allah, yang kita akan dimintai pertanggung jawabannya, dari harta kita keluarga kita, orang tua, maupun orang-orang yang berada disekitar kita, semuanya adalah pemberian dari Allah.

Dan kita hanyalah hambanya yang harus senantiasa merasa butuh kepada-Nya, dan senantiasa menghambakan diri kita kepada-Nya, maka Allah akan memperbaiki kehidupan kita dan mengangkat derajat kita.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Ar-Razzaq dan Ar-Razziq di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi: Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan juga penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu ta’ala.

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

Wisuda Huffadz Ke-5 Pondok Pesantren Hamalatul Quran 2023

0

HAMALATULQURAN.COM, Atas izin dan pertolongan Allah ta’ala Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta kembali menggelar wisuda huffadz para penghafal Al-Quran 30 Juz ke-V pada Sabtu (17/12/23) bertempat di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center Sleman, Yogyakarta.

Wisuda huffadz kali ini diikuti oleh 42 santri wisudawan yang telah lolos seleksi dan dipastikan baik bacaan serta lancar hafalan Al Quran 30 Juz.
Sebelum mengikuti wisuda para santri telah mengikuti berbagai rangkaian program dari bagian tahfidz pesantren seperti, simakkan 30 juz dalam dua hari, karantina tahfidz, parade tasmi’, uji tes hafalan oleh Kepala Bagian Tahfidz pondok pesantren Hamalatul Quran setiap malam (kecuali senin dan kamis).

Turut hadir dalam Wisuda Kepala Biro Bina Mental Spiritual Setda D.I.Y Bapak Drs. Wiryawan Sudiyanto, M.Si. yang mewakili Gubernur D.I. Yogyakarta, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Bapak Pambudi Arifin Rachman, S.I.P yang mewakili Bupati Bantul, serta seluruh Jajaran Muspida Kabupaten Bantul, dan Jajaran Muspika Kapanewon Sanden.

Dalam sambutan Gubernur D.I. Yogyakarta yang diwakili oleh Bapak Drs. Wiryawan Sudiyanto, M.Si. Memberikan apresiasi kepada pesantren Hamalatul Quran atas usahanya mendidik para hafidz Al-Quran.
Santri yang terbiasa dengan tahfidz (menghafal Al-Qur’an) secara tidak langsung telah belajar disiplin, pengaturan waktu serta serius dalam menjalankan kehidupan. Keberhasilan hafidz ini bukanlah usaha sendiri namun tentunya sinergi antara orang tua, anak dan para ustadz di pesantren.” Tutur beliau.

Dalam sambutanya Bapak Bupati Kabupaten Bantul yang diwakili oleh Bapak Pambudi Arifin Rachman, S.I.P menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pondok pesantren Hamalatul Quran dan para calon wisudawan. “Kami atas nama pemerintah Kabupaten Bantul memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pondok pesantren Hamalatul Quran atas kiprahnya dalam mendidik generasi muda penghafal Al-Qur’an, yang saya yakin dari pesantren ini akan lahir penjaga kalam ilahi yang tidak saja hanya menghafal Al-Qu’an tetapi juga akan memaknai dalam hati dan pikiran serta mengamalkan di dalam tutur kata dan perbuatan sebagaimana makna dari Hamalatul Quran sendiri yaitu pengemban Al-Quran.”

Yang menarik pada acara Wisuda Huffadz ke-5 ini adalah wisudawan terbaik mendapatkan hadiah berupa umroh dari PT. Nur Ramadhan Wisata, dan wisudawan yang mendapatkan hadiah tersebut adalah ananda Fajar Maulana Hidayat bin Erpan Irawan asal Lampung Timur. Semoga hal ini dapat menjadi motivasi dan penyemangat untuk seluruh santri Hamalatul Quran dalam menghafal, melancarkan dan mengamalkan isi Al-Quran.

Prosesi inti Wisuda Huffadz Pondok Pesantren Hamalatul Quran tahun 2023 dilakukan dengan menyerahkan sertifikat hafalan Al-Qur’an yang diberikan langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Ustadz Samhudi, S.Pd.I dan Ustadz Dr. Aris Munandar, M.P.I.

Acara wisuda para penghafal Al-Quran 30 Juz ditutup dengan disampaikan nasehat dan doa oleh syaikh Dr. Ahmad Naqib al-Yamani yang diterjemahkan oleh Ustadz Abdussalam Busyro, Lc selaku pembina yayasan Hamalatul Quran Yogyakarta. (redaksihq/hamalatulquran.com)

Berikut galeri foto acar wisuda huffadz para penghafal Al-Quran 2023:

 

   


donatur-tetap

Agar Liburan Bernilai Ibadah

0

Liburan bukanlah sekedar libur, rehat dan berhenti dari berbagai aktifitas yang biasa dijalani, namun liburan adalah pergantian dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, Ar-rohatu fii tabaaduli al-a’maal. Yang ada adalah melakukan pergantian antara satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya.

Momen liburan hendaknya diisi dengan berbagai kegiatan yang positif, bila Ketika di pesantren fokus dalam belajar maka ketika liburan di rumah bisa diisi dengan praktek fokus berbakti kepada kedua orang tua. Isilah waktu dengan hal-hal yang baik serta jangan sampai memiliki banyak waktu kosong karena orang yang mempunyai waktu yang kosong, maka fikirannya akan kosong, jika fikiran kosong maka yang akan mengisi kekosongan itu adalah setan.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan Ketika liburan, agar liburan tidak sekedar menghabiskan waktu begitu saja, namun ada makna dan pahala yang bisa diraih:

  1. Takwa

Bertakwalah kepada Allah dimanapun berada. Takutlah kepada Allah, jangan hanya takut kepada manusia. Ingatlah, Allah selalu mengawasi kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَة تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad 21354)

  1. Jaga Waktu

Gunakan waktu kalian di rumah untuk hal-hal bermanfaat, banyak ibadah, murojaah, istighfar, dan banyak berdoa kepada Allah. Jangan habiskan waktu kalian untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, namun tinggalkanlah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317 Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini shahih).

  1. Waktumu untuk Berbakti

Jadikan kepulangan liburan ini sebagai kesempatan merealisasikan birrul walidain dengan sebaik-baiknya. Tunjukkan perubahan akhlak kalian yang lebih baik setelah belajar agama dengan semakin peduli dan sayang kepada orang tua kalian yang sangat berjasa kepada kalian.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra’ : 23-24)

  1. Berhias dengan Akhlak

Hiasilah dirimu dengan akhlakul yang mulia. Hormatilah yang lebih tua dari kalian dan sayangi yang lebih muda dari kalian.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا

“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan diantara kami”. (HR. At-Tirmidzi no.5445).

  1. Menjadi Pintu Kebaikan

Jadilah kamu sebagai teladan yang baik di masyarakat dan kunci pembuka kebaikan serta penutup keburukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi jalan kebaikan, dan menjadi penutup jalan keburukan. Diantara manusia juga ada yang menjadi jalan keburukan, dan menjadi penutup kebaikan. Maka, berbahagialah orang yang Allah jadikan jalan-jalan kebaikan melalui tangannya. Dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan jalan-jalan keburukan melalui tangannya.” (HR Ibnu Majah no. 237).

  1. Harus Waspada

Waspadalah dari fitnah medsos, tv, internet dan teknologi modern yang kerapkali menjerumuskan kita ke kubang dosa. Jangan gunakan gadget di kamar sendirian karena akan mudah diganggu setan, gunakanlah gadget secara bijak dengan pengawasan orang tua.

  1. Pilih Teman yang Baik

Hati-hati dari pengaruh buruk teman-teman buruk yang bisa meracuni agamamu. Selektiflah dan pilihlah sahabat-sahabat yang bisa menggandeng tanganmu menuju surga.

Demikian yang bisa kami nasehatkan, semoga para santri pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta dalam mengisi waktu liburan dengan berbagai hal yang bernilai ibadah disisi Allah Ta’ala. Amiin

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Parade Tasmi 30 Juz; Persiapan Menuju Wisuda Huffadz Ke-V

0

Para santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta calon peserta Wisuda Huffad Ke-V adalah para santri yang telah berhasil tasmi 30 juz dalam 2 hari. Tidak berhenti sampai disitu, ada proses-prose yang harus dilalui agar para santri tersebut diperkenankan untuk mengikuti wisuda.

Diantara proses yang harus dilalui calon wisudawan adalah mengikti parade tasmi Al-Qur’an 30 juz yang dilakukan secara serentak oleh para calon wisudawan dalam tiga hari berturut-turut serta diadakan juga beberapa pengetesan hafalan setiap malam kecuali pada senin dan kamis (waktu berbuka puasa).

Berikut dokumentasi perjuangan mereka

Semoga Allah mudahkan segala urusan ananda para calon wisudawan, diberikan kelancaran dalam proses menuju wisuda serta kegiatan serta tidak ada kendala dalam wisuda nanti. Amiin.

donatur-tetap

Empat Bentuk Dusta atas Nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

0

Berdusta atas nama Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dosa besar, bahkan bisa membuat pelakunya keluar dari Islam.

Syeikh Shaleh Al-Munajid hafidzahullah mengatakan,

“Sebagian ulama berpendapat bahwa barangsiapa yang sengaja berdusta atas nama nabi maka dia kafir (keluar dari islam). dan sebagian ulama lainnya menganggap itu masuk kedalam kategori dosa besar.”

Dari Al-Mughirah ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia tahu bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” (HR. Muslim).

Diatas adalah beberapa hadits yang menunjukkan betapa berbahayanya berdusta atas nama Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam.

Lalu kapankah seseorang itu dikatakan telah berdusta atas nama Nabi..?

Berikut ini beberapa kondisi seseorang dikatakan telah berdusta atas nama Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam :

Pertama, Membuat dan Menyebarkan Hadis Palsu.

Ketika seseorang membuat hadits palsu atau dia tahu hadits tersebut adalah sebuah hadits palsu namun dia tetap menyebar luaskannya tanpa menerangkan bahwa itu adalah hadits yang palsu, maka dia telah berdusta atas nama Nabi.

Kedua, Menjelaskan hadis Nabi dengan penjelasan yang menyimpang dari maksud hadis tersebut, contoh:

Nabi  shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang peling berat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah al mushowwirun (pembuat gambar).” (HR. Bukhari).

Maka ada sebaian orang berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita menggambar (makhluk bernyawa) dan membuat patung karena pelakunya akan disiksa di hari kiamat, tapi itu dulu karena iman orang-orang dahulu belum kuat dan sekarang tidak mengapa.

wal ‘iyadzu billah

Padahal larangan tersebut senantiasa ada bukan hanya dizaman Nabi saja namun sampai sekarang pun larangan itu senantiasa ada.

Maka orang semisal diatas dia telah menjelaskan hadits dengan pemahaman yang menyimpang dan tidak sesuai dengan maksud asli hadits tersebut :

Ketiga, Membuat dan atau Berbuat Bid’ah.

Karena sesungguhnya samua bid’ah adalah dusta atas Nabi karena dengan dia berbuat bid’ah otomatis ia telah beranggapan bahwa itu adalah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam padahal bukan.

Keempat, Membaca Hadis Namun Tidak Tahu Kaidah Bahasa Arab.

Dalam hal ini para ulama’ tidak langsung menvonis berdusta atas nama Nabi namun sangat dikhawatirkan dengan orang yang seperi ini karena ia dapat berkata, “Nabi besabda demikian dan demikian.” Namun karena ia tidak tahu bahasa arab yang benar maka ia dapat salah membacanya dan atau memahaminya.

Sebagai contoh adalah pembacaan teks hadits di bawah ini

لا نكاح إلا بولي

Bacaan yang benar adalah “Laa nikaaha illa biwaliy

(tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali).

Namun karena seseorang tidak tahu bahasa arab yang benar bisa saja dia salah membacanya menjadi,

لا نكاح إلا بولي

“Laa nikaaha illa bauliy”

(tidak ada nikah kecuali dengan adanya air kencingku).

Maka seyognyanya, seorang yang ingin menyampaikan hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaknya dia mengetahui bahasa Arab.

Wallahu a’lam bis Showab.

***

Referensi:

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Akhlak Kepada Allah (Bag.1)

0

Akhlak merupakan sutau hal yang fundamental dalam kehidupan manusia, sering kita mendengar kalimat “yang penting akhlaknya”, karena akhlak menentukan baik buruknya penilaian seseorang, sehingga banyak dari kita yang sungguh-sungguh dalam menjaga perilakunya di hadapan manusia, lalu bagaimana di hadapan Allah, pernahkah terbetik dalam hati kita untuk menjaga perilaku kita di hadapan Allah, bukankah kita meyakini Dia-lah Allah yang maha Melihat, maha Mendengar, maha Mengetahui, maka kita sebagai seorang muslim harus berusaha meberikan perilaku akhlak dan adab terbaik kita kepada Allah subhanahu wata’aala.

Akhlak kepada Allah yang paling utama adalah, mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tidak ada yang berhak di ibadahi selain Allah, banyak ayat yang menegaskan hal ini diantaranya

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ اَنۡ يُّشۡرَكَ بِهٖ وَيَغۡفِرُ مَا دُوۡنَ ذٰ لِكَ لِمَنۡ يَّشَآءُ​ ؕ وَمَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيۡدًا‏

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali, (QS. AN-Nisa : 116).

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman : 13).

Kesyirikan merupakan kedurhakaan yang paling besar kepada Allah, maka diantara praktek adab dalam hal ini, jika kita melihat di TV, di sosial media, atau video pendek yang berkaitan dengan kesyirikan maka tinggalkanlah, jangan menganggap karena hal tersebut hanyalah rekayasa, kemudian kita menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Kemudian diantara akhlak kepada Allah yang sering di lalaikan oleh banyak kaum muslimin adalah, tidak mengakui Al-Quran sebagaimana mestinya, sehingga banyak dari kita yang lebih senang membaca cerita, dongeng, novel dan yang semisalnya daripada membaca Al-Quran, jika kita merenungi kitab Al-Quran dengan semestinya, maka kita tidak akan membiarkannya berdebu di lemari, bahkan sahabat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata

لو طهرت قلوبنا ما شبعنا من كلام ربنا، وإني لأكره أن يأتي علي يوم ما أنظر في المصحف

“Seandainya hati kita bersih (dari dosa) niscaya kita tidak akan pernah kenyang (cukup) dari firman Rabb kita (Allah ta’aala), dan aku sangat membenci jika tiba suatu hari dan aku tidak membaca Al-Quran”, (HR. Baihaqi).

Seharusnya seorang muslim menganggap Al-Quran sebagai pedoman utama, jalan menuju kesuksesan di dunia maupun di akhirat, tatkala mendengar ayat merasa dirinya sedang di tuntun, merasa bahwa inilah jalan terbaik hidupku, karena Al-Quran merupakan “perkataan Allah” bukan perkataan malaikat Jibril, bukan juga perkataan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, dan Al-Quran tidak di turunkan kepada umat sebelum beliau, dan Allah memilih kita yaitu umat nabi Muhammad untuk menjadikan Al-Quran sebagai kitab pedoman kita, bukan hanya sebagai pajangan.

Diantara akhlak kita kepada Allah, tatkal akita mendengar ayat Al-Quran kita mendengarkan dengan seksama, tidak kita acuhkan dengan hal-hal lain seperti ngobrol, main HP, dan yang lainnya, akan tetapi kita benar-benar menunjukan sikap terbaik kita kepada Allah tatkal akita mendengarkan ayat-ayatnya kapanpun dan dimanapun.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas  Akhlak kepada Allah yang ke 2 di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab.

 

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

Tunaikan Hak Anakmu (Bag.3)

0

Bismillah…

Pada pembahasan ini penulis akan merangkum kewajiban orang tua yang harus ditunaikan kepada anaknya setelah lahirnya anak.

Hak-hak anak setelah keberadaannya di dunia (lahir) hingga dewasa.

  1. Memberi nama yang baik, seperti nama-nama nabi dan rasul dalam rangka supaya anak bisa mengikuti teladan nabi tersebut, hal ini dilakukan nabi kita Muhammad ‘alaihis sholatu was salam ketika dikaruniai seorang putra, beliau bersabda

وُلِدَ لي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ، فَسَمَّيْتُهُ باسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ

“Telah lahir putraku semalam, aku beri nama seperti nama bapakku yaitu Ibrahim.” (HR.Muslim)

Hal ini juga sesuai dengan hadis yang lain

تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الأَنْبِيَاءِ ، وَأَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ ، وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهَمَّامٌ ، وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةُ

“Berilah nama seperti nama-nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah “Abdullah dan Abdur Rohman”, nama yang paling baik adalah “Harits dan Hammam”, nama yang paling buruk adalah “Harb dan Murroh”. (HR. Abu Dawud)

Nama yang paling dicintai Allah adalah ketika maknanya menunjukkan penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di dalam memberi nama, maka wajib menjahui nama yang bermakna penghambaan kepada selain Allah atau nama yang bermakna tidak baik atau menyerupai orang kafir yang jelas memusuhi islam. Seorang ayah akan di panggil dengan nama anaknya di dunia dan akherat.

  1. Mentarbiyah (mendidiknya).

Orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas karunia Allah yang berupa anak ini, maka orang tua wajib mentarbiyah anaknya sebaik-baiknya, kenalkan siapa tuhannya, nabinya dan apa agamanya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka” (QS. At Tahrim: 6)

Ajarkan kepada Anak untuk sholat sedini mungkin, Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam adalah sesosok manusia yang paling berhasil di dalam mendidik, beliau bersabda:

مُروا أولادَكم بالصَّلاة وهم أبناءُ سبع سنين، واضرِبوهم عليها وهم أبناءُ عشْرٍ، وفرِّقوا بينهم في المضاجِع

“Perintahkan anak kalian untuk sholat di umur 7 tahun, dan pukullah mereka (pukulan yang mendidik) ketika mereka meninggalkan sholat sedang umur mereka sudah 10 tahun, dan pisahkan ranjang mereka”. (HR. Abu Dawud)

Di antara yang terpenting di dalam mentarbiyah anak adalah mengajarkannya agama,  memperhatikan pendidikannya, adab dan akhlaknya.

  1. Berbuat adil.

Jika dikaruniai anak lebih dari satu, maka diantara kewajiban orang tua adalah berbuat adil kepada mereka di dalam pemberian.

Adil kepada anak adalah memberi sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, tentunya kebutuhan anak berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda:

اتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا في أَوْلَادِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu”. (HR. Muslim)

  1. Senantiasa mendoakan mereka.

Hendaknya orang tua yang menginginkan kebaikan dari keturunannya dan menginginkan doa anak-anak setelah sepeninggalnya, selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya selama masih hidup. Termasuk sifat ibadur Rohman adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak keturunannya

 وَٱلَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰ⁠جِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon: 74)

  1. Membantu memilihkan pasangan yang baik.

Jika anak sekiranya sudah siap untuk menikah, maka kewajiban orang tua membantu memilihkan pasangan hidup yang baik untuknya, tidak membiarkan anak mencari pasangan sendiri tanpa bimbingan orang tua.

مَن وُلِد له ولدٌ، فليحسن اسمَه وأدبَه، فإذا بلغ فليزوِّجه، فإنْ بلَغ ولم يزوِّجه فأصاب إثمًا، فإنَّما إثمُه على أبيه

“Barang siapa yang diberi anak, hendaknya memberi nama yang baik dan mengajarkannya adab, dan jika sudah baligh hendaknya menikahkannya, jika sudah baligh dan tidak dinikahkan kemudian dia terjerumus ke dalam dosa, maka bapaknya ikut mendapat dosanya”. (HR Baihaqi)

Inilah beberapa rangkuman dari kewajiban orang tua terhadap anak yang menjadi hak anak, semoga Allah senantiasa menganugrahkan kepada penulis dan pembaca anak keturunan yang sholeh sholehah, bermanfaat di dunia dan akherat.. Aamiiin.

Referensi:

  1. alukah.net
  2. binbaz.org.sa
  3. islamweb.net
  4. mawdoo3.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap